
Sedangkan bayi mobil itu sedang dibersihkan oleh beberapa perawat yang ikut membantu persalinan.
Herlan menatap istrinya yang terbaru lemah dengan sorot mata nanar. Buliran bening tak berhenti mengalir dari matanya.
Mungkin, Ini pertama kali dalam sejarah hidupnya ia meneteskan air mata dan menangis. pria itu berdiri di samping branker sang istri dengan mulut yang melafalkan doa, memohon untuk keselamatan sang istri.
Dokter memasang jarum infus di kedua tangan Rian, tangan kiri dan kanan.
Herlan mematung dengan perasaan tak, rasa takut dan khawatir membuat tubuhnya seolah tak bisa bergerak.
Tak lama kemudian kedua bola mata riang terbuka dengan perlahan, Wanita itu sudah sadarkan diri.
Herlan segera mendekat dan menatap wajah istrinya dengan Sendu.
"Alhamdulillah Kamu sudah ciuman sayang."Herlan memeluk dan mencium wajah Rian, menumpahkan segala kecemasan yang ia rasakan.
Herlan masih belum menghentikan tangisnya, air mata pria itu mengalir semakin deras dengan tangan yang mendekap tubuh sang istri.
"Bang, kamu nangis?"tanya Rian yang membuat Helen mengendorkan pelukannya dan menatap ke arah wajah sang istri.
"Kasihan istriku."Herlan mengusap kedeng Rian dan menggenggam tangan istrinya dengan erat.
"Bang, kamu beneran nangis?"Ryan memperhatikan wajah suaminya dengan rahim mengerut.
Baru kali ini ia melihat Helen mengeluarkan air mata. "Kamu jangan kayak tadi lagi ya! aku takut, aku takut kamu kenapa-napa."Herlan mencium punggung tangan istrinya dengan lembut.
"Hahaha.... akhirnya aku bisa melihat kamu menangis juga Bang,"Ryan tertawa keras yang membuat bagian bawahnya terasa sakit, karena belum selesai diobati.
"Kok malah ketawa sih?"Herlan menatap istrinya dengan dahi mengerut.
"lucu aja Bang. Selama kenal sama kamu, aku belum pernah melihat kamu menangis."Ryan mengusap sudut mata yang berair, ya ikut meneteskan air mata saat melihat suaminya menangis.
"Karena aku sangat sayang sama kamu, aku takut kehilangan kamu."Herlan kembali mengeratkan pelukannya.
"Masa!"tanya Rian dengan lebay
"Rian,ikh! orang lagi serius juga."Herlan mencabut kedua pipi istrinya dengan gemas.
"Bu Rian, Tolong jangan banyak gerak dulu ya! kita akan melakukan penjahitan!"ucap seorang dokter yang seketika membuat Rian terdiam dengan mata membulat.
"what? Penjahitan?
"Iya, tadi saat mengerjakan Ibu sempat mengangkat bokong dan memiliki sobekan di bagian bawah, "jelas dokter itu kembali yang membuat Rian semakin ketakutan.
"Astaga.... Bang Herlan aja yang dijahit!"teriak Ryan Soraya menarik tubuh suaminya.
Setelah itu, dokter dibantu dengan beberapa perahu segera melakukan penjahitan pada luka Rian.
Wanita itu menjerit, bahkan ntar ragu-ragu mencubit tangan suaminya saat merasakan jarum jahit ditusukkan ke bagian kulit aset miliknya
Bahkan, bibir tipis itu tak berhenti mengomel sampai membuat telinga dokter dan perawat yang menanganinya kepanasan.
"Dokter, bisa nggak sih nggak usah dijahit?"kan sakit banget, begini."Ryan merengek sambil terus memilin jemari suaminya.
__ADS_1
"Bisa,"jawab dokter yang sudah mulai jengah mendengar ocehan pasien itu.
"Beneran bisa dokter? ya udah, kalau begitu squishy saya gak usah dijahit deh!"pinta Rian.
"Tapi kalau tidak dijahit dukanya akan terus terbuka,"jelas dokter itu sambil terus menjalankan tugasnya.
"Apa? Terus kalau dibiarkan terbuka Apa bahaya dokter?"tanya Rian kembali dengan wajah serius.
"Paling longer doang, habis itu suami berpaling."jawab dokter itu kembali dengan bibir yang mengembangkan senyuman..
"Oh my God, kalau gitu lihat aja dokter, Bila perlu jahit semua biar rapat!" titah Rian yang membuat dokter yang menanganinya geleng-geleng kepala.
"Kalau dijahit semua, Ibu nggak bisa pipis,"balas dokter itu kembali sambil terkekeh, dokter tersebut sengaja mengajak Rian ngobrol supaya wanita itu lebih rileks dan tidak berteriak-teriak selama proses penjahitan.
Mata Rian membulat sempurna saat mendengar penuturan Dokter tadi.
Proses penjahitan selesai, Rian bernapas lega karena kini sudah bisa tidur dengan santai, meskipun sesekali area bawahnya terasa sakit.
Seorang perawat atau membawa bayi yang sudah dibersihkan dan dipakaikan pakaian lengkap dan di Bedong.
"Pak, Bu ini bayinya. Selamat ya anaknya laki-laki,"ucap perawat itu Seraya menyerahkan bayi mungil itu ke arah Rian.
"Bang, ini anak kita, Bang? Rian menatap kerah bayi yang masih merah itu dengan raut tak percaya.
"Iya, Alhamdulillah. Anak kita tampan banget kayak aku," ucap Herlan dengan wajah berbinar.
"Masya Allah."Ryan menatap karaoke arah putranya.
"anak kita belum di Adzan kan. Biar aku Adzan kan dulu "Herlan menggendong bayi itu dengan hati-hati.
Pria itu segera melantunkan Adzan pada telinga bayi mungil tersebut.
Rian meneteskan air mata haru, tangis kesakitannya terbayar sudah saat melihat putranya yang mungil.
Setelah itu, dokter dan beberapa suster yang sudah menyelesaikan tugasnya, keluar dari ruangan dan bergantian dengan keluarga Herlan dan Rian yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
Andini dan Dimas ikut datang ke rumah sakit saat mendengar Rian melahirkan. Tentunya setelah mempercayakan ketiga baik kembarnya kepada ketiga baby sitter yang sudah ditugaskan menjaga dan merawat bayi kembar Andini dan Dimas.
Andini merasa khawatir dengan keadaan Rian, karena dia tahu persis bagaimana proses melahirkan yang begitu menyakitkan dan menakutkan. dia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada kakak iparnya itu.
Meskipun malam semakin larut, iya memaksa Dimas untuk datang ke rumah sakit.
Sekarang, setelah mendengar Ryan melahirkan dengan selamat, Andini bisa bernapas lega.
Dimas dan Andini masuk secara bersamaan ke dalam ruangan di mana Rian sedang berbaring di atas branker sambil menggendong bayinya.
Semua keluarga terlihat bahagia, terutama Nyonya Laras yang tak henti-hentinya mengucap syukur dan memuji cucu keempatnya.
"Cucu Oma ganteng banget,"ucapnya Laras dengan mata yang tertuju keras bayi dalam gendongan menantunya itu.
Binar bahagia terpancar nyata pada wajah Rian, rasa sakit saat melahirkan bayi itu saya akan tak dirasakannya lagi, Ketika sang mutiara telah berada di dalam pangkuannya.
****
__ADS_1
Pagi menyapa, seorang pria yang mengenakan kaos tipis dan celana sebatas lutut sedang berdiri di depan jendela kamar, menikmati udara dari lantai dua rumah mewah itu.
Sesekali Ricky menggerakkan kedua tangan, serta lehernya, merenggangkan otot yang terasa kaku karena tidur semalaman.
Namun tiba-tiba dua tangan melingkar pada perutnya.
Pria itu rileks menoleh ke arah sang pelaku. Siapa lagi kalau bukan Nisa. wanita itu masih mengenakan handuk kimono dengan rambut bahasa yang terbalut handuk kecil.
Ricky melihat wajah sang istri menempel pada lengannya.
"Selamat pagi sayang."ucap Nisa dengan suara yang terdengar lembut dan menyejukkan hati Ricky, sesejuk salju di dalam kulkas satu pintu.
"Pagi,"balas Ricky dengan singkat.
"Ikh, singkat banget balasannya!"seketika nih sama lepaskan pelukannya, wanita itu berdiri di hadapan Ricky, menghalangi pandangan suaminya yang lurus ke arah jendela.
"Kan biar berwibawa,"balas Ricky kembali dengan nada suara yang terdengar lebih tebal dari biasanya.
"Hahaha... Kamu kenapa sih? nih sama mencet kedua belah pipi suaminya.
"Biar kelihatan kayak bos-bos gitu. lihat nih tubuh aku udah lumayan berisi, nggak kerempeng banget."Ricky menunjukkan otot pada lengannya yang lumayan bertambah besar, tubuhnya juga semakin berisi. berbeda dengan dirinya di saat masih menjadi mahasiswa.
"Iya, tubuhnya makin berisi juga. makin enak buat dipeluk dan dijadikan tempat bersandar."Nizam memeluk tubuh suaminya dari depan.
Sejak kejadian itu dan pulang dari pangkalan Brandan tepatnya di Sumatera Utara, bisa saya akan menempel terus pada suaminya.
Mungkin, kejadian kemarin iya anggap pelajaran, sehingga ia menjadi lebih lengket pada Ricky.
"Lengket banget kayak kulit sama daki."ucap Ricky yang membuatmu bisa menengadahkan kepala, menatap wajahnya tanpa melepaskan pelukan.
"Aku kulitnya, kamu udah punya."balas nih Sayang diiringi tawa ringan.
"Iya, ikhlas aku jadi apa aja, agar tetap sama ibarat kata kamu gula aku semutnya, kamu mutiara aku lumpurnya, kamu belum aku anginnya, kamu bakpao aku sosis."
"Loh, kok bakpao sama, Apa hubungannya?"Nisa mendapatkan kedua alisnya
"Sebenarnya mereka nggak ada hubungan apa-apa, cuma aku ada rencana mau menjodohkannya."
"Apaan sih, random banget. hahaha...."bisa melepaskan pelukannya dan tertawa renyah.
"Hari ini kan tanggal merah ya! kita mau ke mana nih? Kamu mau jalan? atau mau ngamar terus sama aku biar cepat berisi?"Ricky menatap karya istrinya dengan senyum menggoda.
"Ikh, baru juga semalam habis itu, Masa mau lagi?"protes Nisa dengan bibir mengerucut.
"Hahaha...m ya udah, kita pergi aja gimana? Lagian setelah pulang dari kampung kita sibuk banget, sampai nggak pernah ada waktu buat pergi ke tempat lain."tutur Ricky.
"Terus mau pergi ke mana? Nisa balik bertanya.
"Emmm... kalau ke rumah si Robert mau nggak? kita kan belum jenguk anak mereka."usul Ricky dengan surat mata yang tertuju ke arah sang istri seolah meminta persetujuan.
"Boleh, tapi nanti di jalan kita beli perlengkapan bayi dulu ya, buat hampers."
"Ok, aku mandi dulu!"
__ADS_1
Ricky langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Nisa duduk di meja rias untuk mengeringkan rambut dan bersolek.
Bersambung.....