Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 119. SAH


__ADS_3

Rian turun dari mobil itu dengan kesal. Padahal Ia sudah dandan cantik, Tetapi malah harus turun di pinggir jalan.


Wajah wanita itu terlihat bingung, bercampur kacau. Terlebih lagi, Andini beberapa kali menghubunginya agar secepat mungkin datang ke rumah, karena penghulu dan semuanya sudah menunggu.


"Biar Papa pesan taksi online lagi, kalian sabar ya." ucap Pak Karyo kepada anak dan istrinya.


"CK... bakal lama lagi dong mana Andini nyuruh buru-buru terus." gerutu Rian sambil bergerak tak karuan.


Namun, tiba-tiba matanya tertuju ke arah taksi yang mangkal tak jauh dari sana.


"Papa nggak usah pesan taksi online, itu ada taksi yang lagi mangkal. Rian menunjuk ke arah taksi berwarna biru, lalu menarik tangan sang ayah untuk mengikuti langkahnya.


"Bang Jalan!" titah Rian dengan suara kencang.


"Astagfirullah!" teriak sopir taksi itu yang baru membuka matanya,setelah tertidur sebentar di jok kemudi.


"Apa, mengira saya setan? saya ini manusia. tuh lihat kaki saya nggak ngambang. Saya sudah bisa mukul Abang yang kerja sambil tidur." Ran memukul lengan sopir taksi yang mengenakan kemeja batik biru itu.


"Maaf, habis Mbak sendiri tiba-tiba muncul di taksi saya." ucap sopir taksi itu Seraya terkekeh.


"Saya nggak sendiri. Tuh, lihat di belakang saya." seketika sopir taksi itu melihat ke arah belakang yang terdapat tiga orang yang duduk dengan tatapan tertuju padanya.


"Tenang, mereka bukan setan. Udah cepetan berangkat." Rian menepuk pundak super taksi itu yang berekspresi bagaikan orang sawan.


"Baik mbak." sopir taksi itu langsung menyalakan mesin taksi tersebut dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi.


"Tak lama kemudian, taksi yang mereka tumpangi tiba di tempat tujuan.


Rian segera turun dengan tangan kanan mengangkat kain rok, yang dikenakannya.


Beberapa orang keluar dari rumah, ketika mendengar suara taksi yang berhenti di depan rumah itu.


"Papa, cepetan." Rian menarik tangan Ayahnya yang sedang membayar ongkos taksi itu


Bahkan Pak Karyo belum sempat mengambil kembaliannya. Tapi Rian sudah menariknya dengan cepat.

__ADS_1


Wanita itu merapikan pakaian kembali sebelum masuk.


"Nah, ini mempelai wanitanya sudah datang, silakan masuk." titah seseorang yang menunggu di depan pintu.


Rian berjalan dengan anggun ke arah tempat yang telah disediakan untuknya. Mata wanita itu berbinar, bahkan bola matanya hampir berubah bentuk menjadi love, saat melihat seorang pria telah duduk dengan gagah di hadapan penghulu.


Herlan yang mengenakan peci hitam serta jas pembalut tubuhnya, terlihat tampan dan sempurna di mata Rian.


Wanita itu duduk dengan anggun di samping calon suaminya.


Herlan melihat ke arah calon istrinya yang langsung mendapat senyuman full dari Rian.


"Kita mulai saja acaranya." seru penghulu yang sudah lama menunggu.


Herlan menghafalkan dulu kalimat ijab kabul sebelum acara benar-benar dimulai. Karena menghindari kegagalan saat mengucapkan kalimat sakral tersebut.


Setelah dirasa hapal, penghulu mulai acara.


"Ini Mas kawinnya apa?"tanya Pak penghulu.


"Gak jadi hanya seperangkat alat salat saja dan cincin imitasi bang?" tanya Rian.


"Nggak jadi!"


"Ya udah deh, nggak apa-apa uang saja." Rian kembali tersenyum.


Setelah itu, Pak penghulu mulai melantunkan ijab kabul yang langsung diterima Herlan.


"Saya terima nikah dan kawinnya Rianti binti Karyo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dengan uang tunai sebesar 10 juta dibayar tunai." ucap Herlan dalam satu kali tarikan nafas, yang langsung disambut kata sah dari para saksi dan hadirin yang ada di tempat itu.


Rian mencium punggung tangan Herlan yang kini terasa menjadi suaminya.


Namun, wanita itu tak langsung melepaskan jabatan tangannya. Rian mendekatkan dahinya ke arah Herlan seolah ingin diberi sesuatu.


"Ngapain?" tanya Herlan dengan heran.

__ADS_1


"Kok nanya lagi bang? jawab Rian sambil terus mendekatkan dahinya, karena Herlan yang perlahan mencondongkan kepalanya ke belakang.


Herlan mencondongkan kembali kepalanya ke arah Rian, yang membuat wanita itu merona dengan hidung kembang kempis.


Rian sudah siap menerima ciuman pertama dari suaminya.


"Rianti, nggak pakai kecupan segala? malu dilihatin orang banyak." bisik Herlan yang seketika membuat wajah Gadis itu kian memerah.


Rian mengangkat wajahnya dengan perlahan, dan menatap ke arah Herlan dengan mata bulatnya.


"Bang, kita sudah sah!" bisik Rian kembali dengan menekankan kata Sah.


"Iya, tapi nggak gini juga."


"Moment bang, kan ini momen pernikahan kita." bisik Ran kembali yang tetap memaksa ingin dicium.


"Hussss....Andini memberi isyarat yang membuat Herlan langsung melihat ke arah adiknya.


"Kak, bisik Andini seraya menyatukan kedua jari telunjuknya.


Herlan langsung memelototi adiknya yang malah dibalas tawa kecil dari wanita itu.


"Rianti, nanti aja ya kecupannya. Malu dilihatin Pak penghulu." bisik Herlan kembali yang membuat Rian langsung menoleh ke arah pak penghulu yang sedang memperhatikan mereka.


"Ya udah, nanti aja deh. Aku tahan dulu." Rian melepaskan tangan Herlan dan kembali duduk dengan normal.


Sementara Herlan hanya membuang nafas lega, ketika wajah wanita itu telah menjauh darinya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"

__ADS_1


__ADS_2