
"Tapi ini beneran mau pup, dokter. kalau saya pup di sini gimana?"
"Waduh, jangan sayang!"protes Robert.
"Jangan gimana? orang gak bisa nahan! Eeeekkkh!!!"Mariska mulai mengejan.
"Sakittt! Eeeekkkh!!!"Mariska kembali mengejan dengan tangan yang menjambak rambut Robert.
"Sayang, ampun sayang. Rambut aku bisa botak."Robert berusaha melepaskan tangan Mariska dari rambutnya.
"Diam! Eeeekkkh.... sakit, Robert. pinggang Aku beneran parah ini Eeeekkkh...."Mariska terus mengejan beberapa kali sampai nafasnya hampir habis.
Tangan kanan Mariska terus menjambak rambut Robert, sedangkan tangan kirinya menarik kerah baju pria itu sampai membuat kaos yang dikenakan suaminya robek.
"Eeeekkkh... Eeeekkkh....."Mariska terus mengejan, tenaganya sudah ia keluarkan semua. Namun, perutnya Saya makan terasa sakit dan bayinya belum juga keluar.
"Bu, Jangan gitu. ikuti arahan saya ya!"kita seorang suster yang mendekat ke arah Mariska.
"Jangan gitu gimana? tenaga Saya udah mau habis ini,"protes Mariska dengan suara serak.
"Iya, maka dari itu ikuti arahan saya. sekarang ibu tarik nafas!"kita suster itu yang langsung diikuti oleh Mariska.
"Buang perlahan!"ditanya kembali.
"Uhhhh..."
"Tarik nafas lagi dan buang perlahan!"suster itu terus menuntun Mariska sampai wanita itu kembali bernapas dengan tenang.
"Pembukaannya sudah lengkap, ayo bu sedikit lagi! kepala bayinya sudah kelihatan."
"Beneran, Dok!"Robert yang merasa penasaran akan melihat ke arah bawah istrinya.
"Mau ke mana kamu?"Mariska langsung menjabat rambut Robert dengan kuat sampai membuat pria itu kembali mendekat padanya.
"Sakit.... Eeeekkkh.... Eeeekkkh....."
"Aw!" pekik Robert saat Mariska mencakar wajahnya dengan kasar.
"Ayo Bu, sedikit lagi!"
"Eeeekkkh!!!!
"Aw!" pekik Robert kembali ketika tangan Mariska menjambak rambutnya kembali, Tak hanya itu bahkan Mariska mencubit kencang lengan suaminya.
"Ayo, Bu sedikit lagi!"
"Eeeekkkh...."
"Awwww!!!"
"Oek .... oek....oek..."suara Mariska mengejan, teriakan Robert saat Mariska mencakar lengannya, beriringan dengan tangis seorang bayi.
__ADS_1
"Alhamdulillah, bayinya sudah lahir,"ucap seorang dokter yang membuat Robert dan Mariska mematung sejenak, sepasang suami istri itu masih tak percaya dengan apa yang dikatakan dokter barusan.
Namun, suara tangis bayi itu kembali terdengar dan menyadarkan Robert dan Mariska
Dokter langsung mengangkat bayi yang masih merah dan dipenuhi lendir itu ke atas dengan menempelkannya pada perut Mariska.
"Alhamdulillah, sayang. anak kita sudah lahir.
Tik!
Buliran bening lolos begitu saja dari mata Robert dan Mariska.
Tangis harus memecah dari keduanya. Mariska menatap kerah baik merah yang kini sedang menempel pada perutnya itu dengan tatapan haru.
Ia masih tak percaya bayi yang selalu bergerak di dalam perutnya itu kini sudah keluar dengan wujud yang sempurna.
Tangis kesakitannya terbayar sudah Ketika sang mutiara telah lahir.
"Robert ini anak kita.... anak kita sudah lahir,"ucap Mariska dengan tan saru yang tak pernah berhenti.
"Iya, sayang. Alhamdulillah Terima kasih ya Allah. Terima kasih juga untukmu Sayang. kamu hebat."
Cup!
Robert mencium pucuk kepala istrinya dengan air mata yang mengalirkan deras.
"Alhamdulillah, ya Allah."Mariska membuang nafas lega diiringi rasa syukur yang tak pernah terputus.
"Selamat ya Pak, Bu. bayinya laki-laki,"ucap seorang dokter seragam membersihkan sisa-sisa darah pada tubuh Mariska.
"Alhamdulillah, akhirnya Robert Junior lahir juga."Robert berjongkok dan bersujud di atas lantai, menyampaikan rasa syukurnya yang tak dapat diucapkan dengan kata-kata.
"Pak, silakan bayinya di adzankan dulu."seorang suster membawa bayi mungil yang sudah terbungkus kain itu ke arah Robert.
"Gimana memegangnya, sus?"tanya Robert dengan wajah bingung.
"Digendong saja Pak."suster itu menyerahkan bayi tadi ke tangan Robert dengan hati-hati.
"Ini nggak akan loncat kan? tanya Robert dengan polos.
"Masa loncat sih, Robert. dikira anak kita ini katak apa?"sangkal Mariska.
"Maaf sayang. aku baru pertama kali gendong bayi."Robert menggendong bayi itu dengan tangan bergetar.
Setelah itu, iya langsung menggumamkan adzan pada telinga Sang Putra.
Mariska mendengar lantunan adzan dari suami nya dengan air mata hari yang kembali luruh.
"Huhhhp...."Robert membuang nafas lega setelah lantunan adzan itu selesai.
"Sayang lihat deh, matanya indah banget."Robert menunjukkan wajah Putra mereka ke arah sang istri.
__ADS_1
Mariska menatap mata bening itu dengan Senyum merekah.
"Matanya sipit banget Robert, hidungnya mancung lagi."Mariska memperhatikan bayi mungil itu dengan kebahagiaan yang luar biasa.
"Mirip aku ya, sayang!"
"Enggak, ini lebih mirip apa-apa Korea, matanya sipit, hidungnya mancung. Uluh anak mami gantengnya."Mariska mengusap lembut pipi merah Putra kecilnya.
"Anak papi juga, ya! temple Robert yang tak mau kalah.
"Ikh, lidahnya melet-melet, sayang!"mata Robert membulat saat melihat bayi yang masih merah itu mengeluarkan lidah kecilnya.
"Kayaknya anak kita pengen nyusu deh."balas Mariska dengan mata yang tak beralih pandangan dari Sang putra.
"Pak, Bu, bayinya biar kami urus dulu. karena Bu Mariska juga akan melakukan penjahitan."ucap seorang suster Seraya mengambil kembali bayi mungil itu dari tangan Robert .
Terlihat dari keduanya saat Putra mereka berpindah tangan.
"Jahit? jahit apaan, sus? tanya Mariska setelah menyadari ucapan suster tadi.
"Jahit bekas lahiran, Bu,"jawab suster.
"Apanya yang dijahit Bu?" timpal Robert dengan wajah yang kembali terlihat tegang.
"Jalan anak lahir Pak,"jawab suster itu kembali yang seketika membuat mata Mariska dan Robert membulat sempurna.
"Apa? terus nanti rapat semua dong sus? tanya Robert kembali dengan wajah syok.
"Tidak, Pak, Bu. ini hanyalah menjahit bagian robekannya saja. karena saat mengejan Bu Mariska mengangkat panggul dan memiliki robekan yang harus dijahit bekas Jalan lahir,"jelas dokter yang mulai menyiapkan alat jahit.
"Astaga, serem banget!"Mariska menarik dengan Robert dengan kuat.
"Ibu tenang ya, kita lakukan prosesnya sekarang!"dokter itu mulai menunjukkan jarum jahit pada kulit Mariska.
"Astaga!!! teriak Mariska yang kembali terdengar memenuhi ruangan.
Wanita itu kembali menjambak rambut dan mencakar tangan suaminya. bunyi ponsel Robert terdengar menandakan ada pesan masuk.
Pria itu segera mengambil ponselnya dan membaca pasien dari sang mertua.
"Sayang, mama sama papa sudah ada di depan, aku samperin mereka dulu ya!"Robert melepaskan tangannya dari cengkraman Mariska.
Pria itu keluar dari ruangan dengan rambut berantakan bekas jembatan, kaos yang dikenakannya robek di bagian depan, lengan dan pipinya terdapat bekas cakaran kuku Mariska.
Semua yang menunggu di depan syok saat melihat penampilan Robert saat ini.
"Astagfirullah, Robert, kamu kenapa? tanya mamanya Robert dengan wajah syok saat melihat keadaan putranya.
"Robert habis nemenin macan melahirkan Ma."jawab Robert Seraya menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi tunggu.
Tubuh dan lututnya terasa lemas, tenaganya ikut terkuras karena dianiaya oleh sang istri saat kontraksi dan proses penjahitan tadi. Namun, Ciwi malah terbahak ketika melihat penampilan kakaknya saat ini.
__ADS_1
bersambung....