Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 177. RAJA KEJAM


__ADS_3

"Ma, Robert minta maaf karena Robert tidak bisa menjaga Mariska dengan baik. Tapi Robert janji, setelah ini Robert tidak akan membiarkan Mariska terluka lagi." ucap Robert dengan wajah penuh penyesalan.


"Halahhh!! paling setelah ini kamu suruh Mariska buat bekerja lagi di cafe kamu itu. sudah tahu istri lagi hamil. Tapi masih aja disuruh bekerja. Apa coba, gunanya Kamu? jangan punya istri kalau nggak bisa tanggung jawab. Asal kamu tahu, Mariska ini anak satu-satunya kami. Jangankan bekerja seperti itu, mencuci piring pun kami tidak pernah menyuruhnya." oceh Mamanya Mariska kembali membuat hati Robert memanas.


Pria itu sekuat tenaga menahan amarah.


"Ma cukup."Papanya Mariska mendekat dan berusaha menghentikan ocehan istrinya.


"Papa, diam dulu! Mama harus bicara. Kalau tidak, dia akan terus-terusan memperlakukan putri kita seperti itu. Pokoknya setelah pulang dari rumah sakit, kamu ikut Mama. Jangan pulang ke rumah suamimu lagi." tegas Mamanya Mariska yang membuat mata Mariska dan Robert langsung tertuju ke arahnya.


"Lah, kok gitu Ma? nggak bisa dong! Mariska harus tetap ikut sama Robert." protes Mariska.


"Tidak bisa! kalau dia peduli sama kamu, seharusnya dia yang ikut sama kamu. Mama tidak melarang dia untuk ikut ke rumah kita." cerocos Mamanya Mariska kembali yang membuat darah Robert semakin mendidih.


"Tapi Ma!"


"Tidak ada tapi-tapian. Mama peduli sama kamu. Mama peduli sama calon cucu Mama. oleh karena itu, Mama pengen kamu benar-benar terjaga.


"Tapi aku mau tetap bersama Robert Ma." sangkal Mariska kembali.


"Kamu harus tinggal di rumah Mama sama Papa. Sampai kamu melahirkan. Kalau dia suami yang baik, seharusnya dia mengikuti kemanapun kamu pergi." tegas Mamanya Mariska sambil menunjuk ke arah Robert yang matanya merah dengan dada yang terlihat naik turun dengan cepat.


"Robert, kamu mau ikut sama aku kan, ke rumah Mama? kita tinggal di sana untuk sementara waktu." ucap Mariska dengan wajah penuh harap.


"Sayang, aku harus memastikan dulu keadaan Mama. Aku tidak mungkin meninggalkan Mama begitu saja." tutur Robert dengan tangan yang tak lepas menggenggam jemari istrinya.


Mariska kembali meneteskan air mata ketika mendengar ucapan suaminya.


Sementara di tempat lain, Andini dan Dimas sudah bersiap. Hari ini mereka berkunjung ke hotel, milik Dimas yang akan dikelola langsung olehnya sendiri.


"Erin! Erin!" panggil Dimas dengan suara sangat keras, yang membuat adiknya langsung membuka pintu kamar dengan wajah kesal.


"Kenapa kakak teriak-teriak?" tanya Erin yang berdiri di ambang pintu dengan rambut berantakan.


Wanita itu masih mengenakan kimono sepertinya Ia baru bangun tidur.


"Anak perempuan jam segini baru bangun. kamu pasti semalam begadang ya!"tuduh Dimas dengan wajah yang terlihat menyeramkan.


Andini yang melihat raut wajah dan nada suara tinggi suaminya segera mendekat dan menggandeng tangan kekar pria itu.


Andini tahu emosi suaminya akan mudah meningkat jika berhadapan dengan Erin.


"Memangnya kenapa? bangun pagi-pagi pun aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku dikurung di istana mewah oleh raja kejam." cerocos Erin dengan bola mata yang berputar malas.


"Maksud kamu apa? Siapa raja kejam?" sergah Dimas dengan tetapan yang semakin menajam.


"Siapa lagi kalau bukan kakanda Dimas Anggara!" jawab Erin yang membuat Andini terkekeh pelan.


"Kurang ajar ya, mulut kamu! mending sekarang kamu mandi dan bersiap ikut Kakak." titah Dimas dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Ikut kemana?" Aku sedang malas keluar.


"Ikut ke Hotel dan restoran yang sudah terbengkalai akibat ulah mu


"Ngapain? Aku mau jaga Papa aja di sini." balas Erin sambil bersedekap dada.


"Nggak! kamu harus ikut. Kalau Kakak tinggal, nanti kamu kabur atau nyuruh pacar kamu itu datang ke sini."ucap Dimas membuat adiknya semakin kesal.


"CK... sok tahu banget. Aku nggak mau ikut, aku mau di rumah aja.


"Okey, kalau kamu nggak mau ikut, Kakak kurung kamu di dalam rumah sampai kakak pulang."


"CK.. nyebelin banget sih. Bisa-bisanya Kak Andini mau sama cowok kayak gitu. Kalau aku punya suami kayak kak Dimas, udah aku lempar ke kutub utara!" cerocos Erin yang membuat kakaknya semakin kesal.


"Jangan banyak bicara lagi. Cepat, siap-siap. kakak tunggu di sini." tegas Dimas yang membuat adiknya menghentakkan kaki dan kembali masuk ke dalam kamar.


"Mas, kamu kok keras banget sama Erin?". Andini menatap wajah suaminya yang masih terlihat sangar.


"Dia memang harus disikapi seperti itu. selama ini aku selalu berusaha bersikap baik dan lembut padanya. Tetapi dia malah menjadi pembangkang."


"Semoga setelah ini Erin menjadi lebih baik ya Mas."


"Mudah-mudahan, aku juga tidak mau Erin berhubungan kembali dengan mantan kamu itu." tutur Dimas dengan wajah yang masih terlihat kesal.


"Mantan aku? maksudnya Bima?"


"Siapa lagi, kalau bukan dia. Kenapa dia selalu berhubungan dengan wanita yang sangat aku sayangi." balas Dimas dengan geram.


"Terserah kamu. Tapi aku tetap tidak akan setuju Kalau Erin berhubungan lagi sama dia." tutur Dimas kembali dengan sorot mata menajam.


Andini lebih memilih diam daripada masalah itu semakin panjang.


"Erin, cepetan!' teriak Dimas Setelah menunggu beberapa lama. Tetapi adiknya belum keluar juga.


"Kenapa dia lama sekali? jangan-jangan tuh anak tidur lagi."ucap Dimas dengan mata tetap tertuju ke kamar sang adik yang masih tertutup rapat.


"Mas, Mungkin Erin masih dandan."


"Kenapa wanita itu kalau dandan lama sekali." Dimas mengalihkan pandangannya ke arah sang istri.


"Karena Wanita itu banyak yang dipakai Mas."


"Kenapa tidak memilih yang simpel aja, padahal sudah cantik."


"Wanita selalu ingin terlihat lebih Mas. walaupun sudah dibilang cantik, tapi ia ingin lebih dari itu."


"Itu namanya tidak bersyukur."


"Terserah kamu Mas. Dari tadi sensi Terus." ucap Andini dengan nada kesal.

__ADS_1


Seketika Dimas langsung menatap ke arah istrinya yang sedang mengerucutkan bibir.


"Kamu kesal? maaf ya. Ini gara-gara Erin, aku jadinya pengen marah-marah terus." Dimas meraih tangan Andini yang sedang bersedekap dada.


"Iya, kamu tuh kayak wanita lagi menstruasi bawaannya sensi terus."


"Ya udah, maaf."


Cup!


Dimas melabuhkan sebuah kecubung lembut pada kening istrinya.


"Idih, nyebelin banget. Sok manis banget cium-cium segala." gerutu Erin yang baru keluar dari kamarnya.


Wanita yang mengenakan dress berwarna merah maroon itu menatap sinis ke arah kakaknya.


"Kamu lama banget! Ayo kita berangkat sekarang." ajak Dimas sambil menggandeng tangan Andini dan berjalan terlebih dahulu


Erin mengikuti langkah kakaknya dengan terpaksa.


Wanita itu mah masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang. Sementara Andini dan Dimas duduk di kursi bagian depan.


"Kita mau ngapain ke hotel?" tanya Erin saat mobil itu mulai berjalan meninggalkan rumah mereka.


"Kita mau memantau aja. Seharusnya kamu juga belajar bekerja mengelola Hotel Dan resto. Jika tidak bisa menjadi pemimpin, setidaknya kamu bisa mengawasi para karyawan atau kamu jadi pelayan aja sekalian, Biar sedikit berguna." balas Dimas yang mulai fokus menyetir.


"Oh, jadi maksud kakak? aku ini manusia tidak berguna gitu?"


"Itu kamu sadar. Memangnya Apa gunanya kamu coba? percuma Papa menguliahkan kamu sampai ke luar negeri kalau ilmu yang kamu dapatkan tidak dipakai."


"CK... lihat aja. Aku akan jadi orang sukses. aku akan membeli mulut pedas Kakak itu." ucap Erin yang membuat Dimas dan Andini malah terkekeh.


Andini mengambil ponselnya yang berbunyi menandakan pada pesan masuk.


Wanita itu langsung membuka pesan yang masuk kepada ponselnya


"Mas, Mariska masuk rumah sakit." ucapnya dengan wajah terkejut setelah membaca pesan yang dikirimkan di grup persahabatan mereka. Di sana Robert meminta doa kepada teman-temannya untuk kesembuhan sang istri.


"Yang benar? sakit apa?" tanya Dimas yang melirik ke sekilas sekarang Andini.


"Katanya pendarahan tadi pagi Mas. Kita ke sana dulu yuk, jenguk si Mariska. Aku khawatir takut dia kenapa-kenapa. Apalagi Mariska kan lagi hamil." rengek Andini dengan wajah tegang.


"Ya udah, sebelum ke resto kita jenguk Mariska dulu."


"Ck....bakalan lama dong." gerutu Erin.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS


__ADS_2