
Ricky menatap lurus ke arah hamparan persawahan yang terlihat gundul, karena padi yang ditanam baru saja selesai dipanen.
Langkah kakinya semakin menjauh dari pemukiman warga, saat ini ingin berada di tempat yang sepi, tak mendengar suara apapun selain kicauan burung dan binatang lainnya.
Pria yang mengenakan kaos oblong itu terus melangkah, kakinya berhenti tepat di depan sebuah gubuk yang berada di tengah sawah.
Ricky mengendarkan pandangannya ke arah beberapa kotak sawah di hadapannya.
Teringat kembali masa lalu, dirinya dan Bima beserta teman-temannya bermain di sana, berenang di dalam lumpur di seekor belut kecil.
Ricky terkait sendiri ketika membayangkan masa itu, masa di mana ia belum mengenal cinta yang membuatnya terluka seperti saat ini.
Ricky mengajak rambutnya sendiri, pria itu naik ke dalam gubuk itu dan menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas pada tiang gubuk yang mulai terlihat rapuh, sebagaimana hatinya saat ini.
Pria itu menatap lurus ke arah tumpukan jerami yang terlihat menguning, pikirannya melayang, tatapannya terlihat kosong. Saat ini, dia benar-benar tidak ingin diganggu.
"Faranisa! Kenapa kamu begini? Kenapa kamu tidak menginjak-injak harga diriku. Nisa, seandainya kamu tahu, Aku sangat mencintaimu lebih dari Aku mencintai diriku sendiri. jika diberi pilihan, hidup tanpamu atau mati bersamamu. Tapi sekarang, perasaanku kau buat mati sendiri, Kenapa nggak bunuh aku saja sekalian?!" Aaaarggg....Nisa!!!"teriak reggae Seraya menjabat rambutnya.
Buliran bening tak terasa lolos begitu saja dari pelupuk matanya, rasa sakit dan sesak di dada seolah mendorong air mata untuk menetes dan perlahan mengalir dengan deras.
Adegan saat dirinya menjabat tangan penghulu dan mengucap kalimat ijab kabul terulang kembali di dalam benaknya, bagaikan sebuah Reka adegan.
"Aku mencintai dan menyayangimu suamiku,"suara lembut Nisa seolah menghantuinya.
"Buset, hanya bacot saja!Aaargh.... persetan dengan semua ini!"Ricky kembali menjabat rambutnya frustasi.
"Buat apa harta? aku sudah mempunyai semuanya, aku hanya butuh cinta yang tulus sepertimu,"bisikan suara Nisa kembali membuat telinganya panas.
Ricky menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, berusaha menghilangkan suara Nisa yang terdengar nyata.
Pria itu memejamkan matanya, Jika ia membuka mata, bayangan Nisa seolah berdiri di hadapannya.
"Aaaarggg.... Aku bisa gila!"teriaknya kembali dengan dada yang semakin naik turun dan terasa sesak.
Baru kali ini ia merasa sakit hati dan benar-benar merasa hancur karena seorang wanita.
Ricky tidak akan sekacau ini jika wanita itu bukan istrinya sendiri, wanita yang telah Ia gauli dan memberikan madu asmara yang begitu manis.
__ADS_1
"Aaaarggg.... Aku pengen mati aja!"teriak Ricky kembali dengan mata terpejam dan tangan yang menutup kedua telinganya.
"Ricky!"seketika suara itu membuat tangis Ricky terhenti, pria itu membuka matanya dengan perlahan dan melihat gerak ujung persawahan.
Ricky mematung sejenak ketika melihat seorang wanita yang mengenakan dress sedang berdiri di ujung persawahan.
Ricky mengerjakan matanya beberapa kali, takut jika iya salah lihat.
"Ini aku belum gila, kan? masak Nisa ada di persawahan begini? enggak enggak, aku kayaknya bakalan gila ini. Ricky, Ayo kamu sadar! kamu masih muda, nikah Baru beberapa bulan, ngeluarin kerja Abang juga baru beberapa biji, mana belum jadi. Aaaarggg..."Ricky menjebak rambutnya sendiri, pria itu memejamkan mata, iya tak ingin melihat apapun. wujud bisa itu hanyalah halusinasinya saja.
