Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 172. PENJELASAN BIMA


__ADS_3

Sementara itu di cafe kampung kecil Beberapa orang tadi menyaksikan keributan mulai bubar dan kembali ke meja masing-masing.


Bima mengacak rambutnya frustasi. Wajah pria itu terlihat kacau. Ricky mendekat ke arah sahabat sekaligus sepupunya itu.


"Bro, Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa si Erin bisa kabur dari rumahnya?" tanya Ricky Seraya menepuk bahu Bima.


"Arrrgh.... aku pusing!"Bima kembali mengacak rambutnya.


"Tenang! sekarang kamu duduk dan minum dulu!"Robert datang dan langsung menyodorkan kursi ke arah Bima.


Ricky memegang kedua bahu Bima dan mendudukkan pria itu di atas kursi.


Sementara Robert segera mengambil minum dan menyerahkannya ke arah Bima yang langsung diteguk sampai tandas oleh pemuda itu.


"Wih, stop stop! jangan dimakan sama gelasnya." ucap Robert Seraya mengambil gelas itu dari tangan Bima.


"Sudah, sekarang kamu tarik nafas dan keluarkan dari belakang!" ucap Ricky dengan tangan yang memijat bahu Bima.


"Apaan sih, goblok! Bima memukul lengan Ricky yang sedang memijat pundaknya.


"Ampun! mending sekarang kamu cerita biar nggak terlalu mumet." ucap Ricky. Sedangkan Robert mendekat dan berdiri di hadapan Bima siap mendengarkan sahabatnya bercerita.


Bima membuang nafas kasar dan membuka mulut siap berbicara.


Namun, Mariska yang datang tiba-tiba di samping Robert, membuat Bima kembali mengatupkan bibirnya.


"CK... kamu ngapain sih ke sini?"sergah Ricky yang membuat bibir Mariska langsung mengerucut.


"Aku juga mau ikut mendengar cerita si Bima." balas wanita itu dengan Ketus.


"Nggak usah!" balas Ricky kembali.


"Dih, pelit banget sebagai sahabat. Aku juga peduli sama si Bima." balas Mariska kembali yang masih berdiri di samping Robert.


"Nggak yakin, aku tau cewek itu satu persen peduli dan sembilan puluh sembilan persen kepo." timpal Ricky yang membuat Mariska langsung mengarahkan tonjokan ke hadapan Ricky.


"Robert, bini kamu gayanya sudah kayak pemain silat."


"Diam kamu Ricky! mending urusin Mbak pada Fara Nisa aja, tuh." Mariska menunjuk ke arah Fara yang masih duduk di kursi tadi.


"Bodoh amat, my friend lebih penting." balas Ricky.


"Sayang, mending sekarang kamu ke sana dulu. Ini kita mau bicara sebagai laki-laki, hard to hard ." ucap Robert sambil mengusap bahu istrinya.


"Idih hard to hard ngelantur banget kamu." balas Mariska dengan kesal.


"Udah, pokoknya kamu menjauh dulu. Para jantan mau berdiskusi."

__ADS_1


"CK .. Ya udah, tapi nanti pas di rumah kamu ceritakan secara detail ya." ucap Mariska


"Iya, tenang saja."


"Ya udah, tuh si Rian kayaknya sudah datang." Mariska melihat Rian yang baru masuk ke dalam Cafe itu.


"Sudah sana! betina mah urus telur aja." celetuk Ricky yang langsung mendapat tatapan tajam dari Mariska.


"Rian!! teriak Mariska yang langsung membuat Rian menoleh ke arahnya.


"Nyonya Mariska udah dimulai belum?" tanya Rian Seraya berjalan ke arahnya.


"Apanya yang dimulai?


"Makan-makan." sahut Rian dengan santai.


"Ya sudah, nggak apa-apa mending sekarang kita duduk dulu kamu mau makan sama minum apa?" tanya Mariska sambil menarik tangan sahabatnya ke arah sebuah meja.


"Gratis ya." canda Rian sambil terkekeh.


"Tenang, buat bumil hari ini gratis." balas Mariska membuat senyum sahabatnya semakin mengembang.


"Eh, itu mereka bertiga ngapain berkerumunan di sana? kayaknya serius banget." Rian menunjuk ke arah Robert, Bima dan Ricky.


"Mereka lagi diskusi. Jangan diganggu!" Mariska kembali menarik tangan Rian sampai membuat wanita itu duduk di sebuah kursi.


