
"Aku lupa,Mas. Aku pikir tempat sampah itu nggak ada plastiknya, makanya aku bawa sama tempatnya,"jelas Andini kembali untuk meyakinkan suaminya.
"Terus, Kenapa Erin membawanya ke kamar? Mas Jadi curiga sama kalian berdua."netra pria itu memancarkan aura penyelidikan.
"Aku kebelet pipis, Kak. makanya aku bawa ke kamar. nanti aku kembalikan lagi ke dapur. Aku mau ke kamar mandi dulu!"Erin menghilang di balik pintu dan kembali menutup pintu kamarnya dengan rapat.
Kini giliran Andini yang ditatap penuh selidik.
"Mas, aku ngantuk. Kita tidur sekarang yuk!"Andini segera menggandeng tangan suaminya kembali ke kamar.
"Pintunya sudah dikunci lagi?"tanya Dimas saat mereka berjalan ke arah kamar.
"Sudah Mas, ini aku kembalikan kuncinya ke kamu." Andini memasukkan Kembali kunci itu ke dalam saku celana Dimas. Namun, tangan wanita itu malah menyentuh adik kecil milik sang suami, yang sedang bersemayam di dalam sana.
"Kamu sengaja ya!"tuduh Dimas sambil memegang jemari lentik sang istri.
"Nggak Mas, Aku beneran nggak sengaja." balas Andini dengan wajah tegang. Kejadian tadi membuatnya masih merasa ketakutan.
Terlebih lagi karena ia berbohong kepada Dimas, membuatnya merasa bersalah sekaligus takut.
"Kok mukanya tegang gitu, Kenapa?" tanya Dimas dengan mata yang menatap jeli wajah istrinya.
"Emmmm... nggak apa-apa, tapi yang itu lebih tegang!"Andini menujuk ke arah area adik kecil milik sang suami, sambil terkekeh menghilangkan rasa tegang dan takut.
"Kamu harus tanggung jawab!"Dimas langsung mengangkat tubuh istrinya dan menutup pintu kamar itu dengan rapat.
****
Sementara itu, Bima dan Ricky mendorong motornya menjauh dari rumah utama keluarga Anggara. Berharap agar Dimas dan Tuan Anggara tidak mendengar motor mereka berlalu dari sana.
Sebelumnya Bima sudah memberikan uang tips kepada security yang berjaga di rumah utama keluarga Anggara. Agar mereka bersedia membuka pintu gerbang untuknya, sebelum mereka masuk ke depan rumah. Dan itu tidak luput dari perintah Erin.
"Bima, berhenti! kayaknya kita sudah berjalan sekitar satu kilometer mendorong motor kamu." ucap Ricky dengan nafas ngos-ngosan.
"Ngak usah terlalu lebai lah, baru juga sepuluh langkah." balas Bima yang juga ikut menghentikan langkahnya.
"Sepuluh langkah apaan! tenaga aku udah terkuras nih. Pokoknya kamu harus traktir aku makan. Ini semua gara-gara pacar kamu itu! nyusahin banget sih." gerutu Ricky
"CK... udah malam juga, kamu masih mau makan aja."
"Malam juga cacing-cacing di perut aku pada minta jatah. Apa kamu tidak memikirkan tenaga aku sudah terkuras menenteng koper pacarmu tadi?.Apa kamu tidak mendengar suara teriakan-teriakan cacing-cacing yang ada di dalam perutku? mereka sudah berdemo meminta jatah.
"Dasar cacingan!" cibir Bima.
"Dih, bukannya kamu yang dulu cacingan. Aku ingat betul waktu pulang dari sekolah kamu boker, terus keluar cacing." timpal Ricky sambil terkekeh mengingat beberapa tahun yang lalu saat mereka masih duduk di bangku SMP.
"Daripada kamu keluar ular." balas Bima
"Bersambung.....
"Bacot banget sih, udah. Mending kita makan sate di sana." Ricky menujuk ke arah tukang sate yang mangkal tak jauh dari tempat mereka saat ini.
"Ya udah, jalan sana."titah Bima sambil naik ke atas motornya.
__ADS_1
"Enak aja! kaki aku sudah pegal gini masih aja disuruh jalan. Ini semua gara-gara kamu ." Ricky ikut naik ke atas motor Bima.
Namun, belum juga Dia duduk, Bima sudah menjalankan motor itu sampai membuat Ricky mendekap tubuh Bima karena hampir terjatuh.
"Buset,ini orang! kaget banget."
"Aku kira kamu kuntilanak jatuh." sergah Bima sambil melepaskan tangan Ricky dari bahunya.
"Kamu sih bawa motor tanpa permisi dulu. hampir aja aku jatuh." Ricky memperbaiki duduknya di atas motor.
"Bodo amat!"
"Ngomong-ngomong, ini malam apa sih? kok Kamu nyebut kuntilanak auranya agak beda gitu." ucap Ricky dengan nada pelan.
"Ini malam Jumat Kliwon. Kamu ingat kan apa kata Si Mbah dulu, tanya Bima yang membuat bulu kuduk Ricky langsung berdiri.
"Dulu Mbah bilang, kalau Mbak Kun beserta satu suku dengannya, keluar pas malam Jumat." jawab Ricky dengan nada ketakutan.
"Nah, betul. Mending sekarang kita makan sate." Bima menghentikan motornya tepat di depan gerobak penjual sate.
"Idih, aku ngeri begini." Ricky ikut turun dari motor, dan langsung melihat ke arah tukang sate sedang sibuk mengipasi beberapa tusuk sate di atas bara api.
Namun, pandangannya tertuju ke arah seorang wanita berbaju putih yang berdiri di depan gerobak sate. Wanita berambut panjang itu tak menoleh sedikitpun ke arah mereka yang baru tiba di sana.
"Bim, kamu lihat cewek itu manusia apa bukan?" bisik Ricky sambil menunjuk ke arah wanita yang berdiri tak jauh dari keduanya.
"Kamu lihat aja kakinya pakai sendal apa enggak?" balas Bima yang membuat mata Ricky langsung tertuju ke arah kaki wanita tersebut.
"Nggak kelihatan." bisik Ricky kembali sambil menajamkan penglihatannya karena tempat itu yang lumayan gelap. Hanya disinari lampu dari gerobak sate.
"Oke, bentar. Semoga dia nggak nyadar." Ricky mengambil ponselnya dan mengarahkan senter ponsel ke arah kaki wanita itu.
"Ini satenya Mbak Kun." ucap penjual sate sambil menyerahkan plastik kepada wanita itu.
Seketika mata Bima dan Ricky membulat ketika melihat tukang sate tadi menyebut Mbak Kun.
"Mbak Kun? kuntilanak!" teriak Ricky dengan kaki yang siap berlari.
Namun sebelum itu, wanita tadi membalikan badan dan langsung menatap tajam ke arah Ricky
"Enak aja kamu manggil aku Kunti nama aku Kurnia." ucap wanita itu kepada Ricky dan Bima dengan nada kesal.
****
"Kak Robert!!! Kak Mariska!! bangun!' terik seorang gadis sambil mengetuk pintu kamar dengan cukup keras.
"Robert, itu suara Ciwi, kan? tanya Mariska sambil turun dari.
"Iya sayang, biar aku buka." Robert segera berjalan karena pintu dan membukanya dengan cepat.
"Ceklek!"
Sekali hentakan pintu kayu itu terbuka lebar. Robert melihat adiknya sudah berdiri di depan pintu kamar mereka.
__ADS_1
"Ciwi, Ada apa pagi-pagi sudah gedor-gedor kamar kakak?" tanya Robert setelah pintu itu terbuka lebar.
"Kak Mama.... Kak Mama...." Ciwi tidak melanjutkan ucapannya Gadis itu malah menangis sesungguhkan.
"Mama kenapa, dek?" tanya Robert kembali dengan Tak sabar.
"Ada apa? Mariska ikut menghampiri ciwi
"Penyakit Mama kambuh." jawab Ciwi yang diiringi isakan tangis. Tanpa menunggu lama lagi, Robert langsung berjalan ke arah kamar sang Mama dengan langkah cepat.
Mariska dan ciwi mengikuti pria itu dari belakang.
"Ciwi, Mama kenapa? Robert langsung menerobos ke dalam kamar ibunya.
Terlihat mamanya Robert sedang meringis kesakitan dengan tangan yang memegangi dadanya.
"Kak, tolong Mama." pintar Ciwi dengan air mata yang terus mengalir.
"Astagfirullah! Ma, kenapa mama bisa sampai begini?" Robert mendekat ke arah sang ibu yang berwajah pucat dengan nafas tersengal-sengal.
Mariska mendekat dan memegang tangan mertuanya yang terlihat pucat.
"Robert, tangan Mama dingin banget. Kita bawa ke rumah sakit sekarang aja." ucap Mariska dengan wajah tegang.
"Ciwi, sekarang kamu bilang sama Risma kakak pinjam mobil bapaknya dia. Kita harus bawa Mama ke rumah sakit sekarang." titah Robert yang membuat adiknya itu langsung bangkit dan keluar dari kamar.
Robert mengangkat tubuh Sang Ibu dengan susah payah.
"Berat badan mamanya cukup lumayan, jauh berbeda dengan Mariska yang memiliki tubuh langsing. Oleh karena itu Robert cukup kesulitan ketika mengangkat tubuh ibunya.
"Biar aku bantu." Mariska memegang bagian kaki mertuanya agar Robert tidak begitu kesusahan.
"Ciwi, kamu ambil ponsel sama dompet Kakak di kamar."teriak Robert kembali yang langsung dilaksanakan oleh sang adik.
"Ma, Mama bertahan ya. Kita ke rumah sakit sekarang." ujar Robert dengan mata berkaca-kaca ketika melihat keadaan sang Ibu semakin memburuk.
"Kita bawa ke rumah Risma, mobilnya ada di sana." Robert menuju ke arah rumah yang tak jauh dari sana.
"Robert, Mama kok udah gak buka mata?" ucap Mariska saat melihat ke arah mertuanya yang telah memejamkan mata.
"Ma, Mama masih sadar kan, Ma." Tangan menepuk pipi sang Mama dengan air mata yang seakan menetes.
"Robert, Mama masih nafas. Kita harus cepat." balas Mariska dengan ikut juga menangis ketika melihat keadaan mertuanya.
"Ma, Mama bertahan ya. langkahnya yang membuat Mariska juga turut ikut mengikutinya."
"Ris, aku pinjam mobil papa kamu Ya." pinta Robert Setelah tiba di depan rumah teman dekatnya.
"Iya Robert, kuncinya ada di Ciwi." maaf ya aku nggak bisa antar Karna papa aku juga lagi sakit di rumah." jawab Risma yang terlihat ikutan panik.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS