Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 9. ALIBI


__ADS_3

"Rasakan dasar serigala. Andini berusaha melepaskan tangan Dimas dari tubuhnya.


Namun, tangan Dimas yang jauh lebih kuat Tak tergoyahkan sedikitpun.


Pria itu segera mengangkat tubuh Andini yang ramping dan memikulnya.


"Ahhk.... turunkan aku,"teriak Andini sambil menggerak-gerakkan kedua kakinya memberontak.


Dimas Tak tergoyahkan sedikitpun, pria yang memiliki tubuh kekar itu terus membawa tubuh istrinya dan menjatuhkan tubuh Andini dengan kasar ke kasur.


"BUGH!


"Aku! Bapak kejam banget, belum apa-apa Sudah KDRT seperti ini, saya akan melaporkannya."


"Diam! atau saya buat mulut kamu benar-benar tidak bisa bicara lagi untuk selamanya!" ancam Dimas dengan tatapan tajamnya.


Seketika Andini merasa bulu kuduknya berdiri, tatapan maut Dimas seolah menusuk ke dalam lubuk hatinya.


Gadis itu terdiam dengan bibir mengatup. keringat sebesar biji jagung mulai menetes pada pelipisnya.


Dimas naik kata seranjang dan mendekatkan tubuhnya ke arah Andini.


"Bapak mau ngapain? Andini tergagap dengan wajah ketakutan.


Dimas tidak menggubris pertanyaan Andini,pria yang mengenakan kaos hitam itu semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Andini yang masih tertidur di atas kasur.


"Ahhhk....."Andini segera bangkit dan turun dari ranjang dengan tergesa-gesa.


"Bapak, nggak boleh macam-macam ya, kalau tidak aku akan teriak. Biar seluruh penghuni rumah mendengarnya."Andini berjalan kembali ke arah pintu.


"Memangnya kenapa?"Dimas mengangkat alisnya sebelah.


"Saya belum siap! pokoknya Bapak tidak boleh menyentuh saya sedikitpun tanpa se ijin dari saya!"ucapnya penuh penekanan


"Kenapa tidak? kamu itu istriku sudah sewajarnya Aku meminta hak aku sebagai seorang suami dan kamu melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri."sahut Dimas, sengaja membuat Andini kesal terhadapnya. Ia tahu ia pun tidak akan melakukan itu jika Andini tidak memberikannya dengan ikhlas.


"Pokoknya jangan macam-macam, Aku tidak ingin disentuh oleh dosen killer seperti mu."

__ADS_1


"Geer sekali, Saya tidak tertarik dengan tubuh kerempeng kamu itu. Apalagi penampilanmu sudah seperti anak laki-laki, iya seperti julukan yang sering aku ucapkan kepadamu kamu wanita separuh dewa. Setengah perempuan setengah laki-laki,itulah kamu." ucap Dimas yang mampu membuat Andini semakin sebel


"What? segini aduhainya dibilang kerempeng? hello mungkin mata kamu itu juling, teman-teman cowok saja banyak yang memuji kecantikanku. Bahkan tak jarang dari mereka selalu ingin mencari perhatian terhadapku agar aku tertarik kepada mereka, tapi aku tidak ada niatan pacaran sama sekali karena aku masih memiliki impian, Aku ingin melanjutkan kuliahku ke luar negeri mengambil S2. Tapi impianku hancur seketika dengan kehadiran bapak di hidupku. Aduh membuat hidupku benar-benar hancur, dan masa depanku benar-benar tidak ada lagi yang ada hanya kehancuran."ucap Andini.


"Terserah kamu mau bilang apa, terima jalan hidupmu ini sudah takdir kalau kamu itu menjadi istriku. Jangan bicara lagi! Saya mau tidur."Dimas merebahkan tubuhnya dengan santai tak peduli perasaan Andini bagaimana.


"Eh Bapak jangan tidur di kasur saya dong,"ucap Andini sambil berkacak pinggang.


