
"Awas, aja kamu ya. Kalau nolak lagi."
"Bomat! udah cepat pakai bajunya. Kasihan, Opa kalau menunggu lama."
Dimas membenarkan kembali ikat pinggang dan mengambil baju yang tadi sempat dilempar ke atas lantai.
Setelah keduanya berpakaian lengkap, Dimas langsung mengangkat tubuh Andini dan membawanya ke luar kamar.
"Pak, saya jalan ya."
"Memangnya kenapa sih? kalau kamu jalan, turun tangga akan sulit."
"Tapi kalau gini terus, Kak Herlan pasti akan mengejek saya."
"Biarin. Saya ini kan suami siaga. Seharusnya kamu bersyukur punya suami seperti saya.
"Iya bersyukur banget."Andini menggerakkan tangannya dan mencabut satu bulu halus yang tumbuh di bagian dagu suaminya
"Aw, kamu apa-apaan sih?"
"Ini yang membuat saya geli."
"Geli, apa nikmat?"tanya Dimas sambil mengembangkan senyumnya, menatap istrinya yang sudah dari tadi melihatnya dengan Tatapan yang begitu menggoda.
"Ih dasar mesum!
mesum sama istri sendiri tidak apa-apa, asalkan jangan mesum kepada wanita lain atau istri orang lain. Bisa bisa satu liang di perutku nanti."ucap Dimas. Kemudian Dimas diam. Dimas tak lagi menanggapi ucapan istrinya. Pria itu membawa tubuh istrinya ke ruang makan, yang sudah ditempati semua anggota keluarga.
"Enak ya, punya kursi roda bernyawa."celetuk Herlan sambil terkekeh.
"Dasar kakak tidak punya akhlak!" timbal Andini dengan kesal.
Jika sedang berada di rumah, Andini selalu bertengkar dengan Herlan sang kakak sepupu yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri.
"Biasa aja Din, jomblo mengirim."sindir Tuan Miko pada Herlan sang keponakan yang usianya sudah patut menikah, tapi hingga saat ini Herlan tak kunjung memiliki seorang kekasih.
Andini dan Dimas duduk di samping Tuan Pratama, kakek Andini.
"Tidak apa-apa. Saya malah senang rumah ini rame." balas Dimas seraya tersenyum.
"Kan, saya sudah bilang. Saya nggak mau digendong, jadinya kan, jomblo ini mengiri."Andini menunjuk ke arah Herlan sang kakak
"Kalau kamu nggak mau digendong, tuh pakai kursi roda Opa aja."Celetuk Tuan Pratama yang langsung disambut gelak tawa anak dan cucunya.
"Opa!"Andini menatap kakeknya dengan bibir mengerucut.
__ADS_1
"Lagian kamu ada-ada aja."Tuan Pratama terkekeh ketika melihat wajah cemberut cucunya.
Setelah makan malam selesai, Dimas mengobrol hangat bersama Tuan Pratama, Tuan Miki dan juga Herlan.
Mereka berbeda usia ngobrol hangat ditemani dengan kopi dan juga cemilan yang sudah disediakan oleh Nyonya Laras dan asisten rumah tangga.
Sementara Nyonya Laras dan Andini berkumpul di ruang keluarga sambil menonton televisi.
Sesekali Dimas melihat ke arah istrinya yang sedang asyik bermain ponsel, meskipun TV di hadapannya sedang menyala.
Dimas kembali menanggapi ucapan mertuanya, yang menanyakan kejadian apa yang menimpa putrinya, sampai kaki Andini terluka seperti itu.
Dimas terpaksa harus berbohong, karena tidak mungkin juga ia mengatakan bahwa istrinya yang diculik oleh seseorang ketika di kampus, bisa-bisa ia dipecat sebagai menantu. Karena tidak becus menjaga istrinya sendiri.
"Oh, iya Dimas. Papa harap kamu tidak bosan sama sikap Andini yang manja dan kekanak-kanakan."ucap Tuan Miko sambil menatap ke arah menantunya.
"Jangan lupa, Opa. Andini kadang menyebalkan."timpal Herlan.
"Insya Allah, Ketika saya sudah menerima Andini sebagai istri saya, saya sudah menerima semua yang ada pada dirinya, baik kekurangan maupun kelebihan ya."balas Dimas dengan bijak, yang membuat Tuan Pratama dan Tuan Miko tersenyum lega.
Dimas kembali mengarahkan pandangan ke arah Andini yang mulai menguap. Sepertinya Gadis itu mulai merasakan kantuk
Jangan sampai Andini tidur, Sebelum niatnya terlaksana.
"Oh iya, silakan. Kasihan juga Andini pasti kakinya masih sakit."sahut Tuan Miko yang membuat Dimas langsung bangkit dan menghampiri istrinya.
"Kamu sudah ngantuk? tanya Dimas yang muncul secara tiba-tiba di samping Andini.
Andini gelagapan dan langsung menyembunyikan ponselnya.
Dimas mengerutkan kening, Kenapa Andini begitu terkejut dan langsung menyembunyikan ponselnya?
Padahal Ia sama sekali tidak mempunyai niat untuk melihat kerah layar ponsel milik istrinya.
"Emm .. Bapak kalau mau tidur duluan aja. saya masih mau di sini."
"Andini, nggak boleh gitu! masa suami kamu tidur sendiri? sangkal Nyonya Laras yang membuat Andini langsung memutar bola matanya malas.
"Tapi, Andini belum ngantuk Ma. Andini masih mau di sini.
"Ya udah, kalau kamu di sini, terus nanti siapa yang bawa kamu ke kamar. Biar aja kalau gitu, kamu tidur di sini." ucap Nyonya Laras dengan wajah sangarnya.
"Ih Mama kok jahat banget sih!."
"Bukan jahat! kaki kamu kan lagi sakit, siapa nanti yang menggendong kamu? Papa? mana bisa Papa gendong kamu ke lantai atas, gendong Mama aja, Papa kamu nggak kuat."
__ADS_1
"Ya iyalah, orang badan mama segede gajah. untung nggak patah tulang punggung Papa.
"Heh! enak aja kalau ngomong, body Mama masih standar untuk wanita seusia mama.
"Andini! Aduh, Nak Dimas. Maaf ya, kayaknya dulu waktu hamil Andini, Mama ngidam cabe Sekebon deh, makanya mulutnya nih anak pedas banget. Sudah mau mama sumpel saja dengan cabe yang ada di dapur." Nyonya Laras menunjuk bibir Sang Putri dengan jari telunjuknya.
"Kami permisi dulu ke kamar ya, Ma. sepertinya Andini sangat ngantuk."tanpa basa-basi lagi Dimas langsung mengangkat tubuh istrinya dengan ringan.
"Astaga! Pak saya belum mau tidur! teriak Andini Seraya menggerakkan kakinya sebelah memberontak.
Tapi Dimas tak menghiraukan teriakan istrinya. Dimas membawa tubuh istrinya masuk ke dalam kamar.
"Bapak kenapa sih maksa banget? saya kan masih pengen ngobrol sama Mama."
"Ngobrol apa? Sudah dari tadi kamu cuman asik main handphone saja."Dimas menutup kembali pintu itu dengan kakinya
"Ya biarin lah, memangnya kenapa? maksa banget ngajak ke kamar. Emang mau ngapain Di Sini?
"Mau meneruskan yang sempat tertunda."Dimas merebahkan tubuh istrinya ke atas kasur dengan hati-hati, setelah itu ia ikut naik dan duduk di samping Andini.
Andini membulatkan matanya, setelah bermonolog dan mengingat kejadian yang tertunda.
"Huuuyamnn.. . saya ngantuk banget."Andini membuka mulutnya lebar-lebar dengan mata menyempit.
"Kamu ngantuk?"Dimas bertanya dengan dahi mengerut.
"Iya, badan saya rasanya pegal. Kaki saya juga masih sakit dan sekarang Mata saya ngantuk banget."
"Kamu pegal? biar saya pijit."Dimas menyentuh lengan istrinya
"Tidak usah. Sekarang bapak istirahat dan tidur."Andini melepaskan kembali tangan Dimas dari lengannya.
"Kamu jangan banyak alasan, ya."pria itu memberikan tatapan tajam.
"Saya serius, bapak nggak kasihan apa sama saya? Kaki saya sakit, badan saya terasa remuk, gara-gara orang aneh itu menggusur tubuh saya dari taman sampai ke dalam gedung tua itu." jelas Andini dengan wajah sendu.
"Siapa sebenarnya orang itu? Jika dia bukan mahasiswa, mana mungkin tahu kamu ada di kampus."Dimas mengepalkan tangan. otatnya berpikir keras menebak siapa pelaku yang berani mencelakai istrinya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1