
Hampir semalaman Andini menangis. Ia tidak bisa tidur sama sekali. Hingga pagi ini matanya terlihat bengkak.
Begitupun dengan Dimas yang tidak tidur semalaman, karena membacakan surah Yasin untuk almarhum kakek dari istrinya itu. Yang merupakan sahabat dari ayah kandungnya sendiri.
Pagi ini jenazah Tuan Pratama siap di semayangkan di tempat peristirahatan terakhirnya. Andini mengiringi keranda yang membawa tubuh sang kakek dengan langka gontai. Lututnya terasa bergetar dengan tubuh yang lemas.
Bahkan jika Dimas tidak menggandengnya Saat berjalan, mungkin bisa saja tubuhnya kembali ambruk.
Robert, Mariska, Ricky, dan Bima yang mengetahui itu, turut serta hadir di acara pemakaman kakek dari sahabat mereka.
Tak lupa ayahnya Dimas juga iku hadir mengiringi jenazah sahabatnya yang akan segera disemayamkan.
Tuan Anggara melangkah dengan perlahan. kenangan bersama almarhum terus berputar di kepalanya.
Mereka adalah sahabat sejak dulu. Namun Tuan Anggara merasa lega karena permintaan Tuan Pratama untuk menjodohkan anak dan cucu mereka sudah terlaksana.
Ia, merasa Tuan Pratama sudah pergi dengan tenang. Karena keinginan Tuan Pratama semuanya terlaksana dengan baik.
Semua orang berdiri dan menyaksikan tubuh rentan yang kini terbalut kain putih itu dikebumikan. Proses demi proses sudah dilalui beriringan dengan isak tangis.
Perlahan tubuh Tuan Pratama yang sudah ditempatkan di bawah tanah kembali ditimbun oleh tanah. Hubungannya dengan dunia, telah putus nama yang begitu indah bertambah gelar almarhum di batu nisan Tuan Pratama.
Andini menaburkan bunga segar di atas pusaran sang kakek dengan air mata begitu deras membasahi wajahnya.
Dimas tak melepas gandengannya dari istrinya. Dia tahu keadaan istrinya, kini sedang terpuruk dan tidak baik-baik saja.
Jika ditanya dekatan mana antara Andini dengan bapak atau kakek, tentulah jawabannya adalah kakek yang sering Andini memanggilnya dengan panggilan Opa.
Bal yang paling Andini rindukan adalah menangis di pelukan sang kakek, duduk di pangkuan merengek ingin dibelikan sesuatu.
Jika mengingat itu semua seakan ia ingin menggali kembali gudukan tanah di hadapannya dan memeluk erat tubuh sang kakek.
"Opa!" Andini menjatuhkan tubuhnya di samping pusaran sang kakek, dan memeluk gundukan tanah itu dengan lelehan air mata.
"Dek, ikhlaskan kepergian Opa." ucap Herlan Seraya mengusap bahwa adiknya yang bergetar. Dia juga takut terjadi sesuatu kepada janin Andini, jika Andini terlalu kepikiran kepergian sang Opa.
Pria itu menggandeng tangan Rian yang juga tak berhenti menangis. Rian yang sudah lama mengenal sosok Tuan Pratama turut kehilangan.
Tuan Pratama adalah orang yang baik. Bahkan ia juga menyayangi semua teman-teman Andini yang sering datang bekerja kelompok, atau sekedar bermain di rumah.
Perlahan orang-orang yang menghantarkan ke pemakaman itu mulai meninggalkan area TPU. Sementara Andini dan Dimas masih berada di sana.
__ADS_1
Robert dan Mariska mendekat karena Andini yang menangis di samping gudukan tanah tersebut.
"Din, kamu yang sabar ya. Aku tahu ini berat." ucap Robert dengan wajah sendu.
Sementara Mariska sibuk mengusap air matanya, ia ikut sedih ketika melihat sahabatnya terpuruk seperti ini.
"Din, kamu sabar ya. Kita pulang duluan timpal Mariska yang hanya di anggukan oleh Andini.
"Terima kasih Robert, Mariska." ucap Andini dengan suara tercekat.
Setelah itu Mariska dan juga Robert mulai meninggalkan sahabatnya yang masih terpuruk di samping pusaran Tuan Pratama.
"Sayang, Kita pulang yuk biarkan Opa beristirahat dengan tenang." ajak Dimas yang tak hengkang dari samping istrinya.
TPU itu mulai sepi. Nyonya Laras dan Tuan Miko sudah pulang terlebih dahulu karena nyonya Laras merasa kepalanya sangat pusing, mungkin karena terlalu lama menangis.
Begitu juga dengan Herlan, Rian dan juga yang lainnya mereka sudah pulang dan kini hanya. Andini bersama Dimas di tengah-tengah lahan yang hampir dipenuhi oleh kuburan itu.
"Opa, Andini pulang dulu ya. Andini sayang opa wanita itu mengusap nisan yang bertuliskan nama sang kakek.
"Lalu ia bangkit dengan perlahan yang dibantu oleh sang suami selalu setia mendampinginya.
"Tubuh kamu lemas sekali." ucap dimasak merasakan tubuh istrinya lemas dan wajah Andini yang pucat
"Jangan memaksa untuk berjalan." Dimas berjongkok dihadapan Andini dan menumpuk punggungnya.
"Mas kamu ngapain?
"Ayo naik," titah Dimas dengan tangan yang kembali membekuk punggungnya.
"Mas yakin?
"Iya, sudah cepetan."
Andini mendekat dan menyampaikan tubuhnya pada punggung tegap Dimas.
Wanita itu mengalungkan tangannya pada leher Dimas yang perlahan bangkit dan berjalan.
"Mas, aku berat ya? tanya Andini saat Dimas membawa tubuhnya keluar dari area TPU.
"Mau seberat apapun tubuhmu, aku pasti bisa mengangkatnya." balas Dimas yang terus melangkah.
__ADS_1
"Gimana kalau tubuh aku seberat gajah?"
"Berarti tubuhku harus sebesar badan Badak."jawab Dimas
"Bisa saja kamu, Mas? Andini menyanggah kepalanya pada pundak Dimas.
Sementara Robert dan Mariska baru akan menaiki motor mereka.
Namun, Mariska langsung menarik dengan Robert. Tampa permisi dulu sampai membuat tubuh pria itu hampir terjatuh
"Sayang apa-apaan sih, teriak teriak gini?" hampir aja aku jatuh." Protes Robert sambil melepaskan tangan Mariska.
"Kamu sih, aku panggil-panggil malah diam aja."
"Kapan kamu manggil?"
"Tadi."
"Gimana panggilnya?"
"Robert, Robert, berhenti dulu, eh kaki kamu malah kayak nggak ada remnya, nyelonong aja." kesel Mariska.
"Makanya manggilnya yang manis dikit Robert, udah kayak manggil anak kambing." gerutu Robert.
"Terus, maunya dipanggil Apa nama kamu memang Robert, kan?"
"Ya, manggil apa aja, manggil sayang gitu Robert tersenyum getir.
"Idih, alai banget sih."
"Biarin, aja. Kan nggak apa-apa biar so sweet."
"Ogah, Mariska memutar bola matanya malas.
"Ya, udah. Kita pulang sekarang." Robert melangkahkan kakinya. Tetap, lagi lagi Mariska menahan tangannya.
Mariska menunjuk ke arah Dimas dan juga Andini yang menurutnya terlalu so sweet.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"