"Sekali lagi Kamu cegah saya tidur di sini saya lempar tubuh kecilmu itu keluar."


Seketika bulu kuduk Andini kembali berdiri ketika mendengar ucapan suaminya.


"Jangan-jangan dia psikopat, ucap Andini dalam benaknya sambil menggerakkan kedua bahunya, Gadis itu merasa ngeri sendiri.


"Bapak, kalau bapak tidur di kasur, terus saya tidur di mana?"tanya Andini dengan wajah memelas.


"Ini di samping saya masih kosong."Dimas menunjuk ke arah kasur sebelahnya seolah dirinya tidak merasa bersalah membuat Andini membulatkan matanya.


"Nanti, kalau bapak ngapa-ngapain saya gimana?"


Andini menarik selimut sampai sebatas dadanya.


Andini melihat sekeliling, pandangannya ya arahkan ke lantai di dekat ranjang. Tidak mungkin ia biasa tidur di atas kasur empuk harus tidur di lantai.


Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah sofa yang berukuran tidak terlalu panjang, bahkan sofa itu hanya muat untuk duduk dua orang.


Tidak mungkin ia harus tidur sambil melipat kaki, bisa-bisa pas bangun tidur kakinya lumpuh.


"Agar!"gumam Andini Ketika menemukan cara yang cerdik.


Gadis itu segera berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil beberapa pakaian.


Andini memakai celana jeans dan sweater yang menutup kepalanya, ia juga tidak lupa memakai ikat pinggang yang cukup. kaki menggunakan kaos kaki dan tangannya menggunakan sarung tangan.


"Pokoknya aku harus Septi, Aku nggak bakalan biarin dosen killer itu menyentuh kulit aku sedikitpun." gumam Andini dalam benaknya sambil berjalan dengan perlahan ke arah ranjang agar Dimas yang sudah memejamkan mata tidak menyadari kedatangannya.


"Kamu mau ke mana? tanya Dimas secara tiba-tiba dengan mata yang telah terbuka sempurna.

__ADS_1


Jantung Andini seolah berhenti berdetak Gadis itu membulatkan mata dan diam mematung.


"Saya mau tidur pak,he.. he...he Andini nyengir tak karuan sampai memperlihatkan giginya yang bergingsul.


"Kamu mau tidur atau mau bermain salju?" tanya Dimas menatap heran ke arah istrinya


"Emmmm... suhunya sangat dingin sekali Pak Jadi Aku menggunakan pakaian seperti ini agar tidak kedinginan. Andini kembali tersenyum kikuk iya berharap agar Dimas tidak mengetahui apa yang ia cemaskan sehingga menggunakan pakaian seperti itu.


"Jangan bilang itu adalah kode Karena Kamu mau saya."ucap Dimas dengan wajah yang terlihat menyebalkan di mata Andini sambil mengedipkan matanya sebelah ke arah Andini membuat Andini semakin kesal.


"Astaga tingkat kepedean Bapak menembus lapisan ozon."


"Syukur kalau kamu tidak mau saya tidak perlu memeluk anak kucing yang kedinginan."Dimas kembali memejamkan matanya.


"Dasar serigala!"cyber Andini sambil naik ke atas kasur.


Gadis itu mengambil guling dan meletakkan di tengah-tengah dirinya dan Dimas


"Pokoknya Bapak tidak boleh melewati pembatas ini. Anggap saja ini benteng besar yang menghalangi kita berdua.


Dimas kembali membuka matanya ketika mendengar ucapan Andini, "kalau kamu yang melewatinya bagaimana?"pria itu mengangkat alisnya sebelah.


"Tidak, akan! dan ingat satu lagi bapak tidak boleh ngorok dan tidak boleh ngiler."


"Masih mau bicara sama lagi?"Dimas mengeluarkan tatapan tajamnya.


Seketika bibir Andini mengatup ketika mendengar ucapan suaminya yang lebih terdengar seperti sebuah ancaman.


Dimas kembar memejamkan mata dengan posisi tidur terlentang.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2