
"Kok kamu malah nyalahin aku? sudah jelas-jelas kamu yang jatuhin ponsel aku." Andini mendekat ke arah suaminya dengan kesal.
"Kan, aku sudah nyuruh kamu diam. Coba aja kalau kamu diam, pasti ponselnya tidak akan jatuh. Itu artinya ada yang kamu sembunyikan di ponsel kamu ini." tuduh Dimas
"Pokoknya Ini salah kamu! kalau aku bilang enggak yang nggak boleh lagian ngapain kamu buka-buka ponsel aku?aku juga nggak pernah buka ponsel kamu.
"Kamu mau buka ponsel aku? nih! aku maunya kita tuh terbuka, jangan ada yang ditutup-tutupi." Dimas menyodorkan ponselnya ke arah Andini.
Wanita itu langsung merampasnya dari tangan suaminya.
"Ponsel kamu aku pegang sampai aku punya ponsel baru." Andini naik ke atas kasur dan membungkus tubuhnya dengan selimut tebal.
" Jangan dong Sayang, nanti kalau ada yang penting bagaimana?
"Pentingan mana, sama aku? Andini memeluk ponsel Dimas supaya suaminya itu tidak bisa mengambil kembali ponselnya.
" Iya Kamu pastinya lebih penting lah, tapi ini kan menyangkut pekerjaan.
"Kerjaan kamu kan sebagai dosen, kayaknya nggak akan ada info penting di ponsel kamu" ucap Andini yang sebenarnya dia tidak mengetahui kalau suaminya juga memiliki perusahaan besar. Dan Andini juga belum mengetahui hal yang sebenarnya kalau suaminya pewaris kampus di mana dia saat ini kuliah.
" Jangan dong Sayang, nanti ada sesuatu yang penting, kan jadi ribet."
"Pokoknya ponsel kamu, aku sita! Sampai aku punya ponsel baru." Andini membalikkan badannya memunggungi Dimas yang mengacak rambutnya dengan kasar.
" Ya sudah, besok sebelum ke kampus kita beli ponsel kamu."
"Merek apa? Andini masih dengan posisi semula menggungi suaminya.
"Merek yang sama lah sama ponsel kamu yang pecah."
"Nggak mau! Aku maunya ponsel yang ada gambar Apel
"Ponsel apaan sih? Dimas menggaruk kepalanya yang tak gatal, pura pura tidak mengetahui merek ponsel yang di minta sang istri.
"Pokoknya ponsel itulah, nanti biar aku yang milih warna sama dan mereknya."
"Kok jadi begini sih, Aku kan cuman mau ganti ponsel kamu yang rusak. Berarti harus dengan merek yang sama dong."
"Ngak bisa! pokoknya harus ponsel yang gambar Apel! " tegas Andini.
"Kalau nggak mau bagaimana?
"Puasa selama satu bulan, nggak boleh dekat-dekat, apalagi menyentuhku.
"Lama banget? jangankan satu bulan, satu jam aja aku nggak sanggup." Dimas ikut merebahkan tubuhnya dan memeluk tubuh ramping sang istri dari belakang. Seharusnya Dimas yang marah kepada Andini. Tapi saat ini justru terbalik, Andini yang malah marah besar kepada suaminya.
"Jangan dekat-dekat,ponselnya belum diganti." Andini melepaskan tangan Dimas yang melingkar pada perutnya.
"Ngak boleh gitu, nanti kamu dilaknat malaikat. Apa kamu mau jadi istri durhaka?"
__ADS_1
" Idih, Serem amat Mas. " Andini langsung membalikan tubuhnya menghadap sang suami.
" Nah gitu dong, kan enak. Pria itu langsung menghujani wajah sang istri dengan kecupan.
" Mas, ih. aku kan lagi mode ngambek." Andini menahan kepala suaminya yang akan menurunkan kecupannya ke arah leher.
" Jangan suka ngambek, nanti kebiasaan. "
" Kamu sih nyebelin!
" Mas hanya ingin kita saling terbuka.
" Apa yang terbuka?
" Baju kita." Dimas mulai membuka kancing baju tidur istrinya satu persatu. Padahal saling terbuka yang dimaksud, bukanlah hal itu. Tetapi dia ingin Andini tidak merahasiakan apapun darinya Begitu juga dengan Dimas.
****
"Mas kita sudah telat belum?" tanya Andini seraya masuk ke dalam mobil dan duduk di samping suaminya.
"Sebentar lagi jam kampus sudah mulai. Kamu pakai seatbelt ya, aku mau ngebut soalnya." titah Dimas Seraya menjalankan mobilnya meninggalkan rumah mereka.
"Kalau telat aku nggak kena hukuman, ya. karena yang bikin aku telat kan dosenku sendiri." Andini mengarahkan kipas kecil yang dipegangnya pada rambut karena ia tidak sempat mengeringkan rambutnya setelah mandi.
"Ya, nggak bisa gitu dong. Kan yang telat masuk kelas kamu, bukan aku" sangkal Dimas
"Sama aja. Coba kalau kamu nggak mainnya sampai larut malam, pasti aku nggak kesiangan."
" Memangnya mas bangunin aku?
" Iya, aku kan sudah bangunin sejak subuh, Kenapa kamu susah banget dibangunin. Kayak mayat tapi bernafas." ucap Dimas masih fokus mengemudi.
"Enak aja! mana ada mayat bernafas."
" Oh iya, Mana ponsel aku? Dimas menyodorkan tangannya ke arah Andini.
"Nggak mau! ganti dulu ponsel aku, baru ponsel kamu aku balikin."
"Kalau kita beli ponsel dulu, nanti kesiangan. Lagian banyak toko yang belum buka. Belinya Nanti aja pulang dari kampus. " Dimas belum menarik kembali tangannya,
"Berarti aku balikin ponsel kamu ya, nanti aja setelah pulang dari kampus."
" Buat apa sih? ponsel aku itu nggak ada apa-apanya, semua kontak yang ada di sana penting semua. Nggak ada buat mainan."
" Oh penting semua ya? ini ada nama Alena, Christy, Sekar, Riana Calista ini penting semua ya."ucap Andini Seraya mengotak-atik ponsel suaminya.
"Itu nama-nama teman aku dulu.
"Dulunya kapan? selidik Andini
__ADS_1
" Waktu kuliah."
"Kok kontaknya masih ada? berarti sering chat chatan dong.
"Nggak juga! mungkin nomor mereka masih menyangkut di sana."
"Pasti masih nyangkut lah, orang gak di delete."
" Ya udah, sini entar aku hapus.
"Nggak usah, biar aku aja yang hapus langsung."
"Ck... Udah biar aku aja." Dimas mencoba meraih ponselnya dari tangan sang istri, dengan menggunakan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanan pria itu, masih memegang setir mobil.
"Aku aja! Kamu pasti bohong Nggak akan hapus kontak mereka."
" Beneran aku hapus, sudah sini. Dimas terus berusaha meraih ponselnya yang kini Andini peluk agar tidak bisa direbut suaminya.
Namun, Dimas yang tidak mau mengalah mengarahkan tangannya pada dada sang istri dan tepat mengenai gunung kembar milik wanita itu.
Dimas tersenyum tipis, dan meremasnya sampai membuat sang Om empunya membulatkan mata.
" Mas ih, tangannya nakal!" Andini melepaskan tangan Dimas Dari aset miliknya.
" Makanya balikin ponsel aku."
" Nggak mau! ini sesuai perjanjian. Ponsel aku diganti, ponsel kamu aku balikin.
"Perjanjian apa? kamu aja yang buat perjanjian sendiri.
"Sudah ah, kita sudah nyampe nih." ucap Andini yang langsung menyadarkan Dimas kalau mobil yang dikendarainya sudah memasuki area kampus.
"Balikin ponsel aku. " Dimas kembali menyodorkan tangannya ke arah Andini.
"Nggak mau! bye dosenku....."Andini keluar dari mobil Seraya Melambaikan tangannya ke arah Dimas.
Wanita itu langsung menghampiri Ricky dan Rian dan juga Bima yang sedang berdiri di depan kelas.
Ketiga mahasiswa itu nampak ngobrol serius.
" Hai guys, pagi-pagi udah serius aja mukanya? sapa Andini Seraya berdiri di samping Rian.
"Ya sudah, aku sama Bima di perusahaan Om aku aja. Kamu di mana Ran? kamu juga Din? tanya Rizki dengan mata yang menatap Rian dan juga Andini secara bergantian.
" Tunggu dulu kalian bahas apaan sih? tanya Andini dengan wajah bingung.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK