Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 111. KAMU HARUS TANGGUNG JAWAB


__ADS_3

Seketika selimut itu terlepas dari tubuh Robert yang masih terlentang di atas kasur.


"Astaga... jadi itu yang semalam... "


Mariska menunjuk ke arah adik kecil sang suami yang menjulang tinggi.


"Hehehe.....,Dia bangkit lagi say."


"Pakai celana nih. Jelek banget wujudnya."Mariska melempar boxer ke arah Robert.


"Enak banget bilang jelek. Awas kamu ketagihan."Robert bangkit dan memakai boxer.


"Tau ah, aku mau mandi."Mariska menutupi tubuhnya dengan selimut dan akan berjalan ke kamar mandi.


Namun, rasa ngilu pada area sensitifnya membuat wanita itu kembali terduduk di tepi ranjang.


"Kenapa sayang? tanya Robert ketika melihat istrinya meringis menahan sakit.


"Perih banget. kayaknya robek deh."


"Astaga pantesan ada noda darah di sprei. duh gimana Sayang? harus dijahit dong?" Robert mendekat ke arah istrinya dengan wajah tegang.


"Dijahit apaan, emangnya habis melahirkan apa?


"Kan, katanya robek."


"Udahlah, aku mau searching dulu."Mariska mengambil ponselnya dari atas nakas.


Robert ikut membaca artikel pada ponsel sang istri yang berisikan tentang berhubungan intim untuk pertama kali.


Keduanya mengangguk kepala saat memahami isi artikel tersebut.


"Berarti noda darah itu nggak bahaya ya sayang?


"Ya udah, biar aku cuci aja sprei nya. Malu kalau ketahuan Mama sama adik ipar. Mariska menaruh kembali ponselnya dan berdiri dengan hati-hati.


"Biar aku aja yang nyuci sayang, mending sekarang kamu mandi aja!" titah Robert.


"Memangnya kamu bisa nyuci pakai tangan?"


"Apa sih yang nggak bisa aku lakukan? meluluhkan kamu ajak aku bisa,"ucap Robert dengan percaya diri.


"Ih songong banget. Udah aku aja yang nyuci."


"Nggak sayang, tangan lembut kamu nggak boleh pakai nyuci yang beginian."


"Duh sok manis banget sih. Ya udah, aku mandi duluan ya! Mariska berjalan ke kamar mandi dengan hati-hati.

__ADS_1


Setelah Mariska selesai mandi, Robert langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci sprei yang terdapat noda darah itu dengan tangannya sendiri.


Setelah itu, keduanya bersiap akan berangkat ke kantor.


Namun, pandangan Robert tertuju karena sang ibu yang sedang duduk termenung dengan sebuah ponsel yang dipegangnya.


Robert mendekat dan berdiri di samping sang ibu.


Mariska yang melihat itu mengikuti langkah suaminya.


"Mama kenapa? tanya Robert Seraya mengusap pundak sang ibu yang duduk di kursi roda.


"Mama nggak papa kok."wanita paruh baya itu tersenyum lembut.


"Robert pasti ada sesuatu, coba Mama cerita."pria itu menatap dalam Menik sang ibu.


"Robert, Sebenarnya ada sedikit masalah. belakangan ini toko kue mengalami penurunan pendapatan,"jelas Ibu Halimah dengan wajah sendu.


Mariska mendengarkan apa yang dikatakan mertuanya dengan jeli.


"Kok bisa Ma? biasa kan lancar terus."


"Mungkin karena mama sudah tidak mengolah toko itu sendiri, jadi banyak pelanggan yang perlahan mundur. Entahlah mungkin produk yang dibuat Leni kurang baik,"jelas Ibu Halimah kembali menyebut nama karyawan yang selama ini dipercaya untuk mengolah toko kue miliknya.


"Nanti biar Robert yang ngomong langsung sama Mbak Leni Ma."


"Nggak usah. Mungkin toko kue ini sudah tidak bisa dilanjutkan lagi. " ucap ibu Halimah sendu.


"Tidak ada pilihan lain. belakangan ini kita mengalami kerugian, banyak bahan dan produk yang terbuang karena tidak laku."


"Mama tenang aja, Robert yang mencari solusinya."Robert mencium punggung tangan sang ibu.


Mariska yang sudah dari tadi berdiri di samping pria itu, mengikuti gerakan yang sama mencium punggung tangan mertuanya Seraya berpamitan.


Robert keluar dari rumah sambil mengacak rambutnya.


Toko yang selama ini menjadi pemasukan bagi keluarga mereka akan ditutup, sementara Dirinya belum mempunyai pekerjaan tetap.


Terlebih lagi adiknya sebentar lagi lulus SMA dan akan memasuki perguruan tinggi.


Tentunya bukannya biaya yang sedikit memasukkan adiknya ke dalam fakultas.


Namun, ia harus berusaha lebih keras lagi agar adiknya tetap tidak putus pendidikan.


Robert menaiki motornya dengan wajah kacau. Bahkan canda dan tawa seketika hilang dari wajah pria itu.


Mariska ikut naik ke atas motor suaminya tanpa banyak bicara.

__ADS_1


Beberapa menit perjalanan terdengar.


"Toko kue Mama beneran mau tutup?" Mariska mulai memulai pembicaraan.


Robert memelankan laju motornya agar obrolan mereka terdengar jelas.


"Tidak ada pilihan lain sayang."jawab Robert pasrah.


"Terus gimana dong, kasihan Mama. Apa aku minta bantuan Papa untuk ngasih dana biar toko kue Mama nggak ditutup?"


"Jangan, aku nggak setuju kalau kamu lakuin itu."


"Lah terus masa kamu mau biarin toko kue Mama yang menjadi pemasukan keluarga, tutup itu aja."


"Sayang, aku punya tabungan uang yang aku sisihkan semenjak masuk kuliah dan Belum aku buka sampai sekarang.


"Sudah lama banget dong."


"Iya, dulu Papa masih ada, jadi aku selalu diberi uang saku lebih dan aku menyisihkan nya sebagian. Dulu aku nabung untuk menikahi seorang wanita."Robert terkekeh.


"Wanita siapa? kamu punya pacar ya? atau kamu punya cewek incaran? suara Mariska terdengar kesal.


"Kamu cemburu ya? Robert menarik tangan Mariska dan melingkarkan pada perutnya


"Enggak siapa yang cemburu?


"Tenang aja sayang, dulu aku memang nabung untuk menikahi seorang wanita. Tapi aku nggak tahu orangnya siapa.


"Heh, kok gitu? hahaha..... ada orang nabung buat nikah, sedangkan dia tidak tahu mau nikah sama siapa."Mariska memecahkan tawanya.


"Itu hanya persiapan saja sayang, karena dulu Aku menginginkan pernikahan yang mewah. Ternyata jodoh aku adalah kamu, dan pernikahan kita dilangsungkan secara sederhana. Ris, nggak apa-apa ya kalau misalkan uang itu aku pakai usaha dulu, nggak jadi buat resepsi pernikahan kita?


Nggak papa, itu mah nggak penting. Memangnya Apa rencana kamu?


"Ris, aku kan nggak ahli di bidang pengolahan kue, kamu juga gitu kan?


"Iya, aku cuman bisa makannya doang."


"Itu sudah jelas."


"Ih, nggak usah ditambahin napa, Aku kan udah merendah. Kenapa malah dijatuhkan sekalian?"


"Hahaha.....canda sayang. Aku tuh punya rencana mau buat cafe tongkrongan gitu, mudah-mudahan aja modalnya cukup." ucap Robert.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"


__ADS_2