Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 254. MERASA TERHINA


__ADS_3

"Kamu jangan terlalu banyak mengatur aku, karena aku juga tidak pernah meminta apapun dari kamu, termasuk uang!"ucap nih Sayang membuat hati Ricky bak tersayat pisau tajam.


"Aku sadar, aku ini belum bisa memberikan apapun sama kamu, tapi aku hanya ingin dihargai sebagai suami kamu."timpal Ricky.


"Oke, kamu mau dihargai berapa? aku bisa membayarnya. Bahkan, aku bisa membeli hidupmu!"


Seketika Ricky mengepalkan tangannya ketika mendengar ucapan Nisa, ia merasa harga dirinya benar-benar direndahkan, bahkan diinjak-injak.


"Aku tidak pernah memintamu agar kamu mau menikah dengan aku, tapi kamu sendiri yang memilih aku untuk menjadi suamimu."Ricky menatap wajah Nisa dengan nyalang.


Begitupun dengan wanita itu, bisa membalas tatapan suaminya dengan mata yang dipenuhi kabut amarah.


"Aku capek seharian bekerja dan aku malas untuk berdebat. Silakan keluar dari kamar ini, aku sedang ingin sendiri!"usir Nisa Seraya menunjuk ke arah pintu kamar.


"Ok, aku sadar, aku hanya menumpang di rumah ini."Ricky membalikkan badan, keluar dari kamar itu meninggalkan desa yang menatap punggungnya dengan dada yang terlihat naik turun menahan amarah.


***


Pagi hari yang indah, matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. seorang wanita yang tertidur sendiri di atas kasur berukuran kecil membuka matanya dengan perlahan.


Tangannya bergerak, meraba lahan di sebelah kanannya.


Namun, kasur Itu nampak kosong tanpa penghuni.


Nisa langsung membuka matanya lebar-lebar dan melihat ke arah kasur di sampingnya.


Benar saja, kasur yang biasa di tempat susunannya tidur itu terlihat kosong.


Nisa segera bangkit ketika mengingat pertengkarannya semalam dengan Ricky.


Wanita itu mengusap wajahnya dengan kasar, pantas saja Ricky tidak ada di kamar itu, karena semalam ia menyuruh suaminya untuk keluar dari kamar.


Nisa berjalan dengan cepat, keluar dari kamar dan menuruni anak tangga, mencari keberadaan suaminya.


"Ricky! Ricky, kamu di mana? teriak Nisa sambil mengantarkan pandangannya ke sekeliling rumah.


"Bi, bibi..."teriak Nisa dengan suara melengking.


Seketika seorang wanita paruh baya berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri sang majikan.


"Ada apa, Non?"


"Suami saya di mana, Bi?"tanya Nisa dengan cepat.


"Tuan Ricky, maksudnya?"asisten rumah tangga itu kembali bertanya.


"Iya, siapa lagi?"sergah Nisa dengan Ketus.

__ADS_1


"Maaf, Non. Tadi malam Tuan Ricky keluar dari rumah, tapi sampai saat ini belum pulang lagi,"jawab wanita paruh baya itu yang membuat mata Nisa langsung membulat.


Nisa langsung ketar-ketiri ketika mendengar penuturan asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya.


Wanita yang masih mengenakan gaun tidur itu memijat keningnya sendiri.


Dia baru menyadari perkataannya semalam begitu menyakitkan sampai membuat Ricky keluar dari rumah.


Nisa mengusap wajahnya dengan kasar, sudut mata wanita itu terlihat berembun, tetapi ia berusaha keras untuk menahan tangis.


"Pak Mahmud!!"teriak Nisa dengan suara yang memenuhi seisi ruangan.


Tak lama kemudian, seorang pria datang tergesa-gesa menghampirinya.


"Ada apa Non?"tanya Pak Mahmud dengan kepala yang menunduk patuh.


"Pak, suami saya pergi ke mana?"surga Nisa dengan Tak sabar.


"Tuan Ricky... maaf non, Saya tidak tahu,"jawab Pak Mahmud dengan wajah menunduk.


"Bodoh! Kenapa kalian semua tidak ada yang tahu ke mana suami saya pergi. Apa kerjaan kalian di rumah ini? tidur?!"bentak bisa dengan dada yang terlihat naik turun, dipenuhi amarah.


"Nisa, Kenapa kamu teriak-teriak seperti ini?"Tuan Arnold datang mendekat ke arah putrinya yang terlihat tak karuan.


"Pa, Papa tahu ke mana Ricky pergi?"tanya Nisa dengan suara bergetar, menahan tangis, sudut matanya terlihat berembun.


"Ricky? kenapa kamu nanya sama papa? bukankah dia tidur sama kamu?"tanya Tuan Arnold kembali dengan wajah heran.


"Apa? keluar? Kenapa bisa begitu? Apa kalian bertengkar?"Tuan Arnold menatap wajah putrinya dengan intens.


Nisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat, wanita itu menganggukkan kepalanya dengan perlahan.


"Astaga. Berantem kenapa? apa ada masalah?"Tuan Arnold tak berhenti bertanya, selama ini ia melihat hubungan Nisa dan Ricky baik-baik saja. Bahkan ia tidak pernah mendengar Putri dan menantunya itu bertengkar.


"Bibi, Pak Mahmud kalian boleh pergi!"titah Nisa yang membuat kedua pegawai itu langsung membalikkan badan, lalu meninggalkan tempat itu.


"Kenapa? tanya Tuan Arnold lagi setelah kedua pegawainya benar-benar menjauh.


"Ini sebenarnya salah Nisa Pa. Tapi, Nisa benar nggak menyangka kalau Ricky akan beneran pergi dari rumah,"jawab Nisa dengan suara bergetar, buliran bening sudah mengenang di pelupuk matanya.


"Papa rasa, jika masalahnya tidak terlalu berat, Ricky tidak akan sampai pergi dari rumah. Cerita Ada apa sebenarnya?


"Sebenarnya...."


Nisa menjeda ucapannya, wanita itu menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan.


Sementara Tuan Arnold semakan mengerutkan dahinya dengan mata yang menatap lebih jeli wajah sang putri.

__ADS_1


"Sebenarnya, selama ini Nisa mengonsumsi pil KB tanpa sepengetahuan Ricky untuk mencegah kehamilan,"jujur Nisa dengan wajah menunduk.


Seketika mata Tuan Arnold membulat ketika mendengar penuturan putrinya, iya tak percaya dengan apa yang bisa katakan barusan.


"Benarkah? Kenapa kamu mengonsumsi pil seperti itu? pantas saja Ricky kecewa, tapi papa rasa tidak seharusnya juga Ricky pergi dari rumah. seharusnya kalian membicarakan ini baik-baik."tutur Tuan Arnold dengan wajah kecewa bercampur heran.


"Sebenarnya bukan hanya itu saja. Kami sempat berdebat dan... dan Nisa menyuruh Ricky keluar dari kamar. Tapi, hanya keluar dari kamar, Bukan keluar dari rumah. semalam Nisa butuh sendiri, Nisa merasa pusing. Jadi Nisa menyuruh Ricky keluar dari kamar "wanita itu memijat keningnya sendiri.


"Astaga, Nisa. kamu keterlaluan sekali, siapapun pasti akan sakit hati jika diperlakukan seperti itu."Tuan Arnold Tak habis pikir dengan sikap putrinya.


"Pa, Terus sekarang Nisa harus bagaimana?"rengek Nisa dengan air mata yang mulai meleleh, membasahi pipi mulusnya.


"Semuanya Papa serahkan sama kamu. kalau kamu mau Riki kembali, kamu harus membawanya sendiri ke sini, karena Papa yakin Ricky tidak akan kembali tanpa kamu minta."jawab Tuan Arnold dengan wajah tegas.


"Baiklah, Nisa akan membawa Reki kembali ke sini. Nisa pamit dulu, Pa."wanita itu segera mencium punggung tangan ayahnya.


"Hati-hati. ganti bajumu dulu, jangan seperti itu!"


"Iya, Pa. bisa ke kamar dulu."


Setelah itu, bisa berlari ke kamar dan berganti pakaian dengan secepat kilat.


Ia melupakan ritual mandi yang setiap pagi ia lakukan. Nisa hanya berganti pakaian dengan menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuhnya.


Setelah itu, iya bergegas menaiki mobilnya, meskipun ia bingung harus mencari Ricky ke mana.


Sebelum berangkat, bisa mencoba menghubungi Ricky beberapa kali, Tetapi nomor telepon pria itu malah tidak aktif yang membuat bisa semakin bertambah khawatir.


Di kota ini, Ricky tidak mempunyai saudara, hanya Bima saudaranya yang berada di kota ini.


ini sama memutuskan untuk ke cafe kampung kecil terlebih dahulu. Selain bisa menanyakan kepada Bima, di sana ia juga menanyakan Ricky pada teman-teman yang lain.


Wanita itu membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Cafe milik sahabat suaminya.


Bahkan, iya tiba di sana saat Cafe belum buka, tetapi Robert, Mariska, dan Bima sudah ada di sana.


Nisa segera turun dari mobilnya dan menerobos ke dalam Cafe.


"Permisi, Apa di sini ada Ricky?"tanyanya secara tiba-tiba yang membuat Robert, Mariska Bima dan Maya yang sedang beres-beres langsung menoleh ke arahnya.


"Selamat pagi Mbak Nisa, Maaf cafenya belum buka."ucap Robert dengan ramah


"Tidak apa-apa, aku ke sini mau mencari suamiku Apa kalian ada melihatnya?"tanya Nisa dengan mata yang menatap suatu persatu orang di dalam ruangan itu.


"Suami? maksudnya si Ricky? tanya Mariska dengan suara melengking.


"Iya, Aku tidak mau ganti suami. Jadi, nama suamiku masih Ricky. Apa kalian ada yang melihatnya? atau menginap di rumah kalian semalam?"tanya Nisa kembali membuat empat orang di hadapannya terlihat bingung.

__ADS_1


Bersambung....


Sambil menunggu karya ini update kembali, mampir yuk ke karya baru emak. "Divorce on the wedding day"


__ADS_2