Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 27. PERMINTAAN SANG OPA


__ADS_3

"Maaf, Saya nggak bisa. lebih baik kita sudahi saja pernikahan yang tidak jelas ini. Bapak juga tidak mencintai saya kan? kita menikah Tidak ada dasar cinta. Mau dibawa Ke mana pernikahan seperti ini?"


Seketika Dimas langsung mengepalkan tangannya ketika mendengar kata-kata yang keluar dari bibir istrinya. Dia tidak menyangka Andini dengan mudahnya mengatakan ingin menyudahi pernikahan mereka.


"Semudah itu kamu mempermainkan pernikahan?"


"Saya bukan mempermainkan pernikahan, daripada kita terus-terusan begini. Terjerat dalam pernikahan yang tak pasti, jadi menurutku kita lebih baik berpisah saja."tegas Andini dengan suara lantang.


Dimas menatap Gadis itu dengan mata memerah, hembusan nafasnya terdengar berat.


Pria itu mendekat ke arah Andini dengan tangan mengepal.


"Kamu.... "tolong hargai saya sebagai suami kamu. Jangan pernah menganggap pernikahan itu hanya mainan belaka. Pernikahan itu sakral, dengan mudahnya kamu ingin menyudahi pernikahan ini."ucap Dimas dengan kesal


Tiba tiba deringan ponsel Andini berbunyi keras menghentikan ucapan Dimas.


Andini segera mengambil ponsel dari tas, tangannya bergerak cepat menggeser layar berwarna hijau ketika melihat nama sang Ibu tertera pada layar ponselnya.


Andini menempelkan benda canggih itu pada telinganya dan mulai mendengarkan sang Ibu berbicara di ujung telepon.


"Apa, Opa masuk rumah sakit?"pakik Andini dengan wajah kaget.


Seketika Dimas langsung melepaskan kepalan tangannya, ketika melihat Andini mulai meneteskan air mata.


"Ada apa? tanyanya dengan langkah yang semakin mendekat.


"Opa masuk rumah sakit,"jawab Andini dengan lirih.


"Ya sudah, kita ke rumah sakit sekarang!"


"Saya mau pergi sendiri."Andini melangkah akan keluar dari rumah itu, tetapi Dimas langsung menahan tangannya.


"Kita pergi bareng-bareng."tanpa basa-basi lagi, pria itu segera menarik tangan istrinya menuju mobil.


"Lepaskan saya! Saya mau pergi sendiri!"Andini mencoba memberontak suaminya membuka pintu mobil untuknya.


"Andini tolong pahami, ini sudah malam bahaya kalau kamu pergi sendiri. Cepat masuk! titah Dimas sedikit mendorong tubuh istrinya, sehingga Andini masuk ke dalam mobil dengan terpaksa.


Setelah itu Dimas langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tidak ada yang bicara sepatah kata.

__ADS_1


Dimas masih kesal terhadap istrinya yang tak menghargai dirinya. Andini masih tetap bertingkah sesukanya, seolah Dirinya belum menyadari kalau ia sudah memiliki suami. Ia juga lupa nasehat kedua orang tuanya kalau dirinya harus patuh kepada suaminya dan menurut kepada suaminya.


Tapi itu sama sekali tidak Andini lakukan. Ia bersikap seolah-olah dirinya masih single parent. Apalagi ketika teman-temannya berniat mengajaknya untuk balap liar malam itu. Ia ingin segera pergi menerima tawaran teman-teman geng motornya. Tapi seketika ia ingat kalau motornya saat ini berada di rumah kedua orang tuanya. Sementara Andini tinggal bersama Dimas suaminya.


Andini terdiam seribu bahasa, tangannya sibuk menyeka air mata yang sudah sedari tadi terus menetes. Khawatir terjadi sesuatu kepada Opanya. Walaupun Andini bertingkah urakan, tapi kalau kasih sayangnya terhadap kedua orang tua dan Opanya tidak ada tandingannya.


Hatinya yang jengkel kepada Dimas, ditambah lagi kabar yang kurang baik dari sang kakek, membuat perasaannya semakin kacau dan tak karuan.


Hatinya masih kesal pada pria yang kini sedang duduk di sampingnya.


Sama halnya dengan Dimas, ia juga merasa kesal karena istrinya sempat membicarakan perceraian. Padahal Ia sama sekali tidak menginginkan hal itu.


Tak lama kemudian mobil yang mereka kendarai tiba di sebuah rumah sakit.


Setelah roda empat itu berhenti, Andini langsung keluar dan berlari masuk ke dalam rumah sakit.


Bahkan ia tak menghiraukan Dimas yang berusaha mengejar langkahnya.


Andini berlari menyusuri deretan kamar pasien dan mencari kamar yang menjadi tujuannya.


Dari kejauhan, Andini sudah melihat beberapa orang yang berkumpul di depan ruangan tersebut.


Andini semakin mempercepat langkahnya dan berhenti tepat di hadapan sang ibu.


Andini terdiam sejenak, mengatur nafas yang tersengal-senggal karena ia lari-lari ingin segera tiba di sana.


"Mama Bagaimana keadaan Opa, saat ini? tanya Andini setelah mengatur nafas.


"Opa, kamu sedang ditangani oleh dokter. Kamu kenapa datang sendiri? di mana suami kamu? tanya Laras dengan Tatapan yang penuh selidik ke arah sang putri


Jiwa kepo langsung meronta ketika melihat putrinya datang sendiri.


"Pak Dimas....!


"Selamat malam Ma, Pa." sapa Dimas raya mencium punggung tangan kedua mertuanya.


Andini menghembuskan nafas lega ketika melihat suaminya datang tepat waktu.


"Syukurlah nak Dimas ikut juga. Mama kira tadi Andini datang sendirian."

__ADS_1


"Mana mungkin saya membiarkan istri saya ini pergi sendiri Ma," balas Dimas seraya merangkul bahwa Andini.


Andini memicingkan matanya keras Dimas, jika bukan sedang berada di hadapan orang tuanya pastilah ia sudah menipis tangan kekar itu. Bahkan menampar dimas.


Pintu ruangan terbuka mengalihkan atensi mereka semua.


Seorang dokter cantik keluar dari ruangan itu yang diikuti oleh seorang suster.


Nyonya Laras dan Tuan Miko Pratama segera mendekat ke arah dokter untuk menanyakan keadaan orang tuanya.


"Bagaimana keadaan bapak saya dokter?"tanya Nyonya Laras dengan Tak sabar.


"Pak Pratama sudah membaik, hanya tinggal istirahat yang cukup saja."jawab dokter itu dengan senyum ramahnya.


"Baik terima kasih Dokter. Apa saya sudah bisa menjenguk Papa saya?"


"Oh iya, apa ada di antara kalian yang bernama Andini?"tanya dokter itu kepada Ibu Laras


Andini yang mendengar namanya disebut oleh dokter itu langsung mendekatkan dirinya.


"Saya, Andini! Memangnya ada apa dokter?


"Di bawah alam sadar Tuan Pratama, ia memanggil-manggil nama Andini. Dia mau minta Andini untuk menerima takdir."ucap sang dokter membuat Andini mengerutkan keningnya Begitu juga dengan Dimas.


"Kalau Boleh silakan komunikasi dengan Tuan Pratama, Siapa tahu dengan anda berbicara dari hati ke hati, kondisi kesehatan Tuan Pratama akan semakin membaik." ujar sang dokter yang mampu membuat Nyonya Laras pun sedikit bingung.


Andini menatap sang ibu. Seolah dirinya meminta persetujuan dari Nyonya Laras kalau dirinya lebih dulu masuk melihat sang Opa. Saat Andini sudah berada di ruang rawat inap Tuan Pratama, Dimas ikut juga masuk ke dalam.


Tuan Pratama mengembangkan senyumnya menatap cucu kesayangannya Andini sudah datang menjenguknya. "Opa mencari Andini?" tanya Andini penuh selidik. Tuan Pratama meraih tangan Andini. Kemudian Ia pun meraih tangan Dimas lalu mempersatukan tangan keduanya.


"Opa sudah sepuh, jadi Opa ingin menimang cicit. Opa tidak tahu kapan Allah untuk menjemput Opa. Tapi satu hal yang Opa inginkan, kalian menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah."ucap Tuan Pratama yang mampu membuat Andini membulatkan matanya.


Padahal baru saja Andini meminta ingin dicerai oleh suaminya. Tapi tiba-tiba opanya berpesan agar mereka tetap hidup bersama menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Pikiran Andini berkecamuk tapi ia berusaha menutupinya dan ia pun mengembangkan senyumnya. Agar kondisi kesehatan Tuan Pratama tidak semakin drop jika mengetahui apa yang terjadi di kehidupan rumah tangga mereka.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2