
Pagi ini Andini dan Dimas terlihat lebih fresh.
sepasang suami istri itu sama-sama bangun lebih awal, bahkan keduanya mandi bersama dan membersihkan rumah bersama.
Sampai pada saatnya, mereka harus berpisah karena kesibukan masing-masing.
Seperti biasa Dimas mengantarkan istrinya ke tempat kerja.
Karena semenjak Herlan dan Rian menikah Dimas tidak membiarkan istrinya numpang ke mobil kakak iparnya itu.
Bahkan ia rela putar balik, karena letak kampus dan tempat kerjaan Andini berlawanan arah.
"Mas, aku kerja dulu ya, kamu hati-hati." ucap Andini sambil mengulurkan tangannya ke arah Dimas, yang langsung disambut hangat oleh pria itu.
Dimas memberikan kecupan lembut pada kening sang istri, tradisi yang selalu mereka lakukan di saat berpisah.
"Kamu juga hati-hati, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Jangan lupa makan siang dan minum vitamin, supaya anak kita yang ada di dalam sini baik-baik saja. Satu lagi, jangan makan sembarangan!"cerocos Dimas bak seorang ibu yang sedang mengingatkan putrinya.
"Siap pak dosen!" Andini memberikan hormat yang membuat Dimas mencubit gemas kedua pipi istrinya.
"Peluk dulu!"Andini mendekap tubuh suaminya dengan erat, dan mengunyel-unyel hidung pada dada bidang Dimas.
"Ya sudah, nanti kamu telat dan bos kamu marah." ucap Dimas yang membuat Andini langsung melepaskan pelukannya.
"Bye Mas!" Andini melambaikan tangan dan keluar dari mobil suaminya.
Setelah mobil Dimas kembali berjalan, ia langsung masuk ke dalam gedung yang menjadi tempatnya bekerja.
Andini langsung naik lift, untuk menuju ruangannya yang terletak di lantai atas.
Setelah tiba, ia langsung masuk ke dalam ruangannya dan bersiap-siap untuk bekerja kembali, berhadapan dengan Alvin seorang bos yang killer seperti suaminya dulu.
Jam bekerja telah tiba, semua karyawan mengambil tugasnya masing-masing. Begitu juga dengan Andini yang langsung mendapatkan panggilan dari sang Bos melalui telepon.
Tanpa menunggu lama, ia langsung menuju ruang Alvin untuk menjalankan tugas dari pria itu.
__ADS_1
Seperti biasa saat dirinya masuk, Alvin tidak pernah melirik sedikitpun ke arahnya. Hal itu membuat Andini semakin bebas bergerak. Jujur saja, jika tatapan Alvin tertuju padanya. Ia bagaikan di sorot ribuan CCTV.
"Apa saja jadwal saya hari ini? tanya Alvin seraya mengalihkan pandangan ke arah Andini.
"Pertama ada meeting di kantor bersama staf dan manajer, kedua meeting bersama klien di cafe Cempaka. Hanya itu saja," jelas Andini seraya melihat jadwal sang bos yang dipegangnya.
"Baiklah, siapkan semua berkas-berkasnya." titah Alvin dengan tegas
"Baik Pak, Andini menunduk patuh dan akan melangkah menuju pintu keluar.
****
Malam ini adalah acara peresmian, sekaligus opening Cafe milik Robert dan Mariska yang mereka beri nama "Cafe kampung kecil."
Sepasang suami istri itu sudah bersiap dengan pakaian rapi.
Robert mengenakan kemeja berwarna biru, dan Mariska mengenakan gaun cantik yang memiliki warna senada dengan kemeja suaminya.
Banyak pengunjung yang datang termasuk semua sahabat mereka yang turut hadir ke acara tersebut.
Ricky dan Bima yang menjadi partner bisnis Robert sudah standby di cafe. Kedua pemuda itu bersiap menyajikan menu untuk setiap pengunjung.
Dan itu semua berhasil menarik banyak pengunjung yang lebih didominasi oleh anak-anak muda. Karena Cafe itu didesain dengan konsep anak muda yang tentunya akan menjadi tempat yang nyaman untuk nongkrong.
Andini juga turut hadir di acara bahagia sahabatnya.
Ia memaksa Dimas untuk datang ke cafe Robert dan Mariska, walaupun Dimas sudah melarangnya. Karena dirinya saat ini sedang hamil, dan Dimas khawatir terhadap keadaan sang istri.
Namun, bukan Andini namanya jika tidak berhasil membujuk suaminya sendiri. Sepasang suami istri itu datang sambil bergandengan tangan. Tak lupa pula Herlan dan Rian pun turut datang ke tempat tersebut.
"Terimakasih sudah datang ke cafe kami pak Dimas, dan Bu Andini. Serta Bang Herlan dan juga Mbak Rian." sambut Robert dan Mariska yang membuat Andini dan juga Mariska akan memecahkan tawanya.
"Selamat ya Robert, Mariska ,semoga sukses." balas Dimas.
"Selamat dan sukses juga untuk kalian berdua timpal Herlan."
__ADS_1
"Selamat ya Ibu, Robert dan Pak Mariska." ucap Andini
"Salah woi, kebalik! sangkal Rian dan Mariska serentak.
Seketika mereka semua memecahkan tawanya.
"Sorry guys, habisnya kaku banget pakai bahasa kayak gitu." ujar Andini.
"Ini tuh, sebagai gambaran kita di Dua puluh tahun ke depan?" balas Robert.
"Dua puluh tahun ke depan, berarti lama dong Robert? timpal Mariska
"Iya,lah siapa hayo yang tua duluan?"seloroh Robert
Seketika semua mata tertuju ke arah Dimas yang berdiri di samping Andini.
"Apa? kamu pada mau bilang suami aku yang duluan tua gitu?"sergah Andini dengan tangan yang semakin mengeratkan dengannya.
"Enggak, kita nggak bilang kayak gitu. Kita nggak ada maksud kayak gitu kok pak.
Suer!" elak Robert yang merasa takut dengan dosennya.
"Saya memang akan lebih tua, tapi saya tetap akan menjadi yang paling tampan." timpal Dimas dengan senyum tipis, yang membuat semuanya bernafas lega dan tertawa ringan.
Ricky yang melihat teman-temannya berkumpul akan menghampiri mereka.
Namun, langkahnya terhenti ketika berpas-pasan dengan seorang wanita yang mengenakan gamis panjang serta kerudung yang menutupi kepalanya.
Ricky terdiam sejenak. Pria itu memperhatikan wanita di hadapannya dari atas sampai bawah.
Matanya tak berkedip beberapa saat ketika melihat wajah cantik wanita yang terlihat seperti bukan orang Indonesia asli. Wanita yang mengenakan jilbab berwarna hitam itu memiliki kulit putih, hidung mancung, serta alis tebal dan mata yang indah. Membuat Rizki terpesona melihat wanita cantik itu.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"