
Sementara itu, sepasang suami istri sedang lelap di alam mimpi, berselimut kan dekapan hangat.
Kandungannya yang semakin, membuat Andini gampang merasa gerah.
Walaupun di kamar itu ada AC, tetap saja ia merasa gerah walaupun tidak terlalu. Bahkan, kini wanita itu tidak tidur di dalam dekapan suaminya, Andini menyingkirkan lengan Dimas yang memeluknya.
Dia lebih nyaman ketika tidur sendiri tanpa bersentuhan. Namun, saat dirinya terlelap di alam mimpi, iya merasakan sesuatu yang bergetar.
Andini berusaha membuka mata yang terasa berat, iya tertidur dengan posisi membelakangi suaminya.
Wanita itu segera membalikkan badan ke arah suaminya. Matanya hampir membulat ketika melihat suaminya menggigil kedinginan.
Walaupun lampu utama dimatikan, tapi iya masih bisa melihat secara samar-samar di bawah penangkaran lampu tidur.
Andini segera menyalakan lampu utama, agar penglihatannya semakin jelas.
"Mas, kamu kenapa?"tanyanya dengan panik.
Andini menempelkan punggung tangan pada dahi suaminya yang terasa panas. wajah di Master lihat pucat dengan mata terpejam, pria itu terus menggigil
"Mas, kamu kenapa? kamu sakit?"tanya Andi ini kembali dengan nada bergetar karena panik, wanita itu menggerakkan bahu suaminya yang membuat Dimas membuka kedua matanya dengan perlahan.
"Dingin,"ucapnya dengan lirih.
"Mas, Kamu kenapa tiba-tiba sakit begini."buliran bening mulai menetes dari mata wanita itu.
"Mas, badan kamu panas banget."
"Dingin,"lirih Dimas dengan mata yang kembali terpejam dan membuat Andini semakin bertambah panik.
"Mas, kamu Kenapa jadi begini?"Andini menarik selimut sampai batas leher suaminya.
Air mata wanita itu semakin luruh ketika melihat Dimas menggerakkan tubuhnya karena menggigil kedinginan.
Dimas kembali membuka matanya ketika mendengar ucapan sang istri.
"Aku tidak apa-apa kok, aku cuma dingin aja."jawabnya dengan lirih, matanya menatap sayur ke arah Andini yang sudah berlinang air mata.
__ADS_1
"Tidak apa-apa gimana? orang badan kamu panas."
"Beneran nggak apa-apa. sudah kamu tidur lagi sini!"Dimas menepuk lahan di sebelahnya.
"Nggak mau, kamu harus diobati dulu. menggigil begini dibilang gak apa-apa."gerutu Andini dengan nada bercampur khawatir.
"Ini sudah jam berapa sih?"Dimas mengangkat tangan, lalu menatap kerah lengannya yang sekolah mencari jam tangan yang biasa ia kenakan.
"Jam satu. Kamu ngapain sih, Mas. orang kamu nggak pakai jam."Andini memasukkan kembali tangan suaminya ke dalam selimut.
"Aku pakai jam dinding di tangan mana ya?"kok nggak ada?"Dimas memutar bola matanya seolah mencari sesuatu.
"Pakai jam dinding di tangan apaan? kamu ngaco bener deh, Mas ngomongnya. Jangan gini dong, aku jadi takut."Andini memegang kedua tangan suaminya yang terasa panas dengan air mata yang kembali tumpah, membanjiri pipinya.
"Aku panas ya? tadi habis masuk tungku,"ucap Dimas kembali yang membuat Andini langsung menatap heran ke arah suaminya.
"Mas, please jangan ngaco deh. dikira ini rumah si beruang apa? ada tungku segala,"balas Andini dengan kesal, tetapi air mata wanita itu tidak berhenti menetes.
"Aku kan serigala. Bukan beruang, kamu suka manggil aku serigala, nah serigalanya Lagi kedinginan,"oceh Dimas kembali dengan mata yang setengah tertutup.
"Mas, kamu ngaco banget. aku takut, please sadar!"Andini menakup kedua pipi suaminya.
"Haus? sebentar ya, aku ambil minum dulu. sekalian ambil air hangat buat mengompres kamu."Andini melepaskan tangannya dari pipi Dimas dan turun dari atas ranjang dengan perlahan.
Dimas menarik selimut sampai menutupi kepalanya, pria itu terus saja menggigil sampai selimut yang dikenakannya terlihat bergetar.
Tak lama kemudian, Andini datang dengan membawa segelas air putih dan juga sebuah panci kecil yang berisi air hangat.
Dia segera menaruh panci itu di atas nakas dan mendekat ke arah suaminya sambil membawa segelas air putih.
"Minum dulu, Mas!"
Dimas sedikit mengangkat tubuhnya dan menerima segelas air itu dengan tangan bergetar, Andini membantu menyodorkan gelas tadi ke arah bibir suaminya karena takut air di dalam gelas itu tumpah.
"Minum Paracetamol juga ya, Mas. abis itu aku kompres."wanita itu dengan cekatan mengambil obat di dalam laci dan menyerahkannya kepada sang suami.
Dimas menurut saja, pria itu meminum sebutir obat dari tangan istrinya dan kembali menekuk air sampai air yang dalam gelas itu tandas.
__ADS_1
"Kamu tiduran lagi, Mas. Biar aku kompres."Andini membantu suaminya kembali merebahkan tubuh dengan posisi terlentang.
Setelah itu, iya mengambil handuk kecil yang telah disiapkannya. lalu mulai menempelkan handuk yang telah dibasahi oleh air hangat itu ke atas dari suaminya.
Andini melakukan hal itu beberapa kali dengan sabar.
Meskipun matanya terasa berat, tapi ia tidak akan bisa kembali tidur jika melihat keadaan suaminya masih sama.
Wanita itu duduk di tepi ranjang, tepat di samping suaminya sambil menyandarkan punggungnya.
Sesekali matanya terpejam ketika merasakan kantuk yang luar biasa.
Namun, kedua netra indah itu kembali terbuka untuk mengganti kompresan suaminya.
Setelah beberapa lama, suhu tubuh Dimas mulai turun. Andini menempelkan punggung tangannya kepada dahi sang suami untuk mengecek suhunya.
"Alhamdulillah sudah nggak terlalu panas. Masih dingin nggak Mas?"tanyanya Seraya menyimpan kembali handuk kecil itu ke dalam panci.
Mata Dimas sedikit terbuka, iya melihat cara Andini yang sedari tadi duduk di sampingnya.
"Masih, tapi tidak terlalu. Kamu tidur lagi sini!"Dimas memegang lengan istrinya?
"Aku matiin aja ac-nya ya!"
"Jangan, nanti kamu gerah,"cegah Dimas dengan sorot mata saya.
"Nggak apa-apa, daripada kamu kedinginan lagi."Andini mematikan AC dan naik kembali ke atas ranjang.
"Kalau kamu kepanasan lagi gimana? pakai AC aja kamu masih ngeluh gerah, apalagi kalau nggak pakai AC,"ucap Dimas setelah Andini merebahkan tubuh di sampingnya.
Keadaannya kini sudah mulai membaik, iya bisa berbicara panjang meskipun dengan nada lemah.
"Kalau gerah, aku tinggal buka baju dan tidur telanjang,"jawab Andini dengan santai.
Dimas terkekeh ketika mendengar ucapan istrinya.
"Terima kasih ya, sayang!"ucap Dimas dengan mata yang menatap wajah sang istri.
__ADS_1
"Tidak usah berterima kasih, apa yang aku lakukan Masih jauh dari kebaikan kamu padaku,"balas Andini sara yang menghadap ke arah suaminya dan membalas tatapan lembut pria itu.
bersambung....