
"Alena, cukup! pergi dari sini sebelum aku mengusirmu dengan kasar,"ucap Dimas dengan nada datar.
Deret pintu terbuka mengalihkan pandangan semuanya.
Erin datang membawa sebuah plastik yang berisi makanan.
"Kak Dimas lama banget sih datangnya. Aku capek nungguin Papa dari pagi. pasti gara-gara wanita ini, Makanya Kakak nggak ada waktu buat keluarga, bahkan saat Papa pingsan pun Kakak nggak ada,"cerocos Erin dengan Ketus.
"Erin, Kakak minta maaf. Lagian ini masih pagi, masa cuma nungguin Papa doang kamu capek."
"Kakak tuh sekarang berubah. semenjak menikah sama wanita ini, Kakak udah nggak peduli sama aku dan papa."Alena mendekat ke arah Erin dan mengusap bahu wanita itu dengan lembut.
"Erin, kakak tidak bermaksud seperti itu."
"Pokoknya, sampai kapanpun aku hanya setuju Kakak menikah sama kak Alena!"setelah itu, Erin langsung membalikkan badan dan keluar dari ruangan itu.
Sementara Alena tersenyum penuh kemenangan dengan mata yang tertuju ke arah Andini, lalu berjalan keluar mengikuti Erin.
"Mas, yang sabar ya!"Andini mengusap dada suaminya dengan lembut.
"Dimas, Andini,kalian sudah datang."Panggil Tuan Anggara yang membuat kedua orang itu langsung mengalihkan pandangan ke arah seorang pria paruh baya yang terbaring lemah di atas branker pasien.
Dimas dan Andini langsung mendekat ke arah Tuan Anggara yang tersenyum ketika melihat keduanya.
"Pa, Maaf Dimas nggak ada disaat Papa pingsan."
"Tidak apa-apa, Papa sudah membaik kok."
"Papa cepat sembuh ya,"ucapkan dini dengan senyum hangatnya.
"Terima kasih. Ini sudah satu bulan lebih pernikahan kalian, apa sudah ada tanda-tanda kehamilan dari Andini?"pertanyaan yang keluar dari bibir pucat itu membuat Dimas dan Andini saling menatap dengan wajah tegang.
"Dimas?"
"Emmm ... belum Pa, doakan saja semoga secepatnya,"jawab Dimas dengan wajah bingung.
"Kalau bisa, jangan terlalu lama lagi. Kalau tidak, Papa yang akan menikah lagi."ucap Tuan Anggara.
"Hah? menikah lagi?"tanya Dimas dengan mata membulat.
Pasalnya usia Ayah kini sudah hampir mencapai tujuh puluh tahun, wanita seperti apa yang akan menikah dengannya.
"Iya, supaya Papa punya anak dan bisa menggendong bayi."
"Tidak.... tidak! biar Dimas sama Andini saja yang berusaha."pria itu segera merangkul bahu Andini dan merapatkan tubuh keduanya.
"Baiklah, tapi papa mau kalian segera melaksanakan resepsi pernikahan agar semua orang tahu kalau kalian sudah menikah."
"Resepsi?"Andini dan Dimas kembali saling berpandangan mendengar permintaan Tuan Anggara.
__ADS_1
*****
Setelah berdiskusi suku panjang dan lebar bersama orang tuanya, akhirnya mereka memutuskan untuk mengadakan resepsi pernikahan Andini dan Dimas yang akan diselenggarakan tak lama lagi.
Mereka mulai menyiapkan segala sesuatu untuk acara resepsi yang akan diselenggarakan di sebuah gedung yang mereka sewa.
Hari ini, rencananya setelah pulang dari kampus, sepasang suami istri itu akan bertemu langsung dengan tim WO untuk merancang desain gedung, konsep pernikahan, serta mencetak undangan, tak lupa pula mereka akan melakukan foto prewedding, tentulah dengan konsep pilihan Andini.
Wanita itu sangat bersemangat untuk persiapan resepsi pernikahannya.
"Mas, Kamu jangan lupa ya, nanti setelah pulang dari kampus, kita bertemu sama tim WO untuk membicarakan konsep pernikahan kita, Setelah itu kita ke butik teman Mama untuk merancang baju pengantin,"Cerocos Andini saat mereka melakukan perjalanan menuju kampus.
