Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 7. AKAD NIKAH


__ADS_3

Andini memegangi dada, takut jika tentunya melompat begitu saja.


"Ayo Sayang. Duduk di samping calon suamimu. Nyonya Laras menyuruh Andini untuk duduk di samping Dimas yang masih terdiam tanpa menyerah sedikitpun ke arah Andini.


Padahal, dalam bayangan pria itu akan terpesona dan diam beberapa menit dengan mulut terbuka.


Namun, yang terjadi sungguh di luar ekspektasinya.


Dimas menatap lurus ke depan kearah Pak penghulu yang berkumis tebal.


Rupanya wajah penghulu itu lebih menarik dibandingkan wajah calon istrinya sendiri. Entahlah normal atau tidak lelaki yang akan dinikahkan. Secara selama ini, Dosen killer itu saja yang selalu mengejeknya.


Bahkan begitu banyak dosen di kampus semua respect terhadap Andini apalagi dengan kecerdasan yang ia miliki. Jangankan dosen, dekan saja begitu dekat dengan Andini. Entah mengapa Dimas seolah tidak tertarik dengan Andini, entah itu tentang prestasi dan juga kecantikan yang ia miliki.


"Baiklah, kita mulai saja ijab kabulnya."ucap pak penghulu itu sambil menyodorkan tangannya ke arah Dimas.


"Saya nikahkan kamu Dimas bin Anggara dengan putri saya Andini binti Miko Pratama dengan mas kawin seratus lima puluh gram emas murni dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Andini binti Miko Pratama dengan mas kawin tersebut dibayar Tunai"ucap Dimas dengan satu kali tarikan nafas tanpa jeda sedikitpun.


"Bagaimana para saksi sah?"tanya Pak penghulu


"Sah...."suara itu terdengar serentak.


Seketika Andini meneteskan air, ia merasa kini masa depannya telah hancur Sehancur-hancurnya berkeping-keping. Ingin rasanya lari dari tempat itu, dan menjerit sejadi-jadinya.


Tapi apa boleh buat dia tidak dapat melakukan itu, karena ia tahu Opa dan kedua orang tuanya pasti akan marah besar terhadapnya, dan bisa-bisa ia dilemparkan ke kutub utara dan di hapus dari kartu keluarga.


Mulai saat itu pula gadis yang mengenakan kebaya pengantin itu kehilangan semangat.


Jika boleh meminta ia ingin mati saja. Sekarang biar Dimas menjadi seorang duda.


Semua orang mengangkat kedua tangannya mengaminkan setiap untaian doa dari penghulu. Tapi tidak termasuk Andini. Gadis itu menyeka air mata dan mengusap ingus dengan lengan baju pengantinnya.


Dimas melirik sekilas ke arah seorang gadis yang kini telah menjadi istrinya.


Pria itu tersenyum tipis dan tertawa dalam hatinya, ketika melihat Andini seperti anak kecil yang baru diejek teman-temannya, merengek menangis dan ingin mengadu, kepada kedua orang tuanya. Tapi kedua orang tuanya tidak ada membuat anak kecil itu pun kembali menangis dan menangis lagi.

__ADS_1


"Untuk pengantin wanita, silakan di cium punggung tangan suaminya, suaminya mau cium keningnya juga boleh. Karena sudah halal." ucap Pak penghulu yang langsung disambut tawa orang yang mendengarnya.


Kecuali Dimas dan Andini. Sepasang pengantin baru itu seolah banyak menanggung beban.


Perlahan Dimas mulai mengeluarkan tangannya ke arah Andini yang masih sibuk dengan air matanya.


Andini menyeka air mata dengan kasar dan mengangkat wajahnya.


Bibirnya kembali melebar ketika melihat wajah Dimas. Tetapi bibirnya kali ini melebar bukan karena dia sedang senyum melainkan sekarang sedang menangis.


Dimas menyempitkan matanya ketika melihat ekspresi wajah Andini.


Gadis itu menerima uluran tangan Dimas dengan terpaksa.


Sangking geramnya, Andini sampai menggenggam tangan Dimas cukup kuat.


Dimas yang merasa tangannya digenggam cukup kuat, tak mau kalah.


Pria itu membalas menggenggam tangan Andini dengan kuat sampai membuat istrinya menahan sakit dengan wajah memerah.


Dimas yang menyadari tatapan tajam Andini membalas dengan kembali meremas tangan Andini sampai membuat Gadis itu benar-benar merasa kesakitan.


Andini segera mencium punggung tangan Dimas dengan kasar dan menara kembali tangannya secara kasar.


Keduanya saling menatap dengan nyalang, seolah saling melemparkan bola api. Seolah mereka saat itu juga ingin berperang dunia ketiga.


Setelah itu, tidak banyak rangkaian acara. Karena pernikahan ini dilaksanakan secara singkat dan tertutup sesuai dengan permintaan Andini.


Tidak ada kecupan lembut di kening, tidak ada pemotretan di atas pelaminan.


Rencananya setelah Andini wisuda mereka akan melaksanakan resepsi dan mengundang banyak tamu.


Andini mengambil ponselnya. Gadis itu berniat mengabadikan momen kali ini. Bukan karena pernikahannya yang ingin di abadikan, melainkan riasan pengantin dan baju kebaya yang dikenakan saat ini. Karena baru kali ini ia menggunakan pakaian seperti layaknya seorang wanita. Dia ingin memamerkan kepada Bagas kalau dirinya juga bisa berpakaian feminin.


Walaupun foto itu hanya akan disemayamkan di galeri hp-nya. Ia tidak akan berani mengunggahnya di sosial media.


Walaupun sebenarnya Andini termasuk orang yang senang sekali mengabadikan momen ke akun media sosial miliknya.

__ADS_1


Apalagi jika bersama dengan geng motor dan juga teman-teman lainnya. Jika mereka sedang melakukan balapan, Andini selalu mengabadikan momen-momen itu. Apalagi saat dirinya pernah meraih juara satu balapan. Padahal yang dilawannya itu merupakan pembalap-pembalap yang sudah sering sekali melakukan adu balap. Tapi sepertinya Andini tidak gentar menghadap beberapa orang pembalap hanya seorang saja wanita pesertanya selainnya laki-laki.


Namun, Kali ini harus merahasiakan pernikahannya sebaik mungkin agar teman satu geng motor dengannya, begitu juga rekan-rekan lainnya termasuk Bagas dan Rehan tidak mengetahui pernikahan Andini dengan Dimas sang dosen yang paling ia benci di kampus.


Kini Andini bertekad akan menjaga rahasia pernikahannya sebagaimana Ia menjaga keperawanannya.


Gadis itu mengambil foto sendiri di samping Dimas yang juga sedang sibuk memainkan ponselnya.


Pada layar ponselnya itu, ia hanya menunjukkan wajahnya dan juga bahu Dimas yang sedikit tertangkap kamera.


Saat di pemotretan, ketiga Dimas menoleh ke arahnya sehingga wajah pria itu tertangkap kamera walaupun tidak seutuhnya.


"Bapak, kok malah lihat ke sini sih?kan fotonya jadi jelek." protes Andini.


"Dasar mukamu aja yang jelek." balas Dimas dengan mukanya yang datar.


"What? Andini yang cantik Paripurna ini dibilang jelek? ini pastinya matanya bermasalah, mata Bapak juling ya tidak melihat aura kecantikanku begitu mempesona.


"Otak kamu yang lebih bermasalah,"balas Dimas dengan santai.


makanya jika berpakaian itu berpakaian lah yang sopan, jangan seperti laki-laki. Ini Entah mengapa ke mana-mana selalu Kamu pakai baju dan celana kamu yang sobek-sobek itu. mulai sekarang kamu harus berubah.


"Heh, ini mulut kayak bon cabe level seratus ya!"sangking geramnya Andini sampai mencubit paha Dimas.


"Aw... kangen kamu mulai nakal ya! awas aja nanti malam saya tidak akan kasih ampun!"Dimas menggenggam jari Andini yang tadi mencubit pahanya.


Seketika Andini merasakan bulu kuduknya berdiri. Wajah Dimas saat ini terlihat menyeramkan.


Otaknya langsung travelling mengingat nanti malam adalah malam pertama bagi kedua nya."


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2