Terjerat Cinta Dosen Killer

Terjerat Cinta Dosen Killer
BAB 277. PENGUMUMAN TENDER


__ADS_3

Setelah keluar dari dalam mobilnya, Dimas dan Alvin telah melangkah ke arah lobi perusahaan. keduanya lalu menghampiri resepsionis perusahaan itu.


"Permisi Pak Ada yang bisa saya bantu?


"Mbak kami mau menghadiri acara pengumuman pemenang tender."ucap Alvin kepada sang resepsionis.


"Bapak silakan naik ke lantai 10 melalui sebelah sana. nanti Saat Sudah sampai di lantai 10 Bapak belok ke kanan, Bapak cari saja di sana ruang meeting. Acaranya akan diadakan di sana."tutur resepsionis Itu menjelaskan.


"Terima kasih Mbak, kalau begitu kami akan langsung ke sana."sahut Alvin.


keduanya lalu berjalan ke relief yang ditunjuk oleh resepsionis tersebut.


Tak menunggu lama mereka pun akhirnya tiba di ruang meeting sesuai dengan apa yang diberitahu oleh sang resepsionis.


Saat sudah sampai di ruangan itu nampak semua orang hadir di sana.


Beberapa saat kemudian nampak pintu ruangan itu terbuka. Pak Andalas masuk didampingi oleh asistennya. Pria tua itu lalu duduk di kursi kebesarannya.


Setelah berbasa-basi sedikit, sekarang tibalah saatnya pengumuman pemenang tender.


"Baiklah untuk mempersingkat waktu, langsung saja akan saya umumkan pemenang tender proyek kali ini. saya sudah memutuskan bahwa perusahaan Saya akan bekerja sama dengan perusahaan Pak Ferdinand."


Dimas langsung terkejut. Sedangkan Alvin, sudah menaruh curiga kalau Pak Ferdinand melakukan kecurangan sehingga dirinya yang memenangkan tender. Tanpa sepengetahuan Dimas Alvin sudah menyelidikinya terlebih dahulu. Dan ternyata dugaan Alvin selama ini benar adanya kalau di perusahaan dinas ada seorang penyusup, yang membuat segala perencanaan penawaran yang ditawarkan oleh Dimas mengalami kebocoran kepada rival bisnis Dimas.


Kenapa Pak Ferdinand tersenyum licik ke arah Dimas. Karena selama Lima tahun belakangan ini dia selalu kalah dengan perusahaan Dimas. Kini dia merasa puas bisa mengalahkan perusahaan Dimas.


"Sekarang bagaimana lagi, proyek pengerjaan bangunan di PT abadi tinggal 6 bulan lagi. kita belum punya cadangan untuk proyek selanjutnya."kalau di masa keduanya sudah berada di tempat parkir.


Alvin lalu membuang nafas kasar. "harapan kita satu-satunya adalah PT milik Pak Sean."ucap Alvin. Alvin bertekad memberikan Hendra untuk mengerjakan segalanya, tetapi Alvin memiliki rencana lain, agar Alvin memberikan data itu kepada Pak Ferdinand tetapi yang ia tawarkan bukan yang dikerjakan oleh Hendra.

__ADS_1


Tampak Dimas melangkah dengan gontai setelah dirinya tiba di rumah. Rasanya Dia tidak tega memberitahu kepada istrinya Andini kalau perusahaan miliknya mengalami kekalahan dalam penyelenggaraan tender kali ini.


Andini menghampiri Dimas. dia Lalu mencium punggung tangan suaminya.


"Mau aku bikinin minum apa Mas? teh atau kopi?"


"Kopi bisa aja sayang. langsung bawa pulang kerja ya."


Andini sebenarnya merasa ada yang aneh dengan suaminya hari ini. Tapi dia ingin membiarkan suaminya untuk menenangkan diri dulu. Baru setelah sedikit melihat raut wajah suaminya sudah terlihat membaik baru dia menanyakan sesuatu.


***


"Kenapa? pantulan bayangan Pak Ferdinand di cermin. lelaki tua itu berdiri tidak jauh di belakang Dimas. Dia baru saja masuk ke ruang toilet. Pak Ferdinan berdiri mensejajarkan dirinya dengan posisi Richard. namun masih memiliki jarak sekitar 1 m dari Richard.


"Lebih baik kamu pulang saja. daripada buang-buang waktu menunggu sesuatu yang tidak ada manfaatnya buat kamu. Menjadi penonton atas kemenangan orang lain."tutur lelaki tua itu meremehkan di, dia sambil mencuci kedua tangannya.


"Sepertinya Anda yakin sekali kalau saya hari ini akan menderita kekalahan."


Dimas tidak menyahut lagi. Pak Ferdinand tidak mengetahui pundi-pundi rupiah yang didapatkan oleh Dimas Dari mana saja.


Dimas tidak menyahut lagi. usai mengeringkan tangannya, dia langsung keluar dari tempat itu. meninggalkan Pak Ferdinand yang menatap punggungnya dengan mimik wajah menyeringai.


Sesuai dengan ucapan Rio, Pak Sean kini hadir di ruangan itu pada menit ke-20. Pak Sean sudah duduk di kursi kebesarannya. sedangkan Rio duduk di sebelah kanan bosnya.


"Selamat siang, mohon maaf karena saya datang sedikit terlambat dari waktu yang saya tetapkan sendiri. sebab di luar dari prediksi saya hari ini ada kepentingan mendesak yang mengharuskan saya meninggalkan kantor ini. Terima kasih atas partisipasi kalian pada tender proyek saya yang tidak begitu besar ini. pada dasarnya penawaran yang kalian tawarkan pada perusahaan saya semuanya baik,"


"Namun, sesuai dengan aturan, saya harus memilih salah satu di antara kalian yang menurut saya penawarannya paling baik dan yang paling tidak memberatkan saya."Pak Sean menjeda ucapannya. pria itu meminum teh yang ada di depannya, untuk membasahi kerongkongannya.


Pak Ferdinand duduk dengan mimik wajah bahagia. dia sudah sangat percaya diri kalau dirinya akan memenangkan tender untuk yang ketiga kalinya.

__ADS_1


Berbeda dengan Dimas, pria itu nampak tegang karena proyek ini merupakan harapan terakhir perusahaannya. Walaupun dia akan menang dari Pak Ferdinan, tapi belum tentu dengan perusahaan yang lain. dia takut perusahaan lain yang menawarkan harga lebih rendah dari perusahaannya.


Pak Sean juga sebelumnya tidak ada berkomunikasi dengan dirinya atau ayahnya. berbeda dengan perusahaan lain yang biasanya memenangkan tendernya. biasanya mereka beberapa hari sebelumnya akan menghubunginya untuk menanyakan lebih lanjut mengenai penawaran yang perusahaan ajukan.


Alvin menangkap kegelisahan pada diri Kakak sepupunya itu sekaligus bosnya. dia tahu betul kalau Dimas menggantungkan nasib perusahaan pada proyek kali ini. Karena jika gagal lagi maka dalam hitungan waktu 3 bulan saja, perusahaan pasti akan melakukan pengurangan tenaga kerja.


"Baiklah tanpa banyak berbasa-basi lagi, saya akan langsung mengumumkan Siapa pemenang tender hari ini."pasien sedikit memalingkan wajah ke arah Rio.


Nampak Dimas menghilang nafas panjang, untuk menetralisir rasa groginya. Sementara Pak Ferdinan ekor matanya melirik ke arah Dimas sambil tersenyum mengejek.


Rio lalu mengoperasikan laptop yang ada di depannya. kemudian ia mengarahkan sensor ke arah dinding yang menghadap tepat ke arah pak Sean, lalu dia menekan tombol remote yang bagian bawah.


Semua orang yang ada di sana tetap hanya teralih ke arah layar proyektor yang menggulung di dinding. layar itu secara otomatis perlahan turun ke bawah. setelah terbuka sempurna, gini layar yang menempel di dinding itu menampilkan apa yang ada di layar monitor laptop Rio.


Di layar itu menampilkan rencana proyek yang akan dikerjakan oleh perusahaan terpilih sebagai pemenang. sekilas paksaan menjelaskan mengenai pabrik yang ingin di bangunnya. Kemudian layar itu berganti dengan tampilan penawaran harga beli perusahaan yang terpilih.


Nampak kedua sudut bibir Dimas dan Alpen tertarik ke atas. Kedua pria itu tersenyum. karena dokumen penawaran yang terpampang di layar proyektor itu adalah milik perusahaan Dimas.


Sedangkan Pak Ferdinand yang melihat itu wajahnya seketika merah pada menahan amarah. kedua telapak tangannya menghafal kuat.


Dia betul-betul telah dikelabui oleh pihak Dimas. Entah sekarang Hendra yang berkhianat padanya dengan memihak pada Dimas, atau Hendra yang ketahuan belangnya oleh Dimas.


Jika saja tidak mempedulikan image-nya pada pimpinan perusahaan yang lain, mungkin saat ini juga dia akan meninggalkan ruangan itu. Sebab dia tidak ingin menjadi penonton atas kemenangan di masa saat ini.


Pria yang beberapa menit lalu dia hina dan remehkan itu kini tampil sebagai pemenang tender. Malu? tentu saja lelaki tua itu malu. sebab kini ada yang diucapkannya pada Dimas justru kembali berbalik padanya.


Apalagi sekarang perusahaannya sedang bermasalah. proyek yang dimenangkannya Beberapa bulan yang lalu itu kini mendapat komplain dari si pemilik proyek, bahkan mereka meminta ganti rugi tiga kali lipat. karena Apa perbedaan menggunakan material bahan bangunan kualitas rendah. bukan nomor satu sesuai dengan penawaran yang diajukan.


Terdengar suara riuh tepuk tangan dari orang-orang yang hadir di sana saat paksaan menyebut nama Dimas sebagai pemenangnya. Mereka dengan hati lapang menerima kekalahan. apalagi mereka mengenal baik dengan Dimas dan Tuan Anggara sebagai pengusaha yang baik. hanya Pak Ferdinand dan asistennya saja yang tidak ikut bertepuk tangan. bahkan orang-orang berpamitan pulang Hanya mereka berdua yang tidak mengucapkan selamat pada Dimas.

__ADS_1


"Alhamdulillah, ini rezeki ketika anak-anak hamba ya Allah. Dasa, Danes, Dania dan Andini tunggu papa di rumah, membawa kabar bahagia ini." ucap Dimas merasa sangat bahagia. setelah mendengar pengumuman tender kalau perusahaan miliknya yang memenangkan tender proyek besar dari perusahaan Pak Sean.


Bersambung....


__ADS_2