
Dimas dan Andini berpisah setelah memasuki area kampus.
Dimas pergi ke ruangannya dan Andini menghampiri teman-temannya yang sedang berkerumunan di depan kelas.
"Si Bima dan si Bagas kenapa ya? kok tiba-tiba mereka dipanggil ke ruangan dekan sama orang tuanya juga?"tanya Mariska dengan mata yang menelisik wajah sahabatnya satu persatu.
"Mungkin mereka mau dinikahkan,"celetuk Rian bercanda.
"Sembarangan aja kalau ngomong! Memangnya mereka homo? masa terong makan terong, kamu ngatain Bima dan Bagas dikawinin."ucap Robert dengan nyolot.
"Biasa aja dong ngomongnya, nggak usah gitu amat kali."ucap Rian menatap sinis ke arah temannya.
"Bima sama Bagas itu kemarin berantem," jelas Ricky yang baru tiba di sana. membuat semua mata tertuju ke arah wajahnya.
"Hai,guys!"sapa Andini dengan ceria.
"Nah, ini nih dalangnya."Ricky menunjuk ke arah Andini.
"Apaan sih, ngatain aku dalang Memangnya Apa salahku kepadamu Ricky?" orang baru datang juga. Wanita itu menepis tangan Ricky dengan kasar.
"Kemarin Bima dan Bagas berantem gara-gara kamu, kan? karena mereka memperebutkan mengantar kamu."tuduh Ricky yang kebetulan melihat kejadian itu dari kejauhan.
"Enak aja. Mereka berantem bukan karena aku,"sangkal Andini.
"Sudah, kita tunggu kabar baiknya aja, semoga Bima nggak diskors."Mariska menengahi, sebelum sahabatnya itu saling melempar bola api.
*****
"Malam ini kita pulang ke rumah Papa dulu, tidak apa-apa kan?"tanya Dimas saat mereka kembali ke rumah sakit.
"Nggak apa-apa, Mas. Lagian kasihan Papa baru pulang dari rumah sakit, masa langsung kita tinggal,"balas Andini, langkah keduanya semakin mendekat ke arah pintu kamar pasien yang ditempati Tuan Anggara.
Tiba-tiba Dimas menghentikan langkahnya dan membuat Andini yang berjalan di sampingnya ikut berhenti.
"Kenapa Mas?"tanya wanita itu Seraya menengadahkan wajahnya, menatap ke arah suaminya.
"Sekarang kamu baik dan nurut sama saya, kamu harus diberi hadiah."
"Hadiah?"
Dimas mengantarkan pandangannya ke sekeliling, Rumah Sakit Itu tampak sepi, hanya ada beberapa perawat yang lewat.
Andini ikut mengendarkan pandangannya, mencari apa yang dilihat suaminya.
Namun, saat ia akan kembali mengalihkan pandangannya ke arah Dimas, sesuatu yang tak pernah terduga terjadi.
cup!
Sebuah kecupan lembut mendarat dengan sempurna pada wajah cantik dan dini yang langsung berubah menjadi merona.
Wanita itu memegang wajahnya bekas kecupan dari suaminya.
"Jangan dihapus."Dimas memegang tangan istrinya.
"Mas, kok cium di sini sih. kan malu kalau dilihat orang."ucap Andini kepada suaminya.
"Memangnya kamu malu saya cium?"Dimas mengangkat alisnya sebelah.
__ADS_1
"Bukan gitu, maksud aku malu lah ciuman di depan umum."
"Ya udah. Nanti di dalam kamar aja sekalian..."
"Huh.... mulai lagi deh!"Andini mencubit pinggang suaminya.
"Aku gemes sama kamu."Dimas merangkul baru Andini dan mengecup singkat kepala wanita itu.
"Sudah, ah. Ayo masuk, kasihan Papa sudah menunggu.
Kemudian keduanya melanjutkan langkah dan masuk ke dalam ruang rawat inap Tuan Anggara.
"Assalamualaikum,"ucap Dimas dan Andini secara bersamaan, lalu keduanya mencium punggung tangan Tuan Anggara yang sedang duduk di atas branker
"Papa sudah siap pulang?"tanya Dimas.
"Sudah siap banget. Papa bosan lama-lama di rumah sakit ini. Rasanya Papa dari kemarin sudah mau pulang saja.
"Ya sudah, kita pulang sekarang.
Dimas mengulurkan tangannya, membantu sang ayah turun dari bunker dan menuju mobil, sementara Andini membawa tas yang berisi barang-barang keperluan mertuanya.
"Erin ke mana, Pak?"kok dia nggak ada di sini?"tanya Dimas saat mereka berjalan menuju mobil.
"Erin tadi siang pergi bersama Alena, tapi hingga sekarang belum balik ke sini. Mungkin langsung pulang ke rumah."
Dimas menggelengkan kepalanya.
"Kenapa sih, Erin pergi sama Alena terus? wajah Dimas berubah menjadi kesal.
"Entahlah, padahal Papa sudah melarangnya, tapi adik kamu itu memang bebal."
Kemudian Andini menutup kembali pintu mobil setelah mertuanya duduk dengan nyaman.
Namun, sebuah tangan kekar memegang jemarinya.
"Ayo masuk Sayang!"Dimas membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Terima kasih,"wanita itu tersenyum getir.
Dimas mengajak rambut istrinya sebentar dan ikut masuk ke dalam mobil.
Kemudian ia langsung menjalankan roda empatnya meninggalkan rumah sakit.
Jarak dari rumah sakit, ke rumah utama Tuan Anggara tidak terlalu jauh sehingga mereka tidak membutuhkan waktu lama di jalan.
Namun, sepanjang perjalanan Tuan Anggara terus membicarakan soal sepuluh cucu yang ia inginkan.
Pria paruh baya itu bak orang ngidam yang menginginkan mangga muda. Andini meremas jemarinya, sepuluh anak berarti ia harus melahirkan sepuluh kali.
Rasanya ia ingin pingsan jika membayangkan itu, melahirkan satu anak saja ia sudah tak bisa membayangkan betapa sakitnya. Apalagi ia sering melihat di sosial media bagaimana, proses wanita melahirkan seorang bayi.
Andini membulatkan matanya, melahirkan satu tahun sekali sudah seperti hewan ternak.
"Pa, jangan gitu dong. Kasihan Andini nanti dia malah ketakutan."Dimas menggenggam jemari istrinya yang terasa dingin.
"Ya ampun. Maafkan papa, Kenapa Papa terlalu nafsu untuk memiliki cucu. Ya sudah Papa minta seberapa dikasihnya aja deh. yang penting sebelum Papa tutup usia tangan Papa ini sudah menimang anak kalian.
__ADS_1
"Iya, Pa. kami akan terus berusaha memprosesnya."Dimas menggenggam jemari istrinya dengan erat.
Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi memasuki gerbang sebuah rumah mewah yang berukuran sangat luas.
Seorang wanita dan seorang pria datang tergesa-gesa menghampiri mobil Dimas dan membantu sang Tuan turun dari mobil.
"Bi, langsung antar Papa ke kamar aja ya!"titah Dimas kepada salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah utama keluarga Anggara.
Asisten rumah tangga dan sopir yang bekerja di rumah itu, segera menjaga Tuan Anggara masuk ke dalam kamarnya.
"Yuk kita masuk!"Dimas menggandeng tangan Andini dan masuk ke dalam rumah yang sudah lama tidak ia kunjungi.
Namun, sebuah mobil berwarna metalik mengalihkan pandangannya, iya tahu mobil itu milik seseorang, Kenapa ia ada disana?"
"Kenapa, Mas?
"Tidak apa-apa, kita masuk aja."mereka kembali melangkah, Andini cukup kagum dengan rumah mewah dengan desain klasik itu. Pasalnya Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di rumah sang mertua.
"Dimas, kamu baru pulang."seorang wanita berjalan dengan anggun ke arah Dimas.
Andini memperhatikan wanita itu dari atas sampai ke bawah. Penampilan yang sempurna, wajahnya cantik, serta tubuh yang ideal sangat cocok dengan Dimas
Berbeda dengan dirinya yang memiliki tubuh tidak terlalu tinggi dan bentuk badan yang ramping.
Andini cukup mengagumi wujud wanita itu, tapi hatinya memanas, takut jika di masterpincut kembali oleh mantan kekasihnya.
"Dimas, Kamu pasti capek. Biar aku buatkan kopi untukmu."ucapnya tanpa sungkan.
"Kenapa kamu malah ada di sini?"tanya Dimas dengan tatapan tidak suka.
"Kenapa? bukankah dulu kita sering menghabiskan waktu berdua di sini. Makan bersama, duduk bersama, dan jangan lupa kita juga pernah....."
"Alena, cukup!"Dimas segera menarik tangan Andini dan membawa istrinya masuk ke dalam kamar, meninggalkan Alena yang sedang mencebik kesal.
"Kalian pernah apa, Mas? kok kamu langsung memotong ucapan Alena?"tanya Andini dengan penasaran, hatinya sudah memanas ketika mendengar ucapan wanita itu.
"Bukan apa-apa. Jangan dengarkan apa yang dikatakan Alena. Itu semua tidak benar."Dimas menutup kembali pintu kamarnya dengan rapat.
"Masa? Sepertinya kalian pernah ada sesuatu."Andini menatap suaminya dengan penuh selidik.
"Sudahlah, kamu juga kan punya mantan pacar. mereka tidak boleh diingat dan dikenang, yang jelas kita sudah menikah dan itu adalah sebaik-baik ikatan."Dimas menyelipkan anak rambut Andini pada telinganya.
"Tapi mantan kamu datang terus untuk menemuimu Mas."wanita itu memasang wajah cemberut.
"Tidak merasa, kamu juga setiap hari bertemu mantan."
"Mas, ih. Ini beda konsepnya."
"Sudah, Saya tahu kamu cemburu. Tenang saja Saya ini orang yang setia, kecuali kalau saya dikhianati Jangan harap bisa kembali lagi."
Andini menatap wajah suaminya dekat-dekat, Kenapa kata-kata itu terdengar menyeramkan.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN