Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 249. PERHATIAN


__ADS_3

Orang-orang yang mendekat, segera membantu pria itu untuk berdiri.


Sementara Ricky langsung menarik tangan Nisa dan masuk ke dalam mobil.


"Kamu nggak apa-apa? tanya bisa setelah keduanya berada di dalam mobil dan Ricky mulai menjalankan kembali mobilnya. Meninggalkan mantannya ini Sayang sedang dikerumuni banyak orang.


"Nggak apa-apa. Kalau cuma melawan mantan kamu doang mah kecil, kemarin aku kalah karena melawan empat orang. ilmu beladiri aku belum matang untuk melawan lebih dari dua orang."tutur Ricky dengan bangga.


"Kalau gitu, ilmunya direbus dulu biar matang."timpal Nisa yang membuat Ricky langsung menoleh ke arahnya. Tetapi wanita itu malah memecahkan tawanya.


***


 "Mas, Kamu nggak ke ke kantor?"tanya Andini saat melihat suaminya masih duduk di atas ranjang sambil membuka laptop, entah apa yang dilakukan Dimas pada benda canggih itu.


"Enggak, Hari ini jadwal kamu kontrol ke dokter."tutur Dimas yang membuat mata istrinya hampir membulat.


"Masa? kok aku bisa lupa sih?"Andini menepuk jidatnya sendiri.


"Kan, untung aku jadi suami siaga. Sudah , sekarang kamu siap-siap kita berangkat ke rumah sakit!"ajak Dimas dengan mata tertuju ke arah sang istri masih mengenakan daster.


"Tapi, Apa kamu nggak akan ke kantor, Mas? bukankah hari ini ada jadwal meeting?"


"Tidak, aku sudah meminta Alvin menggantikan aku meeting dengan klien. Alvin pasti mampu melakukannya. Lagian selama ini kalau tidak ada aku Alvin yang selalu menggantikan tugasku. Aku mau mengantar dan menemani kamu ke rumah sakit."tutur Dimas kembali Ia membuat hati Andini semakin melunak.


Betapa beruntungnya Dia memiliki suami perhatian dan penyayang seperti itu.


Sikap Dimas sangat jauh berbeda dengan parasnya. Pria itu terlihat sangar dengan wajah dan nada bicara yang terkesan dingin. namun, di balik itu semua Dimas adalah seseorang yang hangat.


"Terima kasih ya Mas kamu sudah ingatin aku dan kamu juga bela-belain nggak masuk ke kantor, demi nganterin aku kontrol ke dokter."ucap Andini dengan haru.


"Tidak perlu berterima kasih, karena ini adalah kewajiban Mas sebagai seorang suami."Dimas menatap wajah istrinya dengan lembut.


"Uluh... aku terharu, Mas."Andini mengusap sudut matanya yang kering.

__ADS_1


"Jangan lebai gitu. mau ganti baju atau gitu aja? kita berangkat sekarang. Mas sudah Buat janji sama dokter Dirga untuk kontrol kamu hari ini."


"Tunggu! aku ganti baju dulu. suami tampan dan rapi gitu, masa istrinya kucel, pakai daster lagi."secepat kilat Andini mengambil baju dan berganti pakaian di depan suaminya.


di Master senyum ketika melihat Andini telanjang bulat, perut wanita itu semakin membesar terlihat menyembul dan membuat Dimas seakan ingin tertawa.


"Mas, kamu mentertawakan aku?"tuduh Andini ketika melihat bibir suaminya bergerak seperti menahan tawa.


"Enggak, Siapa yang menertawakan kamu?"Dimas segera mengatupkan kembali bibirnya.


"Itu tadi, ngeliatin aku gitu banget, terus bibirnya gerak-gerak kayak orang yang lagi nahan tawa."Cerocos Andini sambil memakai bajunya dengan cepat.


"Enggak, orang biasa aja,"elak Dimas kembali.


"Iya itu, dalam hatinya pasti menertawakan aku kan? ngomong aja, kalau body aku ini jelek, perut aku buncit.,"Andini mengerucutkan bibirnya.


"Siapa bilang? orang bohay begitu."Dimas terkekeh


"Bohong untuk kebaikan itu tidak apa-apa kali."pria itu kembali terkekeh bahkan tertawa kecil ketika melihat wajah istrinya semakin kesal.


"Sudah, Jangan ngambek, Sekarang kita berangkat. Sudah rapi dan cantik kan."Dimas menutup laptopnya dan turun dari atas ranjang.


"Oh iya. besok kan hari Minggu aku nggak akan ke kantor. kita pulang dulu aja yuk! rasanya agak gimana gitu kalau rumah ditinggal terlalu lama."sambung Dimas


"Oke, kalau gitu aku bawa barang-barang yang dibutuhkan aja."di Andini membereskan barang-barang penting miliknya ke dalam tasnya


Setelah itu mereka berpamitan kepada Nyonya Laras dan keluar dari rumah.


Dimas membawa mobilnya dengan santai hingga tiba di rumah sakit.


Sebelumnya, Dimas sudah membuat jadwal dengan dokter Dirga, karena itu saat mereka tiba di rumah sakit, dokter Dirga langsung mengajak Andini dan Dimas ke ruang USG.


Andini merebahkan tubuhnya di atas branker, sementara dokter Dirga mulai memeriksa keadaan wanita itu terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan USG.

__ADS_1


Dimas senantiasa menemani sang istri, setiap proses perumusan ia perhatikan secara detail.


"Usia kandungannya sudah hampir 8 bulan 1 minggu. bisa kita lihat perkembangan janinnya,"ucap dokter Dirga Seraya menempelkan alat transduser pada perut Andini.


Dimas mengerahkan pandangannya pada komputer yang memunculkan gambar 3 orang baik kembar yang belum terlihat jelas.


"Ini bagian tangan, Ini kaki, dan jenis kelaminnya sudah terlihat."tutur dokter Dirga ke arah layar komputer.


"Andini masih saja tidak ingin melihat layar komputer itu, dia hanya ingin mengetahui jenis kelamin bayinya saat bayinya telah lahir. sementara Dimas tidak mempermasalahkan jenis kelamin apa, yang penting ketika anaknya sehat.


Andini juga tidak mengetahui kalau anaknya kembar tiga, yang mengetahui semuanya adalah dokter Dirga dan juga Dimas. itulah makanya besar perut Andini jauh lebih besar dibandingkan perut Mariska yang sama-sama hamil. Padahal Mariska lebih duluan hamil dibandingkan dirinya.


Mariska sudah tinggal menunggu hari, sehingga Mariska pun sudah bersiap-siap ini segera melakukan persalinan. Karena usia kandungan Mariska sudah genap 9 bulan.


"Oke sejauh ini kandungan Andini baik-baik saja. Andini, harap melakukan pola hidup sehat, olahraga ringan, dan jangan stress."tutur dokter Dirga setelah melakukan proses pemeriksaan itu.


Andini terdiam seketika dengan mata yang berkaca-kaca, hatinya bakteri saya ketika mendengar penuturan dokter itu.


Begitupun dengan Dimas yang merasa terpukul, pria itu memijat kelilingnya sendiri.


Andini merasa bersalah, karena selama ini dirinya tidak memperhatikan pola makannya. dia memakan apa saja yang ia inginkan, termasuk itu mie instan, makanan yang memiliki resep micin yang lumayan banyak termasuk itu ciki-ciki. Dia doyan memakannya. Padahal itu tidak bagus untuk kesehatannya di saat kondisi hamil.


Jangankan untuk ibu hamil, mengkonsumsi makanan yang mengandung penyedap itu tidak bagus untuk kesehatan, apalagi mengkonsumsinya terlalu banyak.


Andini dan Dimas berlalu dari rumah sakit, setelah selesai memaksakan kandungan Andini. Tampak di tangan Dimas ada kantong plastik kecil, berisikan vitamin untuk Andini yang diberikan oleh dokter Dirga.


Berharap Andini mengkonsumsinya dengan rutin, agar kondisi kesehatan bayi kembar Andini sehat dan asupan gizinya tercukupi. Dokter Dirga khawatir. Apalagi kembar tiga itu sangatlah langka. Jika ada bayi kembar, paling juga hanya kembar dua. Sehingga dokter Dirga, meminta kepada Dimas selaku sahabatnya Untuk tetap menjaga pola makan Andini.


Bersambung....


sambil menunggu karya ini update, yuk mampir ke karya baru emak. ceritanya nggak kalah seru. "Divorce on the wedding day."


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2