
Keesokan harinya Andini sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Dimas sudah menyelesaikan administrasi pengobatan Andini selama di rumah sakit.
Nyonya Laras dan Tuan Miko sudah datang untuk menjemput Andini pulang.
Saat mereka sudah tiba di ruang rawat inap Andini, terlihat Andini sudah siap-siap untuk pulang.
"Semuanya sudah beres, kita tinggal langsung pulang."ucap Andini ketika ia melirik jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.
"Sebentar Papa mau menyelesaikan administrasinya dulu."ucap Miko Pratama
"Sudah Pa, sudah selesai kok. Kita tinggal pulang."sahut Dimas sambil tersenyum.
Mereka pun berlalu meninggalkan rumah sakit.
Andini berada di mobil Dimas, sementara Tuan Miko dan nyonya Laras mengikuti mobil Dimas dari belakang.
Andini meminta agar pulang ke rumah orang tuanya dulu. Karena kondisi Andini belum pulih total, ia tahu suaminya pasti akan sibuk. pasti suaminya akan pergi ke kampus dan juga kantor, mengurus segala pekerjaannya.
****
Mulai nyampe di rumah utama keluarga Pratama. Dimas tidak banyak bicara, walaupun Andini sudah memacunya agar berbicara banyak, tetapi laki-laki itu kembali ke mode es balok.
"Sekarang, kamu istirahat lah!"
"Mas, mau ke mana? tidur di sini ya, sama aku,"pinta Andini dengan wajah memelas.
"Saya tidur di sofa."Dimas beranjak dari duduknya dan akan berjalan ke arah sofa. tetapi sebelum itu, Andini menahan dengan suaminya.
"Mas, kok tidur di sofa? di sini aja sama aku."Andini menengadahkan wajah menatap ke arah Dimas.
"Kenapa? bukannya dulu kamu juga lebih memilih tidur di sofa, dibanding tidur di sebelah saya?"ucap Dimas dengan nada dingin, bahkan pria itu tak melirik sedikitpun ke arah istrinya.
Seketika Andini melepaskan tangan suaminya secara perlahan.
"Mas, kamu belum memaafkan aku?"lirih Andini dengan wajah sendu.
"Sudah, lebih baik sekarang kamu tidur. istirahatlah, supaya cepat sembuh."Dimas berjalan ke arah sofa, meninggalkan Andini yang menatap punggungnya dengan nanar.
Dimas seolah tak mempedulikan perasaan istrinya yang bagaikan diremas-remas ketika melihat sikapnya yang seperti ini.
Dimas langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa dan mulai memejamkan mata.
Andini meremas selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya.
Air mata akan kembali lolos dari netra kecoklatan itu, tetapi ia menahan hanya sekuat mungkin.
Andini Turun Dari ranjang dengan hati-hati dan berjalan ke arah suaminya yang tidur terlentang di atas sofa.
Wanita itu menyeringai tipis lalu memulai aksinya.
__ADS_1
Andini ikut merebahkan tubuhnya di atas sofa dan mendekap tubuh Dimas dengan erat, bahkan sebagian tubuh gadis itu menindih badan Dimas dan merebahkan kepalanya di atas dada bidang sang suami.
Dimas membuka mata ketika tubuhnya terasa berat.
"Kamu kenapa di sini?"tanyanya dengan suara berat.
"Aku mau tidur di sini sama suamiku."Andini tak mengangkat kepalanya sedikitpun, wanita itu malah semakin mempererat pelukannya.
"Jangan di sini, Nanti kamu jatuh. Tidurlah di kasur nanti luka kamu, sakit lagi."
"Biarin, nanti kan kalau aku jatuh, Mas juga ikut jatuh. Aku di bawah, Mas di atas. "Andini terkekeh, tetapi tubuh Dimas langsung menegang ketika mendengar ucapan istrinya, ia bisa membayangkan posisi seperti apa yang dikatakan istrinya barusan.
"Pindah lah, sofa ini terlalu sempit untuk kita berdua."
"Kita pindah bareng, Kalau Mas gak mau pindah, Aku juga nggak mau."Andini menengadahkan wajah dan bibirnya tepat berdekatan dengan pipi Dimas yang banyak ditumbuhi bulu-bulu halus.
Cup!
Wanita itu memberikan kecupan hangat pada pipi suaminya.
Dimas melihat ke arah wajah Andini yang sedang tersenyum getir.
"Cepatlah pindah! sofa ini sempit."Dimas masih bersikap dingin.
"Nggak mau, yang sepit lebih nikmat."Andini kembali menempelkan kepalanya pada dada bidang suaminya, mendengarkan jantung pria itu yang terdengar berirama.
"Akh...."pria itu menggeram, seperti menahan sesuatu.
"Andini, jangan seperti ini. Cepat pindah, kamu menyiksa saya."Dimas meminjamkan matanya dan membuang nafas kasar.
Andini terkekeh ketika melihat wajah suaminya yang terlihat menegang.
"Kita pindah bareng ke kasur ya, Mas!"bisiknya dengan tangan yang bergerak nakal di bawah sana, dan membuat tubuh Dimas semakin menegang dan kepanasan.
"Andini, please. Kamu lagi datang bulan, jangan seperti ini."suara itu terdengar serak dan sensual, seolah tenaga Dimas Manahan diri, sesuatu di bawah sana sudah bangkit.
"Aku masih bisa memuaskanmu Mas."jemari lentik itu semakin bergerak nakal, membangkitkan pusaka yang sedang bersemayam.
"Akh.... Andini."Dimas bangkit dan menggendong tubuh istrinya dengan ringan, keduanya menjatuhkan tubuh di atas kasur empuk yang berukuran cukup besar itu.
Dimas langsung menindih tubuh istrinya dan menempelkan dari mereka.
Dua pasang mata itu saling beradu pandang dengan jarak yang sangat dekat.
Andini memegang kedua pipi suaminya dan memberikan serangan terlebih dahulu, Gadis itu langsung meraup dan malahap bibir suaminya dengan rakus.
Malam ini Andini terlihat begitu agresif, bahkan Dimas Sampai heran dengan tingkah istrinya.
Malam semakin larut, Andini menyudahi permainannya saat suaminya sudah merasa puas.
__ADS_1
Wanita itu kembali merebahkan tubuhnya di samping Dimas yang bertelanjang dada dan menjadikan lengan berotot itu sebagai bantalnya.
Dimas tersenyum dan menguncup singkat pucuk kepala sang istri.
Padahal Ia ingin bersikap cuek dan dingin, tetapi tingkah Andini menggagalkan rencananya.
****
Pagi ini Dimas bangun lebih awal, bahkan saat istrinya masih terlelap dengan nafas teratur.
Pria itu sudah berpakaian rapi dan wangi.
Dimas duduk di tepi ranjang, memperhatikan wajah sang istri yang masih terbalut plester akibat luka yang ia alami saat mengalami kecelakaan.
Kedua kelopak mata itu masih terpejam, wajah Andini masih terlihat sembab, Dimas mengusap Pipi istrinya dengan lembut.
Andini yang merasakan ada pergerakan pada wajahnya, menangkap tangan itu dan membuka mata dengan perlahan.
Senyumnya langsung mengembang ketika melihat wajah tampan suaminya.
Wanita itu menggenggam erat tangan Dimas dan menindih dengan pipinya.
"Mas, kamu sudah mandi?"tanya Andini dengan suara para
"Sudah, Saya bangun tadi subuh."
"Tampan banget suamiku."Andini mencium punggung tangan kekar itu.
Hari ini adalah hari libur, keduanya tidak akan berangkat ke kampus, hal itu pula yang membuat Andini masih bersemayam di dalam selimut tebalnya.
"Bagaimana dengan luka kamu, Apa masih terasa sakit? jika sudah mendingan lebih baik kamu istirahat saja, Saya mau pergi dulu."Dimas akan menarik tangannya, tetapi Andini langsung menahannya.
"Pergi ke mana, Mas? jangan tinggalin aku ya"wajah wanita itu langsung terlihat kuatir dan ketakutan.
"Papa masuk rumah sakit lagi, saya harus segera ke sana."
"Apa? Aku ikut, tunggu sebentar!"Andini langsung bangkit dan berlari ke arah kamar mandi.
"Mas, Tunggu sebentar ya!"ucapnya kembali sebelum menang atau pintu itu.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK.
__ADS_1