Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 71. DI RUMAH SAKIT


__ADS_3

"Kamu cepat sembuh ya."


"Aku tidak akan sembuh, bahkan aku bisa saja mati jika kamu meninggalkan aku, lagi."


"Mas, Aku mohon jangan ceraikan aku. bibir tipis itu terlihat bergetar, air mata kembali tumpah membanjiri pipinya.


"Tolong beri aku kesempatan sekali lagi, aku janji akan berubah, aku akan menjadi istri yang baik untukmu. Aku mohon, Jangan tinggalkan Aku. cabut kembali gugatan cerai itu. Aku nggak mau..."


"Ssssst..."Dimas menempelkan telunjuknya pada bibir tipis istri.


"Kenapa bibirmu lancar sekali berbicara, padahal tuh lihat tangan kening dan kakimu terluka. Istirahatlah, supaya kamu cepat sembuh."


"Jangan tinggalkan Aku Lagi. aku mohon..."


"Iya."satu kata itu dari mulut pria itu membuat Andini langsung menegakkan kepalanya walaupun, keningnya baru saja dijahit oleh dokter karena terluka.


"Apa, Mas?


"Iya? Iya, kamu nggak akan ninggalin aku dan nggak akan menceraikan aku, begitu?"Cerocos Andini dengan mata berbinar.


Dimas mengangguk Seraya tersenyum tipis.


Andini langsung bangkit dan mendekat tubuh suaminya, wanita itu memeluk tubuh tetap Dimas dengan erat.


"Terima kasih Mas... Terima kasih sudah mau memaafkan aku."Andini semakin mempererat pelukannya, menyandarkan kepala pada dalam bidang yang telah memberinya kenyamanan.


Dimas membalas pelukan itu dan mengusap punggung istrinya dengan lembut. tidak tega melihat istrinya yang saat ini meraung-raung, menangisi dirinya yang telah mengabaikannya.


"Aku juga minta maaf sama kamu, karena telah mengabaikanmu dua hari ini. Sehingga kamu sampai terluka seperti ini.


"Maafkan mas ya, sayang."ucap Dimas sambil memberikan kecupan hangat di pucuk kepala sang istri.


Tiba-tiba pintu terbuka. Dimas perlahan melepas pelukan Andini, walaupun tubuh gadis itu masih enggan menjauh darinya.


Pintu ruang rawat inap itu terbuka lebar perlahan seorang perawat dan wanita paruh baya datang membawa semangkok bubur yang masih mengepul.


"Alhamdulillah kamu sudah baikan. Berarti besok kamu sudah bisa pulang. Sekarang,Andini makan ya, ini bubur." Nyonya Laras menaruh semangkok bubur itu di atas nakas.

__ADS_1


"Ma, Maafkan Andini sudah membuat kalian khawatir semua."


"Makanya kalau mengendarai motor itu jangan balap terus, pasti kamu adu balap tadi, kan?"tuduh Nyonya Laras.


Andini hanya menunjukkan kepalanya, tak berani menatap punya Laras sama sekali. karena tuduhan Nyonya Laras benar adanya. sehingga dia hanya diam saja.


"Mama marah sama Andini gara-gara Andini kecelakaan? tanya wanita itu dengan wajah membalas.


"Ngak, ngapain udah sakit Mama marahnya. semuanya sudah terlanjur tidak ada yang perlu disesalkan. Cuman tadi tuh Opa kamu sudah meraung-raung menangis mendengar kamu mengalami kecelakaan.


Opa memaksa pengen ikut ke rumah sakit, menjenguk kamu.


"Terus ?"


"Kamu tahu sendiri, jangankan berjalan, berdiri saja Opa ngak bisa." ucap nyonya Laras memberitahu.


"Cie illeh, makanya ngak usah sok sok balapan lagi kamu. Lihat tuh, sudah jelek makin jelek nanti." timpal herlan yang juga masuk bersama Nyonya laras ke ruang rawat inap Andini.


"Sudah, lebih baik kita pulang sekarang, kan sudah ada nak Dimas disini menjaga Andini. Mama Kwatir Opa kalian akan kepikiran. Kan kalau kita sudah pulang, opa akan tau kalau cucu bar-barnya ini baik baik saja." ucap Nyonya Laras.


Sang suster yang memeriksa kondisi Andini pun sudah keluar dan menutup pintu dengan rapat.


Suasana menjadi hening, Sedari tadi Dimas hanya terdiam, entah kenapa pria itu kembali ke sikapnya semula yang dingin dan cuek.


Andini melihat ke arah bubur yang tadi diletakkan oleh Nyonya Laras di atas nakas. perutnya yang lumayan keroncongan karena hampir satu hari yang ini tidak diisi apapun.


Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah Dimas, yang duduk sambil bermain ponsel di sampingnya.


"Mas, Tolong ambilkan buburnya dong, kangen aku nggak nyampe." Andini mengurut tantangannya dengan tubuh yang tak bergeser sedikitpun.


Dimas mematikan ponselnya dan memasukkannya kembali benda cantik itu ke dalam saku celananya.


Tanpa bicara lagi, pria itu langsung mengambil semangkok bubur tadi dan menyerahkannya di hadapan Andini.


"Duh, tangan aku sakit dan lemas. kayaknya pegang sendok ada nggak bisa, gemetaran banget ini." Andini mengatakannya seolah gemetar.


Dimas masih belum berbicara, pria itu menyadap bubur lalu menyodorkannya ke arah mulut Andini.

__ADS_1


Tampa menunggu lama, Andini langsung gelap satu sendok bubur itu.


"Astaga!


Andini mengambil tisu dan mengeluarkan kembali bubur yang tadi dimakannya.


Mulutnya seperti terbakar, bubur itu masih mengepul dan panas.


"Astaga buburnya masih panas, ya?" Dimas segera mengambil segelas air dan menyodorkannya ke arah Andini."Ini minum dulu!" wajah pria itu terlihat panik, ketika melihat wajah Andini memerah karena kepanasan.


Andini mengambil segelas air itu, lalu meneguknya sampai tersisa setengah.


Wanita itu menggenggam gelas tadi dengan erat, menahan kekesalan pada suaminya.


"Mas, kamu kalau nggak ikhlas, lebih baik nggak usah bantuin aku." Andini marah kembali segelas air itu dan akan mengambil mangkok bubur dari tangan Dimas.


"Tetapi, pria itu menahannya.


"Maaf, Saya tidak tahu kalau buburnya masih panas." Dimas menyendok kembali bubur itu, dan meniupnya beberapa kali.


Setelah itu ia menempelkan satu sendok bubur tadi pada bibirnya, untuk memastikan bubur tersebut masih panas atau tidak.


Andini tersenyum tipis ketika melihat sikap hangat suaminya.


"Sudah tidak panas lagi, sekarang makan, ya!"Dimas mendekatkan satu sendok bubur itu ke mulut Andini.


"Am..." Andini langsung melahapnya.


Dimas mengulangi hal itu beberapa kali, sampai Andini menyetopnya karena sudah merasa kenyang, walaupun bubur tersebut belum habis.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA TEMAN EMAK.

__ADS_1


__ADS_2