Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 161. PERUBAHAN BAGAS


__ADS_3

Hari ini Andini terlihat santai, karena di rumahnya baru datang seorang wanita paruh baya yang akan bekerja di sana.


"Assalamualaikum. Selamat pagi Bu, Pak." ucap seorang wanita yang mengenakan rok panjang dengan sopan.


Bahkan wanita yang mengenakan kerudung berwarna coklat itu menunduk dan tidak mengangkat kepalanya sedikitpun.


"Waalaikumsalam. Ini yang akan bekerja di rumah kita Mas? tanya Andini yang duduk di atas sofa.


"Iya Bu, eh Nona wanita paruh baya itu meralat ucapannya ketika melihat wajah Andini.


"Maaf ya, saya panggil ibu tadi. Kirain sudah tua, eh ternyata masih muda dan cantik." ucap wanita itu dengan wajah kembali menunduk


"Tidak apa-apa. Ibu namanya siapa?" Tanya Andini dengan ramah.


"Panggil saja Mak Ratna."


"Okey, Ibu Ratna. semoga betah kerja di sini ya Mak." ucap Dimas dengan ramah.


"Insya Allah betah, soalnya Non sama bapak ini sepertinya orang baik..


Aduh ini manggilnya Non sama bapak, atau apa ya? mau saya panggil ibu kok nggak pantes gitu, soalnya masih muda dan seumuran anak saya." tutur Mak Ratna sambil nyengir tak karuan.


"Senyamannya aja Mak. Asal jangan yang aneh-aneh aja." balas Andini sambil tersenyum.


"Baik, saya panggil Non, sama bapak aja, Ya. sudah terlanjur nyaman." Ucap Mak Ratna.


"Kesannya malah kayak anak sama bapak ya!" celetuk Dimas dengan bibir tersenyum tipis.


"Maaf ya Pak, emang pantasnya gitu." Mak Ratna kembali terkekeh.


"Hahaha...... Mak, jujur bangat." Andini memecahkan tawanya.


"Mak Hari ini kita mau ke kampus. Mak beres-beres aja di sini." ucap Dimas yang langsung di balas anggukan oleh pembantu barunya itu.


***


"Bang, Hari ini aku mau ke kampus. Karena sebentar lagi akan sidang skripsi." ujar Rian saat memasang dasi suaminya.


"Ya sudah, nanti aku antar dulu."


"Nggak apa-apa Bang. Aku naik ojek aja, nanti kalau Abang nganterin aku dulu, kamu jadi bolak-balik.


"Nggak, aku nggak ingin kamu naik ojek." bantah Herlan yang membuat dahi istrinya langsung mengerut.


"Lah kenapa Bang?


"Jangan naik motor, aku takut kandungan kamu kenapa-napa."


"Kan, cuma naik motor bang. Bukan lari atau loncat-loncat.


"Ya sama saja! pokoknya aku antar kamu sampai kampus. Nanti pulangnya aku jemput lagi." tukas Herlan yang tak mau lagi menerima bantahan.


"Tumben so sweet banget suamiku." Rian menghidupkan matanya beberapa kali.


"Kenapa? kamu kelilipan? tanya Herlan dengan mata yang menatap heran ke arah istrinya.


"Bukan Bang, ini namanya mata genit." Rian tertawa kecil.


"Mata genit apaan? yang ada itu mah kayak orang cacingan."


"Bang Herlan ihk!" Rian memukul dada suaminya dengan manja.


"Sudah, yuk kita berangkat sekarang." ajak Herlan sambil menghentikan serangan istrinya.


"Eh, tapi Bang kayaknya aku pulang lebih awal deh. Masa aku nunggu kamu terus? biasanya kamu kan pulangnya sore.


"Ya udah, kamu naik taksi aja jangan naik ojek.

__ADS_1


"Siap Bang." Rian memeluk tubuh suaminya dengan erat sampai membuat Herlan terbatuk karena dadanya terasa sesak.


***


Hari ini semua grup pertemanan Andini datang ke kampus.


Rasanya sedikit berbeda setelah beberapa bulan lamanya mereka tidak berkumpul di tempat itu.


Tentunya sekarang banyak yang berbeda karena status mereka juga yang sudah berbeda.


Termasuk kehamilan yang kini sedang dirasakan ketika wanita, awalnya adalah gadis barbar di kampus itu.


Sekarang mereka sedikit berubah menjadi lebih kalem, karena ada janin di dalam perut yang harus mereka jaga.


Dulu, Andini, Mariska, Rian akan berlari kejar-kejaran ke arah kelas. Namun, sekarang ketiga wanita yang tengah berbadan dua itu berjalan dengan anggun.


"Hai guys..." sapa Ricky dan Bima sambil berjalan ke arah Andini, Rian, dan Mariska dan Robert yang sudah berkumpul.


"Hai...., long time no see." balas Rian sambil melambaikan tangannya.


"Wih, Nyonya Herlan bahasanya sudah berubah." ucap Ricky sambil terkekeh.


"Iya dong, kamu berdua kapan habis masa jomblonya?" Rian menunjuk ke arah Ricky dan Bima.


"Aku udah nggak jomblo kok." timpal Bima dengan senyum merekah.


Seketika semua tatapan tertuju ke arah pria bertubuh kekar itu.


"Cie.... sold out. Pasti cewek yang semalam kan? tebak Robert.


"Iya, yang semalam pakai jubah putih." timpal Ricky.


"Jubah putih apaan? dia Kunti kali!" sangkal Bima yang menyanggah kan sikutnya pada dahi Robert.


"Itu yang semalam siapa namanya? aku lupa."Robert menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Hehehe.... nggak sayang, aku nggak kenal. Yang kenal tuh si Ricky." Robert mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


"Beneran Ricky? jangan-jangan Kalian ada main di belakang aku." tuduh Mariska dengan tatapan intens.


"Idih, amit-amit aku ada main sama laki. Kamu kira aku suka terong, ketemu pisang apa?" sangkal Ricky.


"Maksud aku Kalian ada main sama cewek itu, dodol!!" sergah Mariska dengan wajah kesal.


"Santai, nggak ada yang mau kok sama laki kamu. Cuman kamu satu-satunya cewek yang mau sama si Robert." seloroh Ricky yang langsung disambut gelap tawa teman-temannya.


"Iya, aku tahu laki aku tuh jelek, makanya aku milih dia biar nggak ada yang mau diajak selingkuh." timpal Mariska sambil terkekeh.


"Ya ampun Sayang, nggak usah terlalu jujur Kenapa?" protes Robert dengan wajah sendu.


"Bohong itu dosa Robert!!" balas Mariska.


"Setuju!!" timpal Andini, Rian, Ricky dan Bima Seraya mengancungkan jempolnya ke arah Mariska.


"Ya elah, kompak banget kamu semua. Sudah kayak demo saja."Robert bersedekap dada dengan wajah tengilnya.


"Aku Mau demo, gaji aku belum turun juga seloroh Ricky.


"Santai Bos, mau beli kolor dulu."timpal Robert yang membuat semuanya kembali tertawa.


"Pasti kolor kamu rusak sama si Mariska ya." ucap Rian.


"Bukan rusak lagi, setiap aku pakai kolor selalu dia tarik." balas Robert yang langsung mendapat cubitan dari istrinya.


"Eh Bima, pajak jadian dong! katanya kamu udah sold out." tagih Rian.


"Iya benar, kita bertiga nih ngidam Boba. Kamu harus traktir." timpal Mariska sambil mengusap perutnya.

__ADS_1


"Oke aku traktir. Kalian bisa kompak gitu sih hamilnya?"


"Iya, lah kita kan produksinya bareng."ucap Robert dengan angkuh.


"Aku juga mau produksi." balas Bima sambil terkekeh.


"Eh, cewek kamu namanya siapa sih? kita perlu tahu." tanya Ricky sambil menepuk bahu sahabatnya.


"Namanya Erin." jawab Bima membuat mata Andini hampir membulat.


Andini akan menanyakan perihal nama Erin, Namun, ia urungkan kembali karena semuanya keburu bubar.


"Ah mungkin Erin yang lain." gumamnya dalam hati sambil berjalan ke arah kelas.


dia beriringan dengan Rian. Sementara Robert bersama dengan Mariska berjalan Bak sepasang model yang berada di atas catwalk.


Sedangkan Ricky dan Bima berjalan terlebih dahulu sambil berbincang.


Mungkin kedua pemuda itu sedang membicarakan kekasih baru Bima.


Andini menghentikan langkahnya seketika ia berpapasan dengan seseorang.


Wanita itu terdiam sejenak dan mengangkat kepala. menatap ke arah pria yang berdiri di hadapannya.


"Bagas!"Panggil Andini sedikit ragu.


"Hai Andini!"balas Bagas dengan senyum mengembang.


Andini sedikit mengerutkan dahinya, ketika melihat penampilan mantan teman dekatnya itu.


Bagas terlihat berbeda. Pria yang biasanya memiliki rambut rapi itu, kini tampil dengan rambut panjang hampir sebahu.


Bahkan kulit putih pemuda itu sedikit berubah menjadi sawo matang.


Serta kumis tipis pada atas bibir Bagas terlihat nyata. Tubuhnya sedikit berisi sehingga membuat pria itu terlihat kekar.


Andini hampir tidak mengenali pria yang dulu sering menghabiskan waktu bersamanya.


"Bagas kamu....!


"Aku berubah?"tanya Bagas dengan bibir tersenyum.


Beberapa bulan tidak bertemu, banyak perubahan dari pria itu.


Bahkan Rian yang berdiri di samping Andini terdiam dengan wajah heran.


"Bagas, aku hampir Nggak kenal kamu." timpal Ran yang akhirnya bersuara juga.


"Hidup butuh perubahan Kalian juga berubah. Sorry aku cabut dulu ya." Bagas melangkah dengan cepat sampai membuat rambutnya yang gondrong menjadi berkibar.


Andini dan Rian masih bengong menatap punggung Bagas yang semakin menjauh.


"Din, kabar si Bagas yang menghamili si Almira itu valid nggak? tanya Rian ketika ingatannya kembali pada kejadian Beberapa bulan yang lalu.


"Valid, aku yang nemuin tespek si Almira." jawab Andini yang mulai mengalihkan pandangannya dari punggung Bagas.


"CK.... aku nggak nyangka mereka bisa kayak gitu, dan membuat aku semakin nggak menyangka lagi, si Almira sampai menghabisi nyawanya sendiri. Duh tuh toilet pasti Sekarang kelihatan angker. Jangan-jangan si Almira juga mau ikut skripsi, kalau aku kebelet ke toilet, mending aku tahan deh sampai balik." cerocos Rian sambil menggerakkan kedua bahunya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN. "DI BULLY KARNA OBESITAS"


__ADS_1


__ADS_2