
"Iya sih, Aku maklum. Bapak kan, sudah tua,"timpal Andini dengan bibir melebar seolah meledek suaminya.
"Siapa bilang saya tua, Saya tidak tua-tua amat kok, tapi mapan! bedakan mapan sama yang tua ya. Aku rasa otakmu cerdas, jadi tahu pasti membedakannya.
"Sama sajalah! untung Bapak keburu nikah, jadi nggak jadi deh bujang lapuk. Atau istilah di Kami anak-anak muda zaman now, (panglatu) alias panglima lajang tua. "ejek Andini kembali sambil menjulurkan lidahnya.
"Sudah jangan bicara lagi atau saya ikat bibirmu itu, dari tadi kamu ngerocos aja!"seketika Andini langsung menyentuh bibirnya ketika mendengar ucapan sang suami.
Namun, ingatannya kembali kepada satu hal.
"Pak, jujur dulu bicara kepada Andini. Bapak nggak ngapa-ngapain saya, kan? tanya Andini yang lagi-lagi menghentikan langkah Dimas yang akan masuk ke dalam kamar mandi.
"Jangan di kampus saja otakmu yang cerdas, aku rasa kau juga tidak kalah cerdasnya di bagian biologis. Jadi lebih baik kamu periksa sendiri."ucap Dimas kepada Andini setelah itu Dimas masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu itu dengan rapat, agar istrinya tak lagi berbicara padanya.
Andini diam sambil termenung. Berusaha mencerna ucapan suaminya barusan yang menyuruh memeriksa.
Setelah perdebatan panjang lebar, akhirnya sepasang suami istri itu sudah berada di dalam mobil dan bersiap menuju kampus.
"Nanti, belajar masak ya!"titah Dimas seraya menjalankan mobilnya.
"Iya, Kenapa sih nyuruh belajar masak? sepertinya Andini tidak bodoh bodoh banget kok, walaupun Andini sukanya nongkrong dengan laki-laki. Bukan berarti Andini tidak mengetahui pekerjaan seorang perempuan di rumah. Jadi jangan menyepelekan saya seperti itu." ucap Andini sambil menatap lurus ke depan. Tak ada niat menoleh ke arah suaminya.
Sepanjang perjalanan mereka terus saja mengobrol sampai mobil yang mereka kendarai memasuki gerbang kampus.
Andini baru menyadari itu ketika Dimas mengarahkan mobilnya ke parkiran.
"Astaga!"Bapak kenapa bawa saya ke sini?"ucap Andini dengan wajah panik.
"Memangnya kamu mau dibawa kemana? kan, Ini kampus sudah sewajarnya saya membawa kamu ke sini. Karena kamu memang kuliah di kampus ini. Tidak mungkin kan kamu saya bawa ke kampus lain."ucap Dimas seraya menghentikan mobilnya di tempat biasa ya parkir.
Di tempat itu sudah banyak motor dan mobil terparkir. Itu artinya kampus sudah ramai.
"Maksud saya tuh, kenapa nggak berhenti di luar saja? Aduh kalau begini saya bisa ketahuan." Andini mengendarkan pandangannya ke sekeliling kampus yang terlihat ramai.
Ia khawatir kalau ada salah satu temannya yang melihat dirinya keluar dari mobil Dimas. Bahkan ada beberapa mahasiswa yang baru tiba dan memarkirkan kendaraan mereka di tempat yang sama. Membuat Andini semakin bingung.
__ADS_1
"Ayo turun!" titah Dimas raya membuka pintu mobilnya.
"Sebentar dulu, saya lagi mengamati sekitar. jangan sampai ada orang yang melihat saya turun dari mobil bapak."Andini bingung sendiri matanya sibuk meminta seluruh penjuru kampus.
"Terserah kamu, Awas aja kalau kamu nggak keluar dan malah tidur di dalam mobil!"ucap Dimas seraya turun dari mobil dan meninggalkan Andini sendirian di dalam.
Hingga waktu jam pelajaran akan dimulai dan semua mahasiswa sudah masuk ke dalam kelas. Ia baru berani keluar dari dalam mobil dan berjalan dengan mengendap-endap, agar tidak ada yang melihat Andini turun dari mobil Dimas.
Jam pelajaran berlangsung hingga waktu istirahat tiba.
Hari ini Dimas tidak ada jadwal di kelas Andini. Sehingga mereka tidak bertemu lagi.
"Gush ke kantin yuk!"ajak Andini sambil memegangi perutnya yang terasa keroncongan. Karena tadi pagi belum sempat sarapan pagi.
"Benar juga Dimas, kalau mereka sarapan di rumah lebih bagus.
"Kamu pasti belum sarapan, ya." tanya Mariska. Seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Iya, aku lupa."
"lupa, Apa kebiasaan? ingat asam lambung kamu." timpal Rian
"E...Enggak!"
"Ngak usah ngelak, Ayo cepetan ke kantin. lihat tuh muka sudah pucat kayak gitu." Mariska menarik lengan Andini yang langsung disusul oleh Rian.
Bima, Rian, dan Robert langsung mengikuti mereka.
Namun, baru saja mereka berjalan beberapa langkah keluar dari kelas, tubuh Andini terasa lemas. Lututnya gemetar, kepalanya pusing, tiba-tiba saja pandangannya berubah menjadi gelap.
Bruk!
tubuh Andini ambruk di atas lantai depan kelas.
"Astaga, Andini! Kamu kenapa?" teriak Mariska dan Rian hampir bersamaan.
__ADS_1
Mariska dan Rian segera menghampiri Andini yang sudah tak sadarkan diri.
Bima, dan Robert langsung berjalan dengan cepat ke arah Andini.
"Andini Kenapa?" tanya Bima dengan panik Seraya berjongkok di samping gadis yang sedang terkapar lemah itu.
"Andini pingsan, Ayo bantu bawa ke UKK." ucap Mariska yang sudah berwajah tenang.
"Biar aku bawa."
"Tunggu!" suara bariton seseorang menghentikan gerakan tangan Bima yang akan mengangkat tubuh Andini.
"Pak Dimas."Mariska dan Rian menatap heran kerah dosen killer yang sedang berjalan ke arah mereka. Mariska dan Rian juga menyebut Dimas dosen killer. Gelar itu mereka dapatkan dari Andini yang selalu mengetahui Dimas dosen killer yang selalu berdebat dengan Andini.
"Kenapa dia bisa pingsan seperti ini?" tanya Dimas sambil menatap ke arah istrinya.
"Sepertinya Andini telat makan, dan asam lambungnya kumat." jelas Mariska yang membuat Dimas meremas jemarinya sendiri.
Tanpa basa-basi lagi, dosen yang selalu bersikap dingin dan cuek itu berjongkok dan mengangkat tubuh Andini.
"Biar saya aja Pak." Bima berusaha mengambil alih tubuh Andini.
"Tidak usah, saya akan membawanya ke ruangan saya." ucap Dimas seraya berjalan dengan langkah lebar.
"Loh, kok ke ruangan bapak? bukannya ke UKK?" tanya Mariska dengan heran.
Namun, dosen killer itu tidak menggubris dan menoleh sedikitpun ke arahnya.
Dimas terus melanjutkan langkahnya membawa tubuh Andini yang berada di dalam gendongannya.
Bima, Rian, Robert dan juga Mariska menatap heran ke arah dosen mereka.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN