
Malam ini, Bima pulang lebih awal. Karena dia mengetahui kalau istrinya saat ini membutuhkan dirinya. Apalagi sebelumnya, Erin menghubunginya meminta dibawakan sesuatu.
Bima turun dari motor sambil membawa sebuah plastik yang berisikan makanan pesanan Erin.
Namun, sebuah mobil terparkir di depan rumah itu membuatnya menautkan kedua alisnya.
"Siapa pemilik dari mobil berwarna silver itu?"
Dari mereknya itu bukan mobil Dimas, karena Bima sudah hafal dengan mobil milik kakak iparnya tersebut.
Dengan penuh rasa penasaran, pria itu masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah terbuka lebar.
Langkahnya terhenti ketika melihat seorang pria yang mengenakan jaket sedang berbincang dengan Erin di ruang tamu.
Mata Bima menatap tajam ke arah pria yang sedang berbincang hangat dengan istrinya. tangan pria itu mengepal, hatinya sudah memanas.
Berani-beraninya Erin memasukkan laki-laki lain di dalam rumah saat dirinya masih berada di luar.
Erin yang melihat kedatangan suaminya segera bangkit. "Sayang, kamu sudah pulang!"ucap Erin dengan langkah yang mendekat ke arah Bima.
Pria itu menatap ke arah istrinya dengan wajah cemberut.
"Siapa dia? Tanya Bima dengan nada dingin
"Dia Carlos, teman aku dulu Saat kuliah di luar negeri."jelas Erin.
"Halo, brother!"pria yang bernama Carlos itu bangkit dan mendekat ke arah Bima.
Pria dengan wajah blasteran itu mengulurkan tangannya ke arah Bima yang masih melempar tatapan nyalang.
"Aku Carlos, Temanmu Erin waktu kuliah. Selamat ya atas pernikahan kalian. Aku nggak menyangka, setelah aku kembali lagi ke sini, ternyata Erin sudah menikah."tutur Carlos dengan bibir yang tersenyum sinis.
"Aku Bima. sekarang kamu sudah tahu kan kalau Eren sudah punya suami?"Bima menerima uluran tangan Carlos dan sedikit meremas jemari pria itu.
"Tentu saja."balas Carlos dengan nada santai
"Oke, Aku harap Lain kali kalau kamu mau bertamu ke rumah orang yang sudah punya suami, pastikan kalau suaminya itu ada di rumah."ucap Bima dengan penuh penekanan.
"it's okay. santai brother!"aku belum tahu kalau Erin ternyata sudah menikah. Kebetulan aku juga baru pulang dari San Diego."
"Aku nggak mau peduli kamu mau pulang dari mana!"ketua.
"Wow! Erin, sepertinya aku harus pulang. Aku harap, lain waktu kita bisa bertemu kembali. simpan baik-baik oleh-oleh dariku ya."ucap Carlos Seraya berpamitan.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya!"Erin mengantarkan Carlos sampai keluar dari pintu rumah, wanita itu melambaikan tangannya saat Carlos masuk ke dalam mobil.
"Segitunya banget."celetuk Bima yang membuat Erin langsung menutup pintu dan membalikkan badan ke arah suaminya.
"Kenapa? aku cuman mengantar Carlos sampai ke depan pintu."
__ADS_1
"Mengantar laki-laki lain, sampai lupa sama suami sendiri. Bima menaruh plastik yang berisi makanan pesanan sang istri di atas meja ruang tamu, setelah itu dia pergi ke kamar dengan langkah cepat.
"Sayang, itu apa?"tanya Erin sedikit berteriak, yang sebelum langka suaminya tiba di depan pintu kamar.
"Pesanan kamu!"jawab Bima masih dengan nada Ketus dan tak menoleh sedikitpun ke arah istrinya.
Bima melanjutkan langkah dan masuk ke dalam kamar, lalu menutup kembali pintu kamar itu dengan cukup keras.
Erin melihat ke arah plastik tadi yang tergeletak di atas meja. air liur wanita itu saya akan menetes ketika membayangkan makanan yang sudah ia idamkan sejak tadi siang.
"Daripada Mienya keburu bengkak, mending aku makan sekarang aja."gumam Erin sambil berjalan ke arah dapur. Erin mau ngambil mangkok beserta sendok dan bersiap menyantap mie yang dibawakan suaminya tadi.
"Emmm... baunya enak banget."ucapnya saat aroma Mie hampir memenuhi Indra penciumannya.
Erin mulai menyendok makanan tersebut dan menyebabkannya ke dalam mulutnya.
"Emm... enak banget."ucapnya kembali sambil terus menikmati makanan yang ada di hadapannya itu.
Tanpa ia sadari ada seorang pria yang sedang menatapnya dengan kesal.
Setelah mandi dan berganti pakaian dengan cepat, Bima keluar dari kamar karena istrinya belum juga masuk ke dalam kamar, Ternyata wanita itu sedang asyik menikmati mie yang ia bawa.
Tapi, dia merasa senang karena Erin memakan makanan yang ia bawa.
"Enak banget ya?!"ucap Bima secara tiba-tiba yang membuat Eren langsung menoleh ke arahnya.
"Eh, kamu mau sayang?"tawar Erin.
"Kenyang? sudah makan ya di cafe?"
"Nggak, aku makan di sini."
"Makan apa? perasaan kamu belum makan apa-apa sejak datang dari Cafe."Erin menatap ke arah suaminya dengan dahi menurut.
"Makan hati!"jawab Bima dengan Ketus.
Seketika wanita itu terbatuk, Erin langsung meneguk air minum yang ada di depannya.
"Makanya, kalau makan hati-hati, jangan mikirin laki-laki lain terus!"tegur Bima membuat Erin semakin bertambah heran.
"Kamu itu kenapa sih? dari tadi juga terus, kayak baru datang bulan saja."canda Erin.
"Kamu pikir aja sendiri!"Bima membalikkan badan, lalu kembali ke kamar.
"Dih, tumben dia kayak gitu? Erin menghentikan makanya, wanita itu menyimpan mangkok beserta alat makan lainnya ke dapur, sebelum ia menyusul suaminya masuk ke dalam kamar.
Erin membuka pintu kamar dan melangkah dengan perlahan, mendekat ke arah Bima yang sedang bermain ponsel di atas ranjang.
Wanita itu ikut naik ke atas ranjang dan duduk di samping suaminya yang masih asik Menatap layar ponsel, dan tak menoleh sedikitpun ke arahnya.
__ADS_1
"Sudah mau tidur, sayang? tanya Erin dengan suara lembut.
"Ngak!"jawab Bima lagi-lagi dengan nada Ketus.
"Dih, Ketus banget. Kamu kenapa sih? coba sini ngomong! Kalau ada masalah mending ngomong langsung daripada jutek-jutekan kayak gini, Aku nggak suka!"Erin merampas ponsel itu dari tangan suaminya.
Namun, Bima Tak banyak bicara, pria itu merebahkan tubuhnya dan membelakangi Erin.
"Sayang, Kamu kenapa sih? nggak biasanya banget kamu kayak gini."Erin memegang bahu dan membalikkan tubuh tiga pria itu sampai menghadap ke arahnya.
Namun, mata Bima malah tertuju kepada sebuah benda yang melingkar pada tangan istrinya, Kenapa ia baru menyadari kalau Erin memakai gelang.
"Ini Jam siapa? tanyanya dengan tatapan penuh curiga.
"Jam? ini jam oleh-oleh dari Carlos."jujur Erin dengan mata yang tertuju ke arah jam cantik yang dikenakannya.
"Jam dari Carlos?"Bima segera bangkit dan duduk di samping istrinya.
Pria itu memegang lengan Erin dan melepaskan jam tersebut dari tangan sang istri.
"Loh, kok dilepas? tanya Erin dengan raut wajah kecewa.
"Aku tidak mau kamu memakai pemberian dari orang lain. Kalau kamu mau, aku bisa membelikan jam yang lebih bagus dari ini."Bima melempar jam tangan tadi tepat masuk ke dalam tempat sampah di kamar itu.
"Kenapa sampai dibuang begitu sih? kan sayang, jamnya cantik."protes Erin.
"Jangan memakai benda apapun pemberian dari orang lain. Aku nggak suka. Apalagi pemberian dari si Carlos."
"Kamu cemburu, ya!"tuduh Erin dengan mata yang menatap wajah suaminya dan tersenyum tipis.
"Nggak, aku cuman nggak suka aja."Bima masih memasang wajah cemberut.
"Iya, kan kamu cemburu? nggak biasanya loh kamu kayak gini."
"Memangnya kenapa?
"Tuh kan cemburu. hayo ngaku!"Erin memegang kedua belah pipi suaminya dan tersenyum tipis.
"Kalau memang iya cemburu, kenapa?
"Nggak apa-apa. Aku malah senang kalau kamu cemburu, itu artinya kamu cinta dan takut kehilangan aku."Erin memeluk tubuh suaminya dengan cara.
"Cemburu itu nggak enak."ucap Bima yang membuat Eren mengangkat kepala dan menatap ke arahnya.
"Nggak enak ya? akhirnya kamu merasakan juga Gimana rasanya cemburu. Makanya, jangan suka genit-genit sama cewek lain. Aku juga merasa gitu kalau kamu dekat sama cewek lain." tutur Erin dengan bibir mengerucut.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN