Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 151. GOMBAL


__ADS_3

Sementara di tempat lain, seorang wanita yang mengenakan daster dengan motif bunga-bunga sedang memotong sayuran di dapur.


Rian bangun terlebih dahulu, Ia tahu mertuanya sedang tidak enak badan karena semalaman Nyonya Laras sempat mengeluh sakit kepala. Apalagi Rian sudah terbiasa bangun pagi saat di rumah kedua orang tuanya.


Oleh karena itu, ia bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan pagi keluarga.


Herlan yang menyadari istrinya tidak ada di kamar, ia segera keluar dan turun ke lantai bawah.


Biasanya Rian memang sering membantu Nyonya Laras di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Namun, karena semalam ia mendengar sang ibu sakit, jadi Ia berpikir kalau Rian hanya sendirian di dapur.


Wanita itu sedang sibuk memotong sayuran yang akan menjadi bahan masakannya kali ini.


Herlan tersenyum. Herlan menghampiri sang istri yang masih belum menyadari kedatangannya.


Pria itu berdiri tepat di belakang Rian dan memeluk tubuh sang istri dari belakangnya.


Pria itu berdiri tepat di belakang Rian dan memeluk tubuh sang istri dari belakang. Herlan menyandarkan dagunya pada bahu Rian dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri yang menenangkan.


"Astagfirullah! pekik Rian ketika merasakan ada sesuatu yang menempel pada punggungnya. Namun, ia langsung tersenyum ketika melihat dua tangan kekar sedang melingkar pada perutnya.


"Bang Herlan, ngagetin aja."ucap Rian sambil menoleh ke arah kanan yang langsung disambut senyum hangat dari suaminya yang hampir menempel pada wajahnya.


"Kamu mau masak apa? tanya Herlan tanpa melepaskan pelukannya.


"Mau masak capcay, Abang ada request mau dimasakin apa gitu?


"Nggak ada, kayaknya semua yang kau masak rasanya enak.


"Duh pagi-pagi udah di gombali. Bisa-bisa kena diabetes aku." seloroh Rian sambil terkekeh.


"Jangan dong, kalau diabetes Kan bahaya."Herlan melepaskan pelukannya dan berdiri di samping Rian yang mengambil bawang untuk segera dikupas.


"Diabetes cinta, Bang."wanita itu kembali terkekeh.


"Dasar, bocah!"Herlan mencondongkan wajahnya ke arah Rian yang malah langsung disambut ciuman lembut pada pipinya oleh wanita itu.


"Nyosor banget!"Herlan tertawa kecil ketika melihat tingkah istrinya


"Astaga aku lupa Bang. Kirain Ini lagi di kamar. Duh untung gak ada yang lihat."Rian mengendalikan pandangannya ke sekeliling dapur, untungnya di tempat itu hanya ada dia dan juga Herlan.


"Sini, biar aku aja yang kupas bawangnya!"Herlan mengambil pisau dari tangan Rian dan mulai mengupas dan memotong bawang putih yang dipegangnya.


"Hoek .."Rian langsung menutup mulutnya ketika mencium aroma bawang putih yang membuat perutnya langsung terasa mual. Herlan menoleh ke arah istrinya dengan dahi mengerut.


"Hoek ..."Rian kembali mengeluarkan suara seperti orang muntah.


"Kamu kenapa? kok kayak mau muntah gitu? tanya Herlan dengan heran.


"Bang ini bawangnya bau banget. Kayaknya busuk deh."Rian masih menutup mulutnya.

__ADS_1


"Masa? bawangnya bagus gini!"Herlan mengangkat bawang putih yang tinggal sepotong.


"Bang, jangan dekatin ke aku. Hoek..."Rian langsung membalikkan badan dan berlari dari dapur. Kebetulan sekali ia berpapasan dengan Nyonya Laras yang akan masuk ke dapur.


"Sayang kamu kenapa? teriak Herlan sambil mengejar langkah istrinya


"Herlan, Rian kenapa? tanya Nyonya Laras dengan wajah bingung.


"Nggak tahu Ma. tadi pak Herlan motong bawang, Rian kayak mau muntah. Katanya bawangnya bau "jelas Herlan masih dengan wajah bingung.


"Kayaknya istri kamu hamil deh."ucap Nyonya Laras dengan bibir yang tersenyum tipis.


"Masa sih Ma?


"CK.. nggak percaya. Udah buruan sana samperin! kasihan Rian Pasti lagi muntah-muntah."


"Iya mah."Herlan berlari mengejar langkah Rian yang mungkin telah tiba di dalam kamar mandi.


****


"Mas kayaknya aku mau sesuatu deh,"ujar Andini saat mobil yang mereka kendarai berhenti tepat di sebuah gedung yang setiap hari mereka datang.


"Kamu mau apa sayang? baju baru? tas baru? atau....


"Hussst.... aku nggak mau itu semua Mas."Andini menempelkan telunjuknya pada bibir Dimas.


Namun bukan itu Andini inginkan. "Terima kasih Mas, tapi sekarang aku bukan pengen beli mobil."


"Pengen apa? Dimas pengangkut alisnya sebelah.


"Aku pengen makan bakso, yang ada di kantin kampus, lengkap dengan gorengan tahu isinya."jawab Andini dengan wajah yang terlihat begitu mendambakan makanan berkuah tersebut.


"Hauh banget. Kita beli yang ada di sekitaran sini aja ya! Dimas akan membuka pintu mobilnya, tetapi tangan Andini langsung menahannya.


"Nggak mau Mas. Aku maunya yang ada di sana. Sudah lama aku nggak makan bakso buatan ibu kantin." ucap Andini


"Terus gimana? apa kita ke kampus dulu? habis itu baru balik ke sini? tanya Dimas dengan wajah bingung.


"Nggak usah Mas, nanti aja setelah kamu pulang baru beli baksonya.


"Bener nggak apa-apa, nanti kalau baksonya udah dingin?


"Nggak apa-apa, Mas. Yang penting aku bisa makan bakso itu."balas Andini dengan bibir tersenyum lembut.


"Beneran Mau bakso?


"Iya Mas."


"Mas, biasanya orang hamil muntah kayak si Mariska. Aku kok nggak ngerasa apa-apa ya?"

__ADS_1


"Mungkin beda-beda, tapi aku harap kamu menjaga kesehatanmu dan juga menjaga bayi kita yang ada di dalam sini." ucap Dimas mengusap perut istrinya dengan lembut.


"Ya sudah, aku keluar ya Mas. jangan lupa baksonya ya Mas." Andini melambaikan tangan dan keluar dari mobil suaminya.


"hati-hati sayang, "Dimas membalas lambaian tangan sang istri dan kembali menjalankan roda empatnya.


****


Setelah jam kerja dimulai, Andini langsung mendapat banyak tugas dari sang Bos. Hari ini jadwal meeting Alvin cukup padat dan membuat pekerjaan Andini lumayan menumpuk.


Wanita itu sibuk menyiapkan dokumen dan segala keperluan bosnya. Dia hanya istirahat sebentar saat, jam makan siang setelah itu melanjutkan pekerjaan sampai petang.


Bahkan sampai jam kerja telah selesai, Andini masih terkurung di gedung itu dengan tumpukan berkas-berkas di hadapannya.


Alvin masuk ke dalam ruangan Andini, dan menghampiri asistennya yang terlihat lemas.


"Hari ini kita lembur." ucap Alvin dengan nada dingin yang membuat Andini menahan nafasnya sejenak.


"Lembur? kita pak, yang lembur?"tanya Andini sambil menunjuk ke arah dirinya dan Alvin secara bergantian.


"Iya." jawab pria itu singkat.


"Berdua saja?"tanya Andini kembali mulai merasa tidak nyaman.


Jujur saja hatinya pasti gelisah Jika ia lembur hanya berdua saja di kantor yang sangat luas itu.


"Tidak ada beberapa staf dan juga manajer yang juga ikut lembur tapi mereka di lantai bawah."jelas Alvin yang berdiri di depan meja kerja Andini, dengan tangan sebelah kanan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.


"Terus yang di lantai ini cuman kita doang? tanya Andini kembali yang membuat tatapan Alvin semakin menajam.


"Ada asisten yang berjaga di depan ruangan saya. Kamu jangan banyak bicara, kita cuman mau lembur bukan mau ONS. Alvin menyeringai tipis.


"Sudah, jangan banyak nanya. Cepat bawa semua pekerjaanmu ke ruangan saya."titah Alvin dengan tegas.


"Saya mengerjakannya semua di ruangan saya saja Pak." pinta Andini yang malas jika harus pindah ke ruangan bos dan membawa semua pekerjaannya


Lagi pula ia pasti merasa tidak nyaman ketika berada dalam satu ruangan dengan Alvin di waktu yang mulai memasuki malam.


"Kerjakan di ruangan saya saja, sekalian saya kontrol. Takut ada yang salah, nanti bisa langsung revisi tanpa kamu harus bekerja dua kali. Tegas Alvin yang membuat Andini langsung bangkit dan membawa pekerjaannya.


Alvin yang melihat itu segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang asisten, dan menuju ruangannya yang tak jauh dari sana.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"

__ADS_1


__ADS_2