
Beberapa karyawan sudah menempati meja kerja masing-masing dan bersiap untuk memulai pekerjaannya hari ini.
Begitu juga dengan Rian yang telah duduk lebih awal, Karna sebelumnya Herlan memberitahu salah satu temannya yang bekerja disana untuk segera memberikan bimbingan kepada Rian.
Seorang pria berwajah tampan dan tingginya hampir sama dengan Dimas menghampiri Andini. "Kamu mahasiswi magang, ya? tanya pria itu kepada Andini.
Andini langsung menghadapkan tubuhnya ke arah pria yang tubuhnya hampir sama dengan Dimas.
"Iya Pak, mohon bimbingan dan arahannya, ya."sahut Andini dengan sopan.
"Yang itu meja kerjamu!" pria itu menunjuk ke arah sebuah meja kosong yang akan ditempati oleh Andini.
"Terimakasih Pak."Andini akan segera melangkah menuju meja kerjanya yang di tunjuk oleh pria itu.
"Tunggu dulu! sepertinya aku kenal,"ucap pria itu kembali yang menghentikan gerakan kaki Andini.
Wanita itu mengangkat kepalanya dan melihat ke arah wajah pria bertubuh yang hampir sama dengan suaminya itu.
"Kak Andini! tebak pria itu telah memperhatikan wajah Andini.
"Iya, Zidane? tebak Andini kembali setelah menyadari siapa pria itu.
Dia adalah Zidane, sepupu Dimas yang dulu juga hadir saat acara akad nikah dan resepsi mereka.
Tiba-tiba seorang pria berhenti tepat di hadapan Andini yang sedang menundukkan wajahnya.
"Kamu... mahasiswi magang, ya? tanyanya dengan suara bariton dan tatapan tertuju ke arah wajah wanita di hadapannya.
"Iya Pak,"jawab Andini masih dengan wajah menunduk.
"Kerja yang benar!" setelah mengatakan itu pria berwajah Tampan itu kembali melanjutkan langkahnya.
"Astaga..."Andini buang nafas lega ketika pria itu melangkah jauh.
"Tenang, jangan terlalu tegang begitu."seru Zidan
"Dia siapa? tanya Andini dengan Tatapan yang terarah kepada punggung pria tadi yang terlihat semakin menjauh. Andini tidak mengetahui kalau dialah pengganti Dimas selama Dimas tidak berada di dalam kantor. Dia adalah kakaknya Zidane sepupu Dimas juga yang selama ini membantu Tuan Anggara menjalankan perusahaan.
Sementara itu sebenarnya Zidan mengelola restoran milik Tuan Anggara. Tapi hari ini, Zidan datang ke perusahaan karena ada sesuatu hal yang akan mereka rapatkan bersama Tuan Anggara dan juga Dimas.
"Pertanyaanku belum Kamu awab, siapa pria dingin tadi? sudah seperti suamiku yang selalu dingin seperti kulkas.
"Kamu tenang saja, Dia Kakak aku."
"Apa?
__ADS_1
"Kakak kamu?
"Kok beda banget, ya? sahut Andini sambil terkekeh.
Zidane hanya terkekeh mendengarnya, saat Andini mengatakan kakaknya sudah seperti kulkas layaknya Dimas.
"Sudah, jangan dilihatin terus. Mending sekarang kamu duduk dan jangan lupa sesekali melihat ke arahku." ucap Zidane sambil terkekeh.
***
"Bismillahirrahmanirrahim,"ucap Andini sebelum tangannya mengetuk pintu ruang kerja sang bos.
Wanita itu menarik nafas panjang dan membuangnya secara perlahan, sebelum ia mengetuk pintu ruang yang baru pertama kali didatanginya.
Dimas memang tidak memberitahu, kalau Alvin merupakan sepupunya yang membantu Tuan Anggara dan juga dirinya menjalankan perusahaan.
Andini mendapatkan tugas menyiapkan berkas untuk meeting esok harinya.
Di hari pertamanya kerja, Dia langsung mendapatkan tugas seperti itu, membuat Andini tambah bersemangat.
Tok
Tok
Tok,
"Masuk! suara bariton itu membuat jantungnya semakin berdebar.
"Ia takut kalau pekerjaannya tidak sesuai dengan apa yang sang Bos inginkan.
Hari ini Tuan Anggara tidak di kantor, karena kondisi kesehatannya menurun. Sehingga Alvin dan Dimas lah mengambil kendali perusahaan. Tapi pagi ini, Dimas belum bisa datang ke kantor karena dirinya terlebih dahulu mengajar di kampus.
Apalagi saat ini Dimas disibukkan dengan permasalahan penemuan mayat di kamar mandi mahasiswi sendiri dan diduga bunuh diri. Saat ini Dimas masih menyelidiki, Apakah bunuh dirinya Almira ada kaitannya dengan Bagas.
Jenazah Almira sudah diotopsi dua hari yang lalu, dan jenazah Almira juga sudah disemayamkan di rumah kedua orang tuanya dan sudah dikebumikan juga pada hari yang sama, di saat kedua orang tua Almira menjemput jenazah Putri mereka di rumah sakit.
Andini kembali menarik nafas demi menetralisir rasa kegugupannya.
Setelah itu, Andini membuka pintu di hadapannya dengan hati-hati dan masuk ke dalam ruangan tersebut dengan perlahan.
Terlihat seorang pria dengan balutan pakaian formal yang terlihat rapi sedang duduk di atas kursi kebesarannya.
"Permisi, ini pak berkas untuk meeting besok pagi."Andini menaruh berkas tersebut di hadapan pria yang usianya sekitar 40 tahun, tidak terlalu jauh berbeda dari usia suaminya.
Pria yang bernama Alvin itu mengangkat kepala dan membenarkan kacamata yang ia kenakan.
__ADS_1
"Kamu mahasiswa magang, ya? tanyanya Seraya mengambil berkas tadi dan memeriksanya dengan jeli.
"Betul Pak,"jawab Andini dengan wajah menunduk, jantungnya berdebar kencang. Ia takut apa yang dikerjakannya hampir seharian ini, salah di mata sang Bos.
"Bagus, kinerja kamu cukup bagus untuk mahasiswi magang. Tinggal dikembangkan sedikit lagi. Kamu berbakat dalam hal ini."sahut pria yang bernama Alvin itu.
"Alhamdulillah"Andini membuang nafas lega, tidak sia-sia hampir satu harian ini otaknya berputar bagaikan kipas angin.
"Saya tidak menyangka mahasiswi seperti kamu mampu mengerjakan ini dengan baik. syukurlah ada kamu yang mengerjakan ini Kebetulan asisten saya sedang melahirkan."ucap pria itu sambil langsung terbatuk-batuk.
"Bapak butuh minum? tawar Andini dengan raut Tak tega ketika melihat wajah pria itu sudah tampak memerah karena batuk.
Alvin hanya mengangguk, lalu dengan cekatan Andini mengambilkan minum untuk sang Bos.
Pria itu langsung minuman tadi. Sampai tenggorokannya yang kering terasa lega.
"Terimakasih. Kamu cekatan."ucap pria itu sambil mengusap ujung bibirnya yang sedikit basah.
Andini hanya mengembangkan senyuman dirinya terasa terbang ke udara ketika mendengar pujian dari sang Bos.
"Terimakasih Pak. Ada lagi yang bisa saya bantu? tanya Andini dengan sopan
"Tidak ada, silakan keluar, waktunya untuk segera istirahat."
"Baiklah Pak, saya permisi dulu."Andini memundurkan langkahnya dengan perlahan dan membalikkan badan lalu keluar dari ruangan itu dengan anggun.
"Alhamdulillah, Senang banget Aku dapat pujian. Sudah kayak dapat uang kaget aja."Andini terkekeh dan akan masuk ke dalam lift.
Sepeninggalan Andini, Alvin langsung meraih ponselnya dan memberikan laporan kepada Dimas tentang kinerja istrinya.
"Halo Dimas, Aku tidak menyangka ternyata istri kamu benar-benar pintar dan jenius. Aku memintanya untuk menyiapkan bahan meeting besok. Apa kamu tahu? dia benar-benar bisa mengerjakannya dan lebih baik daripada karyawan lama yang bekerja di sini. Kamu memang benar-benar beruntung memiliki istri seperti Andini."ucap Alvin kepada Dimas setelah sambungan telepon seluler mereka tersambung.
Dimas hanya terkekeh di ujung telepon.
"Iya istriku memang sangat pintar. Dia meraih beasiswa di kampus dan kerap sekali mengharumkan nama kampus karena ilmu pengetahuan dan wawasannya yang sangat luas. Walaupun penampilannya seadanya tapi, otak istri aku jenius."Puji Dimas membuat Alvin dan Dimas sama-sama tertawa.
"Ya sudah, jangan kamu beritahu dulu kalau perusahaan itu milik Papa. Agar dia bekerja dengan maksimal selama dirinya magang di sana. Ingat, jika kamu membutuhkan tanda tanganku dan tanda tangan Papa kamu kirimkan saja langsung berkasnya." ujar Dimas . Keduanya pun setuju untuk menutupi identitas Dimas kepada Andini saat ini.
Dimas bukan berniat untuk membohongi istrinya, tapi lebih tepatnya agar mengasah Andini lebih fokus dalam menjalankan masa magangnya di perusahaan milik keluarga Anggara.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"