
"Selamat Ricky dan kamu Faranisa. atas pernikahan kalian berdua. Semoga keluarga kalian menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah."ucap Bima sok bijak.
"Ini kado pernikahan untuk kalian dari kami. semoga kado dari kereta bermanfaat."ucap Bima Seraya berjabat tangan dengan sahabat sekaligus sepupunya itu.
"Kamu nggak ngasih kado yang macam-macam kan?"tanya Ricky sedikit berbisik.
"Enggak kok, paling isinya cuman jamu cap lonceng,"balas Bima dengan suara pelan.
"Jamu apaan tuh? Baru kali ini aku mendengar ada yang namanya jamu cap lonceng."
"Sudah, kamu tenang saja. Kamu coba aja ntar malam."Bima menepuk bahu Ricky, sementara Erin ikut memberikan selamat, Tetapi wanita itu tidak banyak berbicara. karena dia tidak terlalu akrab dengan mereka.
"Ricky dan istri, Selamat ya atas pernikahan kalian."kini giliran Dimas yang datang bersama dengan Andini memberikan selamat kepada mahasiswanya itu.
"Terima kasih banyak, Pak. sebuah kehormatan besar bagi saya, pernikahan saya dihadiri oleh dosen killer sekaligus pemilik kampus seperti bapak."balas Ricky Seraya menerima jabatan tangan dari Dimas.
"Heh...Ricky, ujung-ujungnya nggak enak banget!"timpal Andini.
"Sorry, kebiasaan. ini juga manggil pak Dimas dosen killer gara-gara kamu kali."
"Idih, kagak ya! gak mungkin aku manggil suami aku kayak gitu. Aku manggilnya suamiku sayang, iya kan, Mas? Andi memang ganteng dengan suaminya.
Dimas hanya tersenyum lalu mengatupkan kedua tangannya di hadapan Nisa, memberikan selamat. Dia tahu dulu istrinya itu menamainya dosen killer. Karena sebelumnya hubungan keduanya tidak baik. hingga kebersamaan mereka membuat mereka menjadi saling jatuh cinta, dan takut kehilangan satu sama lain.
Andini pun memberikan selamat kepada Ricky sahabat somplaknya.
Setelah memberi selamat kepada sepasang pengantin baru, mereka semua menikmati jamuan yang telah disediakan.
Sementara pengantin baru itu sedang melangsungkan pemotretan, Ricky bergaya sangat kaku sehingga membuat tim fotografer cukup kewalahan mengatur pria itu.
Bukan karena tak pernah bergaya di depan kamera, tetapi rasa grogi yang begitu tinggi membuat tubuh Ricky sulit digerakkan.
Andini, Mariska dan Rian memburu makanan yang mereka inginkan. ketika wanita yang tengah berbadan dua itu seolah tak tahu malu, mereka mengambil apa saja yang diinginkannya, sehingga membuat 3 pria geleng-geleng kepala.
Siapa lagi kalau bukan suami dari ketiga wanita itu.
"Pantas banget kalian perut buncit makan banyak."canda Robert saat Andini, Mariska dan juga Rian datang membawa berbagai jenis makanan.
"Memangnya kenapa? kita ini berusaha melewati fase morning sickness yang sangat menyiksa, Jadi wajar dong kalau kita makan banyak kayak gini sekarang, karena sudah tidak merasakan mual dan pusing lagi. apalagi makannya bukan sendiri melainkan berdua ataupun bertiga."balas Mariska panjang lebar.
"Betul, anggap saja kita sedang balas dendam."timpal Rian.
"Dasar aja! Ada nggak sih wanita hamil yang gak mual gitu?"tanya Robert penasaran.
"Aku! Andini menghancurkan tangannya.
"Wih, hebat. berarti selama ngidam, kamu sehat-sehat aja dong?"tanya Robert kembali.
"Aku sih sehat, tapi ini yang gak sehat. tiap pagi oleng terus."Andini menunjuk ke arah Dimas yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Lah, kok bisa?"tanya Robert dan Herlan serentak.
"Iya, karena suami aku sayang banget sama aku dan calon anaknya. Jadi, dia yang merasakan ngidam dan sebagainya."jelas Andini dengan penuh percaya diri.
"Halah hh, itu Pak Dimas nya aja yang sedang apes."balas Robert.
"Sembarangan kamu. Mau ijazah kamu, saya tahan? ingat ijazah kamu masih berada di kampus, walaupun kamu sudah wisuda. jadi jangan macam-macam." Ancam Dimas seketika membuat Robert langsung mengatupkan kedua tangannya.
"Ampun Pak. itu satu-satunya simbol kalau saya pernah menjadi mahasiswa sebelum jadi pengangguran kembali."
Seketika mereka tertawa serentak, ketika mendengar celotehan Robert.
Sementara itu, Erin dan Bima yang baru selesai berbincang dengan orang tua mereka, karena Ibu Sulastri dan suami akan segera pulang ke pangkalan Brandan.
Erin dan Bima memilih sebuah meja yang mereka tempati.
"Kamu mau makan apa? biar aku ambilkan."tanya Bima setelah keduanya duduk bersebelahan.
"Nggak mau, kamu aja yang makan."tolak Erin sambil memijat keningnya.
"Kenapa? kamu sakit? Bima menatap wajah Erin sedikit terlihat pucat.
"Aku cuman sedikit pusing. Kalau kamu mau makan, makan aja dulu, sebelum kita pulang."
"Enggak, ah. kamu juga nggak makan."
"Aku pusing, agak mual juga. Kalau dipaksa makan, takutnya nanti malah muntah."tutur Erin yang suaranya yang terdengar manja.
Pria itu mengarahkan tangannya pada kepala sang istri dan mulai memberikan pijatan dengan perlahan.
***
Setelah pesta pernikahan itu selesai, Ricky dan Nisa diminta untuk menginap di sebuah hotel yang telah disediakan Tuan Arnold untuk Putri dan menantunya.
Sepasang pengantin baru itu langsung diantar ke sebuah hotel mewah yang telah di booking khusus untuk mereka berdua.
Ricky dan Nisa sudah tiba di sebuah kamar yang di dekorasi layaknya kamar pengantin baru, dengan taburan bunga mawar merah dan putih di atas sprei berbentuk love, serta beberapa lilin yang menyala di atas lantai membuat suasana di kamar itu kian romantis.
Ricky yang sudah membersihkan diri terlebih dahulu, hanya berdiri mematung di samping ranjang.
Dia tak berani menyentuh sedikitpun kasur yang penuh dengan taburan kelopak mawar itu.
Sementara bisa sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi. Jujur saja perasaan Ricky sudah tak karuan.
Ricky bingung harus melakukan apa saat ini. terlebih lagi, suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat detak jantung pria itu kian berirama kini jantung Ricky bak senang aerobik.
Ricky memberikan diri untuk menoleh ke arah kamar mandi.
Seorang wanita yang mengenakan ingrey berwarna putih sedang berjalan dengan anggun ke arahnya.
__ADS_1
Mata Ricky membulat ketika melihat kain tipis itu memperlihatkan kulit mulus Nisa dengan nyata.
"Astagfirullah."Ricky segera membalikkan badannya lalu memejamkan matanya.
"Kamu kenapa?"tanya Nisa Seraya menutup bahu suaminya yang membuat pria itu hampir terlonjak kaget.
"Mbak anu... aku takut dosa melihat tubuhmu."cicit Ricky dengan mata yang masih terpejam.
"Astaga. Kita sudah sah menjadi suami istri. kenapa kamu masih takut dosa, bukannya itu malah jadi pahala?"bisa berjalan dengan perlahan dan berdiri tepat di hadapan Ricky.
"Coba sekarang Buka matamu!"Dita Nisa dengan suara yang terdengar lembut.
"Iya."Ricky membuka matanya dengan perlahan.
"Apa yang kamu lihat?"tanya Nisa dengan senyum yang mengembang.
Ricky hanya geleng-geleng kepala, sementara Nisa terkekeh ketika melihat ekspresi suaminya saat ini.
Ricky mengerjakan matanya beberapa kali, Ia Ingin menutup mata tetapi pemandangan indah di hadapannya sangat sayang untuk dilewatkan.
"Jangan panggil aku Mbak! masa sama istri sendiri manggil Mbak, sih? protes Nisa.
"Terus harus panggil apa dong? tanya Ricky masih gugup.
"Panggil apa aja, panggil sayang misalnya."bisa mengangkat alisnya sebelah.
"Aduh apa ya? Manggil....
sudah tidak perlu dipikirkan, Yang pasti jangan panggil aku mbak lagi karena aku sudah istrimu.
"Mau tidur sekarang? ayo! bisa memegang lengan Ricky.
"Emmm.... kamu di atas, aku di bawah ya!" ucap Ricky yang membuat Nisa membulatkan matanya.
"A...Aku di atas?"Nisa menunjuk dirinya sendiri.
"Maksud aku, kamu di atas kasur, aku di bawah, di sini!"Ricky menunjuk ke arah lantai.
"Maksudnya, kamu mau tidur di lantai gitu?"tanya Nisa dengan bibir mengerucut.
"I....Iya."
"Kamu itu gimana sih? segitunya banget nggak mau tidur sama aku, sampai mau tidur di lantai segala. ntar kalau kamu kebakar sama lilin itu gimana? bisa menunjukkan lilin yang menyala samping Ricky.
"Bu...Bukan gitu. Aku mau tidur sama kamu, mau banget malah. Tapi aku takut kamu nggak mau tidur sama aku."tutur Ricky dengan wajah menunduk.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN