
"Maafkan papa ya! aku juga heran, Sejak kapan Papa suka bercanda seperti itu." ucap Nisa.
"Tidak apa-apa, aku tadi hanya takut salah saja di mata papa kamu."balas Ricky, pria itu mengulurkan tangannya akan mengambil segelas air minum, tetapi bisa langsung meraih kelas itu dan menyerahkan kehadapan suaminya.
"Kalau kamu tidak bersalah, jangan takut. Papa aku bukan orang jahat Kok."
"Iya, papa kamu baik. Mungkin aku yang terlalu tegang." Ricky mengambil segelas minum tadi dan segera meneguknya.
"Lain kali, santai saja. sepertinya belakangan ini mood Papa sedang bagus, Makanya papa sering bercanda." tutur Nisa sambil mengelap mulutnya dengan tisu, Wanita itu telah menyelesaikan makannya.
"Syukurlah kalau begitu." ucap Ricky dengan lega.
"Iya, semenjak kamu datang ke rumah ini, papa Jadi terlihat berbeda, tidak terlalu serius dalam berbicara. Sepertinya kamu membawa aura positif dan aura kebahagiaan ke rumah ini." Nisa menggenggam jemari suaminya.
"Syukurlah, berarti para lelembut yang membawa aura negatif nggak ikut masuk ke dalam rumah ini." balas Ricky yang membuat istrinya tertawa kecil.
"Permisi, Non Nisa, ada tamu." ucap seorang wanita yang bekerja di rumah.
"Tamu siapa Bi? tanya Nisa dengan mata yang tertuju ke arah wanita paruh baya yang sedang menundukkan kepalanya dengan patuh.
"Selamat malam, Nisa!" sapa seorang pria yang berpakaian rapi dan berjalan ke arah meja makan. mata Nisa membulat ketika melihat pria bertubuh kekar dengan rahang tugas itu.
"Kamu!!
"Apa kamu baru selesai makan? tanya pria itu basa-basi. pria itu berjalan dengan santai dan berdiri di belakang kursi yang berhadapan dengan Nisa.
"Dia siapa?"Ricky berbisik.
Ricky langsung terlihat tegang ketika melihat penampilan pria itu bertubuh tinggi dan kekar, memakai jas hitam mengkilap dengan rambut yang ditata rapi, menandakan bahwa dirinya bukan orang sembarangan.
"Dia mantan aku."jawab Nisa terus terang.
Seketika Ricky menelan ludahnya pekat. ujian apalagi ini?"
Baru saja ia bernapas lega setelah mertuanya menjauh, kenapa malah datang satu orang lagi yang membuat rongga pernapasannya menjadi tersumbat, hampir saja iya bengek karena kesulitan bernapas.
"Ma..Mantan kamu?" Ricky tergagap.
"Kamu tenang, jangan tegang! dia bukan monster, anggap saja dia itu anak macan yang belum mempunyai taring." bisik Nisa kembali menguatkan suaminya agar tidak ketakutan dan pingsan.
"Baiklah, aku kuat, Aku adalah laki-laki perkasa!"Ricky menepuk dadanya sendiri.
Nisa terkekeh dan menghancurkan jempol ke arah suaminya.
"Nisa, kau tidak membalas apaan dariku?" pria itu menatap ke arah Nisa, Tetapi malah jantung Ricky yang berdebar kencang.
Tidak, ini bukan jatuh cinta tapi aku lagi ketakutan." gumam Ricky dalam benaknya.
"Selamat malam juga, Ada apa kamu kemari? tumben sekali kamu datang ke sini? tanya Nisa dengan ramah.
"Aku ingin meminta sebutan anggur dan duduk di hadapanmu."pria itu mengambil sebutir anggur dari atas meja makan, lalu duduk di atas kursi yang berhadapan langsung dengan Nisa.
"Aku rasa, kamu sudah menunggu bisa botol anggur merah, sehingga kamu datang dengan setengah kesadaran."tutur Nisa
__ADS_1
"Maksud kamu, aku mabuk? iya aku mabuk cinta mu, Bisa." pria itu tersenyum licik.
Ricky mengatakan tangan di atas meja ketika mendengar ucapan pria itu.
Namun, tak lama kemudian pria itu mengarahkan pandangannya kepada Ricky yang membuat Ricky Raffles menyembunyikan tangannya yang menghafal di bawah meja.
"Bodoh! aku nggak boleh kelihatan takut." gumam Ricky kembali sambil mengangkat tangannya dengan perlahan.
Namun, sorot mata pria itu saya akan memberatkan tangannya untuk terangkan ke atas meja.
"Jadi ini suamimu? Aku pikir kamu akan menikah dengan pria yang lebih dari aku." ucap pria itu kembali tersenyum sinis.
"Jika kedatanganmu hanya untuk mengatakan itu, sebaiknya kamu pergi saja!" user Nisa dengan nada dingin.
"Kenapa? kamu takut suamimu tersinggung, lalu dia merajuk. Hahaha.... pria itu tertawa kencang.
"Apa maumu? dasar tidak jelas!" ketuk Ricky yang sudah mengumpulkan nyali sebesar gunung.
"Kamu bertanya apa mauku? Hahaha... kamu bisa apa mahasiswa yang baru saja wisuda. melamar pekerjaan saja paling diterima menjadi office boy, sudah berlagu menikahi seorang CEO." pria itu menatap ke arah Ricky dengan nyalang.
"Yang jelas, kami menikah bukan karena paksaan." balas Ricky yang mulai terlihat geram.
"Iya, bukan karena paksaan, tapi karena perjanjian. aku yakin pernikahan kalian tidak akan berlangsung lama. karena tidak ada ratu yang bersanding dengan tukang kebun." pria itu tertawa mengejek.
"Yang pasti, sayalah yang menjadi suami Nisa sekarang bukan, kamu!! dasar lelaki pecundang!!
Bruk!!
"Cukup!! Jangan membuat keributan di rumahku. Cepat pergi dari sini!" usir desa kembali dengan garam.
"Aku akan pergi jika kamu ikut denganku." pria itu mendekat dan menegang lengan Nisa.
"Jangan sentuh istriku!"Ricky segera menepis tangan pria itu dari lengan istrinya.
"Berani sekali kamu, dasar laki-laki kampungan!!"
BUGH!
Pria itu mendaratkan sebuah pokΓ©mon pada wajah Ricky yang membuat kulit pria itu seketika langsung memar.
"Astaga! Hentikan! dasar pria gila!"Nisa segera membantu Ricky kembali berdiri tegap karena tubuh pria itu hampir terjatuh.
"Kamu berani memukulku, maka kamu juga harus siap menerima seribu pukulan dariku!" Ricky menghafalkan tangannya dan mendekat ke arah pria itu.
"Maju!"pria itu menggerakkan jari telunjuknya, menentang rivalnya.
Ricky menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sampai terdengar bunyi "krek, krek"
"Anjir, hampir leher Aku patah. Belum juga tempur."Gumam pria itu pelan. kakinya melangkah semakin mendekat ke arah pria itu dengan lutut bergetar.
Nisa menata panik ke arah suaminya, dari postur tubuh Ricky dan pria itu jauh berbeda.
Pria yang berusia hampir kepala tiga itu memiliki tubuh dan otot yang menyembul. sementara Ricky yang baru menginjak dua puluh empat tahun memiliki tubuh yang tidak terlalu kekar.
__ADS_1
Namun, pria itu tetap memberanikan diri, dia tak mau harga dirinya sebagai laki-laki diinjak.
"BUGH!
Pria itu kembali mendaratkan sebuah pukulan keras pada wajah Riki yang membuat bibir itu hampir terkilir.
"Sialan!! Ricky mengusap darah segar yang mengalir pada sudut bibirnya.
"Astaga! Hentikan! Pak Sumarno!!"teriak bisa histeris.
Ricky kembali mendekati arah pria itu dengan kedua tangan yang mengepal sempurna.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Ricky memberikan pukulan bertubi-tubi pada wajah dan perut pria itu.
Ricky memukul rivalnya tanpa ampun sampai membuat pria itu terhuyung ke belakang dan akan terjatuh. Nisa membulatkan matanya, wanita itu hampir tidak berkedip ketika melihat suaminya meluluhlantakan tubuh Sang mantan.
Cara berkelahi Ricky sangat berbeda dari kebanyakan orang, reggae memberikan serangan tanpa henti-henti sehingga membuat lawannya tak bisa berkutik.
"Maaf, Kenapa ada keributan di sini?" Pak Sumarno datang bersama dengan dua security.
"Pak Sumarno, tolong user dia keluar dan jangan biarkan dia masuk lagi ke rumah ini kapanpun!" Nisa menunjuk ke arah pria itu yang memegangi perutnya.
"Baik Non." kedua security itu langsung memegang tangan pria itu dan membawanya keluar rumah.
"Sakit perut, kan? awas keciprit!"ledek Ricky sebelum pria itu benar-benar menjauh.
"Ada apa ini?"tanya Arnold yang baru muncul. pria yang berusia hampir senja itu sudah tidur, tetapi ia bangun kembali saat mendengar keributan.
"Tadi si kampret datang ke sini. dia sepertinya habis mabuk dia juga sampai mengajak Ricky berkelahi." jelas Nisa.
"Si kampret? maksud kamu siapa?
"Sang mantan, Pa."kali ini Ricky yang menyahut.
"Sekarang di mana dia? tanya Tuan Arnold kembali dengan wajah geram.
"Sudah dibawa pergi keluar sama security.
"Oh baiklah. Cepat obati luka suamimu. bibirnya sudah membengkak begitu." titah Tuan Arnold, pria itu membalikkan badan lalu kembali ke kamarnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih πππ
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH ππ
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1