Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 100. KECEWA


__ADS_3

"Gush, aku ke UKK dulu mau ngambil obat. kepalaku sedikit pusing. Andini bangkit dari duduknya masih dengan wajah syok.


" Din, mau diantar nggak?Tawar Rian.


" Nggak usah, bentar lagi ada dosen masuk. Nanti, tolong bilang aja aku pergi ke UKK bentar." Tanpa menunggu persetujuan dari temannya, Andini setengah berlari keluar dari kelas dan menuju UKK.


Entah kenapa, kepala Andini tiba-tiba pusing setelah melihat foto tadi. Dia penasaran siapa wanita itu yang berlumuran darah meminta tolong kepada Dimas.


Namun, pikirannya terus menerka-nerka wanita itu yang mirip sekali dengan mantan kekasih Dimas bernama Alena. Apalagi Andini tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, karena wajah wanita itu dipenuhi dengan lumuran darah, juga rambutnya menutupi wajahnya penampilannya benar benar begitu memprihatinkan.


Andini segera meminta kepada petugas UKK memberikan obat pusing kepadanya setelah dirinya keluar dari kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya karna Andini muntah muntah. Kemudian ia langsung keluar.


****


"Ehem... Pak Dimas, Selamat ya sebentar lagi akan menjadi seorang ayah." ucap petugas UKK itu tiba-tiba. Saat berpapasan dengan Dimas.


" Jadi seorang ayah? maksud ibu apa, ya? tanya Dimas dengan heran.


Kenapa tiba-tiba petugas UKK bertanya seperti itu.


Pak Dimas belum tahu? Wah, ini kayaknya akan jadi surprise. Tapi sayangnya keburu ketahuan sama saya." wanita itu terkekeh


" Maaf maksud ibu apa ya? saya kurang paham!" Dimas menautkan kedua alisnya dengan wajah menunduk, menatap ke arah wanita memiliki tinggi berbeda jauh dengan Dimas.


"Saya lagi tugas di UKK dan istri bapak sudah berada di sana."


"Maksud ibu Andini? tanya Dimas memastikan.


" Iya, katanya dia sedikit pusing dan dia juga muntah muntah dikamar mandi. Setelah meminta obat dari saya, dia langsung pergi keluar. Tapi saya menemukan ini di kamar mandi. Saya yakin ini adalah milik Andini." wanita itu menunjukkan sebuah tespek kehadapan Dimas.


Dimas membulatkan mata dengan mulut yang sedikit terbuka.


" Ibu yakin ini milik Andini?" tanya Dimas tak percaya.


" Yakinlah Pak, karena baru hanya Andini yang masuk ke UKK ini. Lagian mahasiswi yang sudah menikah di kampus ini tidak terlalu banyak. Jadi ini pasti milik istri bapak.!Selamat ya." petugas UKK menyerahkan tespek itu ke tangan Dimas dan berlalu meninggalkan dosen tampan yang masih kebingungan itu.


Namun, tak lama kemudian Dimas mengembangkan senyumnya Seraya menatap ke arah benda kecil yang terdapat di garis dua tersebut. Hati pria itu berdebar tak karuan, ia ingin segera bertemu dengan istrinya dan menanyakan hal itu.


Jika memang benar Andini hamil Kenapa harus menyembunyikan itu darinya.


" Ah mungkin Andini mau memberikan kejutan. " Dimas memasukkan tespek itu ke dalam sakunya dengan bibir tak pernah berhenti menyunggingkan senyuman.


Selama jam mata pelajaran berlangsung, Andini sama sekali tidak bisa fokus mengikuti materi kali ini.


Pikirannya tertuju kepada foto yang dikirim pada ponsel suaminya.


Pesan itu menyatakan minta tolong.


Ia ingin menyampaikan itu kepada Dimas, tapi takutnya suaminya dalam bahaya jika ikut campur dengan urusan orang lain. Namun, Ia juga tidak tahu persis siapa wanita itu.


Sampai jam pelajaran selesai dan waktunya pulang ,pikiran wanita itu masih belum bisa tenang. para mahasiswa mulai meninggalkan kampus. Begitupun dengan teman-temannya yang sudah naik ke atas motor masing-masing.


"Aku nebeng ya!"ucap Mariska Seraya naik ke atas motor sahabatnya Rian.

__ADS_1


" Kenapa kamu nebeng sama aku!?suami kamu mana? tanya Rian Seraya memakai helmnya.


" Hah suami? Suami apaan? " Mariska mengerutkan dahinya.


" Astaga Mariska! kamu habis kejedot apa sih?


"Istriku, Ayo kita pulang." teriak Robert Seraya mendekatkan motornya ke arah motor Rian.


"Waduh aku baru nyadar, ternyata aku udah nikah sama si kampret, " celetuk Mariska Seraya turun dari motor Rian.


"Masih muda sudah pikun." ledek Rian.


"Ah sudah, mending kami cabut aja, daripada habis diledekin kamu terus." ucap Mariska sambil langsung naik di jok belakang motor Robert. mereka meninggalkan Rian begitu saja.


****


Sementara itu, Andini langsung masuk ke dalam mobil Dimas, setelah suaminya tiba di parkiran.


Keduanya terdiam sejenak dengan berat wajah yang berbeda.


Dimas dengan wajah berbinarnya, sementara Andini duduk dengan wajah bingung bercampur khawatir. Dia khawatir akan keselamatan suaminya, juga khawatir akan keselamatan wanita yang meminta bantuan kepada suaminya.


"Aku mau bicara." ucap keduanya serentak.


Andini dan Dimas saling berpandangan. Bibir Dimas mengembangkan senyuman. Ia yakin istrinya akan membicarakan perihal tespek itu.


"Kamu dulu mau bicara apa? " titah Dimas Seraya menjalankan mobilnya. Ia tak sabar ingin mendengar pernyataan langsung dari istrinya.


"Emmmm....Mas dulu aja, deh." Andini meremas jemarinya dengan wajah tegang.


Bibir pria itu Mengembangkan senyuman.


Sementara mata Andini membulat ketika mendengar ucapan suaminya barusan. Jadi Dimas sudah mengetahui perihal foto itu?


"Mas, kamu Beneran sudah tahu? " tanya Andini sedikit ragu.


" Iya, tapi aku mau mendengarnya langsung dari kamu. Pria itu kembali tersenyum ke arah istrinya.


" Duh gimana ya? Andini menggaruk kepalanya.


" Sudah bilang aja nggak apa-apa."


" Mas, kalau kamu sudah tahu Aku cuman mau nanya sesuatu.


"Nanya apa? Dimas melirik Ke arahnistrinya dengan senyum yang masih mengembang.


" Emmm....mantan kamu yang bernama Alena itu sekarang di mana ya? tanya Andini dengan nada nada ragu.


"Alena? kok kamu tiba-tiba nanyain Alena? wajah Dimas terlihat heran.


"Nggak apa-apa, aku cuman pengen tahu aja.


" Alena sudah menikah sama Heri.

__ADS_1


"Sudah nikah? kapan Mas? mata Andini membulat


"Sekitar satu minggu yang lalu. Mereka menikah di Kanada di tempat tinggal orang tuanya Heri saat ini."


" Oh begitu. Andini hanya menganggukkan kepala dengan pikiran terus berputar.


"Kenapa sih? kamu takut Alena datang lagi ke kehidupan kita? tanya Dimas Raya mengangkat alisnya sebelah.


" Hehehe.....iya mas." wanita itu hanya nyengir kuda menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Kamu jangan khawatir, Alena sudah berada di tangan yang tepat."


Dimas mengusap kepala istrinya dengan lembut. Andini kembali mengangguk.


" Oh iya. Apa kamu kehilangan sesuatu? tanya Dimas kemudian


"Kehilangan apa Mas?


"Apa saja, semisalnya tespek." jawab Dimas dengan bibir yang terus mengembangkan senyum.


"Tespek?mata Andini kembali membulat.


Dimas menghentikan Mobilnya di pinggir jalan, dan mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.


"Ini punya kamu kan? Dimas menunjukkan sebuah tespek kehadapan istrinya.


Andi Ini menatap tespek itu dengan mata membulat. Lidahnya terasa kelu hanya untuk sekedar mengeluarkan sepatah kata.


" Ini dapat dari mana, Mas? "tanyanya setelah mengumpulkan kekuatan untuk bertanya walau bagaimanapun ini harus diluruskan.


" Ini punya kamu kan? tanya Dimas sekali lagi dengan mata yang menatap lebih dalam wajah istrinya.


" Bu....Bukan, aku tidak pernah menggunakan ini ." jawab Andini dengan suara tercekat. Ia tidak tega melihat reaksi suaminya setelah ini.


Senyum pada wajah itu perlahan memudar, tangannya yang memegang tespek terlihat bergetar.


"Jadi kamu tidak hamil? tanya Dimas dengan raut wajah kecewa.


Andini hanya menggelengkan kepala dengan wajah sendu.


"Sudahlah, mungkin aku yang terlalu berharap." Dimas menjatuhkan tespek itu tepat di atas paha Andini.


Lalu ia menjalankan kembali mobil dengan kecepatan tinggi.


" Mas aku minta maaf. " lirih Andini dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak usah minta maaf, ini bukan salah kamu. Aku hanya terlalu berlebihan dalam berharap." Dimas menatap jalanan.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK


__ADS_2