
"Astaga, Nisa!"Ricky setengah berlari, mendekat ke arah istrinya yang terduduk di dalam lumpur sawah.
"Huaaa.... Papa tolong Nisa!!!"jerit Nisa dengan mata yang mulai berembun dan perlahan meneteskan buliran bening.
"Jangankan masuk ke dalam lumpur sawah, menginjak saja ia tidak pernah.
"Kenapa kamu bisa jatuh begini?"Ricky berjongkok di atas pembatas petakan sawah, sementara Nisa masih duduk di dalam lumpur.
"Aku tadi terpelekok, kakiku sepertinya keseleo. Huaaaa... hills aku putus!"Nisa menarik harusnya dari dalam lumpur.
"Lagian, ada-ada saja ke sawah pakai sandal begituan. Sudah kayak mau manggung di hajatan saja."gerutu Ricky.
"Ih, kamu bantuin atau cuman mau ngoceh aja?"kesal Nisa.
"Ya sudah, sini aku bantuin!"Ricky mengulurkan tangannya ke arah Nisa.
Wanita itu segera menerima uluran tangan suaminya. Namun, tangan nih Sayang terkena lumpur malah jadi licin sehingga membuatnya susah berpegangan.
Bruk!
Tubuh Ricky ikut jatuh ke dalam lumpur sawah, iya tak dapat menjaga keseimbangan saat menarik tangan Nisa.
"Astaga!!! teriak Nisa saat Ricky ikut masuk ke dalam lumpur itu.
Keduanya berada di dalam petakan sawah dengan tubuh yang dipenuhi lumpur.
"Aduh! kenapa kamu malah ikutan jatuh sih!"protes Nisa dengan wajah memerah.
"Maaf sayang, tadi tangan kamu licin banget."jawab Ricky Sambil mencoba untuk bangkit.
"Apa? kamu panggil aku apa tadi? mata Nisa berbinar, iya mendengar jelas suaminya tadi memanggil apa.
"Apaan? orang nggak manggil apa-apa,"elak Ricky dengan hidung terlihat kembang kempis, pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, menyembunyikan rona merah pada wajahnya.
"Kamu tadi manggil aku sayang. itu artinya kamu masih sayang sama aku, kan?"tuduh Nisa dengan Senyum merekah.
"Jangan sok tahu!" Ricky mencoba berdiri, tetapi kakinya di dalam lumpur susah digerakkan.
"Astagfirullah?"teriak seorang pria yang mengenakan caping dan membawa sabit.
"Ini manusia, pakde ngapain ada di sini?"tanya Ricky ketika menyadari pria paruh baya itu adalah salah satu orang yang bekerja sebagai tukang mencari rumput untuk makanan kambing ternak dan juga sapi milik orang tuanya.
"Pakde mau nyari rumput buat makanan sapi dan kambing. Ini Mas Mas Ricky ngapain main lumpur begini? pakde kira kalian belut kawin," celoteh pria paruh baya itu dengan mata yang menatap heran ke arah Ricky dan Nisa.
__ADS_1
"Enak aja bilang belut kawin! sudah mending sekarang pakde bantuin kita naik!"Ricky mengulurkan tangannya.
Pria paruh baya itu segera membantu anak dari majikannya untuk naik ke permukaan, setelah itu Ricky membantu Nisa untuk ikut naik.
Tubuh keduanya kotor dipenuhi lumpur. bahkan dress cantik yang dikenakan Nisa sudah tidak terlihat rupanya lagi.
"Alhamdulillah, Terima kasih pakde."ucap Ricky setelah mereka berada di atas tanah.
"Sama-sama Mas. ini si eneng nya mau dibantu gendong sampai ke rumah sama pakde?"tanya ria paruh baya itu dengan senyum genit.
"Enak aja. Mending, sekarang Pak dilanjutin nyari rumputnya, biar parah kambing dan sapi nggak demo sama pakde!"titah Ricky dengan segera.
"Ya sudah, kalian hati-hati ya! kalau mau main sumo enakan di atas kasur, daripada di dalam lumpur."janda pria paruh baya itu Seraya mengambil sabit dan meninggalkan Ricky yang menatapnya dengan kesal.
"Ayo pulang!"ajak Ricky kepada Nisa yang berdiri dengan lesu
"Sandal aku sudah nggak bisa dipakai."Nisa menunjuk sepasang sandalnya yang telah putus dan dipenuhi lumpur.
"Sudah, buang saja!"Ricky merampas sendal itu dari tangan istrinya dan melempar ke arah semak-semak di pinggir sawah.
Nisa membulatkan matanya ketika melihat sendalnya dibuang begitu saja. "Hah? Kok dibuang sih?"
"Itu sudah nggak layak pakai. kamu kan kaya, kamu bisa beli sendal baru, bahkan tokonya juga kamu bisa beli."jawab Ricky yang membuat Nisa terdiam.
Nisa merasa sakit hati ketika mendengar ucapan suaminya, pria yang biasanya berkata dan berlaku lembut padanya bisa menjadi seperti itu.
Namun, Nisa sadar, apa yang iya katakan lebih menyakitkan bagi Ricky.
Nisa menatap punggung suaminya yang mulai menjauh, sementara dirinya masih mematung di tempat.
Ricky menoleh sekilas ke arah Nisa yang masih berdiri dengan tubuh yang dipenuhi lumpur.
"Ayo buruan jalan!"titah Ricky dengan sedikit sewot, sebenarnya ia tidak tega berbicara seperti itu kepada istrinya, tetapi Ricky ingin melihat Bagaimana sikap Nisa ketika ia berlaku seperti itu.
"Iya, tungguin!"Nisa mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan.
"Aw! kaki aku sakit banget, Pasti gara-gara tadi terkilir,"gumam Nisa Seraya berjongkok.
Ricky yang melihat itu, tanpa banyak bicara lagi ia mendekat ke arah Nisa.
Pria itu berjongkok tepat di hadapan sang istri.
"Ayo naik!"tita Ricky Seraya menepuk punggungnya sendiri.
__ADS_1
Nisa mengembangkan senyuman ketika melihat Apa yang dilakukan suaminya. Tanpa menunggu lama lagi, ia langsung mendekat dan naik ke atas punggung suaminya.
Setelah itu, Ricky berdiri dengan perlahan dan menggendong istrinya.
Pria itu melangkah dengan hati-hati melewati petakan sawah. langkah kakinya mengiringi detak jantung yang semakin berirama.
Nisa mengalungkan tangannya pada leher Ricky dan menyandarkan dagunya pada bahu tegak pria itu. Keduanya terdiam, bibir yang pernah menyatu itu saling mengatup.
Hembusan angin sejuk terasa menyapu tubuh, kicauan burung seolah menyambut keduanya.
Kaki Ricky terus melangkah, keduanya masih terdiam tak ada yang memulai pembicaraan hingga keduanya mulai memasuki pemukiman warga.
Beberapa orang yang melihat mereka menatap dengan heran, Bahkan tak sedikit Yang bertanya-tanya kenapa dua makhluk itu bisa dipenuhi lumpur.
Namun, Ricky mengabaikan orang-orang di sekitarnya, pria itu terus melangkah hingga ia tiba di sebuah rumah berukuran besar dengan cat warna krem.
"Astagfirullah, kalian kenapa jadi seperti ini?"teriak Ibu Sulastri dari dalam, wanita paruh baya itu segera berjalan keluar dan menghampiri Putri dan menantunya.
"Kami habis mandi lumpur,"jawab Ricky yang membuat sang Ibu semakin menatap heran ke arahnya.
"Aduh kasihannya menantu mama, Kenapa bisa jadi begini? Ayo masuk kalian mandi dulu!"ujar Ibu Sulastri dengan wajah panik.
Ricky menurunkan tubuh istrinya dengan hati-hati.
"Ricky mau mandi dulu!"pria itu melangkah terlebih dahulu, masuk ke dalam rumah.
"Eh, ajak istri kamu mandi juga tuh. main di nyelonong sendiri aja!"teriak Ibu Sulastri saat putranya telah tiba di ambang pintu.
"Mandi sendiri aja. Ricky mau mandi di dekat empang, biar dia mandi di kamar mandi!"Ricky melanjutkan langkahnya.
"Loh kok kamu gitu banget, sama istri kamu?"ayo nak Nisa masuk dan langsung mandi!"
"Tapi ini nanti lantainya kotor Ma,"ucap Nisa tak enak hati.
"Tidak apa-apa, tuh lihat di sana udah ada telapak si Ricky. biar nanti mama pel lantainya. Ayo masuk nanti lumpurnya keburu kering!"titah Ibu Sulastri kembali dengan ramah.
Nisa masuk ke dalam rumah itu dengan perasaan canggung.
Wanita itu membersihkan diri di dalam kamar mandi, sementara Ricky mandi di sumur dekat empang.
Segitunya Ricky, sampai ia tak ingin mandi bersama, padahal sebelumnya mereka sering mandi di dalam kamar mandi yang sama.
bersambung....
__ADS_1