Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 3. HANCUR SEMUA


__ADS_3

Andini menatap tajam ke arah Dimas. Ia kesal karena Dimas tak kunjung menyangkal perjodohan itu. Karena Andini benar-benar tidak ingin perjodohan itu dilanjutkan.


"Eh, Bapak jangan diam saja dong! Tolong bantu saya membatalkan perjodohan ini, tidak mungkin juga kita menikah tanpa ada rasanya cinta di antara kita."cerocos Andini kepada Dimas yang malah mengangkat alisnya sebelah.


Bagaimana tidak, Andini semakin kesal. terlihat Dimas cuek saja akan perjodohan itu. Seolah Dimas terima saja akan rencana kedua orang tuanya, yang ingin menjodohkan Dimas dengan Andini. Padahal Andini benar-benar sangat membenci dosen killer itu yang selalu mempersulitnya saat berada di kampus.


Selama berada di kampus bersama dengan Dimas, sang dosen killer yang terkenal di sejagat universitas. Membuat hidup Andini semakin dirundung kekesalan. Dimas selalu membuat Andini, selalu merasa tidak puas dengan hasil kerja keras Andini dan tidak pernah memujinya.


Ia selalu mengejeknya. Padahal di antara dosen-dosen lainnya, semuanya mengacungkan jempol kepada Andini. Karena kecerdasan dan juga keterampilannya di berbagai bidang di kampus. Bahkan ia sering mengharumkan nama baik kampus. Tapi itu tidak bernilai apa-apa di mata Dimas


Ia selalu mengatai Andini setengah perempuan dan setengah laki-laki. Karena penampilannya yang tomboy dan juga bergaul dengan laki-laki saja jarang sekali memiliki teman perempuan. Karena bagi Andini jika berteman dengan seorang perempuan pasti akan menggosip jadinya, lebih baik ia memilih bergaul dengan para laki-laki bahkan dengan geng geng motor.


"Andini, saya tahu ini mungkin terbilang begitu cepat dan mendadak. Tapi ini juga sesuai janji Opa kamu yang akan menjodohkan cucu perempuannya dengan Putra saya. Kamu tenang saja, Dimas adalah pria yang baik, Saya yakin kalian akan menjadi pasangan yang serasi."ucapkan Anggara dengan bangga yang langsung disetujui oleh Nyonya Laras dan juga tuan Miko Pratama.


"Nak, Dimas setuju kan menikah dengan Putri saya?"tanya Tuan Miko Pratama


Dimas menatap ke arah Andini yang sedang komat-kamit ngedumel sendiri.


Pria itu tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya dengan perlahan.


Seketika Andini kembali membulatkan mata, tubuhnya terasa lemas.


"Oh my God! tamat sudah riwayat hidupku."gumam Andini yang masih dapat didengar oleh Dimas. Padahal Andini sudah berharap kalau Dimas juga menolak perjodohan itu, karena ia tahu Dimas sangat membencinya. Melihat perlakuan Dimas saat berada di kampus yang tidak pernah menyukai kehadirannya. Bahkan Dimas sering juga mengolok-olok Andini. Tak jarang ia memanggil Andini wanita separuh dewa.


Setelah kedua belah pihak memutuskan untuk melanjutkan perjodohan dan akan segera menyiapkan pernikahan Dimas dan Andini.


Tuan Miko Pratama Sampai mengetuk tiga kali meja makan di restoran itu. Bagaikan sebuah sidang yang telah selesai dan tidak bisa diganggu gugat.


Andini merasa masa depannya telah terancam, dan akan suram. Perasaannya sudah kacau, bahkan gadis tomboy itu tidak ikut mencicipi hidangan makanan malam yang memenuhi meja.

__ADS_1


Walaupun terlihat menggiurkan, tapi nafsu makannya telah hilang begitu saja bersama dengan nafsu hidupnya.


Mungkin setelah ini, ia akan mati rasa atau bahkan mungkin mati suri. Yang tidak memiliki nafsu apa-apa lagi.


Sampai akan pulang pun, Andini tidak mengeluarkan sepatah kata pun, walaupun Nyonya Laras beberapa kali menginjak kakinya agar berpamitan pada Tuan Anggara dan juga Dimas,


Namun, niatnya untuk mogok ngomong sudah bulat, Andini hanya meringis tertahan Ketika sang Ibu menginjak kakinya cukup keras.


Bahkan Dimas menatapnya dengan heran ketika melihat wajah Andini yang terlihat bagaikan menahan sesuatu, tampak Ia ketahui di bawah meja sedang ada perang dua kaki antara ibu dan anak.


Sampai tiba di rumah pun, Andini masih enggan berbicara, tiba-tiba saja gadis cerewet itu berubah menjadi.


Nyonya Laras menatap heran ke arah putrinya yang berjalan menaiki anak tangga dengan kaki yang sengaja di hentakkan .


"Ehem.... yang sudah ketemu calon suami, bibirnya makin manyun aja." goda Herlan saat berpapasan dengan sang adik sepupu di lantai atas.


Daripada harus ngekos di tempat orang lain, Nyonya Laras menawarkan agar Herlan tinggal di sana. Mengingat Herlan merupakan putra dari adiknya sendiri yang tinggal jauh di luar kota.


"Kamu kenapa menatapku seperti itu? jangan Kamu kira aku suka dengan perjodohan ini."kamu mau ke mana?


"Kamu nanya? kamu bertanya-tanya?


"Herlannnnnn.......!!!! teriak Andini yang terdengar bagaikan sebuah bom meledak.


"Hahaha.... nenek sihir ngamuk, ups Salah wanita separuh dewa seperti sang dosen kesayanganku, selalu memanggilnya wanita separuh dewa."cibir Herlan sambil berlari menuruni anak tangga.


Andini kembali menghentakkan kakinya, Gadis itu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu itu dengan kasar sampai menimbulkan bunyi yang sangat keras. membuat Nyonya Laras dan Tuan Miko Pratama menggelengkan kepalanya.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini, nggak mama, nggak papa, nggak Opa, dan juga nggak Herlan yang selalu mengejekku wanita seperti dewa. Apa salahku? Iya aku memang seperti inilah, tidak menyukai bergaul dengan wanita-wanita penggosip. Yang mampu menimbulkan dosa."teriak Andini sambil melemparkan sepatunya ke sembarang arah.

__ADS_1


"Sial banget, hidupku!


dosen killer, itu juga tidak mau membatalkan perjodohan ini. Sepertinya ia Ingin membuatku Hidup segan mati tak mau. Ia ingin membunuhku secara pelan-pelan.


"Astaga, foto aku dengan Bagas! pekik Andini saat tak sengaja ia melemparkan sepatunya ke arah foto dirinya dengan Bagas. lelaki yang selama ini dekat banget dengan Andini. ya memang mereka tidak pasangan kekasih, tapi Bagas selalu aja ada bersama Andini jika Andini berada dalam kesusahan maupun senang.


Seketika bingkai foto itu hancur berserakan di atas lantai.


"Ya Tuhan, foto juga ikut-ikutan hancur seperti hancurnya hatiku."Andini mengambil foto yang tertimpa pecahan kaca itu.


"Kok aku jadi kangen sama kamu ya, Bagas?."Andini mengusap foto dirinya dengan Bagas dengan wajah sendu.


Tangannya bergerak mengambil ponsel dan mencari nama seseorang pada benda canggih itu. Andini menghubungi nomor ponsel Bagas, pria yang baru-baru ini berusaha menjaga jarak darinya.


Tiga kali panggilannya tak terjawab, membuat hati Andini menjadi gundah gulana. Di saat ia butuh teman curhat, justru Bagas saat ini tidak mengangkat sambungan telepon selulernya.


Sedih, galau, dan cemas, itu yang dirasakan oleh Andini sekarang. Seakan langit runtuh menimpa dirinya, Sudah jatuh ditimpa tangga pula. Andini menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur sambil memeluk foto yang selalu menjadi favoritnya itu.


Foto itu, ia ambil saat mereka pergi berwisata di salah satu tempat wisata nan indah. Di dalam foto itu dirinya dan Bagas tersenyum.


"Bagas, kamu kok nggak angkat telepon aku?" gumam Andini mengetik sesuatu pada ponselnya. Tapi tak kunjung ada jawaban. membuat Andini semakin kesal.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2