
"Mas, Kamu mau minum?"tawarkan dini ketika melihat suaminya sedang tidak baik-baik saja.
"Tidak! sayang, Mas cuman butuh kamu."Dimas merebahkan kepalanya di atas pasang istri dan meluruskan kakinya di atas sofa yang berukuran cukup panjang.
Dimas menggenggam tangan Andini Dan meletakkan telapak tangan sang istri di atas dadanya. Membiarkan wanita itu merasakan detak jantung yang berdebar kencang.
Dimas memejamkan matanya, berusaha menghilangkan beban di kepala yang harus dipikulnya. "Mas, kamu harus tenang ya!"Andini memijat kepala suaminya dengan perlahan
"Mas tidak suka Erin dekat dengan Bima. cara Bima mendekati Erin tidak sopan. dia berani mencium Erin di depan rumah, Bagaimana jika di luar sana?"tutur Dimas yang kini telah membuka matanya kembali.
"Mas, sepertinya Bima lelaki yang baik. Aku sudah kenal lama dia. Tapi dia tidak pernah melakukan hal yang macam-macam,"ucapkan dini dengan hati-hati, iya tahu suaminya dilanda emosi.
"Cara Bima mendekati kamu dan Erin itu beda. Aku sebagai laki-laki, bisa membaca gelagatnya. Dia sudah berani mencium Erin. Aku takut, di luar sana dia bisa melakukan hal lebih. "wajah Dimas kembali terlihat kesal.
"Kalau begitu, kita usahakan agar Erin tidak bertemu dengan Bima."usul Andini.
"Bukan hanya tidak bertemu, aku akan membuat mereka tak bisa menjalin hubungan lagi,"balas Dimas penuh penekanan.
"Sayang, Bagaimana kalau kita tinggal di sini."aku masih khawatir sama kondisi Papa dan Erin. Aku takut, Erin akan melakukan hal yang sama ketika kita tidak ada di sini, "tutur Dimas dengan mata menatap wajah istrinya dari bawah, sehingga terlihat jelas bibir seksi dan hidung mancung wanita itu.
"Tidak apa-apa, Mas. mungkin saja, dengan kita tinggal di sini, Erin bisa dekat sama aku,"balas Andini dengan Senyum merekah.
"Terima kasih, sayang. kamu sudah mau mengerti keadaanku."Dimas mengubah posisinya menjadi miring dan wajahnya berhadapan langsung dengan perut sang istri.
"Cup!
Pria itu melabuhkan semua kecupan lembut pada perut Andini yang mulai terlihat berisi.
"Hahaha ..... kamu cium apaan Mas?"
"Mas lagi cium dede,"balas Dimas sambil menelusupkan wajahnya pada perut Andini dan berhasil membuat wanita itu kegelian.
Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah sederhana milik keluarga Rian, Herlan meminta kepada sang istri agar hari ini mereka kembali ke rumah utama keluarga Pratama.
"Rianti, kita pulang hari ini yuk!"ajak Herlan setelah keduanya bersiap. Herlan siap berangkat ke kantor, sementara Rian akan melakukan bimbingan skripsi di kampus habis itu rencananya dia mau singgah ke cafe kampung kecil milik Robert dan Mariska.
"Pulang kemana, Bang?"tanya Rian Seraya menyemprotkan parfum ke beberapa anggota tubuhnya.
"Ke rumah Mama."balas Herlan yang kini sedang memakai jam tangan di pergelangan tangannya.
"Ini rumah Mama."balas Rian kembali yang membuat Herlan langsung menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Mama aku maksudnya,"timpal Herlan.
"Kenapa nggak nginep di sini aja lagi?"harian mulai mengerucutkan bibirnya.
"Aku nggak enak kalau lama-lama di sini. Rasanya malu sama orang tua kamu."
"Ya, aku juga sama. kalau di rumah kamu, aku juga gitu, nggak enak, malu sama orang tua kamu."balas Rian yang kini telah berdiri di hadapan suaminya.
"Malu kenapa coba? mama sama papa nggak pernah ngomong macam-macam, mereka juga menganggap kamu seperti anak sendiri."sangkal Herlan.
"Terus, kamu sendiri malu kenapa kalau di sini?"Ryan balik bertanya tidak mau kalah kepada suaminya. sepasang suami istri itu saling menatap dengan hati yang mulai memanas.
"Ya malu lah. Kamu nggak ngerti perasaan laki-laki. Mana kamar ini sama kamar orang tua kamu dekat banget,"cara charge Herlan yang membuat dahi istrinya langsung mengerut.
"Apa hubungannya sama kamar? yang penting, kita akan tidur di kamar yang berbeda, nggak baring sama mama dan papa dan juga sama adik aku."
"CK... pokoknya, kita pulang hari ini! keadaan papa juga udah mendingan.
