Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 154. PENJELASAN HERLAN


__ADS_3

Herlan segera membekap mulut istrinya yang terdengar bak sebuah toa.


"Dengerin dulu. Foto ini memang diambil di kamar ini. Waktu itu, aku sedang sakit dan Larissa menjenguk aku ke sini. Aku juga tidak tahu kalau Larissa mengambil foto ini di saat aku sedang tidur. Tuh,lihat! mata aku terpejam kan?"memperbesar gambar wajahnya yang memang sedang memejamkan mata.


"Oh, Jadi kalian dulu sedekat Itu sampai Larissa sudah masuk ke kamar ini!"tuduh Rian kembali dengan hati yang semakin memanas.


"Waktu itu, Aku nggak tahu kalau Larissa datang. Kebetulan, mama sama papa juga tidak ada..."


"Tuh, kan! ini sudah jelas banget kayak di film-film. Pacarnya datang ke rumah dan masuk kamar. Alasannya menjenguk tapi ujungnya unboxing."cerocos Rian kembali yang membuat tangan kekar Herlan langsung membekap mulutnya lagi.


"Unboxing apaan sih? aku lagi nggak pesan paket. Waktu itu, Bibi yang membukakan pintu dan mempersembahkan Larissa masuk,"jelas Herlan kembali.


"Tapi kan, setelah itu kalian...."


"Ngak! jangan mikir yang macam-macam. Setelah itu, Mama dan Papa datang.Udah, Larissa pulang lagi."


"Nggak jadi unboxing, padahal kalian sudah siap-siap?"


"Astagfirullah, Rianti. Ini bibir kayaknya harus di ***** biar ngomongnya agak halusan dikit."memegang kedua.


"Tapi kan bener apa yang aku katakan!"


"Enggak, nggak ada yang benar! pikiranmu saja yang su'udzon terus. selamat berpacaran, Aku tidak pernah melakukan apapun. Buktinya, ketika aku menikah sama kamu, aku masih kerja kakak?"


"Nggak tahu, mana bisa aku membedakan."Rian mengerutkan bibirnya.


"Hahaha.... iya, laki-laki memang nggak ada bedanya. Beda sama perempuan."Herlan terkekeh.


"Apaan sih, Nggak lucu!"


"Sudah, jangan marah-marah terus. Nanti bayinya ikut marah."Alven mengusap perut istrinya.


"Bayi siapa?"


"Ya, bayi kitalah."


"Bayi Kita? maksudnya, anak aku sendiri gitu?


"Anak kita lah, kan aku yang menusuk kamu."Herlan kembali terkekeh.


"Nusuk apaan sih? Memangnya balon apa pakai ditusuk segala."


"Hampir mirip sih, cuma kalau balon kan ditusuk meledak, nah ini ditusuk Malah semakin membesar."


"Bang Herlan ihk. ngeselin banget!"


BUGH


BUGH


Rian memukul tubuh suaminya dengan bantal secara bertubi-tubi.


"Ampun! orang hamil nggak boleh marah-marah."Herlan menghentikan aksi istrinya.


"Lagian, kata siapa sih kalau aku hamil?"tanya Rian sambil bersedekap dada.


"Kata Mama. kemarin kan kamu muntah-muntah, kata Mama Kamu hamil."

__ADS_1


"Masa? orang belum dites juga."


"Ya sudah. Sekarang langsung dites aja."


"Di tes apaan? tespecknya juga nggak ada."


"Aku punya tespeck yang lebih akurat."Herlan tersenyum menggoda.


"Mana? Ryan mengadakan tangannya ke arah Herlan.


"Nih!"


"Bang Herlan ihk, mesum


****.


"Sayang, kita sarapan yuk."


"Sarapan? Aku belum masak, Mas."Andini menengadahkan kepala, menatap wajah tampan suaminya.


"Aku sudah masak tadi, kita tinggal makan saja."


"Masak apa, Mas?


"Aku cuma mau sama nasi goreng, kebetulan ada sisa nasi. Terus, sate yang semalam juga sudah aku panaskan lagi. Siapa tahu, kamu mau makan sate yang tersisa sepuluh tusuk lagi." jelas dinas dengan libur mengembangkan senyum tipis.


"Hahaha.... Ngak lah, Mas. sudah ngenek aku lihat sate."


"Tuh kan, makanya lain kali kalau beli sesuatu sesuaikan sama yang kita butuhkan saja."


"Ya, udah tidak apa-apa. Sekarang, kita ke dapur. Mau aku gendong?" tawar Dimas sambil mengangkat alisnya sebelah.


"Nggak mau, ngapain digendong. aku bisa jalan sendiri." Andini berjalan terlebih dahulu yang langsung disusul oleh Dimas.


Keduanya duduk berdampingan, sambil menghadap sepiring nasi goreng yang sudah tersaji di atas meja makan.


"Nasi gorengnya cantik banget Mas" ucap Andini dengan mata yang tertuju ke arah spring nasi goreng dengan dua telur mata sapi, serta hiasan tomat dan daun selada yang tertata rapi.


"Iya, dong . Buatan chef Dimas gitu loh." pria itu terkekeh


"Sudah ganti profesi pak dosen." seloroh Andini yang mulai menyendok nasi goreng itu.


"A...Mas, biar aku suapi." Andini menyodorkan satu sendok nasi goreng itu karena bibir suaminya.


Wajah Dimas seketika berubah ketika mencium aroma nasi goreng yang begitu dekat dengan hidungnya.


"Hoek...." pria itu langsung menutup mulutnya ketika merasakan mual dan hampir muntah.


Andini menatap suaminya dengan wajah heran.


"Mas, kamu kenapa? kok kayak mau muntah gitu?" tanya Andini dengan dahi menurut.


"Ngak tahu, perut aku tiba-tiba saja mual. nasi goreng ini kok bau banget ya!" Dimas menutup hidungnya, seolah tak mau lagi mencium aroma nasi goreng yang membuat perutnya mual.


"Kok bau, orang uangnya begini. kamu masuk angin kali mas."


"Mas nggak jadi makan deh, kamu saja."

__ADS_1


"Loh, kok gitu. kalau nggak makan, nanti mas sakit. makan dulu dikit, habis itu nanti minum obat."Andini kembali mendekatkan sendok yang berisi nasi goreng itu ke arah bibir Dimas dan hampir menempelkannya.


"Hoek .."Dimas kembali mengeluarkan suara seperti akan muntah dengan tangan yang menjauhkan sendok nasi goreng itu dari hadapannya.


"Mas, kok kamu terus-terusan yang mengidam sih?"Andini masih menampakkan wajah herannya.


"Itu pertanda, Mas sangat menyayangi kalian. ucap Dimas.


Andini menyantap nasi goreng buatan suaminya. Sementara Dimas Hanya duduk dan meminum air hangat yang disiapkan Andini.


Dimas hanya memperhatikan istrinya dengan tangan yang membekap mulut.


"Mbak Dimas, kandungannya sudah berapa bulan?"godaan diri kembali sambil terus menikmati nasi goreng buatan suaminya itu.


"Enak ya, kamu yang hamil, aku yang muntah-muntah."Dimas memperhatikan istrinya yang makan dengan lahap.


"Allah maha adil Mas,"balas Andini sambil terkekeh.


****


"Robert, ayo keluar dulu! Mariska menarik paksa tangan suaminya yang belum selesai berpakaian.


Robert terpaksa mengikuti langkah Mariska walaupun dirinya hanya mengenakan kaos tipis dan celana pendek sebatas lutut.


Karena dia baru selesai mandi dan akan memakai pakaian kantor.


"Ada apa sih sayang? aku belum selesai pakai baju,"protes Robert Seraya keluar dari kamar, karena Mariska terus menarik tangannya.


"Tangan kamu harus diurut."balas Mariska tanpa melepas tangan suaminya.


"Diurut sama siapa? tanya Robert yang mulai terlihat ketakutan.


"Ya sama tukang urut lah. Masa tukang jahit


"Dia memang tukang urut sayang? tanya Robert kembali.


"Bukan, tapi tukang sunat."


"Astaga, sayang. Aku mau disunat lagi gitu?"Robert menarik tangannya dari genggaman sang istri.


Namun, Mariska Malah semakin mempererat genggaman.


"Sudah, Jangan banyak bacot! kalau nggak dibenerin, tangan kamu bakalan begitu saja.


"Ini sudah sembuh kok Sayang."elektrode dengan wajah yang mulai terlihat pias.


"Sembuh apaan? tadi pagi saja kamu cebok pakai tangan kanan, kan?"


"Hehehe .... nggak apa-apa say. Kan udah dicuci bersih. coba kamu cium!"Robert mengarahkan tangannya ke hidung Mariska.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2