
Ricky yang baru pulang dari rumah sakit belum merasakan sembuh sepenuhnya.
Pria itu memaksa ingin pulang karena ia tidak betah lama-lama berada di rumah sakit. Karena jika siang, kadang iya ditinggal kerja oleh Nisa.
"Sudah selesai?"tanya Nisa ketika melihat suaminya keluar dari kamar mandi.
Ricky berjalan dengan pincang, kaki kanannya sudah tidak terlalu sakit lagi dan bisa berdiri.
Sementara kaki sebelah kirinya, bekas injakan pria bertubuh kekar itu masih memar dan terasa sakit untuk melangkah, sehingga ia berjalan dengan pincang.
"Sudah, aku sudah berapa hari ya, nggak mandi?"Ricky mengendus tubuhnya sendiri selain berjalan dengan pincang.
Nisa yang melihat itu segera mendekat dan merangkul tangan Ricky pada bahunya.
"Sekitar satu minggu,"jawab Nisa Seraya Mama patut Ricky untuk berjalan ke arah kasur.
"Lama juga ya. kamu nggak bau gitu dekat-dekat sama aku?"Ricky menatap karena istrinya.
"Bau! bau banget malah,"jawab desa kembali yang diiringi tawa kencang.
"Ya, sudah. Kalau bau mah biar aku jalan sendiri aja, kamu jangan dekat-dekat."Ricky akan menarik tangannya dari bahu Nisa, Tetapi wanita itu segera menahannya.
__ADS_1
"Mau kemana? sudah biarin, mau mandi kek, mau nggak, aku nggak akan menjauhi kamu. Lagian, Walaupun nggak mandi, kamu tetap gosok gigi, terus tubuh kamu pakai air hangat kamu juga ganti baju setiap hari, jadi tetap bersih dan wangi."Nisa mengarahkan hidungnya pada tubuh Ricky.
"Kok aku merasa nggak guna banget ya, udah kismin, muka pas-pasan, eh sekarang malah kayak orang jompo."tutur Ricky dengan wajah sendu
"Kismin? Apa itu?
Ricky hanya terdiam, eh salah miskin maksudnya. Maaf typo.
"Ada-ada saja bicara juga pakai typo. kayak penulis aja. Sudah nggak boleh ngomong begitu. nggak ada makhluk hidup yang nggak pernah merasakan sakit, lagian miskin Dan kaya itu bukan sebuah tolak ukur kebahagiaan. Terus, menurut aku lebih baik punya muka pas-pasan loh, pasti bawa jalan-jalan bisa, pasti bawa kondangan nggak malu-maluin, pas dicium juga nyaman."Nisa mendekatkan wajahnya, lalu mendaratkan sebuah ciuman pada pipi suaminya.
"Kamu bisa aja, sayang. Aku jadi terharu, begitu baiknya Tuhan kepadaku, mengirimkan bidadari walaupun aku masih tinggal di bumi.
"Ulluh, sudah bisa menggombal, kalau begitu ini sudah sembuh."bisa tertawa ringan.
"Nggak mungkin lah!"ini sangat membantu suaminya duduk di atas ranjang dengan hati-hati.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga keduanya. Suara ketukan itu mengalihkan atensi mereka.
"Sebentar ya!"bisa berjalan ke arah pintu dan membuka pintu kamar itu.
"Assalamualaikum, Nak Nisa," ucap Mpok Nining dan Pak Muhammad Alim setelah melihat menantu mereka muncul di balik pintu.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Ma,Pa kapan kalian datang ke sini?"tanya Nisa Seraya mencium punggung tangan kedua mertuanya.
"Baru saja. semalam tuh Mama dapat kabar dari Bima, katanya si Riki telah masuk rumah sakit gara-gara di tubruk sapi,"cerocos Mpok Nining dengan wajah khawatir.
Namun, Nisa malah menautkan kedua alis ketika mendengar penuturan mertuanya. "Di Tubruk sapi? gumamnya dengan heran.
"Ya, sudah. mama sama papa masuk aja, Ricky ada di dalam."Nisa mempersilahkan kedua mertuanya masuk ke dalam ruang rawat inap Ricky.
"Mana si Ricky?"Mpok Nining dan Muhammad Alim masuk ke dalam kamar berukuran besar itu dan mendekat ke arah ranjang, di mana Ricky sedang duduk.
"Mama, Papa!"sambut pria itu dengan mata berbinar.
"Astagfirullah, Ricky. Kenapa bisa babak belur begini. Nggak bener ini mah di tubruk sama sapi. Astagfirullah, kenapa sapi-sapi dari Mama bisa galak begini? sampai kamu babak belur dikeroyok."cara jos empok Nining setelah melihat keadaan putranya yang masih babak belur.
"Siapa yang di tubruk sapi?"tanya Ricky dengan heran.
"Kamu! astagfirullah pingsan, mana sampai babak belur kayak gini." ucap Nining memperhatikan luka pada tubuh putranya.
"Ma, Siapa yang bilang kalau Ricky di tubruk sapi?"tanya Ricky dengan wajah yang terlihat kesal.
"Bima."
__ADS_1
"Dasar, kutu kupret itu si Bima!"
Bersambung.....