Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 168. AMARAH DIMAS


__ADS_3

Ketika Andini masih penasaran dengan pertanyaan dari suaminya, tiba-tiba suara deringan ponsel milik Dimas terdengar jelas di telinga Dimas dan juga Andini. Dimas langsung meraih ponselnya. Ia melihat nomor ponsel salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah utama keluarga Anggara yang menghubungi dirinya.


Dimas menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada sang asisten rumah tangga.


Ketika sambungan telepon seluler itu tersambung, Dimas terhenyak mendengar kabar Kalau kondisi Papanya Saat ini semakin menurun. Setelah selesai berbicara dengan sang asisten rumah tangga, Dimas langsung memutuskan sambungan telepon selulernya.


"Kita harus segera ke rumah." ucap Dimas sembari menarik tangan Andini.


Dimas yang mendapat kabar bahwa Papanya sedang sakit, langsung mengajak Andini meluncur ke kediaman orang tuanya.


"Sayang maaf ya, kita pergi malam-malam begini. Harusnya jam segini kamu sudah istirahat." ucap Dimas sambil sambil melajukan mobilnya menuju ke arah rumah utama keluarga Anggara.


"Nggak apa-apa mas. Aku juga khawatir sama keadaan papa." balas Andini tidak tega melihat wajah tegang suaminya.


"Iya, katanya Papa sudah ditangani dokter di rumah. Tapi aku tetap aja khawatir.


"Iya Mas, aku ngerti kok. Nggak apa-apa malam ini Kita nginep aja di rumah Papa."


Dimas hanya mengangguk dan menghentikan mobilnya tepat di depan rumah orang tuanya. Pria itu segera turun dan berbarengan dengan Andini.


Tanpa menunggu lama lagi, Dimas langsung masuk ke dalam rumah itu. Tujuannya saat ini adalah kamar sang ayah.


Andini mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam kamar Tuan Anggara.


"Pa, Bagaimana keadaan Papa?" tanya Dimas secara langsung kini telah duduk di tepi ranjang sang ayah.


Tuan Anggara memakai kacamatanya yang semula ia letakkan di samping tempat tidur tepatnya di atas nakas.


Pria berusia senja itu terlihat berbaring dengan lemah di atas ranjang. "Seperti biasa papa akan membaik jika sudah minum obat." ucap Tuan Anggara dengan suara melemah.


"Papa harus banyak istirahat. Jangan banyak pikiran juga." Dimas menatap wajah sang ayah dengan Sendu.


"Iya, bagaimana dengan keadaan kandungan istri kamu?" tanya Tuan Anggara sambil melihat ke arah Andini juga ikut mendekat.


"Alhamdulillah kondisi kandungan Andini baik-baik saja Pa." balas wanita itu dengan ramah


"Alhamdulillah, semoga Papa masih bisa menyaksikan kelahiran anak kalian." ucap Tuan Anggara yang diiringi dengan suara batuk.


"Papa jangan ngomong begitu. Pasti Papa harus tetap sehat." Dimas meyakinkan sang ayah.


"Sebenarnya akhir-akhir ini papa sering kepikiran tentang Erin." ucap Tuan Anggara yang membuat Dimas langsung menatap ke arah wajah Ayahnya.


"Kenapa Pa? Apa ada masalah dengan Erin? bukannya Erin baik-baik saja?" tanya Dimas dengan wajah serius.


"Erin hanya terus meminta uang beberapa hari ini. Dia menghabiskan banyak uang bahkan Papa sampai kaget ketika melihat laporan keuangan, Dan tagihan kartu kreditnya. Bukan apa-apa, kalau masalah uang Papa nggak masalah, Papa takut adik kamu terjerumus."jelas Tuan Anggara yang membuat Dimas memijat keningnya.


"Astaga, Erin!! sepertinya anak ini perlu diberi pelajaran." ucap Dimas dengan geram.

__ADS_1


"Dimas, Papa minta sebaiknya kamu saja yang mengurus Semua perusahaan. Dan tolong pantau Adik kamu. Papa khawatir dia terjerumus ke jalan yang tidak benar."


"Mengurus perusahaan?"


"Maksud Papa perusahaan apa? tanya Andini yang mampu membuat Dimas membulatkan matanya. Tuan Anggara lupa, kalau sang menantu sebenarnya belum mengetahui siapa sosok keluarga Anggara dan juga Dimas. Sehingga Tuan Anggara pun gelagapan untuk menjawabnya.


"Tidak apa-apa sayang, hanya saja Papa ingin Dimas lebih memperhatikan hotelnya dan juga adik ipar kamu Erin." jawab Tuan Anggara untuk mengalihkan perhatian Andini.


"Baiklah kalau Papa yang meminta secara langsung, aku akan mengurus semuanya. "Kamu setuju kan sayang?" Dimas menatap ke arah istrinya.


Andini hanya manggut-manggut saja. Walaupun dirinya kurang mengetahui apa yang dimaksud sang suami dan juga mertuanya. Karena sepengetahuan Andini memang Beberapa bulan yang lalu Dimas membeli sebuah hotel dari sahabatnya.


