
Andini membuang nafas kasar, lalu mengusap air mata yang menetes perlahan.
" Mas Memangnya kamu dapat dari mana tespek ini? Andini mengambil tespek yang tadi terjatuh di atas pahanya.
"Petugas UKK. " jawab Dimas singkat dengan Tatapan yang masih tertuju ke arah jalan.
"Petugas UKK , Terus kenapa kamu mengira tespek ini punya aku? mungkin saja ini punya petugas UKK.
" Petugas UKK itu bilang dia menemukan tespek itu di UKK, Setelah kamu keluar dari ruangan itu. Makanya Dia mengira itu punya kamu. " jelas Dimas dengan nada kesal.
"Kira-kira ini punya siapa ya, otak Andini kembali berputar setelah susah payah memikirkan wanita di dalam foto yang dikirim ke ponsel suaminya, kini pikirannya kembali berputar menebak Siapa pemilik tespek itu.
"Nggak tahu punya siapa. Udah buang aja, nggak penting juga! " Ketus Dimas yang membuat Andini sedikit tersentak karena suaminya berbicara dengan nada yang tak biasa.
"Bahkan ini terdengar lebih menyeramkan daripada suara datarnya Dimas.
"Mas, kamu marah? tanya Andini dengan suara pelan.
" Nggak! "
"Masa? tapi kok kamu kayak nya, marah gitu? aku minta maaf kalau aku salah.
"Nggak."
" Mas, ih! kok kamu gitu sih!" nih aku balikin ponsel kamu. Andini meletakkan ponsel Dimas di atas paha suaminya.
Dimas langsung mengambilnya dan memasukkan ke dalam saku celana, tanpa menoleh sedikitpun ke arah sang istri.
Suasana Hening sejenak. Andini terdiam menunggu suaminya berbicara terlebih dahulu.
Namun, bibir pria itu mengatup dengan sempurna.
"Kayaknya aku harus nabung dulu biar bisa beli ponsel." gumam Andini Seraya memperhatikan kukunya.
"Kata siapa? tanya Dimas masih dengan nada sewot
" Iya, kata aku lah. Aku kan belum kerja, tidak mungkin juga aku meminta sama Mama, atau Kak Herlan. Mungkin balapan minggu depan, hadiahnya akan aku buat beli ponsel Apple. Lumayanlah hadiahnya cukup untuk membelinya. Mudah-mudahan aku menang kali ini, uangnya kali ini tidak usah ditabung. Buat beli ponsel aja, menggantikan yang sudah rusak." ucap Andini.
"Tidak boleh balapan lagi!" tegas Dimas.
"Kalau aku tidak balapan, uang darimana ganti ponsel aku yang rusak? ngak mungkin juga aku ngak punya ponsel."
Dimas tak lagi membalas ucapan istrinya, pria itu langsung mengarahkan mobilnya ke sebuah toko yang cukup besar.
__ADS_1
"Turun!" titah Dimas setelah memarkirkan mobil itu dan Ia turun terlebih dahulu.
" Astaga! mode kulkas lagi kumat." Andini membuang napas kasar, lalu turun dari mobil dan mengejar langkah suaminya yang sudah berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam toko itu.
"Mas, kita ngapain ke sini? " tanya Andini setelah mereka berada di dalam toko.
"Mau beli gorengan! " jawab Dimas tingkat
" Mas, ih. Nggak nyambung banget, masa beli gorengan di toko ponsel." Andini mencebik kesal yang tak digubris oleh suaminya.
" Hai Dimas."Panggil seorang wanita cantik dengan balutan gaun Sabrina selutut.
" Hai Rasti. " balas Dimas seraya Mengembangkan senyuman dan membalas sapaan wanita cantik itu.
Andini mengepal tangannya ketika melihat suaminya tersenyum pada wanita lain, sedangkan sedari tadi ia tidak dilirik sedikitpun.
"Sudah lama juga kita tidak bertemu Dimas Bagaimana kabarmu saat ini? tanya wanita cantik yang bernama Rasti itu dengan senyum manis pada wajahnya.
" Ya seperti yang kamu lihat, aku baik dan sehat-sehat saja." Wah, kamu sudah sukses ya, sekarang." ucap Dimas dengan penuh rasa kagum.
