
Sementara di cafe kampung kecil, terlihat Nisa masih mencari keberadaan suaminya.
"Tunggu! ini maksudnya si Ricky minggat dari rumah, gitu?"tanya Bima setelah mencerna ucapan istri dari sepupunya itu.
"Iya, kami ada sedikit masalah, Ricky keluar dari rumah tapi sampai sekarang belum kembali lagi."jawab Nisa dengan nada sendu.
"Waduh! bisa-bisanya si Ricky sampai minggat segala. Jangan-jangan Mbak Nisa nggak ngasih jatah nih, makanya dia."janda Robert yang langsung mendapat cubitan di perut dari istrinya.
"Ampun sayang!"cicitnya sambil mengacungkan dua jari membentuk sebuah huruf V ke arah Mariska.
"Aku tidak bisa menjelaskan permasalahan di antara kami. Tapi, aku cuman minta bantuan kalian untuk mencari keberadaan suamiku,"tutur Nisa kembali dengan wajah bingung campur putus asa.
"Sudah coba telepon?"tanya Bima.
"Sudah, tapi nomornya tidak aktif." Nisa memijat keningnya sendiri.
"CK.... ada-ada saja si Ricky nih. aku coba telepon mama dulu, Siapa tahu dia pulang kampung."Bima mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.
Sementara Robert sedang mengetik sesuatu untuk dikirimkan ke grup persahabatan mereka.
"Woi..."ada orang yang minggat dari rumah karena tidak dikasih jatah oleh istrinya. Jika ada yang melihat harap segera hubungi kita di grup ini!"Robert mengirim pesan itu beserta sebuah foto Ricky ke grup persahabatan yang mana anggotanya hanyalah mereka mereka saja.
Seketika bunyi notifikasi ponsel Ricky terdengar beruntun.
Pesan itu masuk dari Andini dan Rian yang baru mendengar kabar sahabatnya yang minggat.
Sementara itu, Bima menempelkan ponselnya pada telinga setelah sambungan teleponnya Bersama sang Ibu terhubung.
"Halo assalamualaikum, ada apa Nak?"tanya Sulastri dari ujung telepon.
"Waalaikumsalam, ma si Ricky pulang ke Brandan nggak?"
"Si Ricky? bukannya Dia tinggal bersama dengan istrinya?"suara wanita paruh baya itu terdengar heran.
"Si Ricky minggat. Kayaknya dia pulang Kampung deh,"jawab Bima yang membuat ibunya semakin bertambah kaget.
__ADS_1
"Astagfirullah, pakai minggat segala. Tunggu dulu, Mama cek ke rumahnya ada atau tidak. Terus, itu si Ricky kenapa bisa nggak segala? istrinya nyariin apa enggak?"
"Sudah, Mama jangan banyak tanya dulu. sekarang Tolong lihat si Ricky ada di rumahnya apa enggak? kasihan istrinya nyariin di sini."
"Iya, Mama lihatin dulu sebentar! Eleh, Ini sandal ke mana lagi? Kenapa tiba-tiba nggak ada?"gerutu Ibu Sulastri di seberang telepon.
"Walah, dasar nih ayam pakai sendal orang segala!"teriak Sulastri dengan kesal.
Bima sedikit menjauhkan ponselnya ketika suara sang Ibu terdengar memenuhi Indra pendengarannya.
"Ma, berisik! Kenapa sih?"
"Nanti dulu ya Bima. Mama mau ngejar ayam yang pakai sendal mama. Orang nyariin dari tadi, ternyata sandal mama dipakai sama nih ayamnya Mpok Nining.
"Astaga, Mama. udah buruan lihatin dulu si Ricky ada apa enggak. pakai mau ngejar ayam segala, kelamaan!"
"Ya udah, Mama nyeker aja kalau gitu. Ini kebalik jadinya, ayam pakai sendal Mama yang nyeker,"gerutu Sulastri kembali sambel berjalan ke arah rumah Ricky yang tak jauh dari rumahnya.
Saat Sulastri tiba di rumah orang tua Ricky, Sulastri langsung bertanya keberadaan Ricky kepada Mpok Nining.
"Pertanyaan macam apa itu, Kamu kan tahu si Ricky tinggal sama istrinya."sahut Mpok Nining keheranan. Kemudian ibu Sulastri memberitahu apa yang diinformasikan oleh Bima. Membuat Mpok Nining sontak terkejut.