Mana mungkin di persawahan begitu ada Nisa, mungkin saja itu orang-orang sawah yang ia lihat sebagai istrinya.
"Aku nggak mau gila! daripada gila lebih baik aku mati!"
"Ricky!"suara itu terdengar lebih dekat.
Ricky membuka matanya dengan perlahan.
"Astagfirullah, malaikat maut Kenapa berwujud Nisa?"Ricky membulatkan matanya.
"Siapa yang menjadi malaikat maut? ini aku Nisa, istrimu."wanita berambut lurus itu mendekat ke arah Ricky dan berdiri tepat di hadapan suaminya.
"Iya, ini aku beneran istrimu. aku datang ke sini mau menjemputmu pulang."langkah Nisa semakin mendekat.
"Pulang? pulang ke Rahmatullah?"tanya Ricky kembali masih dengan wajah kaget tak percaya.
"Heh, sembarangan! kita pulang ke kayangan. aku sudah menemukan selendang mu."Nisa mengembangkan senyumnya.
"Kebalik anjir,"
"Hehehe.... maaf aku terlalu bahagia bisa melihat kamu lagi."Nisa ikut Duduk di hadapan Ricky.
"Kamu ngapain ke sini? kamu juga tahu dari mana Kalau aku di sini?"
"Aku tahu dari mama, tadi ada anak kecil yang antar aku ke sini,"jawab Nisa.
Hembusan angin di pesawahan itu membuat rambut panjang Nisa seolah berkibar. layaknya kibaran bendera merah putih saat hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus dikibarkan oleh masyarakat Indonesia.
__ADS_1
Kulit putihnya nampak kontras pada dress tanpa lengan yang dikenakannya.
Rona kemerahan pada wajah cantik itu saya akan mengalihkan dunia seorang pria yang kini sedang duduk dengan mata yang menatapnya intens.
"Ricky, aku datang ke sini mau menjemputmu pulang, kita kembali ke kota yuk!"ajak Nisa dengan Senyum mereka pada wajah cantiknya.
Seketika Ricky tersadar dari larutnya bayang-bayang madu asmara dengan wanita itu tatkala mendengar ucapan istrinya.
"Halah, bacot! ngapain kamu nyusun nyusul aku, bukannya kamu sendiri yang mengusir aku?!"Ricky turun dari gubuk bambu itu dan memakai kembali sendalnya. pria itu segera berjalan meninggalkan desa yang juga ikut turun dengan hati-hati.
"Ricky, tunggu!"aku minta maaf!"teriaknya sambil terus melangkah, mengikuti suaminya.
"Jangan ikut aku! Aku ini lelaki miskin dan tidak sederajat denganmu. lebih baik kamu cari laki-laki lain saja yang sepadan denganmu, yang bisa memimpin perusahaan seperti,"balas Ricky tanpa menoleh sedikitpun ke arah Nisa yang berjalan di belakangnya dengan hati-hati.
Keduanya berjalan kaki melewati petakan sawah.
Terik matahari semakin terasa tatkala keduanya berjalan di tengah sawah menuju tepian.
Nisa yang tidak terbiasa berjalan di tempat seperti itu cukup kesulitan untuk melangkah, bahkan beberapa kali kakeknya hampir keseleo.
Apalagi dirinya saat mengenakan sendal dengan heels yang lumayan tinggi.
"Ricky, aku minta maaf. Aku tahu aku salah, kita bicarakan ini baik-baik."wanita itu terus berusaha mengejar langkah suaminya.
"Aku sudah mengajakmu bicara baik-baik, tapi kamu malah merendahkan aku seolah aku ini tidak punya harga diri."Ricky menulis sekilas secara istrinya dengan wajah kacau.
Sebenarnya, Dia sangat mencintai dan menyayangi Nisa. perasaannya tapi kau melihat wanita itu berjalan di tengah sawah mengejar langkah kakinya. Namun, hatinya terlanjur terluka, ia merasa benar-benar tidak punya harga diri.
"Ricky, dengarkan aku dulu!"
Bruk!
"Aw!"seketika Ricky kembali menoleh ke arah belakang.
Matanya membulat ketika melihat Nisa terjatuh ke dalam petakan sawah.
Tubuh wanita itu masuk ke dalam lumpur persawahan.
__ADS_1
Bersambung....