
"Ayo turun!" titah Dimas setelah memarkirkan mobilnya ditempat yang tepat.
"Bapak tahu aja deh sudah lama gak pergi ke mall," ucap Andini dengan senyum merekah.
"Kita kesini hanya membeli hadiah ulang tahun untuk Mariska," balas Dimas yang membuat Andini langsung memudarkan senyumnya.
"Ck... ternyata lebih penting mahasiswanya daripada istrinya sendiri,"rumah Andini dengan sebal.
Tetapi, itu masih terdengar jelas di telinga Dimas yang sedang membuka pintu mobil dan akan keluar.
Dimas mengembangkan senyumnya, tetapi bukan di hadapan istrinya sendiri. Ada sedikit rasa ingin menjahili sang istri.
"Cepat turun atau saya tinggalkan!" titah Dimas dengan nada datar.
"Iya, tunggu!" Andini segera turun dan mengejar langkah suaminya yang sudah lebih dulu berjalan masuk ke dalam mall.
Dimas selalu berjalan dengan langkah cepat, hal itu yang membuat Andini setengah berlari ketika menyumbangkan langkah dengan suaminya.
Tubuh Dimas yang tinggi membuat langkahnya jauh lebih cepat dibandingkan dengan Andini sang istri. Berbeda jauh dengan Andini yang tingginya hanya sebatas bahu Dimas.
Terlebih lagi, Andini memiliki postur tubuh yang ramping, sehingga ketika mereka berjalan berdua sangat terlihat jelas perbedaannya.
"Kamu mau beli apa untuk hadiah temanmu Mariska?"tanya Dimas ketika mereka melewati jajaran toko di dalam mall.
"Emmm... Mariska kamu suka boneka, kayaknya beli boneka aja deh."sahut Andini
"Ya sudah, kita ke toko boneka."Dimas berjalan lebih dahulu ke arah toko boneka yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Mereka berdiri saat ini.
"Uhhh.. tuh orang jalan apa lari sih? cepat banget ngilanginnya. Lagian Kok ada ya suami kayak gitu, dia di mana istrinya di mana." gerutu Andini memperhatikan langkah yang sudah semakin menjauh darinya. Seraya terus mengikuti langkah suaminya.
"Aku kenapa sih? kok ngarep banget dia jalan di sampingku sambil gandeng tanganku gitu? sadar Andini, Kau hanya istri sementaranya dosen killermu itu." kuman Andini dalam hati.
"Lagian mana ada manusia titisan kutub utara kayak gitu akan menghangat di dekatmu." gerutu Andini sampai langkah kakinya memasuki tokoh yang menjual boneka dan barang-barang lainnya.
"Sini! kamu jalan lelet banget sih! Dimas melambaikan tangannya menyuruh Andini menghampiri dirinya yang sudah tiba lebih dulu di toko boneka yang ada di mall itu.
"Bapak tuh jalannya kecepatan,"Andini sejajarkan langkahnya dengan Dimas.
Keduanya mulai menelusuri jajaran boneka yang terpajang rapi di toko itu.
"Kamu mau beli yang mana?" tanya Dimas Ketika istrinya mulai memilih beberapa boneka.
__ADS_1
"Emmm ... yang ini kayaknya bagus." Andini mengambil sebuah boneka berukuran sedang.
Boneka itu nampak cantik dengan bahan yang sangat lembut.
"Ya sudah ambil itu saja, biar saya yang bayar nanti."
"Serius, pak? tanya Andini dengan mata berbinar setelah Dimas mengatakan kalau dirinya yang akan membayar kado yang akan Ia berikan kepada Mariska.
Dimas hanya mengangguk dan berjalan ke arah deretan boneka besar.
Pria itu mengambil sebuah boneka serigala yang berukuran cukup besar, bahkan tingginya hampir sama dengan sang istri.
"Boneka ini bagus nggak?"tanya Dimas raya menunjukkan boneka besar itu ke arah Andini.
"Bagus. Bapak mau beli boneka itu? tanya Andini dengan heran.
"Iya "
Andini langsung mengejutkan bibir dengan wajah kesal, pasti suaminya itu mau membeli boneka besar tadi untuk hadiah ulang tahun Mariska.
Entah kenapa, hatinya memanas ketika membayangkan Dimas datang ke pesta ulang tahun Mariska dan memberikan boneka besar itu sebagai kado.
Sanking kesalnya, Andi ini tak sadar kini dirinya sedang *******-***** boneka yang ada dalam genggamannya. "Kalau tahu begini aku tidak akan ikut bersamanya untuk membeli hadiah ulang tahun kepada Mariska. membuat aku semakin kesal aja melihat ini orang." gerutu Andini sangat kesal.
"Kamu kenapa? tanya Dimas yang membuat Andini terlonjak kaget, Bahkan ia sampai melepaskan boneka yang Andini pegang tadi hingga terjatuh.
"Enggak, Saya tidak apa-apa. Bonekanya bagus, pasti Mariska akan suka menerima kado dari bapak." balas Andini sambil langsung mengambil boneka yang tak sengaja ia jatuhkan.
"Kata siapa ini untuk Mariska? tanya Dimas yang membuat Andi Ini hampir tak jadi menegakkan tubuhnya kembali.
"Lah, terus bapak beli boneka itu untuk siapa? jangan bilang, kalau bapak beli boneka itu untuk bapak sendiri!"
" Boneka serigala ini untuk kamu, kan kamu sering ngatain aku serigala. Jadi nggak salah kah Kalau saya memberikan kamu boneka serigala yang akan menemani tidurmu." ucap Dimas, sambil menyodorkan boneka beruang besar itu kepada Andini.
Sebuah boneka serigala berukuran besar dengan hiasan bentuk hati yang dipegang boneka tersebut.
"Ini serius untuk saya Pak?"tanya Andini dengan suara tergagap karena dirinya sama sekali tidak percaya apa yang ia dengar dari mulut manis suaminya.
"Iya, Kamu suka nggak?"
"Suka.... suka banget."Andini mengambil boneka itu dari tangan Dimas dan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Karena kamu tidak memeluk saya saat tidur, kamu peluk boneka itu saja."ucap Dimas yang membuat Andini langsung menatap ke arah Dimas.
Mengapa kata-kata Dimas barusan terdengar manis sekali. Padahal selama ini Dimas selalu berbicara dengan nada dasar Bahkan ia tidak menunjukkan sama sekali rasa cintanya kepada Andini. Membuat Andini ragu akan pernikahannya dengan Dimas tidak akan berlangsung lama.
Iya beginilah jika manusia beku berbicara manis, membuat wanita yang ada di hadapannya terpaku seolah tidak percaya.
"Tidak usah heran seperti itu. Saya orangnya baik kok, cuma kamu belum mengenal saya lebih dalam saja."Dimas tersenyum tipis dan membuat Andini langsung tersadar dari bengong nya.
"Emmmm... ini serius buat saya kan? Bapak tidak lagi ngerjain saya kan? tanya Andini bertubi-tubi memastikan, karena ia tidak ingin sang suami sekaligus dosennya itu memberikan harapan kepada Andini
"Iya, atau kamu mau menukarnya dengan boneka lain?"tawar Dimas.
"Tidak usah, yang ini lebih bagus. boneka serigala, sesuai sama yang ngasih."Andini memeluk boneka itu dengan erat, Bahkan ia menempelkan wajahnya pada pipi boneka besar itu.
"Kamu nyamain saya sama boneka ini?"tanya Dimas dengan wajah yang kembali terlihat datar.
"Eh, Ngak."
"Terus tadi apa?
"Maksud saya, boneka ini empuk seperti yang ngasih,"ucapkan dini berbohong Soraya menggigit Bibir bawahnya.
"Oh berarti kamu pernah merasakan tubuh saya?"Dimas menyeringai tipis.
"Emmm..... bukan itu maksud saya."
"Sudah, Sekarang kita ke kasur untuk membayar semua belanjaan.
"Terus Bapak jadi beli apa, hadiah untuk Mariska?
"Karena saya seorang dosen dan menginginkan mahasiswanya rajin belajar, Saya mau ngasih ini!"Dimas menunjukkan sebuah buku catatan dan juga satu pak pulpen yang diambil dari rak di dekat jajaran boneka."
Andini Manahan tawa ketika membayangkan betapa bahagianya mbak Riska mendapat kado dari Dimas, tetapi isinya tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1