"Ya, Ini semua karena kerja keras Aku selama ini. tapi aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dirimu. " Rasti tersenyum
"Hebat kamu, usia muda belum menikah sudah memiliki toko sebesar ini. " Puji Dimas kembali yang membuat hati Andini memanas.
Dimas hanya membalas dengan tawaan
Sementara Andini mengepalkan tangan dengan hati yang semakin memanas.
"Rasti...., carikan ponsel keluaran terbaru untuk istriku." Titah Dimas setelah tawa keduanya terhenti.
Andini masih memasang wajah masam.
"Oh, dia istrimu? Sorry, aku tidak tahu karena tidak datang di acara pernikahan kalian." wanita itu memperhatikan Andini dengan intens.
"Tidak apa-apa. Aku tahu kamu sibuk."
"Ya begitulah. Maklum, aku mengurus semuanya sendiri. Oh iya, istrimu kerja apa? apa dia punya usaha sendiri sepertiku? tanya Rasti dengan angkuh.
Andini masih terdiam dengan dada naik turun, menahan amarahnya.
"Istriku masih kuliah."
" Oh my god, aku nggak nyangka ternyata kamu menikahi seorang mahasiswi. Aku pikir kamu akan menikah dengan Alena. Secara Dia kan sudah model papan atas, dan kamu adalah dosen profesional." ucap Rasti tersenyum Getir
__ADS_1
"Kami tidak jodoh." Rasti berikan istriku beberapa pilihan ponsel terbaru." titah Dimas kembali
Iya merasa ucapan Rastin cukup membuat Andini merasa tidak nyaman.
" Baiklah, ini beberapa jenis ponsel keluaran terbaru. Rasti menaruh tiga buah ponsel ke hadapan Andini dengan kasar.
"Kamu mau yang mana? " tanya Dimas dengan bibir yang tercermin tipis, Ketika melihat raut wajah istrinya.
"Yang ini. Cepat ya, Kita nggak punya banyak waktu." ucap Andini sedikit ketus Seraya memilih satu ponsel yang menurutnya bagus.
"Istrimu nggak sabaran ya Dimas, apalagi nanti kalau sudah punya anak risih kalau wanita nggak sabar."cerocos Rasti sambil menyerahkan ponsel itu pada pegawainya untuk segera di packing.
"Istriku sedang lelah, Mungkin dia pengen segera istirahat. Kebetulan tadi banyak kegiatan di kampus." Dimas mengambil kartu Black card miliknya dan langsung melakukan pembayaran.
" Rasti kami pamit dulu ya."
" Oke, Terimakasih Dimas. Rasti Melambaikan tangannya dengan senyum manis.
Andini langsung berjalan keluar meninggalkan Dimas yang mengikuti langkahnya, seraya membawa paper bag berisi ponsel baru sang istri.
Tanpa banyak bicara lagi, Dimas langsung menjalankan mobilnya meninggalkan toko itu.
Iya tahu istrinya dalam mode ngambek. Namun Ia juga tidak mau memulai bicara duluan. Sehingga suasana Hening untuk beberapa saat.
" Mas, mungkin semua teman kamu mulutnya kayak Kebon cabe gitu." akhirnya Andini berbicara duluan karena ia tak tahan ingin mengeluarkan unek-unek di hatinya.
" Kebun cabe gimana? Rasti itu orangnya realistis.
" Oh kamu belain dia? wanita yang sudah merendahkan aku? kok ngak nikah sama dia saja? lihat aja. Aku akan bekerja, dan membuktikan pada semua orang bahwa aku akan menjadi orang sukses. Andini bersekep dada dengan wajah angkuh.
"Jangan seperti itu, suksesnya seorang wanita ketika mendidik anak dengan baik."
"Anak lagi! tadi aja muji-muji Rasti karena dia sukses di usia muda, dan punya toko sebesar itu. Aku juga bisa kayak gitu, dengan syarat aku fokus kerja tanpa di repotkan anak dan suami.
"Aku tidak mau kamu seperti itu kok. Cukup jadi istri penurut dan ibu yang baik untuk anak-anak kita." Dimas mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Terserah!" Andini memalingkan wajahnya ke arah lain dengan bibir mengerucut.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK