Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 6. INGIN KABUR


__ADS_3

BRUKKK!


Andini menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


"Kan, mama sudah bilang jangan drama, kamu masih saja membantah Mama. Apa kamu mau menjadi anak durhaka?


Nyonya Laras menarik kaki putrinya agar turun dari ranjang.


"Ampun Ma!"teriak Andini saat Nyonya Laras terus menarik kakinya, sampai tubuh Andini akan terjatuh dari atas ranjang.


"Cepat bangun, dan mandi sebelum Mama bawa kamu ke steam.


"Ya Allah, dikira Andini motor apa, pakai mau di stem segala."Gadis itu bangkit dengan terpaksa.


"Ma, gak bisa gitu pernikahan Ini dibatalkan saja?"lagi lagi Andini dengan wajah memelas merengek meminta agar pernikahan itu dibatalkan.


"Tidak bisa, sayang. Ini sudah menjadi ketentuan ilahi, kalau kamu dan Dimas itu memang berjodoh, ini sudah keputusan mutlak." ucap Nyonya Laras dengan Gigi mengerat menahan rasa geramnya melihat tingkah putrinya itu.


"Tapin Ma. please ijinkan Andini kabur dari pernikahan ini."Andini memegang tangan sang Mama seolah.


" No! kalau kamu kabur sekarang, itu sama saja kamu membunuh Opa."


"Ih, lebay banget sih. Memangnya detak jantung Opa Andini yang pegang? semua atas kehendak Allah Ma. Nafas kehidupan umat manusia yang ada di muka bumi ini, semua Allah yang memilikinya."ucap Andini berharap Nyonya Laras merubah pikiran.


"Sudah jangan bawel, sekarang kamu mandi sebelum tukang rias datang ke sini."


"Ma please.."


"Andini! kesabaran Mama sudah di ujung tanduk."Nyonya Laras menatap langkah putrinya.

__ADS_1


"Tapi pernikahan ini beneran tak rame kan, Ma? sesuai permintaan Andini hanya keluarga inti saja yang hadir?"tanya Andini memastikan permintaannya itu dikabulkan.


"Iya, Mama cuma ngundang Pak kades dan seluruh warga saja.


"What?


"Sudah buruan mandi tidak perlu banyak bertanya!"Nyonya Laras mendorong tubuh putrinya masuk ke dalam kamar.


Setelah itu, dua orang perias yang sudah dipesan oleh Nyonya Laras sebelumnya datang untuk mendandani Andini.


"Mbak bantu saya kabur yuk."pinta Andini kepada dua orang wanita yang masih terlihat muda itu.


"Ya ampun Mbak, manten kok malah mau kabur." celetuk seorang perias.


"Eh Mbak, saya ini nikah karena terpaksa. makanya saya mau kabur."


"Terpaksa juga cuman awalnya, ntar lama-lama malah enak."balas perias satunya lagi sambil terkekeh.


"Sudah kita rias dulu, ya. Biar tambah cantik. pernikahan itu anugerah. Nanti Mbak pasti bakal menemukan kebahagiaan di dalamnya." Tukas perias itu menarik tangan Andini agar duduk di kursi rias.


Selama dirias, Andini tidak berhenti bergerak dan mengomel. Gadis itu memprotes setiap Apa yang dilakukan perias itu pada dirinya termasuk saat memoles wajahnya.


Sampai sampai membuat dua perias itu kewalahan menghadapi sikap kliennya. Andini paling tidak suka make up tebal. oleh karena itu mulutnya tidak berhenti mengomel saat dipasangkan make up yang lumayan.


Apalagi Andini sama sekali tidak pernah berdandan menor seperti itu. Bahkan untuk memakai bedak saja dan lipstik jarang sekali, hanya hari-hari tertentu bisa dibilang, paling sekali setahun saja.


"Andini ayuk, kita keluar proses ijab kabulnya akan segera dimulai." ucap nyonya Laras yang baru masuk ke kamar putrinya.


"Oh my God, tamat sudah riwayatku. Kenapa aku nggak mati saja hari ini. ucap Andini dengan pilu.

__ADS_1


"Sudah jangan banyak drama, anak mama yang cantik dan juga baik. Ayo Sayang." bujuk Nyonya Laras menggandeng tangan Andini, karena terlihat kedua perias itu sudah selesai merias Andini. Dan penampilan Andini saat ini benar-benar cantik dan mempesona.


"Ma, nikahnya besok aja ya." Andini belum siap. Gadis itu masih diam walaupun Nyonya Laras telah menarik tangannya.


"Kamu jangan ngadi-ngadi, ya. Ayo ikut Mama." Nyonya Laras menarik tangan Andini cukup keras sampai membuat Gadis itu terpaksa mengikuti langkahnya.


Nyonya Laras menggandeng tangan Andini, saat menuruni anak tangga dengan langkah perlahan.


Jantung Andini seolah akan meloncat bagaikan seekor katak ketika melihat apa yang ada di lantai bawah rumahnya.


Acara akad nikah akan diadakan di dalam rumah, sebagaimana tema pernikahan kali ini yaitu pernikahan tertutup.


Kedua belah pihak menyetujui permintaan Andini, agar pernikahan itu dilangsungkan secara tertutup dan hanya dihadiri oleh keluarga inti saja.


Alasan Andini saat itu adalah karena dirinya masih kuliah. Padahal tujuan utamanya karena ia tetap ingin dipandang singgel sehingga oleh semua orang.


"Tidak ada janur kuning melengkung, tidak ada tenda biru, tidak ada pelaminan, tidak ada surat undangan.


Semuanya terlihat sederhana dan biasa-biasa saja.


Andini mengarahkan pandangannya ke arah tempat yang akan menjadi tempat dilaksanakannya akad nikah.


Jantungnya seolah berhenti berdetak ketika melihat seorang pria yang mengenakan baju khas pengantin pria, telah duduk dengan tegap di hadapan penghulu dan juga ayahnya.


Saat ini Dimas terlihat sangat tampan, wajahnya yang teduh seolah menghapus kesengsaraan saat mengajar.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2