Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 128. DRAMA RUJAK


__ADS_3

"Robert, aku pengen sesuatu.." ucap Mariska seraya menepuk bahu suaminya yang membuat Robert langsung memelankan laju motornya.


"Nanti ya, yang. Setelah sampai di rumah atau kita sewa hotel dulu sebentar."balas Robert sambil melirik ke arah kaca spion yang memantulkan wajah istrinya.


"Kamu pikir apaan sih? nggak nyambung banget!


"Katanya kamu mau sesuatu."


"Bukan itu. Pikiran kamu ngeras banget udah, berhenti dulu! Mariska kembali menepuk bahu suaminya.


"Maklum sudah kecanduan sayang."Robert menghentikan motornya di pinggir jalan.


setelah itu Ia menyampingkan tubuhnya agar bisa melihat wajah sang istri.


"Mau apa Sayang? mau peluk, cium, gendong...."


"Kamu bisa nggak ini otak jangan mesum terus! Mariska menempelkan telunjuknya pada dahi pria itu.


"Iya, kamu mau apa Sayang? kita kan mau ke ruko dulu. Robert menggenggam jari telunjuk istrinya.


"Robert, aku mau makan rujak.


"Astaga!!! minta makan rujak saja sudah seperti mau minta dibelikan mobil mewah.


"Ya sudah sebentar ya, di ujung sana ada jual rujak kita akan beli." sahut Robert sambil membenarkan duduknya kemudian menghidupkan mesin motor miliknya melajukannya langsung menuju penjual rujak yang ada di ujung sana.


Robert segera membeli rujak yang untuk istrinya. Mata Mariska berbinar ketika Robert menyerahkan dua kotak rujak lengkap dengan bumbunya.


Air liur wanita itu seolah menetes, membayangkan betapa nikmatnya rujak buah tersebut.


Padahal hari sudah menunjukkan sore, tapi Mariska malah menginginkan makanan yang pantasnya dikonsumsi saat siang hari.


"Sudah sayang, kita naik motor lagi ya! ajak Robert setelah membayar dua porsi rujak yang dipegang istrinya dengan erat. Seolah memegang omongan suaminya.


"Aku mau mencicipi sedikit ya! pinta Mariska dengan mata yang tak lepas menatap rujak itu.

__ADS_1


"Nanti ya Sayang, ini sudah sore kita harus nyampe di ruko sebelum maghrib. Robert mulai menyalakan kembali motornya.


langit yang mulai merah menandakan akan segera berakhirnya waktu sore hari.


"Sedikit saja. nanti aku keburu ngeces ini.


"CK....lama banget sih, kita nggak boleh magrib di jalan."Robert merampas dengan paksa plastik yang berisi rujak itu dan menaruhnya di depan motor.


Seketika mata Mariska memanas dadanya terlihat naik turun menahan amarah.


"Kenapa diambil? tanyanya dengan nada seolah membentak.


"Aku simpan di sini aja, biar kamu nggak susah pegangnya. Udah buruan naik! tidak?ucap Robert tanpa memperhatikan wajah istrinya yang sudah berubah ekspresi...


"Nggak mau! Kamu jahat banget sih! Mariska menghentakkan kakinya sambil bersedekap dada.


"Jahat apanya, yang? Sudah buruan naik atau aku tinggalkan nih!"Robert menjalankan motornya sebentar.


"Tinggalin aja sana! paling kamu mau ngajak cabe-cabean."Mariska mengusap sudut matanya yang mulai berembun


Mariska berjalan sambil menghentakkan kakinya meninggalkan Robert


"Mariska! arah rukonya ke sana, kenapa kamu malah jalan ke situ sih!"teriak Robert sambil menunjuk lurus ke arah jalan di depannya.


Sementara Mariska berjalan ke arah samping, entah ke mana tujuan wanita itu.


"Bodoh amat! aku mau cari terong-terongan!"balas Mariska dengan kaki yang tak berhenti melangkah.


"Ngaco kamu! aku punya terong sungguhan kenapa malah mencari terong-terongan?"Robert turun dari motor dan segera mengejar langkah istrinya.


Pria yang mempunyai tubuh tidak terlalu kekar itu mengangkat tubuh saat istri dengan tenaga dalam.


"Astaga!!!! turunin aku! teriak Mariska dengan kedua kaki yang digerakkan seolah memberontak.


"Nggak mau, enak aja udah punya terong beneran mau nyari terong-terongan."Robert membawa Mariska ke arah motor dan mendudukkan istri di atas roda dua miliknya.

__ADS_1


"Kamu maksa banget sih!" Mariska memonyongkan bibirnya


"Wanita itu kadang harus dipaksa." Robert naik kembali ke atas motor dan bersiap menjalankan roda dua itu.


"Apa sih? nggak asik!" Mariska memukul punggung suaminya dengan kesal.


"Sudah, sini pegangan! masa cuman gara-gara rujak aja kamu ngambek!" Robert menarik kedua tangan Mariska dan melingkarkan pada perutnya.


"Kamu nggak tahu seberapa pengennya aku sama rujak itu." Mariska menarik kembali tangannya.


"Nanti juga Kamu makan Sayang, masa mau makan di motor sih." Robert kembali memegang tangan istrinya.


"Jangan minta dipeluk! kamu bau acem." Mariska kembali menarik tangannya dan berpegangan pada belakang motor.


"Biasanya juga kamu nyaman ajak meluk aku walaupun keringatan pria itu mudah menjalankan motornya dengan perlahan.


"Kapan? belum pernah aku meluk-meluk kamu."


"Cie illeh, ngeles aja paling ntar malam uring-uringan minta di peluk .


"Nggak bakalan, jangan kepedean.


udah sini pegangan, kalau kamu jatuh nanti bahaya." Robert berusaha memegang tangan istrinya.


"Nggak mau, kalau aku mati paling kamu jadi Duda.


"Duda keren ya?" ha ha ha.... tawa Robert.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"

__ADS_1


__ADS_2