"Aku setuju Mas. Apapun yang kamu lakukan selagi itu baik, aku akan tetap mendukung." balas Andini sambil mengusap pundak suaminya yang membuat Anggara mengembangkan senyumnya pada wajah pucat nya.


Tak lama kemudian suara deru motor yang berhenti di halaman rumah itu sampai terdengar ke dalam.


"Itu motor siapa Pa?" tanya Dimas sambil menoleh ke arah jendela kaca yang tertutup gorden.


"Paling itu Erin baru pulang." jawab Tuan Anggara dengan lemah.


"Baru pulang jam segini? baru pulang?astaga! aku kira sedari tadi Erin ada di kamar." ucap Dimas dengan wajah yang terlihat geram


"Adik kamu sering keluar dan pulang malam Dimas, Papa sudah tidak bisa menghentikannya lagi. Coba saja kalau keadaan Papa tidak lemah begini, pasti sudah Papa kurung adikmu itu." jelas Tuan Anggara dengan wajah kesal.


"Papa Tenang saja, biar Dimas yang ngasih pelajaran. Pria itu bangkit dan berjalan dengan cepat keluar dari kamar ayahnya.


Andini yang melihat itu segera mengikuti langkah lebar suaminya. Keduanya membuka pintu rumah hampir bersamaan. Namun, mata sepasang suami istri itu hampir membulat ketika melihat apa yang terjadi di depan.


Pria itu membelakangi Dimas dan Andini sehingga keduanya tidak dapat melihat wajah tersebut.


"Erin!!! panggil Dimas dengan suara keras.


pria itu segera memakai helmnya dan menjalankan kembali motornya dengan kecepatan tinggi.


"Hati-hati....! teriak Erin sambil melambaikan tangannya ke arah motor itu.


Andini masih menatap motor itu seperti milik seseorang. Apa itu motor Bima? tapi nggak mungkin." Andini menepisnya dari pikirannya.


Sementara Dimas berjalan ke arah Erin dengan tatapan tajam.


"Kakak ngapain di sini?" tanya Erin saat Dimas telah berdiri di hadapannya.


"Ngapain kamu ciuman sama laki-laki tadi? siapa dia?" sergah Dimas dengan sorot mata tajam dan tangan mengepal.


"Dia pacar aku." jawab Erin tanpa ragu.


"Plak!

__ADS_1


Dimas melayangkan sebuah tamparan keras pada wajah adiknya.


Seketika kulit putih pada wajah Erin langsung berubah menjadi merah.


Wanita itu memegang pipinya yang terasa memanas.


Andini membulatkan matanya dengan mulut yang sudah terbuka, ketika melihat Apa yang dilakukan oleh suaminya.


"Kakak berani menampar aku!!" ucap Erin dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.


"Iya karena kamu sudah berani berciuman dengan laki-laki." jawab Dimas dengan Gigi mengerat.


"Kenapa? Kakak merasa suci?merasa tidak pernah berciuman dengan pacar kakak?


"Plak!!


Dimas kembali mendaratkan tamparan pada pipi adiknya yang membuat air mata air Erin langsung luruh.


Andini yang melihat itu kembali mendekat ke arah suaminya.


"Tampar! tampar! aku bahkan jika perlu bunuh saja aku. Aku pengen cepat menyusul mama." ucap Erin dengan bibir begetar.


"Erin!!! bentak Dimas yang sudah mengangkat tangannya kembali.


Namun, Andini langsung menahan tangan kekar suaminya.


"Mas, cukup. Andini menurunkan kembali tangan Dimas yang sudah terangkat ke atas.


"Sekarang kakak sudah berani menampar aku, pasti besok Kakak bisa saja membunuh aku." ucap Erin yang membuat darah Dimas semakin mendidih.


"Erin!! kakak hanya tidak suka kamu melakukan itu! kamu harus tahu batasan terlalu dekat dengan laki-laki bisa membahayakan dirimu. Kamu ini seorang perempuan, adik kakak satu-satunya yang selalu Kakak jaga."


"Omong kosong! nyatanya sekarang kakak sudah tidak punya waktu untuk keluarga. Aku sendirian, papa sakit-sakitan. Kakak sibuk dengan wanita ini." Erin menunjuk ke arah Andini.


"Erin, kita adalah keluarga. Kalau kamu butuh teman untuk bercerita, Kakak siap mendengarkan dan menemani kamu. Datanglah ke rumah kami." ucap Andini yang masih berusaha sabar.


"Jangan ikut campur! Erin melangkah dan menyenggol bahu Andini sampai membuat tubuh wanita itu terpental.


Dimas langsung menahan tubuh istrinya yang akan terjatuh.


"Kamu tidak apa-apa?" Erin benar-benar keterlaluan!"


"Aku tidak apa-apa Mas, kita harus bicara baik-baik sama Erin. Kamu yang sabar ya." Andini mengelus dada suaminya yang terlihat naik turun dengan cepat.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS"


__ADS_2