"Kamu jangan bercanda, Memangnya kenapa dia bisa sampai minggat dari rumah?"
Si Bima tidak memberitahu Mengapa Ricky pergi dari rumah, Yang pasti sekarang istrinya khawatir mencari keberadaan si Ricky.
Sementara itu, Ricky yang masih berada di dalam perjalanan darat menuju Sumatera, tampaknya dirinya bimbang.
Rasa cinta yang begitu dalam terhadap Nisa, membuat langkahnya terasa berat. Tetapi ketika dirinya membayangkan kata-kata yang menyakitkan keluar dari mulut sang istri, membuat dirinya enggan untuk kembali ke rumah itu lagi.
****
Tiga hari sudah berlalu, Nisa masih juga belum menemukan suaminya. Membuat dirinya pun tidak bisa berpikir dengan jernih. Apalagi setelah Bima menghubungi kedua orang tuanya kalau si Ricky tidak ada di pangkalan Brandan.
"Di mana kau Ricky? aku minta maaf, aku sudah keterlaluan kepada kamu."Nisa bermonolog sendiri. Dia merasa bersalah karena sudah berbicara kasar kepada suaminya. yang membuat hati suaminya terasa sakit , bak tersayat pisau tajam.
__ADS_1
Nisa lalu menghubungi Ricky kembali, tapi nomor ponsel Ricky tidak aktif. "sebegitu marahnya kamu sama aku? sampai nomor ponsel kamu saja tidak Kamu aktifkan?"gumam Nisa di dalam hati.
Sementara itu, Ricky yang sudah melakukan perjalanan jauh dari kota Jakarta menuju pangkalan Brandan, membuat dirinya cukup lelah. Apalagi dirinya melakukan perjalanan darat hingga tiba ke rumah kedua orang tuanya.
Ricky berjalan dengan gontai setelah bertegur sapa dengan kedua orang tuanya.
"Ricky, Ada apa sebenarnya cerita sama mama?"tanya mpok Nining karena sebelumnya Mpok Nining sudah mengetahui kalau Ricky kabur dari rumah.
"Sudah lah Ma, aku lagi tidak ingin berbicara. aku masih capek dan pengen istirahat."ucapnya sambil keluar dari rumah. Padahal baru sekitar 1 jam yang lalu Ricky tiba di rumah kedua orang tuanya.
"Ricky, kamu mau ke mana?"tanya Mpok Neneng yang langsung menghentikan langkah putranya.
"Mau ke sawah Ma. Seperti apa yang dikatakan Mak beti youtuber terkenal itu, kalau kita pergi ke sawah ketika memiliki beban pikiran. Pasti kita akan rileks."ucap Ricky kepada Mpok Nining."
"Eleh, Katanya capek. bukannya istirahat malah mau pergi ke sawah."ucap Mpok Nining memperhatikan putranya.
"Kamu seharusnya ngomong sama Mama, Sebenarnya kamu kenapa pulang sendirian? mendadak lagi. Kan mama sudah bilang, Kalau pulang ke kampung sekalian aja bawa Nisa, biar mama perkenalkan sama tetangga sekitaran sini. Biar mereka...."
"Ma, sudah ya! jangan mengharap dia datang ke sini."Ricky segera memotong ocehan ibunya.
"Loh, kok gitu?"Memangnya kenapa?"wanita paruh baya itu menatap heran ke arah putranya yang berwajah sendu dan murung.
Ricky memang tidak menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan Nisa kepada kedua orang tuanya, dia masih menutupi itu semua dan lebih memilih menenangkan hati terlebih dahulu.
"Ricky pusing mah. Ricky butuh waktu sendiri."Ricky kembali melangkah, meninggalkan Mpok Nining yang masih menatap heran.
"Ricky, kamu mau ke mana?"teriak Mpok Nining kembali sebelum punggung putranya benar-benar menjauh.
"Mau ke sawah, lihat orang-orangan sawah. Ricky bosan lihat orang beneran!"balas Ricky tanpa membalikkan badannya sedikitpun.
"Astagfirullah, Ricky. Awas kamu jangan bunuh diri!"teriak Mpok Nining dengan panik.
Ricky terus berjalan dengan lunglai ke pinggiran desa itu.
Kakinya melangkah dengan gontai, menyusuri jalanan di samping kirinya terdapat hamparan kebun sawit yang begitu luas, sedangkan di sebelah kanan terdapat hamparan persawahan yang begitu luas dan juga menakjubkan.
__ADS_1
Bersambung....