"Semangat banget sih, dulu saja tidak menganggap Mas suaminya. Bahkan kalau pergi ke kampus selalu turun sebelum tiba di kampus."ucap Dimas
"Ih Mas, apaan sih!"Aku kan cuman mengingatkan."wanita itu mengerucutkan bibirnya.
"Kamu pikir, saya ini sudah pikun apa? harus diingatkan segala."Dimas masih fokus menatap, tak memperhatikan wajah istrinya yang sudah berubah menjadi masam.
"Ketus banget, kayak istri tiri aja."Andini meremas jemarinya menahan kekesalan.
"Memangnya ada istri tiri?"yang ada itu anak tiri, orang tua tiri."sahut Dimas
"Karena aku ini istri, Mas, jadi disebut istri tiri." "Terserah kamu, bibir tipis kamu itu kalau mau ngomong nggak mau kalah."
"Mas, lagi datang bulan ya?"sensi terus."
"Saya lagi datang bintang berkelap-kelip."
"Terus, kamu ada niat buat ganti suami, gitu?"Dimas melirik ke arah istrinya.
"Nggak lah, yang ini udah buat aku nyaman. Nyaman buat dipeluk kayak gini."Andini memeluk lengan berotot sang suami.
"Kamu manja banget, sih. dasar anak kucing!"
" Dasar serigala!"
"Mas, kamu sayang nggak sama aku?"
"Kenapa kamu tiba-tiba nanya kayak gitu ke saya? seharusnya tanya dirimu sendiri, saya nggak sama saya?"
"Ya, sayang. sayang banget malahan, Makanya aku nggak mau kamu tinggalin."
"Kemarin alasannya nggak gitu. bilangnya nggak mau pisah karena takut jadi janda di usia muda."
"Itu faktor kedua. faktor utamanya karena aku sayang sama kamu."
"Sejak kapan kamu punya perasaan seperti itu ke?"Dimas melirik sekilas Sekarang istrinya, lalu kembali fokus mengemudi.
"Sejak tadi... hahaha...."Andini tertawa cukup keras.
__ADS_1
"Baru tadi doang. Kirain udah lama."
"Hisss... sensian banget sih, ntar cepat tua. pipinya keriput."Andini menarik Bibi suaminya ke bawah.
"Saya memang tua, tapi kenapa kamu mau sama saya?"
"Karena dijodohkan."
"Oh, gitu ya?"Dimas merangkul bahu istrinya dan menarik tubuh gadis itu sampai menempel padanya.
"Dijodohkan sama Allah, maksudnya Mas."
"Bisa aja bohongnya."
"Kita sudah sampai di kampus nih..."
"Kenapa? kamu mau turun di luar, terus berjalan sendiri masuk ke dalam kampus?"Dimas memegang tangan istrinya.
"Sebenarnya... aku masih malu Mas. Aku malu kalau semua mahasiswa memperhatikan kita, aku juga malu sama semua dosen."
"Semua dosen sudah mengetahui hubungan kita, jauh sebelum kejadian ini terjadi,"pernyataan Dimas membuat Andini langsung membulatkan matanya.
"Siapa yang ngasih tahu? wanita itu menatap suaminya dengan intens.
"Saya. karena saya yakin cepat atau lambat hubungan kita pasti akan diketahui oleh orang di sekitar kita, oleh karena itu saya lebih memilih memberitahu secara langsung kepada semua dosen untuk menghindari fitnah. Kamu ingat kejadian waktu foto kamu dan saya dipajang di mading?"
Andini hanya mengangguk dengan mata yang masih tertuju ke arah wajah suaminya.
"Saat itu, dekan hanya memberimu hukuman karena bertengkar dengan Almira, tidak menanyakan perihal foto tersebut. Padahal, di sana dituliskan kamu menjadi simpanan om-om."
Andini kembali menganggukkan kepala, mencerna ucapan suaminya.
"Karena saat itu semua dosen sudah tahu kalau kamu adalah istri saya, Jadi mereka tidak mempermasalahkan foto tersebut."jelas Dimas kembali
"Uhhuhhh... so sweet."
"Sekarang, kita turun."
"Hah? sudah nyampe? Andini langsung mengalihkan pandangan dari wajah suaminya.
"Kamu terlalu anteng memperhatikan wajah saya, sampai lupa saya dari tadi mobil ini terus berjalan."ucap Dimas.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK.
__ADS_1