"Sudah, kamu tenangkan diri dulu sekarang kamu cerita atau mau ngomong apa saja terserah. Kita dengarkan." titah Ricky setelah melihat wajah sahabatnya terlihat tenang.


"Jadi begini, aku sama Erin kan sudah pacaran sejak minggu lalu. Aku nggak tahu kalau dia itu adik Pak Dimas." Bima berhenti sejenak dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Oke aku paham!" balas Robert yang sudah dari tadi memperhatikan sahabatnya.


"Next, Kenapa sih Erin bisa kabur dari rumah dan kamu juga semalam gak balik ke kos?"tanya Ricky dengan tatapan serius.


"Semalam, aku sudah nganterin dia pulang. Terus pas aku sudah di jalan mau balik ke kos, dia telepon aku. Dia bilang dimarahin kakaknya, sampai ditampar. Dia ngomong sambil nangis-nangis. Aku nggak tega dong dengarnya." tutur Bima yang membuat Ricky dan Robert menganggukkan kepala.


"Oke lanjut!"


Bima menarik nafas sebelum kembali bercerita.


"Sudah gitu, Dia meminta dijemput. Dia mau kabur dari rumah, karena dia nggak terima dan sakit hati dimarahi sampai ditampar kayak gitu. Aku larang dia buat pergi dari rumah. Karena aku tahu itu pasti sangat beresiko. Tapi dia maksa kalau aku nggak jemput pun dia, dia tetap akan pergi sendiri. Aku nggak tega dong dengar kayak gitu. Ya udah aku jemput dan bawa dia pergi. Tapi sumpah, aku nggak tahu kalau dia itu adalah adik Pak Dimas." kembali Bima mengusap wajah dengan kedua tangannya.


"Terus semalam kamu menginap dimana?" tanya Ricky kembali dengan penuh selidik.


"Aku sewa kamar OYO melalui aplikasi." jawab Bima cepat.


"Terus kamu berdua tidur sama?" tanya Ricky kembali yang tingkat keponya semakin bertambah.

__ADS_1


"Skip!!" balas Bima kembali.


"Aku curiga, ini." Ricky menautkan tangannya pada kursi yang diduduki sambil berkacak pinggang.


"Sekarang aku bingung, pasti Pak Dimas sudah melarang keras Erin buat ketemu aku." tutur Bima kembali.


"Begini, sebenarnya kamu tuh beneran cinta nggak sih sama tuh si Erin?"


"Menurut kamu? Bima balik bertanya.


"Aku sebagai titisan Mbah Marijan, yang memiliki ilmu penerawangan sekaligus penyayang, tidak melihat ada cinta di mata kamu." ucap Robert dengan mata yang memperlihatkan wajah Bima.


"Memang kalau mata ada cintanya tuh gimana?"tanya Bima kembali.


"Biasanya ada Glitter love di sekitar mata sampai bawah hidung." tutur Robert sambil dengan wajah serius.


"Ada-ada saja kamu! sudah jangan didengerin, dia mah dukun sesat." timpal Ricky.


"Untung bukan dukun cabul." balas Robert kembali.


"Mending ikut kata hati kamu aja. Kalau mau lanjut, ya lanjut sampai pelaminan. Kalau nggak, ya masak nggak sih? orang Kamu sudah tidur satu kamar." ucap Ricky yang langsung mendapat sikuan pada perutnya oleh Bima.


"Sebentar ponsel aku berbunyi. Robert menggerakkan tubuhnya mengikuti nada dering ponsel dengan tangan yang mengambil ponsel dari celananya.


"Halo, iya pak." ucapnya setelah menempelkan benda canggih itu pada telinganya.


"Oh oke oke, cepat sehat kembali ya Pak." ucap Robert kembali pada lawan bicara di seberang telepon.


"Gush sepertinya hari ini Andini tidak dapat hadir di tempat ini. Karena Tuan Anggara saat ini sedang sakit."ucap Robert yang mampu membuat Bima terhenyak.


"Buset, ini orang ngidam apa kelaparan?".ucap Robert saat melihat piring kosong bekas makanan menumpuk di atas meja yang ditempati oleh Rian.


Waktu sudah menunjukkan sore. Rian belum pulang karena ia ingin dijemput oleh suaminya.


"Aku ngidam semua makanan di cafe kamu.


enak banget, aku acungin sepuluh jempol." Rian menghancurkan dua jempolnya ke arah Robert dan Mariska yang berdiri di sampingnya.


"Itu mah dua, mana delapan lagi jempol Kamu?" tanya ke Mariska menarik kursi dan duduk di hadapan Rian.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS

__ADS_1


__ADS_2