
Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. Pagi ini Andini sudah sibuk memilih pakaian untuk dikenakannya ke kantor.
Hari ini, Andini dan semua teman-temannya sudah mulai magang.
Beberapa hari lalu ia sudah membeli pakaian kantor bersama dengan Mariska dan juga Rian.
Andini saat ini akan magang di kantor sang suami yang sama sekali ia tidak mengetahui kalau kantor itu ternyata kantor milik Ayah mertuanya.
Bahkan Andini tidak pernah mengetahui kalau sang suami sering datang ke kantor itu untuk memantau perkembangan perusahaan keluarganya.
Walaupun suaminya mengajar di kampus milik keluarga Anggara, tapi Dimas selalu menyempatkan waktu membantu Tuan Anggara di perusahaan.
"Kayaknya ini cocok deh." gumam Andini di dalam hati saya mengambil rok span berwarna hitam dan kemeja berwarna putih.
Setelah itu, ia segera memakainya dengan senyum yang merekah.
Akhirnya ia bisa memakai pakaian kantor dan akan segera bekerja di perusahaan yang cukup terkenal.
"Cantik juga aku pakai baju kayak gini." gumamnya kembali Seraya memperhatikan pantulan dirinya dari cermin besar di kamar itu.
Andini membolak-balikkan tubuhnya sesekali mengibaskan rambut dan bergaya bak seorang model.
"Kamu lagi ngapain? suara bariton itu langsung menghentikan aksinya yang sedang menyunggingkan bokong dengan tangan yang menahan, seolah model yang sedang melakukan pemotretan.
Dimas baru saja masuk dan dikejutkan dengan tingkah istrinya.
Andini membalikkan badannya dengan perlahan memudar, ia sudah melihat raut wajah datar suaminya dari pantulan cermin.
"Mas,"cicitnya dengan wajah menunduk, tapi bibirnya masih mengembangkan senyuman.
Ia melirik wajah suaminya sebentar, terlihat pria itu sedang memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah.
Andini yakin suaminya itu akan memuji penampilannya yang sangat memukau.
Rok span sebatas lutut dengan belahan pada bagian belakangnya serta kemeja ketat berwarna putih, membuat gunung kembar miliknya terlihat menyembul sempurna.
"Kamu ngapain pakai baju kayak gini? tanya Dimas dengan nada datar.
"Aku mau magang Mas, gimana menurut kamu penampilanku? tanya Andini dengan mata berbinar, ia sudah tak sabar menunggu pujian dari suaminya.
"Kamu tahu penampilanmu kayak apa?
Andini menggelengkan kepalanya.
"Ganti! ngapain magang pakai baju kayak gitu? yang ada tuh nanti Mata buaya pada ngikutin kamu."
"lepas dong mata buayanya."
"Iya nanti lama-lama kamu dicaplok juga. cepat ganti pakai celana aja, nggak usah pakai rok! titah Dimas dengan tegas.
"Kamu tuh ada-ada aja deh Mas, aku kan sudah rapi begini." protes Andini dengan kesal.
"Rapi apanya? yang namanya rapi itu lutut tertutup dada tertutup."Dimas menyentil gunung kembar milik istrinya.
__ADS_1
"Mas..., Ini juga udah ketutup."Andini menutup belahan dadanya dengan tangan.
"Ganti, atau Mas tidak akan mengizinkan kamu magang! roknya juga ganti pakai celana aja."
"Aku nggak punya celana formal, adanya celana jeans yang bagian lututnya bolong-bolong.
"Kalau begitu kamu pakai celana aku aja."
"Apa? Mas ada-ada aja deh. Andini membulatkan matanya.
Nggak kebayang Bagaimana wujud dirinya jika memakai celana Dimas yang tentunya lebih panjang dan besar untuk tubuhnya yang pendek dan ramping.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang nanti di jalan kita beli baju dulu untuk kamu.
"Mas, mau antar aku?"
"Iya Memangnya kamu mau berangkat sendirian?
"Maksud aku kan letak kantor sama kampus berlawanan arah, Nanti Mas malah telat datang ke kampus. Tadinya aku mau bareng Kak Herlan aja, karena kantornya searah. Nanti kan dia pasti lewat sini.
"Ya sudah, kita berangkat duluan dan beli baju buat setelan kamu itu, nanti di jalan baru kamu pindah ke mobilnya Kak Herlan.
"Nggak ribet Mas, Kenapa nggak langsung dari sini aja aku ikut kak Herlan? nego Andini.
"Tidak bisa! aku harus memastikan dulu kalau kamu sudah membuang baju dosa ini." Dimas menarik ujung kemeja istrinya.
"Baju dosa?" ngeri banget. Andini menggerakkan kedua bahunya.
"Iya baju dosa! lutut kelihatan, dada kelihatan, kalau sampai aku lihat kamu pakai baju kayak gini lagi, aku suruh kamu pakai kerudung dan gamis kau sekalian."
"Makanya nurut!
"Iya iya suamiku, yuk kita berangkat. Andini menggandeng tangan suaminya keluar dari kamar.
****
Sesuai yang direncanakan Setelah membeli baju baru dan memakainya, Andini pindah ke mobil Herlan yang sebelumnya sudah diberitahu. Dimas berangkat ke kampus sedangkan Andini berangkat ke kantor bersama sang kakak.
Ia magang di sana bersama Mariska Robert dan juga Rian.
Sementara Ricky dan Bima magang di tempat lain.
Ketiga sahabat Andini juga tidak mengetahui kalau kantor tempat mereka magang kali ini ternyata kantor milik Tuan Anggara mertua dari Andini sendiri.
Mobil yang mereka tumpangi telah tiba di sebuah kantor dengan gedung pencakar langit yang terlihat mewah.
"Kak ini benar kantornya?" tanya Andini pada Herlan setelah mereka turun dari mobil.
Wanita itu memandang ke arah kantor yang akan menjadi tempatnya magang.
"Iya kamu hati-hati. Jangan ceroboh nanti pas kerja."
"Siap Kak. Adikmu sekarang sudah siap bekerja. Andini memasang wajah full senyum.
__ADS_1
"Hai.... bang Herlan" sapa seorang gadis dengan langkah yang semakin mendekat.
Rian berjalan dengan anggun ke arah Andini dan Herlan.
Penampilan wanita itu terlihat pangling dengan balutan rok span sebatas lutut, serta kemeja putih yang membalut sempurna tubuhnya.
Hai Rianti balas Herlan dengan nada datar.
"What? Rianti sok manis banget." celetuk Andini dengan mata memicing.
"Namanya kan Rianti? ya udah dipanggil Rianti aja, Memangnya kenapa? Herlan bertanya.
"Nggak apa-apa bang, dipanggil apapun aku terima apalagi kalau dipanggil sayang." Rian tersenyum getir.
Sedangkan Herlan hanya membalas dengan senyum tipis.
Pria itu terlihat sok cool di depan wanita lain.
berbeda ketika berada di rumah bersama dengan sang adik, Herlan akan berubah menjadi laki-laki yang kocak dan dipenuhi canda tawa.
Andini memutar bola matanya ketika mendengar ucapan Rian
"Ya udah kita masuk sekarang yuk, ajak Herlan Seraya melangkah terlebih dahulu.
Rian segera mengejar langkah yang sejajarkan diri. Sementara Andini berjalan di belakang dengan santai.
"Din, tunggu! terik seorang wanita yang suaranya sudah Tak asing lagi di telinga Andini.
"Robert, Mariska. kalian telat! Andini menghentikan langkahnya.
"Telat apaan, jam kantor pun belum mulai sangkal Robert sambil menunjuk jam tangan yang dikenakannya.
"Wih, kamu kelihatan Tampan banget Robert pakai baju kantor kayak gini." Andini memperhatikan penampilan Robert yang mengenakan kemeja putih serta celana bahan berwarna hitam.
Membuat pria yang selalu mengenakan celana jeans itu terlihat berbeda.
"Siapa dulu dong, suaminya Mariska." Robert merangkul bahu istrinya dengan mesra.
"Iya sih, yang sudah punya istri pasti sebentar lagi kalian berkembang biak." Andini terkekeh lalu kembali melanjutkan langkahnya menyusul Herlan dan juga Rian yang sudah melangkah jauh.
"Kamu pikir kita binatang apa, berkembang biak? gerutu Mariska tak dihiraukan oleh sahabatnya.
"Robert, nggak boleh kayak gini di kantor." Mariska melepas tangan Robert yang bergelayutan manja pada bahunya.
"Iya yah, nanti di kamar aja ya." bisik Robert sambil terkekeh yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang istri.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK
__ADS_1
"Aku Ibu Mu, Nak"