Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 205. LAMARAN RICKY


__ADS_3

"Sayang, kamu mau kemana? kok pakai baju kayak gini?"tanya Erin saat melihat Bima sudah berpakaian rapi.


Namun, pakaian yang dikenakan pria itu berbeda dari biasanya.


"Kali ini, Bima mengenakan celana jeans berwarna hitam yang dipadukan dengan baju batik berwarna kecoklatan.


"Kamu mau kemana?"tanya Erin kembali.


Karena sudah dari tadi Bima tidak menjawab pertanyaannya. Pria itu sibuk menyisir rambut dan menyemprotkan parfum pada beberapa bagian tubuhnya.


"Aku mau antarkan Ricky lamaran."jawab Bima yang masih sibuk menyemprotkan parfum.


Tanpa ia sadari, aroma parfum itu membuat perut istrinya menjadi mual.


Erin menutup hidung demi menghindari aroma parfum dari suaminya.


"Lamaran Ricky? si Ricky mau melamar siapa? kok kamu nggak ngajak aku sih?"sergah Erin dengan wajah yang langsung berubah menjadi kesal.


"Si Ricky mau melamar Nisa. Kan, kamu lagi hamil, jangan banyak bergerak. Mending istirahat aja di rumah."tutur Bima setelah meletakkan kembali parfumnya, Tetapi pria itu masih belum melihat ke arah istrinya yang sudah memasang wajah masam.


Bima kembali merapikan rambut di depan cermin.


"Aku mau ikut!"ucap Erin yang membuat Bima langsung menatap ke arahnya.


"Nggak boleh! kamu di rumah aja, banyak istirahat!"cegah Bima dengan cepat.


"Kamu kenapa sih? aku ini baik-baik aja. lagian kan, mau pergi ke rumah Nisa bukan mau naik gunung, aku bisa ikut dong. Masa orang hamil nggak boleh pergi sedikit pun? Lagian aku ini nggak kenapa-kenapa. Aku sehat, kandungan aku juga sehat."cerocos Erin dengan nada kesal.


"Kalau aku bilang nggak boleh ikut ya nggak boleh!"bantah Bima kembali dengan suara penuh penekanan.


"Kenapa nggak boleh? Jangan jangan kamu mau ketemu cewek lain di luar ya, gitu? tubuh Erin dengan mata memanas.


"Jangan negatif thinking! Kenapa kamu ngeyel banget?"


Bima menatap tajam wajah istrinya.


"Ya Aku curiga. Karena kamu nggak mau bawa aku. Pasti ini ada nggak beres."Erin balas menatap Bima dengan tatapan penuh selidik.


"Nggak ada apa-apa. Sudah, Jangan berpikir negatif."


"Makanya aku ikut."


"Nggak boleh!"


"Kenapa nggak boleh? Erin melepaskan tangannya yang sedari tadi ia gunakan untuk menutup hidung, wanita itu memegang tangan suaminya dengan kencang.


Namun, tak lama kemudian perutnya terasa mual saat ia kembali mencium aroma parfum dari tubuh Bima


"Hoek...."Erin segera berlari ke kamar mandi.


"Erin, kamu kenapa? Bima mengikuti langkah Erin yang kini sedang berjuang melawan rasa mual.

__ADS_1


Setelah mengeluarkan semua isi perutnya Erin kembali berdiri dengan tubuh yang terlihat lemas.


"Kamu mual? tanya Bima dengan mata yang menatap wajah pucat sang istri.


"Ini semua gara-gara kamu. Coba aja aku nggak hamil, pasti nggak kayak gini! aku tersiksa, dikit-dikit mual, dikit-dikit pusing. makan nggak enak, ini itu nggak enak!"carocos Erin seraya menghentakkan kaki dan keluar dari kamar mandi sambil menyenggol bahu Bima.


Pria itu terdiam sejenak, namun tak lama kemudian, ia ikut keluar dari kamar mandi.


"Mau aku olesi minyak angin?"tawar Bima Serayu mendekat. Karena Erin yang duduk di tepi ranjang.


"Nggak usah! kamu pergi aja sana! kayaknya kamu lebih peduli sama orang lain daripada sama istri dan anak kamu."Ketus Erin


"Siapa bilang! aku peduli sama kalian. Makanya sini aku bantu obati."Bima semakin mendekat dan berdiri di hadapan Erin.


"Nggak usah, dekat-dekat! parfum kamu bau nanti aku muntah lagi. Pergi saja sana! kamu itu cuman mau kepuasan aja dari aku, tanpa menyayangi aku selayaknya seorang istri."carocos Erin dengan mata memerah dan buliran bening perlahan menetes dari mata indah wanita itu.


"Jangan bicara seperti itu. Aku sama sekali tidak seperti apa yang kamu pikirkan."Bima semakin mendekat dan akan duduk di samping Erin.


"Dibilangin Jangan dekat-dekat!"Erin menahan perut Bima dan sedikit mendorong tubuh kekar pria itu.


"Kamu mual, ya? Oke sorry." Bima membuka kancing bajunya satu persatu dan membuka baju batik itu, dengan cepat hingga sampai menyisakan kaos dalam saja.


Erin hampir membulatkan mata ketika melihat Apa yang dilakukan suaminya.


"Kamu kenapa buka baju?


"Kamu mual kan, kalau nyium parfum yang aku pakai tadi? Ya udah, aku lepas aja bajunya."Bima duduk di samping Erin.


"CK... aku nggak punya cewek lain, selain kamu. Aku melarang kamu ikut karena aku nggak mau kamu kecapean."


"Alasan, yang tidak masuk akal!"Erin kembali.


"Aku pergi dulu ya, kamu istirahat aja."Bima kembali bangkit.


"Pergi sana! jangan merasa bersalah kalau kamu kembali ke sini aku sudah tidak bernafas,"ucap Erin yang seketika langsung menghentikan langkah Bima


"Ya udah, ayo ikut!"


"Ngajak Nya nggak ikhlas."


"Ayo ikut! ganti baju sekarang, nanti kita telat.


"tuh kan pasti dalam Hati menolak keras untuk aku ikut."Erin menatap sini secara suaminya.


"CK... terus gimana? Aku beneran ngajak kamu Ayo ikut!!


"Ngajaknya kayak terpaksa, nggak pakai kata-kata yang halus dan lembut.


"Ya udah. Sayang, ayo ganti baju dandan yang cantik, kita datang ke acara lamaran Ricky." ajak Bima kembali yang membuat Erin langsung mengembangkan senyuman.


"Terima kasih sayang, ada yang segera bangkit dan memeluk tubuh kekar suaminya yang hanya terbalut kaos dalam.

__ADS_1


****


Sesuai rencana, hari ini orang tua Ricky datang dari kota Medan ke Jakarta, untuk menemui calon besarnya. Walaupun katanya di kota Medan tapi orang tua Ricky Sebenarnya bukan di kotanya melainkan di pelosok. Tepatnya di pangkalan Brandan.


Setelah semalaman Ricky memohon kepada orang tuanya, agar datang ke Jakarta. sebagaimana lamaran pada mestinya kedua orang tua Ricky datang. Orang tua Ricky sudah menghubungi keluarga dekat mereka yang ada tinggal di kota Jakarta untuk menemani kedua orang tua Ricky datang ke rumah orang tua Nisa.


Walaupun tidak semua anggota keluarga besar turut hadir, tetapi ada beberapa anggota keluarga yang ikut dan akan menyaksikan acara lamaran itu.


Ricky datang langsung bersama keluarga ke rumah Nisa.


Sementara Bima dan Erin menyusul. Untung keduanya tidak datang terlambat.


Keluarga Wijaya menyambut kedatangan Ricky dan keluarganya dengan hangat.


"Masya Allah. Ricky, ini bener-beneran rumah wanita yang akan kamu lamar? tanya mpok Nining, Ibu dari Ricky.


Wanita paruh baya yang mengenakan kebaya itu tidak henti-hentinya menatap kagum ke arah rumah yang baru didatanginya.


"Iya Ma. Nama calon istriku Faranisa, kalau nama bapaknya itu Arnold ucap Ricky sedikit berbisik.


Pria itu berjalan ke arah Arnold dan Nisa dengan diapit oleh kedua orang tuanya.


"Gimana coba, anak keturunan ningrat mau sama anak mama modelan kayak gini?"Mpok Nining menatap heran ke arah putranya.


"Mama nggak boleh gitu, gini gini juga aku adalah ciptaan Allah yang sempurna."


"Iya iya, sudah diam! kita sudah tiba di depan calon istri kamu."bisik Mpok Nining.


"Selamat datang Ricky dan keluarga!"sambut Tuan Arnold dengan hangat.


Jantung Ricky berdebar hebat saat melihat wanita cantik di hadapannya.


Nisa mengenakan gaun cantik yang membuat penampilannya bertambah anggun.


"Terima kasih Pak Arnold, kami datang ke sini berniat untuk melamar putri Bapak yang bernama Faranisa."tutur pak Muhammad Alim ayah dari Ricky.


Pak Arnold, semua seserahan ada di belakang. sebentar ya!"Mpok Nining membalikkan badan sebentar dan memanggil beberapa orang membawa seserahan untuk maju ke depan.


Mata Ricky membulat, ketika melihat Apa yang dibawa oleh orang tuanya.


Ricky yang baru bertemu orang tuanya pagi ini tidak mengetahui apa-apa perihal seserahan yang orang tuanya bawa untuk melamar Nisa.


"Pak Arnold, ini seserahan sederhana yang kami bawa. Harap diterima ya, karena Ricky mengabari kami dadakan dan meminta kami datang ke sini hari ini juga. Jadi mohon maaf tidak sempat mempersiapkan semuanya secara matang." tutur pak Muhammad Alim kembali yang membuat Tuan Arnold mengangguk paham.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2