
"Mas, dua wanita yang berada di restoran itu siapa sebenarnya?"tanya Andini karena dirinya masih penasaran siapa sosok dua orang wanita yang duduk bersama dengan suaminya, saat berada di restoran sebuah Mall.
"Kan, dari awal sudah Mas katakan kalau mereka adalah klien Mas. Kedua wanita itu kakak beradik, yang pakai baju orange itu dia teman kuliah Mas dulu. Sedangkan yang baju maroon itu adiknya. Saat ini mereka dalam pembagian warisan, dari kedua orang tua mereka yang sudah meninggal.
Jadi mereka berniat, ingin membangun satu supermarket. Dan Mas dipercayakan untuk menangani itu semua. Kamu tidak perlu khawatir Sayang, mereka sudah memiliki pasangan masing-masing. Lagian suami kamu yang tampan ini tidak akan tergoda dengan wanita lain. Karena mas sudah memiliki mutiara dan permata yang luar biasa yaitu kamu."ucap Dimas
"Uluhhh, nggak usah gombal seperti itu. karena Andini tidak suka di gombal."Andini sambil terkekeh.
"Memangnya siapa yang menggombal kamu sayang? itu hanya ungkapan perasaan Mas yang sebenarnya. Apalagi sebentar lagi kita akan memiliki anak."ucap Dimas sembari mengelus perut buncit sang istri yang saat ini sudah semakin membesar.
Saat Dimas mengelus perut Andini, pergerakan sang janin yang ada di kandungan Andini seolah mengetahui kalau saat ini ayahnya sedang membelainya.
"Aduh,"keluh Andini karena dirinya terkejut saat bayi yang ada di kandungannya sedang bergerak dan itu dapat dirasakan oleh Dimas.
"Sayang, lihat anak kita menyapa Papanya melalui pergerakan yang ia lakukan. Mungkin dia tahu kalau Papanya sangat menyayanginya dan ingin membelainya. makanya dia melakukan pergerakan untuk memberitahu, kalau anak kita juga menyayangi Papanya."ucap Dimas sambil kembali mengelus perut Andini.
"Baik-baik ya sayang, jangan menyusahkan Mama kamu, Papa menunggumu."Dimas memberikan kecupan hangat di perut buncit istrinya.
"Sayang, apa menurutmu persiapan perlengkapan bayi kita sudah cukup?"
"Sudah, Mas. Menurut Andini sudah sih Mas, Mama juga mengatakan demikian. Tapi nanti kalau ada yang kurang kita kan bisa beli lagi saat anak kita sudah lahir."
"Mas harap, Kamu jangan terlalu lelah sayang. karena itu tidak baik untuk kondisi kehamilan kamu saat ini. Apalagi proses persalinan Nanti kamu pasti membutuhkan tenaga yang cukup.
"Sudah, Mas. Andini Tidak apa-apa kok. Andini baik-baik saja. Mas jangan terlalu mengkhawatirkan Andini."sahut Andini sambil menggenggam tangan sang suami.
Sementara di tempat lain, tepatnya di cafe kampung kecil.
"Robert, Mama aku Katanya sakit."ucap Mariska dengan wajah sendu.
"Sakit? sakit apa sayang?"Robert menaruh kembali nampan yang berisi pesanan pelanggan
"Kurang tahu, tadi Mama telepon. Sekarang, Mama ada di rumah. Mana Papa lagi di luar kota."tutur Mariska kembali dengan raut wajah yang terlihat khawatir bercampur sedih.
"Terus, kita gimana nih sekarang? Robert kembali bertanya.
"Kalau kamu mau, kita ke rumah mama sekarang. Aku mau ngajak mama berobat dulu ke rumah sakit, tapi kalau kamu nggak mau, aku akan tetap ke rumah Mama kok. aku nggak mau maksa kamu."
"Bagaimana konsepnya sih sayang? kamu pergi, iya aku juga harus pergi lah. mana mungkin aku membiarkan istriku pergi sendiri."
"Jadi? kamu mau ngantar aku ke rumah mama? mata wanita itu berminat.
__ADS_1
"Iya, Mama kamu adalah mama aku juga. Ya, walaupun kadang menyebalkan."Robert memperkecil nada bicaranya saat menyebutkan kalimat yang terakhir.
"Menyebalkan gimana?"tanya Mariska dengan wajah yang penuh selidik.
"Nggak, aku salah ngomong tadi. Ya, sudah. aku telepon Ciwi dulu, biar dia datang ke sini. pasti dia sudah pulang dari kampus, Biar mereka yang anterin pesanan."Robert mengandalkan pandangannya ke arah depan, melihat keadaan cafe yang semakin ramai, karena waktu itu juga sudah menunjukkan sore. Biasanya, di jam segitu banyak anak muda yang nongkrong.
Pria itu segera menghubungi adiknya, agar segera datang ke cafe.
"Bima, Aku mau pergi ke rumah mertua dulu ya! kamu lanjutin aja, nanti ada Ciwi yang ke sini. Entar kalau mau tutup, kalian tutup aja ya! Sorry, Aku harus pergi duluan." Robert menepuk bahu sahabatnya yang sedang sibuk menyiapkan berbagai minuman untuk pengunjung.
"Sip, kamu hati-hati di jalan! hati-hati juga karena mau ketemu mertua."canda Bima.
"Bismillah. Semoga aku terhindar dari misalnya mertua."
"Buset, Memangnya mertua kamu itu apa? sampai ada bisanya segala."Bima terkekeh.
"Ini melebihi kalajengking yang suaranya juga melengking di gendang telinga."
"Kalian lagi pada bahas apaan sih? tanya Mariska sambil mendekat ke arah suaminya.
"Ngak, kita lagi bahas kalajengking. iya kan Bima?"
"Iya, kita lagi bahas kalajengking yang suka berkeliaran mencari lobang,"balas Bima yang membuat Mariska langsung mengerutkan ke dunia.
"Sudah, ayo berangkat!"
"Oke, tapi bentar dulu!"Robert akan berjalan kembali ke arah dapur, tetapi tangan mereka segera menahan lengannya. "Mau ke mana?"
"Aku mau ngasih tahu Maya dulu kalau kita mau pergi."jujur Robert yang langsung mendapat tatapan jalan dari istrinya.
"Tidak usah! dia sudah tahu kita mau pergi. ngapain kamu pakai pamit segala, sudah kayak ke istri aja!"cegah Mariska dengan kesal.
"Calon istri sayang."jawab Robert pelan.
"Robert, mau aku mutusin kamu sekarang?!"Mariska mencengkram lengan suaminya dengan kuat.
"Ampun, sayang. Aku cuman bercanda kok. serius, aku hanya bercanda doang. jangan dimasukin ke hati, apalagi dalam perut. ntar kamu semakin buncit."cicit Robert
"Bima, ada gergaji nggak?
"Gergaji buat apa Sayang?
__ADS_1
"Buat motong leher kamu!"jawab Mariska dengan suara penuh penekanan. sementara Bima hanya tertawa ketika melihat sepasang suami istri kocak itu.
"Ampun, sayang. Itu menurut aku yang keterlaluan. Maaf, ya. Sudah jangan lagi marah, Sekarang kita berangkat kasihan Mama pasti nungguin."Robert menggandeng lengan istrinya dan mengelus tangan wanita itu dengan lembut.
"Ya udah, tapi katanya Mama pengen dibeliin pizza sama Kentucky,"ujar Mariska keduanya berjalan keluar dari Cafe.
"Buset! orang sakit kok pengen minta pizza atau Kentucky? orang tuh kalau sakit makannya bubur dan buah-buahan, ini malah minta dibeliin pizza."gerutu Robert.
"Sudah, jangan ngomel terus. Mungkin Mama lagi nggak enak makan, makanya nyari makanan apa yang dia mau.
"Baik, nyonya silakan masuk!"Robert membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Lebai banget sih Robert."Mariska masuk ke dalam mobil dan langsung duduk dengan nyaman.
"Bukain pintu mobil dikatain lebai, nggak buka pintu mobil dekat tangga peduli. gini amat jadi laki."guru itu Robert.
"Terus, kamu mau ganti blender gitu?"
"Astagfirullah. Enggak lah sayang, jadi laki sudah enak kok. Ada kenikmatan tersendiri."
"Apa tuh?"Mariska menengadahkan kepala, menatap ke arah suaminya yang masih berdiri di depan pintu mobil.
"Bisa menusuk tanpa melukai,"jawab Robert yang membuat mata istrinya langsung membulat.
"Ngeras melulu pikirannya. entar aku, sekalian bersihin pakai vacuum cleaner."
"Ampun sayang, kita berangkat sekarang yuk!"Robert segera masuk ke dalam mobil dan menjalankan roda empatnya dengan perlahan.
Pria itu sangat hati-hati ketika membawa mobilnya yang masih terbilang baru. keduanya meluncur menuju rumah orang tua Mariska terletak tidak jauh dari sana.
Tak lupa pula, Mariska membeli pesanan ibunya.
Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah rumah cukup mewah. Mariska segera turun dan berjalan ke arah pintu rumahnya.
Robert menyusul sang istri dengan langkah gontai, ya harus segera menyiapkan mental setebal mungkin karena akan segera menghadapi mertuanya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN