Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 36. RENCANA ALMIRA


__ADS_3

"Rian, kamu dengar, kan? kayaknya nih orang mau tobat,"ucap Mariska yang membuat Andini memutar bola matanya.


"Mau pakai baju apapun, kamu tetap cantik kok."sahut Bima yang membuat Andini kembali mengembangkan senyumnya.


"Apalagi kalau nggak pakai baju lebih cantik ya, bro!"tempat Robert yang langsung disebut gelap tawa yang lain.


"Ini sudah pasti sih,"balas Bima yang kembali diri ketawa dan kelima anak muda itu. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka, Dimas mengamati istrinya dari kejauhan.


Acara akan segera dimulai, semua tamu berkumpul di area utama diadakannya pesta ulang tahun Mariska.


Mariska berjalan dengan anggun ke arah kue besar yang sudah dipersiapkan oleh kedua orang tuanya.


Gadis itu terlihat cantik dan anggun dengan balutan dress berwarna pink.


Wajahnya yang dipoles make up yang natural membuat penampilan Mariska terlihat cantik dan mempesona.


Andini berjalan beriringan bersama dengan Bima.


Sementara Dimas berjalan di belakangnya.


Andini merasa sedang diawasi oleh Dimas dan benar saja, Dimas seolah mengamati setiap pergerakan istrinya.


Tangan Bima perlahan bergerak, menyentuh tangan Andini. Sepertinya pemuda itu ingin mengajaknya bergandengan tangan.


Tetapi Andini langsung teringat pada suaminya yang berada di belakang, seolah tetap mengawasinya.


Gadis itu langsung mengangkat tangan dan bersedekap dada, ketika tangan Bima menyentuh jemarinya.


"Kamu kenapa Din?"tanya Bima, ketika Andini berubah posisi tangannya secara tiba-tiba.


"Hmmmm.... tidak apa-apa. Udaranya cukup dingin."Andini menggerakkan tangannya seolah sedang kedinginan.


"Kamu kedinginan? paket jaket aku saja, Din."


"Nggak usah Bim."Andini langsung mencegah gerakan Bima yang akan membuka jaketnya.


"Kita langsung ke sana saja ya. Kayaknya sebentar lagi Mariska mau tiup lilin."Andini berjalan dengan cepat, Jika saja di sana tidak ada Dimas pasti ia sudah menggandeng tangan Bima.


Dimas ikut mendekat ke area yang menjadi tempat tiup lilin.


Semua yang ada di sana menyanyikan lagu Selamat ulang Tahun, Mariska meniup lilin diiringi dengan tepuk tangan para tamu yang hadir di sana.


Setelah itu Mariska menyuap kue kepada kedua orang tuanya dan untuk suapan ketiga, mengarahkan pandangan ke arah seorang pria yang berdiri tak jauh dari sana.


"Suapan ketiga akan aku berikan kepada.... Pak Dimas dosen favorit aku di kampus."


Seketika Andini langsung menatap ke arah suaminya yang terlihat kebingungan.


Mariska berjalan dengan anggun menghampiri Dimas dengan sebutan kue pada piring kecil yang dibawanya.


Tatapan Andini mengikuti langkah kaki Mariska yang semakin mendekati ke arah suaminya.


Gadis itu berhenti tepat di hadapan Dimas yang masih berwajah datar, semua pandangan tertuju ke arahnya.


"Pak Dimas, karena Bapak adalah dosen favorit saya, jadi saya mau memberikan suapan ketika ini untuk bapak. Terima kasih ya!"Mariska mengisi sendok kue dan menyodorkannya ke arah Dimas.

__ADS_1


Mata Dimas tertuju ke arah Andini yang sudah menatapnya dengan wajah kesal.


Entah kenapa, hati Andini memanas ketika melihat Mariska akan menyuapi suaminya.


Mariska mendekatkan satu sendok kue itu ke arah bibir dosennya.


Dimas membuka mulutnya dengan perlahan. dan satu sendok kue itu mendarat sempurna ke dalam mulutnya.


Sebenarnya ia tak ingin melakukan itu, tetapi ia juga tidak mungkin menolak dan membuat Mariska malu di depan semua orang.


"Cie cie cie...." sorak semua yang ada di tempat itu, kecuali Andini yang langsung membalikan badan dan meninggalkan area tersebut


"Kamu mau kemana? Bima segera mengejar langkah Andini.


Sementara itu seorang wanita menaburkan sesuatu ke dalam gelas, dan menyuruh seseorang berjalan ke arah Andini yang terlihat kesal.


"Minum dulu, supaya kesalnya hilang." ucap seorang pelayan, Seraya menyodorkan gelas itu ke arah Andini.


Andini yang terlalu kesal, langsung mengambil gelas tersebut dan minuman itu tanpa memperhatikannya terlebih dahulu.


"Ini kok rasanya beda? Andini menatap gelas yang sudah kosong di tangannya.


Andini akan bertanya kembali, tetapi orang yang bertanya minuman tadi sudah pergi.


"Din, kamu kenapa? Tanya Bima dengan sedikit ngos-ngosan karena mengejar langkah Andini yang lumayan cepat.


"Nggak tahu tiba-tiba kepalaku pusing."Andini menaruh gelas kosong tadi ke atas meja dan memegangi kepala dengan kedua tangannya.


"Pusing kenapa?"Bima mulai terlihat panik.


Andini hampir terjatuh, jika Bima tidak segera menahan tubuhnya.



visual Bima


"Din, kamu kenapa?"merangkul kan tangan Andini pada bahunya dan menopang tubuh Andini agar tidak terjatuh.


Sementara itu, tiga orang gadis tersebut tertawa penuh kemenangan. Karena sebelumnya mereka sudah merencanakan itu semua.


"Gush! rencana kita berhasil."ucap Almira dengan seringai liciknya.


"Of course,"sahut kedua sahabatnya yang selalu menemani aksi jahil Almira.


"Almira, ternyata kamu di sini." Bagas menghampiri kekasihnya.



visual Bagas


Almira membulatkan mata ketika Bagas berjalan mendekat ke arahnya.


"Kamu ngapain Di Sini? acaranya kan di sana,"Bagas menatap kekasihnya dengan dahi mengerut.


"Emm... aku tadi lagi nyari angin. Di sana panas dan sumpek. Iya kan, gush?" ucap Almira berbohong dan disetujui oleh kedua temannya.

__ADS_1


Bagas akan mengalihkan pandangannya ke arah kanan, dimana Andini sedang berdiri dengan sempoyongan.


Namun, Andini segera menghalangi tubuh pemuda itu.


"Sayang, kita ke sana yuk!" Almira segera menggandeng lengan kekasihnya dan mengajak Bagas menuju area yang ramai.


"Din, apa kamu baik-baik saja?" tanya Bima sekali lagi.


Sementara Andini yang merasakan pusing luar biasa seolah tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.


Gadis itu merangkul bahu Bima dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang pria itu.


"Bima, kepalaku pusing sekali." gumam Andini dengan suara serak, matanya terlihat sayu.


"Din, kayaknya kamu mabuk. Kita cari tempat aja ya biar kamu bisa istirahat." Bima memapapah tubuh Andini ke arah samping.


Ia akan membawa Andini masuk ke rumah Mariska, Tapi lewat pintu samping, karena di depan sangat ramai.


Tidak mungkin dia membawa Andini yang hampir tak sadarkan diri melewati keramaian.


Andini tidak pernah meminum alkohol, sekalipun dia bertingkah pura kan tapi yang namanya menyentuh alkohol pantang baginya. sehingga sekali minum saja langsung berefek padanya.


"Din, kamu tahan, ya." Bima memanggang pinggang Andini untuk menahan tubuh gadis itu yang hampir terjatuh.


"Apa yang kamu lakukan?" suara seseorang yang muncul dari samping menghentikan langkah Bima.


"Pemuda itu melihat cara seorang pria yang sedang menatapnya dengan tajam, bahkan tangannya terlihat mengepal.


"Pak Dimas. Bapak ngikutin saya? tanya Bima kembali tanpa melepaskan tangannya dari pinggang Andini.


"Lepaskan Andini!"titah Dimas dengan suara berat yang terdengar menggeram.


"Kenapa? Saya mau membawa Andini masuk ke dalam."


"Lepaskan!"kita Dimas kembali dengan Gigi mengerat. Ia sudah terlihat emosi melihat Bima membopong tubuh Andini.


"Bima, ada apa? kepalaku pusing banget."tanya Andini Seraya menyandarkan kepalanya pada dada Bima.


Hal itu membuat Dimas semakin memanas, ototnya terasa menegang dengan urat-urat yang mulai menyembul. Andini yang hampir tak sadar, tidak melihat keberadaan Dimas.


"Din, aku akan bawa kamu masuk."Bima kembali melangkahkan kakinya dan memapah tubuh Andini.


"Lepaskan Andini!"


BUGH


tanpa aba-aba lagi, Dimas menarik jaket Bima dan menghajar pemuda itu dengan sekuat tenaga, sampai tubuh Andini terlepas dan jatuh di lantai.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2