
Setelah Andini dan Dimas selesai membeli barang yang diincar Andini, Andini Melihat jarum jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Mas, filmnya sebentar lagi akan dimulai. lebih baik kita masuk sekarang."tidak Andini kepada Dimas suaminya.
Keduanya berjalan memasuki bioskop. sesuai dengan kesepakatan mereka. Saat ini keduanya menonton film romantis. Walaupun awalnya Dimas menginginkan menonton film action, tapi demi istrinya pria itu mengikuti keinginan sang istri tercinta.
****
Mariska sedari tadi malah menyingkirkan tangan Robert dan mendorong tubuh suaminya agar menjauh.
"Geser dikit napa sih Robert?"Mariska mendorong tubuh Robert yang sedang tiduran di sampingnya.
"Geser ke mana lagi sih, sayang? dari tadi geser-geser. Geser-geser lama-lama aku bisa jatuh,"protes Robert dengan nada yang terdengar kesal.
"Kamu nggak ngerasain jadi aku, pengap, gerah mana AC mati lagi. Arghhh... aku kayaknya nggak bakalan bisa tidur!" Mariska uring-uringan tidak jelas.
"Ya, mau gimana lagi Sayang? besok aku manggil tukang benerin AC. sekarang, kamu tidur, ya!"Robert menggeser tubuhnya, mendekat ke arah Mariska dan menempelkan tangannya pada perut sang istri.
Namun, Mariska langsung menyingkirkan kembali tangan suaminya.
"Jangan dekat-dekat, aku pengap!"Mariska kembali mendorong tubuh Robert supaya menjauh.
"Biasanya juga kamu pengen dipeluk. Aku nggak bisa tidur loh kalau nggak meluk kamu."
"Tapi aku bergerak banget!"
"Ya udah. Telanjang aja, gak usah pakai baju!"Dita Robert yang malah langsung mendapat tatapan horor dari istrinya.
"Memangnya kamu pikir aku ini tuyul apa? pakai telanjang segala."kesal Mariska
"Kan katanya gerah, panas, Ya udah telanjang aja, biar adem."
"Apaan sih? nyebelin banget. Bukannya perjuangan istrinya yang lagi kepanasan, bantu kipasin kek atau apa gitu. "Mariska membelikan badan membelakangi Robert.
"Aku juga mau tidur, sayang."
"Udah, tidur sana di bawah! jangan dekat-dekat, nggak peduli banget sama istri. orang lagi hamil gede kayak gini, mana panas banget lagi."gerutu Mariska dengan posisi membelakangi suaminya.
Tanpa banyak bicara lagi, Robert Turun Dari ranjang dan keluar dari kamar.
__ADS_1
Mendengar suara itu kamar dibuka, Mariska membelikan badan lalu melihat punggung Robert yang perlahan menghilang di balik pintu.
"Malah keluar lagi. ngeselin banget! Huhhh.... kalau begini terus, Aku nggak bakalan bisa tidur. Robert, tega banget sih! kamu mau ke mana?"Mariska menggerakkan kedua kakinya tak karuan di atas kasur.
Namun, Tak lama kemudian pintu kamar itu kembali terbuka berbarengan dengan masuknya seorang lelaki dengan sebuah benda pada tangannya.
Robert kembali masuk ke dalam kamar dengan membuat sebuah kipas yang terbuat dari bambu.
Mariska mengurutkan keningnya ketika melihat Robert membawa benda itu mendekat ke arahnya.
"Itu buat apaan?"tangannya Seraya menunjuk ke arah kipas yang dibawa oleh suaminya.
"Katanya kamu gerah, kepanasan, sini biar aku kipas."Robert naik ke atas ranjang dan duduk di samping Mariska yang sedang terlentang.
"Itu kan kipas buat?"Mariska mengerutkan keningnya.
"Emang, ini kipas bekas bikin sate setahun yang lalu. Tapi masih bisa dipakai."Robert mulai menggerakkan tangannya menipasi tubuh mereka dengan kipas yang terbuat dari anyaman bambu itu.
"Duh, kok aku malah merasa jadi sate."gerutu Mariska.
"Bukan sate, tapi kambing guling."balas Robert yang langsung membuat istrinya kembali merasa kesal.
"Robert, ih! mulutnya."Mariska menyentul bibir pria itu dengan pelan.
"Terima kasih sayang."Mariska membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Robert. tangan wanita itu terulur memeluk pinggang suaminya dan mulai memejamkan mata.
Sementara Robert terus menggerakkan tangannya, mengipasi tubuh sang istri dengan sabar.
****
Sementara itu, sepasang suami istri baru selesai melaksanakan makan malam.
Ricky dan Nisa akan segera bangkit dan menuju kamar, namun ucapan Tuan Arnold menghentikan gerakan keduanya.
"Ricky, Nisa, Papa mau bicara sebentar,"tutur berapa rupiah itu yang membuat Ricky dan Lisa kembali duduk.
Jantung Ricky berdebar hebat, iya takut mertuanya akan bicara macam-macam.
Entah kenapa, sampai saat ini Ricky selalu merasa tegang ketika berhadapan dengan mertuanya.
__ADS_1
"Bicara apa, Pa?"tanya Nisa dengan sorot mata yang tertuju ke arah sang ayah.
"Bagaimana keadaan kantor? tanya Tuan Arnold secara langsung.
Jantung Ricky seakan loncat dari tempatnya, hal ini yang paling ia takutkan, Tuan Arnold akan menanyakan perihal pekerjaannya di kantor. Meskipun ia tidak melakukan kesalahan, tapi Ricky tetap saja merasa tegang.
"Keadaan kantor baik-baik saja, Pa. kami juga sedang merancang produk baru dan menyesuaikan dengan pasar saat ini,"jelas Nisa yang membuat kepala Tuan Arnold mengangguk-angguk.
"Good job. Lalu, Bagaimana dengan Ricky?"Tuan Arnold menatap ke arah Ricky membuat bulu kuduk pria itu seakan berdiri.
"Alhamdulillah baik Pa. tangan dan kaki saya juga sudah tidak sakit lagi,"jawab Ricky sedikit ragu.
"Oh, syukurlah. walaupun sebenarnya Papa bukan menanyakan perihal keadaan tubuh kamu. Karena papa sudah melihatnya secara langsung dan kamu baik-baik saja,"tutur Tuan Arnold yang membuat Ricky menggigit Bibir bawahnya.
Kenapa ia bisa sampai salah tangkap begitu. wajahnya semakin terlihat tegang, bahkan pria itu menunjukkan kepala, tak berani menatap ke arah wajah sang mertua.
"Oke, tidak apa-apa. mungkin karena kamu tadi makan kangkung, jadi ngantuk dan tidak fokus."pria paruh baya itu tersenyum tipis, sementara Ricky semakin menundukkan wajahnya yang perlahan berubah memerah.
"Tidak usah tegang begitu, santai saja. Papa tidak suka daging manusia kok, Papa suka daging kambing dan daging sapi. Makanya, Papa sekarang lebih fokus merawat Cornelius, Bimoru dan funny, "tutur Tuan Arnold yang membuat dahi Nisa dan Ricky mengerut dengan mata yang menatap heran ke arah pria paruh baya itu.
"Siapa Mereka Pa?"tanya Nisa dengan heran
"Sapi seserahan dari Ricky."jawab Tuan Arnold yang membuat Nisa tertawa melengking, sementara Ricky menahan tawanya. iya takut jika dikira menertawakan mertuanya.
"Papa bisa aja, kirain mereka adik-adik Nisa,"ucap wanita cantik itu yang kembali diiringi gelak tawa.
"Kamu sudah tidak pantas punya adik, tapi pantasnya punya anak."balas Tuan Arnold yang langsung menghentikan tawa Nisa.
"Emmm .Pa, ada yang mau dibicarakan lagi? Kalau tidak ada, kami mau ke kamar."
Itu tadi jawab dulu, gimana pekerjaan suami kamu di kantor?"tanya Tuan Arnold kembali dengan sorot mata tertuju kepada menantunya.
"Alhamdulillah semuanya baik, Pa. Saya akan berusaha semaksimal mungkin dalam bekerja. Terima kasih atas kepercayaannya karena telah mengangkat saya sebagai direktur utama di perusahaan,"tutur Ricky dengan pasti, tetapi yakinlah kakinya di bawah meja sedang bergetar hebat.
"Bagus, sekarang kalau kalian mau ke kamar, silakan! Papa juga mau istirahat."pria paruh baya itu bangkit dan berjalan terlebih dahulu.
Ricky membuang nafas lega ketika melihat mertuanya telah menjauh.
"Kita ke kamar yuk!"ajak Nisa Seraya mengulurkan tangannya ke arah Ricky.
__ADS_1
Pria itu segera menerima uluran tangan sang istri dan berjalan bersama menuju lantai atas, Di mana kamar keduanya terletak.
Bersambung....