"Nggak bisa gitu, nginep satu minggu lagi di sini atau bila penting satu bulan?
"Satu minggu? satu bulan? kita saja sudah hampir satu minggu di sini dan aku juga udah libur hampir satu minggu,"tutur Herlan dengan wajah kesal.
"Libur apa? perasaan, tiap hari kamu kerja."Rian menatap suaminya dengan heran.
Seketika Rian mengembangkan senyumnya ketika mendengar ucapan suaminya.
"Hahaha..... aku paham!"Ryan tertawa renyah dan langsung memeluk tubuh suaminya.
"Paham apa coba? Jangan sampai salah sangka."Herlan sedikit menundukkan kepalanya, melihat Kak Rian yang sedang memeluknya.
"Aku paham banget ini. Aku kira Bang Herlan pengen libur aja."
"Terpaksa libur, nggak enak sama mama dan papa. Kamu kan biasanya berisik, kalau kedengaran mereka, bisa malu seumur hidup aku."
"Idih, Bang Herlan tuh yang berisik!"sangkal Rian sambil melepaskan pelukannya.
"Ya, sudah. kita pulang sekarang. Lain kali kita ke sini lagi jenguk Papa."
"Ya sudah, Tapi aku mau ke kampus dulu. habis itu nanti aku ke cafe kampung kecil.
"Iya, aku anterin sebelum ke kantor."
__ADS_1
"Terima kasih Bang, Nanti aku pulang naik taksi saja."Rian memakai tas selempangnya.
"Maaf ya, aku nggak bisa beli rumah buat kita berdua. Sebenarnya bukan aku nggak ada niat beli rumah sih,"ucap Herlan dengan wajah serius.
"Terus kenapa Bang?"
"Opa, sebenarnya sudah mewariskan sebuah rumah untuk kita. Tetapi Mama tidak memberi izin Kita pindah dari sana. Dengan alasan mereka juga akan mewariskan rumah itu untukku."ucap Herlan.
"Kok bisa sama Abang? kan ada Andini?"
"Abang juga nggak tahu. Apa alasan Papa Miko dan Mama Laras mewariskan rumah itu untukku. Padahal jelas-jelas Andini yang putri kandung papa. Sedangkan, Aku anak Adik Mama. Yang semenjak dulu tinggal bersama mereka, setelah kepergian Papa dan Mama kandung aku.
Rian hanya terdiam, mencoba mencerna Apa yang diucapkan oleh suaminya. Iya Andini pernah cerita, kalau sebenarnya Herlan itu bukanlah kakak yang terlahir dari rahim Nyonya Laras. Tapi Herlan dibesarkan oleh Nyonya Laras, semenjak Herlan masih kecil ditinggal kedua orang tuanya. Herlan putra kakak kandungnya orang tua Andini.
Tetapi Nyonya Laras dan Tuan Miko Pratama sudah menganggapnya seperti Putra kandung sendiri yang terlahir dari rahimnya.
"Mungkin papa dan mama memiliki alasan tersendiri Bang."sahut Rian.
"Iya, Abang juga merasa demikian. Makanya abang selalu menuruti apa yang menjadi keinginan Papa dan Mama. Karena abang tahu apa yang mereka lakukan terhadap Abang dan kamu itu untuk kebaikan kita. Dan Andini sebelumnya sudah mengetahui itu kalau rumah yang kita tempati saat ini sudah diwariskan kepada Abang. Bahkan Andini sendiri yang meminta itu."ucap Herlan memberitahu
"Masya Allah, sebegitu sayangnya Andini kepada Abang.
"Iya, walaupun Kami sering perang mulut tapi itu tidak dari hati kami sendiri karena itu hanya bahan membuat seru-seruan saja. tapi kami saling menyayangi seperti terlahir dari rahim yang sama walaupun sebenarnya kami hanya adik sepupu."Herlan memberitahu.
"Mulia sekali hati adik iparku."Puji Rian membayangkan betapa mulianya hati Andini merelakan rumah satu-satunya kedua orang tuanya diwariskan kepada suaminya.
"Itulah Andini, Walaupun dia terlihat barbar tapi hatinya malaikat."Herlan juga memuji adiknya.
"Iya bener Bang."Rian sendiri merasakan hal yang sama semenjak berteman lama dengan Andini. Bahkan dia juga yang berjuang untuk mempersatukan kita di hingga ke jenjang pernikahan."Rian membayangkan Bagaimana Andini mencoba meyakinkan Herlan untuk menerima Rian menjadi istrinya.
"Terima kasih sayang. kamu sudah memahami situasi Abang."ucap Herlan sambil mengusap kepala istrinya.
"Sama-sama, sayang,"balas Herlan yang semakin tersenyum lebar.
"Hahaha.... kok kita alay banget, gini ya?"Sudah yuk kita pamit sama Mama dan Papa dulu."Herlan menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS