Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 152. LEMBUR


__ADS_3

Mendapat kabar dari Andini kalau dirinya lembur malam ini, Dimas tersenyum kecut. Ia mengetahui kalau adik sepupunya itu pasti berniat untuk menjahili istrinya.


Dimas masih menunggu di depan kantor sambil memejamkan matanya, mengingat hari ini dia cukup lelah. Setelah selesai mengajar di kampus, ia berlalu ke hotel untuk memantau perkembangan hotel saat ini.


Sekitar satu jam kemudian, saat Dimas tertidur pulas di dalam mobil, Ia dikejutkan dengan suara klakson mobil seseorang yang keluar dari area parkiran kantor.


Dimas mengucek matanya, dan berusaha mengumpulkan kesadarannya. Dia meraih ponsel yang ada di saku celananya. mengirimkan pesan Whatsapp kepada Andini.


"Sayang, masih lama? tanya Dimas.


"Nggak tahu Mas, pekerjaannya belum selesai saat ini."balas Andini.


karena tidak sabar lagi Dimas langsung keluar dari dalam mobil. Ia langsung melangkah masuk ke ruang kerja Alvin.


"Selamat malam Pak Alvin." sapa Dimas dengan langkah yang semakin mendekat ke arah Andini.


Wanita itu masih terdiam mematung, Ia tak menyangka suaminya akan nekat masuk ke dalam ruangan itu.


"Selamat malam Pak Dimas!" balas Alvin.


"Pak Alvin, Saya rasa ini sudah terlalu malam untuk bekerja. Mohon maaf sekali, saya tidak bermaksud untuk mengatur jadwal kerja bapak. Saya tahu bapak sangat sibuk dan memiliki banyak pekerjaan. Saya hanya meminta agar isteri saya bisa pulang secepatnya."ujar Dimas formal membuat Andini menahan nafasnya ia takut bosnya ngamuk.


"Bagaimana jadinya jika Dimas seorang dosen killer berhadapan dengan Alvin yang juga mendapat gelar Bos killer di kantor.


Kedua pria itu saling bertatapan. Andini benar-benar merasakan situasi itu semakin menegang. Bahkan beberapa kali ia meremas jemari yang terasa dingin.


"Kesalahan apa yang dibuat istri saya? biar saya yang menyelesaikan pekerjaannya."ucap Dimas sambil mengedipkan matanya sebelah ke arah Alvin.


"Sayang, kamu minggir dulu! biar aku yang mengerjakan semuanya.


"Tapi mas..."


"Tenang saja, ini bukan pekerjaan yang sulit bagiku. Pak Alvin tentulah tahu siapa saya seorang dosen dari fakultas manajemen. Dimas tersenyum tipis membuat Alvin hampir saja terkekeh.


"Tidak perlu Pak. Terima kasih atas partisipasinya. Tapi saya rasa pekerjaan ini tidak perlu dilanjutkan malam ini. Andini, lembur kamu telah selesai. Silakan pulang dan kerjakan kembali semuanya besok." ucap Alvin dengan tegas.


Seketika Andini membuang nafas lega.


Padahal sebelumnya ia sudah membayangkan akan ada bom meledak di ruangan itu.


"Terima kasih Pak." ucap Andini Seraya bangkit dari duduknya.


"Selamat malam Pak Alvin, tetap jaga kesehatan."ucap Dimas dengan senyum.


"Selamat malam Pak Dimas!"sahut Alvin sambil memberi hormat dengan mengangkat tangan kanannya ke kepala, membuat Dimas langsung menatapnya dengan tatapan tajam. takut semuanya akan terbongkar.


"Sayang, ayo kita pulang, tempat tidur Kita sudah menunggu."Dimas merangkul bahu Andini dan keluar dari ruangan itu dengan Senyum merekah

__ADS_1


"Buset dah, andai kau bukan kakak sepupuku aku akan merebut Andini dari kamu. Pantas saja kamu begitu menjaganya. Dia wanita yang unik dan patut untuk diperjuangkan. sialan banget kamu Dimas! membuat jiwa jomblo ku maranta-ronta." umpat Alvin.


Sepasang suami istri itu segera keluar dari kantor, yang terlihat sepi dan keduanya langsung masuk ke dalam mobil untuk bersiap pulang.


"Mas, kok kamu berani banget datang ke ruangan Pak Alvin? tanya Andini saat Dimas mulai menjalankan mobilnya.


"Memangnya kenapa?


"Kamu nggak takut Pak Alvin marah?


"Aku lebih takut kalau kamu kenapa-kenapa."jawab Dimas Seraya menoleh ke arah istrinya.


"Terima kasih, Mas. Tapi Pak Alvin gak macam-macam kok. Dia cuma nyuruh aku buat revisi pekerjaan yang menurut dia salah."ucap Andini.


"Oh iya. Mana bakso pesananku? tanya Andini yang kembali mengingat makanan itu.


"Astaga! hampir saja aku lupa. Tapi tenang, baksonya aman tuh!"Dimas menunjuk ke arah kursi belakang yang terdapat sebuah plastik yang berisi bakso pesanan istrinya.


"Asik! Terima kasih, Mas."Andini merangkul lengan suaminya dan mencium lengan berotot itu.


"Kok cium lengan sih? protes Dimas


"Terus cium apa dong? Andini menegakkan kembali kepalanya. Dimas menunjuk pipi kirinya dengan bibir yang tersenyum tipis


"Modus ini mah!


"Idih hitung-hitungan banget."


"Baksonya gratis, cukup bayar ongkirnya saja."


"Hahaha....sudah kayak driver ojek online saja kamu.


****


"Robert, gimana tangan kamu masih sakit nggak?"tanya Mariska saat keduanya telah berada di tempat tidur.


Pasalnya, setelah menggantung di pohon mangga, Robert menjatuhkan tubuhnya dengan posisi tengkurap yang membuat tangan kirinya terkilir.


Seharian ini Robert bekerja hanya menggunakan tangan kanannya.


Bahkan Mariska mengambil tugas sang suami ketika membawa motor.


Mariska membonceng Robert karena tangan suaminya belum bisa membawa motor. Saat berada di cafe, pun Robert tidak banyak bergerak.


Hanya Ricky dan Bima yang banyak bekerja.


Robert bagaimana?"tanya Mariska kembali karena sedari tadi Robert hanya diam

__ADS_1


"Masih sakit Sayang."jawab Robert Seraya merebahkan kepalanya di atas paha sang istri yang hanya terbalik daster sebatas lutut.


"Beneran? Kok bisa lama gitu ya? apa kita ke tukang urut saja, kayaknya ada tulang yang belok deh, Mariska memperhatikan tangan suaminya yang sedikit bengkak.


"Tulang belok mah, namanya ganti bukan Robert.


"Jadi apa? Mariska menatap ke arah Robert dengan wajah polos.


"Jadi Roniah, Kan tulang belok jadinya begini!"Robert melambaikan tangan kanannya.


"Robert, ih! itu mah banci! aku serius, kita ke tukang urut saja ya biar tangan kamu dibenerin lagi.


"Bahasanya pakai dibenerin segala, Memangnya tangan aku ini mesin apa?"


"Iya, kayak ada baut yang lepas satu." balas Mariska sambil terkekeh.


"Enggak ah. Ini sudah malam. Tukang urutnya pasti sudah tidur, mending sekarang kita tidur saja." sahut Robert sambil menyikap daster yang dikenakan istrinya.


"Robert ih, nakal banget! kalau nggak dibenerin ini tangan kamu nggak akan sembuh."


"Biarin emang kenapa?


"Idih, malah nanya kenapa ya susahlah tangan kiri kamu nggak berfungsi."


"Paling kamu nyebokin aku." balas Robert sambil terkekeh.


"Hoek... jijik banget!


Plak!


Modus Bangat Mariska memukul tangan kiri Robert sampai membuat pria itu mengadu kesakitan.


"Aw....sakit banget Mariska! sumpah!!!" rintih Robert dengan wajah meringis.


"Aduh, sorry Robert nggak sengaja. Ini kayaknya Azab si maling mangga." ucap Mariska sambil mengusap tangan suaminya.


Robert menikmati sikap manis sang istri terhadapnya


"Emmm...ternyata ada enaknya juga kalau lagi sakit kayak gini, bisa dimanja oleh istriku." gumamnya dalam hati.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"

__ADS_1


__ADS_2