Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 85. SELAMAT DARI MAUT


__ADS_3

Dengan berat hati, sepasang suami istri itu berpisah untuk sementara. Sesuai dengan permintaan Nyonya Laras.


Di sepanjang perjalanan, Andini terus memeluk lengan suaminya, menumpahkan rasa rindu karena akan berpisah selama satu hari dua malam.


"Mas, nanti aku kangen gimana?"sekarang kan aku susah tidur kalau nggak ada kamu,"remix Andini dengan manja.


"Nanti kamu tetap ada yang menemani kok."


"Hah? Mas mau nginep di rumah mama sama aku?"tanya Andini dengan mata berbinar.


"Bukan Mas sayang, tapi...tuh!"Dimas menunjukkan ke arah boneka yang diletakkan di kursi bagian belakang.


Boneka berukuran besar itu adalah boneka pemberian Dimas saat mereka mencari kado ulang tahun untuk Mariska.


"Mas,ih. itu kan hanya boneka, nggak ada nyawanya. Nggak bisa peluk Andini pas lagi tidur. "Andini mengerucutkan bibirnya.


"Kamu peluk aja dia. Anggap saja boneka itu adalah Mas."Dimas mengusap kepala istrinya dengan lembut.


"Beda dong Mas. Andini Kan pengennya Mas, yang selalu ada di samping Andini."Andini kembali menyandarkan kepalanya pada lengan berotot Dimas


"Sabar ya, Sayang. kita berpisah sebentar kok."Dimas mencium pucuk kepala istrinya.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah.


Dimas segera turun dan membukakan pintu untuk sang istri, setelah itu ia mengambil boneka tadi dari dalam mobil.


Keduanya berjalan ke arah pintu rumah yang pintunya tidak tertutup.


"Assalamualaikum."sapa Andini dan Dimas.


"Ma, anak mama yang cantik dan berprestasi, datang nih!"teriak Andini dari teras rumah.


Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya datang dan tersenyum ramah. Melihat kehadiran sang putri dan sang menantu di rumah.


"Wa'alaikumsalam." apa tadi? Mama nggak salah dengar? Nyonya Laras mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Ganti Sekarang Ma. Istri cantiknya Mas Dimas datang,"ucapkan dini yang membuat Dimas langsung menatap ke arahnya.


"Ma, kalau begitu Dimas pamit dulu ya Ma. titip Andini."


"Loh, kok langsung pamit. Nggak mau masuk dulu, terus ngopi?"tawar Nyonya Laras dengan ramah.


"Terimakasih Ma, tapi saya ada urusan setelah ini."


"Ya, sudah. hati-hati di jalan ya, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya. Kalian ini calon pengantin."


"Kita kan sudah nikah, Ma,"sangkal Andini.


"Iya, tetapi tetap harus hati-hati."


"Iya, Ma, Terimakasih. Dimas pamit dulu."Dimas mencium punggung tangan Ibu mertuanya.


"Kamu jaga diri ya sayang, dan jaga juga hati kamu."Dimas menyerahkan boneka itu kepada istrinya.


"Mas, juga hati-hati. Dan jaga juga hati Mas untuk Andini, Nanti kalau sudah sampai di rumah, langsung hubungi aku ya Mas."Andini memeluk tubuh suaminya sebentar dan melepaskan dengan berat hati.


Setelah itu, Dimas kembali ke mobilnya dan menjalankan roda empat itu dengan perlahan.


"Ma, Kenapa sih harus ada acara pisah rumah segala?"Andini protes kepada Nyonya Laras.


"Kan cuman sebentar, nanti juga pas resepsi kalian ketemu lagi. Sekarang kamu sudah merasa kalau nak Dimas pantas menjadi pendamping hidup kamu? dulu saja kamu tidak menganggap Dimas ada. Bahkan saat mama Papa Dan Opa berniat menjodohkan kamu. Kamu ingin lari dari perjodohan itu.Tapi sekarang, berpisah hanya satu hari saja kamu sudah seperti berpisah satu tahun."ucap Nyonya Laras menyeringai tipis.


"Mama, ih. Itu kan dulu sebelum Andini mengenal dekat Mas Dimas. Andini pasti kangen sama Mas Dimas dipisahkan seperti ini Ma, Andini memeluk boneka besar itu dengan erat, seolah sedang memeluk suaminya.


"Cie illeh! Sekarang aja bilangnya kangen. Padahal, dulu menolak keras sampai mau gantung diri di kamar,"celetuk punya Laras yang membuat mata putrinya langsung membulat.


"Mama, ih parah banget sih."Andini menghentakkan kakinya dan masuk ke dalam rumah.


Sementara itu, Dimas menjalankan roda empat dengan kecepatan tinggi, Erin menghubunginya agar segera pulang karena penyakit Tuan Anggara sedang kambuh.


"Kak, cepetan! Papa pingsan nih,"ucap Erin dengan nada panik di seberang sana.

__ADS_1


"Panggil dokter dulu, Kakak lagi di jalan sebentar lagi sampai."


"Cepetan!!! habis dari mana sih? lama banget."suara Erin terdengar kesal.


"Kakak habis nganterin Andini dulu ke rumahnya."


"Kakak sudah berubah, Kakak lebih mementingkan istri terus dibandingkan Erin dan juga Papa." ketus Erin yang membuat kesabaran Dimas mulai terguncang.


"Wajarlah dek. Andini Kan istri Kakak, kamu juga nanti kalau sudah menikah pasti mau dipentingkan sama suami kamu."


"Tahu,ahk. pokoknya jebakan! aku nggak bisa urus papa sendiri."


Dimas akan kembali membalas ucapan adiknya, tetapi bunyi klakson mobil membuatnya sedikit tersentak. pria itu tidak memperhatikan jalan, saat mobilnya akan masuk ke tikungan, sehingga ia tidak melihat ada mobil yang melaju dengan kencang dari arah yang berlawanan.


Tiiiiiit!!!


"Aaaarrrgh ...."


Dimas membanting stir dan mobilnya menabrak trotoar, untung ia masih bisa menghindari truk yang melaju kencang dari arah yang berlawanan, sehingga dirinya selamat dari maut.


Dahi pria itu terbentur sangat keras pada setir mobil dan sedikit terluka sampai mengeluarkan darah.


Beberapa orang yang melihat kejadian itu mulai berkerumunan, menghampiri mobil Dimas. Tetapi ia yang merasa baik-baik saja, hanya membuka kaca mobil dan mengucapkan terimakasih kepada orang yang menghampirinya Seraya melambaikan tangan.


Dimas mengambil tisu dan mengelap darah yang mengalir pada lukanya.


Ponselnya yang tergeletak di bawah, kembali berdering.


Dimas tak menghiraukan bunyi telepon itu, iya memilih kembali menjalankan mobilnya dengan hati-hati dan fokus.


Kejadian tadi hampir saja membuat nyawanya melayang, kini ia menjalankan roda empat itu dengan pelan, tangannya masih bergetar karena syok.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK.


__ADS_2