Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 176. PENDARAHAN


__ADS_3

Setelah Robert memastikan kalau mamanya sudah berada di dalam mobil bersama ciwi, mereka langsung berangkat ke rumah sakit.


Robert dan Mariska duduk di kursi depan. dengan Robert yang menyetir mobil itu.


Sementara Ciwi duduk di kursi belakang sambil menyangga tubuh Sang mama.


Robert membawa mobil tersebut dengan kecepatan tinggi. Dia sangat khawatir dengan keadaan ibunya yang sudah tak sadarkan diri.


Tanpa ia sadari. Sedari tadi Mariska meringis menahan sakit.


"Ciwi Gimana keadaan Mama?" tanya Robert kepada adiknya yang duduk di kursi belakang


Mama sudah tidak sadar Kak. Tapi Mama masih bernapas." jawab Ciwi dengan suara bergetar karena menangis.


"Kak, aku takut Mama kenapa-kenapa Ciwi menangis histeris sambil terus menatap sang mama yang berbaring di jok belakang, dengan kepala berada di paha Ciwi.


"Sebentar lagi kita sampai." Robert semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Aw!"rintih Mariska dengan suara pelan.


perutnya terasa sakit, sekuat tenaga ia menahannya. Karena ia tahu suaminya begitu mengkhawatirkan keadaan ibunya.


Tangan wanita itu bergetar sambil memegangi perutnya yang semakin lama Malah semakin terasa sakit.


Mariska menggigit Bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan rintihan dan suaminya tidak menngkwatir dirinya.


Keringat dingin mulai menggusur dari kening dan pelipisnya. Wajah wanita itu berubah menjadi pucat.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Robert setelah menoleh sekilas kepada istrinya


"Emmmm... aku nggak apa-apa, aku cuman khawatir sama keadaan Mama." jawab Mariska dengan suara bergetar. Dia berusaha menahan rasa sakit yang ia rasakan. Takut suaminya akan kepikiran.


Mariska meneteskan air mata, antara air mata sedih dan kesakitan. Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah rumah sakit.


Robert turun di terlebih dahulu dan mengangkat tubuh ibunya untuk diletakkan di atas branker, yang telah dibawa oleh dua orang perawat.


Ciwi langsung mengikuti dua orang perawat itu yang membawa ibunya ke dalam UGD.


Robert akan mengikuti perawat tersebut Namun, ia melihat ke arah Mariska yang turun dari mobil dengan hati-hati.


"Sayang, ayo cepat!"titah Robert dengan Tak sabar.


"Kamu duluan aja Robert, nanti aku nyusul." balas Mariska sambil meringis menahan sakit.


Tangannya memegangi perut yang mulai membuncit.


"Sayang, kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" wajah kamu pucat begitu. Robert menatap wajah istrinya dengan intens.


"Aku nggak apa-apa Robert. Udah, kamu duluan aja masuk." ucapnya dengan rintihan pelan.


Robert mengarahkan pandangan kepada kaki sang istri. Matanya langsung membulat ketika melihat darah mengalir pada kaki Mariska.


"Astagfirullah! kakimu berdarah sayang." sergah Robert seraya mendekati istrinya dengan wajah khawatir.


"Aw..,Mariska langsung mengikuti pandangan Robert melihat ke arah kakinya.


"Robert, aku takut! Perut aku sakit." ucap Mariska dengan air mata yang semakin luruh.


Tangannya yang bergetar memegangi perut yang semakin terasa sakit.


"Sayang kamu, kamu baik-baik saja, kan?" tatapan pria itu semakin terlihat panik.

__ADS_1


"Robert, perut aku sakit banget." wajah Mariska terlihat pucat tubuhnya melemas.


"Sayang, Tahan sebentar kita minta tolong Dokter sekarang." Robert langsung mengangkat tubuh istrinya dan masuk dalam rumah sakit dengan langkah lebar.


Robert langsung membawa tubuh istrinya ke ruang UGD untuk cara mendapat pertolongan. Robert membaringkan tubuh Mariska di atas branker dengan hati-hati.


"Robert, perut aku sakit banget." rintih Mariska dengan air mata yang mengalir semakin deras.


"Sayang, kamu pasti kuat. Sebentar lagi dokter datang. Kamu tahan ya, "Robert menggenggam tangan istrinya yang bergetar.


"Aku takut, aku takut anak kita kenapa-kenapa. "Aw....Ya Allah, ini sakit banget." Mariska menangis sejadi-jadinya sambil terus meringis.


Bahkan wanita itu menggerakkan tubuhnya tak karuan.


"Sayang, Kamu kuat. Kamu harus kuat." Robert ikut menangis. Pria itu mengusap perut istrinya dengan lembut."


Sementara Mariska terus meringis kesakitan dan menggerakkan kaki dan tubuhnya.


"Aw.....sakit Robert, tolong aku." rintih Mariska kembali dengan tangan yang menggenggam erat jemari suaminya.


"Sayang, kamu harus kuat." ucap Robert kembali. ia tak dapat membendung lagi air matanya, ketika melihat keadaan sang istri saat ini.


Sang dokter yang ditemani dua suster datang ke ruangan itu.


"Permisi Bapak, silakan tunggu di luar." titah seorang suster kepada Robert yang masih menggenggam erat tangan istrinya.


"Tidak! saya mau di sini menemani istri saya." bantah Robert.


"Mohon maaf, Bapak harus menunggu di luar, agar dokter bisa segera mengambil tindakan." Titah suster itu kembali.


"Sayang, aku keluar dulu. Kamu harus kuat Sayang." Robert mengecup tangan istrinya dan melepaskan genggaman tangan itu dengan perlahan.


Sementara Mariska menatapnya dengan nanar. Pandangannya kabur terhalang air mata. Robert menatap ke arah istrinya dengan lelehan air mata. Hingga pintu ruangan tersebut ditutup rapat oleh seorang suster.


Ia merasa ujiannya saat ini begitu berat.


Keadaan sang ibu yang belum ia ketahui bagaimana. Terlebih lagi istrinya sendiri mengalami hal yang sangat ditakutkan.


Robert memegangi kepala yang terasa akan pecah dengan kedua tangannya.


Ia mengusap air matanya dengan kasar. Walau bagaimanapun ia harus mengabari orang tua Mariska.


Robert mengambil ponselnya dengan tangan bergetar.


Pria itu menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, sebelum mengabari sang mertua.


Robert hanya mengirim pesan kepada mertuanya, karena saat ini tak sanggup berbicara.


"Kak Robert!" Panggil Ciwi yang berjalan ke arahnya.


Pria itu kembali menyeka air matanya dengan kasar, ketika menyadari kedatangan sang adik.


"Kak Robert, kenapa malah di sini? tanya Ciwi yang kini telah berdiri di hadapan sang kakak.


Robert bangkit dengan perlahan dan mensejajarkan diri dengan adiknya.


"Bagaimana keadaan Mama?" tanyanya dengan nada sendu.


Mama sudah ditangani dokter. Tapi belum siuman. Kakak kenapa di sini? mana Kak Mariska?" tanya Ciwi kembali sambil melihat ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan kakak iparnya.


"Kak Mariska sakit." ucap Robert dengan lirih yang seketika membuat mata adiknya membulat.

__ADS_1


"Sakit? maksudnya Sakit apa Kak?"


Kak Mariska tadi pendarahan. Sekarang lagi ditangani dokter." jawab Robert kembali dengan tangan yang lagi-lagi bergerak menyeka buliran bening yang seakan tak berhenti mengalir.


"Kenapa bisa begitu Kak? kalau orang hamil pendarahan, Apa itu bahaya?" tanya Ciwi lagi dengan wajah yang terlihat cemas.


"Kakak tidak tahu, mudah-mudahan kakak Mariska baik-baik saja."


"Ya udah, kakak tunggu di sini aja. Aku mau ke ruangan Mama lagi."


"Iya, kalau ada apa-apa langsung panggil kakak ya." Robert menatap adiknya dengan mata sembab.


"Iya, semoga kak Mariska baik-baik saja."


"Amin ya robbal alamin."balas Robert sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya.


Setelah itu, Ciwi kembali meninggalkan Robert untuk menuju ruangan sang ibu.


Robert mengusap wajahnya dengan kasar. hatinya gundah gulana. Otaknya tidak bisa berpikir jernih.


Ia takut istrinya kenapa-kenapa. Terlebih lagi ada janin di dalam perut sang istri yang membuatnya bertambah Kwatir.


Tak lama kemudian dua orang paruh baya datang beriringan dengan terbukanya pintu ruangan itu.


"Robert, Bagaimana keadaan Mariska?" tanya seorang wanita baru buaya dengan wajah cemas.


Robert tidak langsung menjawab. Pria itu mencium punggung tangan keduanya terlebih dahulu.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya? tanya Robert kepada dokter yang keluar dari ruangan itu.


"Pendarahannya sudah berhenti, dan janin yang ada di dalam kandungan pasien masih bisa diselamatkan. Hanya saja kandungannya cukup lemah dan harus banyak istirahat." jelas dokter itu yang membuat Robert dan kedua orang tua Mariska membuang nafas lega.


"Alhamdulillah, dok. , Apa kami bisa masuk sekarang?" tanya kedua orang tua Mariska dengan Tak sabar.


"Silakan, tapi jangan mengganggu istirahat pasien."


"Terima kasih Dokter." Robert dan kedua mertuanya langsung masuk ke dalam ruangan itu, setelah dokter dan suster tadi pergi.


Terlihat Mariska sedang terbaring lemah diatas branker dengan jarum infus yang menancap pada punggung tangannya.


wanita itu terlihat pucat dan lemah.


"Sayang, Alhamdulillah kamu baik-baik saja. Robert segera mendekat dan memeluk tubuh istrinya dengan air mata yang kembali menetes. Dan mencium wajah pucat istrinya beberapa kali, dengan tuntunan rasa syukur yang tak pernah putus dari bibirnya.


"Robert, anak kita baik-baik saja, kan?" tanya Mariska dengan wajah sebab.


"Alhamdulillah, sayang. Anak kita baik-baik saja. Cuma kata dokter kamu harus banyak istirahat." jelas Robert sambil menggenggam lengan istrinya.


"Mariska, Mama sangat khawatir sama keadaan kamu. Kenapa bisa jadi seperti ini? kan mama sudah bilang kalau lagi hamil tuh jangan banyak gerak! Apalagi bekerja. Jadinya seperti ini kan,! biarkan suami kamu saja yang bekerja. Kenapa kamu harus ikut-ikutan." Cerocos mamanya Mariska.


"Ma, Mariska nggak pernah kerja. Robert juga nggak pernah nyuruh Mariska kerja." sangkal wanita itu.


"Terus kenapa, kamu jadi seperti ini? tidak mungkin tiba-tiba kamu begini tanpa sebab." wanita paruh baya itu kembali dengan wajah kesal.


Mariska terdiam. Tidak mungkin ia mengatakan kalau dirinya terkena benturan kaki sang mertua saat membantu Robert mengangkat tubuh ibunya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS


__ADS_2